
3 hari berikutnya fia bersama ibunya dan Louis serta Sony berada di bandara, Louis akan mengantar Lily sampai London dengan aman, fia bergelayut pada Lily selama mereka menunggu tapi ia tak menunjukkan kesedihannya, fia tak mau Lily merasa berat meninggalkannya dan akhirnya menjadi khawatir, fia ingin melepas ibunya dengan hati senang agar ibunya juga tenang dan bisa menjalani kehidupan baru nya di London dengan bahagia, ketika akhirnya panggilan datang untuk penerbangannya menuju inggris, fia memeluk ibunya untuk berpamitan
"kamu baik-baik ya disini, jaga diri, jangan lupa makan, kunci semua pintu kalau kamu tidur, pakai baju hangat kalau hujan, jangan sampai sakit"
"ibu... fia bisa jaga diri, ibu jangan khawatir" padahal fia sudah menahan untuk tidak menangis tapi ternyata Kiky yang hilang kendali dan menangis tersedu-sedu sambil memeluk fia
"ibu akan sering-sering telpon kamu"
"iya, ibu jangan nangis, fia akan baik-baik saja, fia ingat sua pesan ibu disini" fia mengarahkan jari telunjuk ke kepalanya demi meyakinkan sang ibu
"ibu sayang fia"
"fia lebih sayang ibu.."
setelah selesai dengan Lily, Louis juga berpamitan dengan fia,
"aku pergi ya..." kata Louis sambil mengecup puncak kepala fia
"cepat kembali.." jawab fia
"i Will.."
dia melambaikan tangan pada Louis dan Lily sampai mereka tidak terlihat lagi, perlahan mereka hilang dari pandangan fia karena tertutup sepenuhnya dengan air mata yang sejak tadi fia tahan, dengan penuh perhatian Sony menyodorkan sapu tangan untuk fia menghapus air matanya
"terima kasih mas Sony"
ada aroma yang akrab dengan fia di sapu tangan itu, ada aroma Louis disana.
"simpan saja nona, sapu tangan itu milik Presdir, nona bisa mengembalikannya saat Presdir kembali"
fia menatap Sony dengan ekspresi bertanya, sebagai asisten pribadi yang berkompeten, membaca ekspresi wajah adalah salah satu keahliannya
"Presdir menitipkan sapu tangannya untuk nona sebagai ganti karena Presdir tak bisa bisa menghibur nona saat ini"
itulah Louis, selalu penuh perhitungan dan tepat, seharusnya fia sudah tidak terkejut lagi dengan perhatian Louis, bahkan saat jauh Louis masih memikirkan fia
"nona, bisa kita pergi sekarang? saya akan mengantar nona pulang"
"iya, maaf merepotkan..."
###
Sony membukakan pintu dan menyilakan fia masuk, fia masuk ke kursi penumpang dan memasang sit belt nya, sementara Sony berputar ke belakang dan masuk ke kursi pengemudi, juga memasang sit belt nya, kemudian menyalakan mesin mobil dan mereka meninggalkan bandara.
setengah perjalanan fia melamun melihat keluar jendela, bersiap pulang ke rumah yang tak ada Lily di dalamnya.
"nona, apa kau merasa nyaman? aku bisa menurunkan suhu AC nya jika ini terlalu dingin"
"mas Sony, tolong jangan panggil fia dengan sebutan nona, panggil saja fia, jangan terlalu formal"
sudah lama fia ingin mengatakan itu, ia tak pernah merasa nyaman dengan perlakuan istimewa terutama dari orang yang lebih tua darinya seperti Sony, bahkan Louis menghormati nya dengan memanggilnya Mas, kalau Sony memperlakukan Louis dengan hormat itu wajar karena Louis adalah boss nya, sedangkan fia hanya orang biasa.
"saya bisa berhenti memanggil nona tapi saya tidak bisa berhenti bicara formal, itu sudah menjadi bagian dari tugas saya, tapi saya bisa memanggil anda Sofia kalau itu yang anda inginkan"
terdengar sangat kaku tapi masih lebih baik dari pada di panggil nona.
"Mas Sony, kalau kau menurunkan suhu AC nya, aku akan sangat berterima kasih"
"baik, sesuai keinginan anda"
###
"Sofia, kita akan melewati toko es krim kesukaan mu, apa anda mau mampir dan membeli rum raisin strawberry vanilla atau kita bisa membeli strawberry milkshake di cafe biasa"
"ga perlu Mas, kita pulang aja, tapi mas Sony tahu kesukaan fia apa dari kak L?"
"menurut anda?"
"ish... kakak ternyata suka bergosip"
"lebih tepatnya bercerita, Presdir selalu bersemangat setiap kali membicarakan anda, fia begini, fia begitu, fia suka ini, fia benci itu dan hal-hal lainnya, saya juga mengenal anda berdasarkan ceritanya"
"tapi kenapa kakak tak pernah menelpon fia sekalipun saat disana?"
"Presdir takut jika mendengar suara anda rasa rindunya jadi tak tertahankan dan langsung kembali ke sini, anda tahu itu tidak mungkin"
"Mas, seperti apa kehidupan kakak di sana? pasti sangat popular ya?"
"Presdir orang yang sangat dingin dan tak pernah tersenyum tapi ya, Presdir memang populer"
"saat di sekolah dulu kakak juga sangat populer, kemana pun kakak pergi selalu diikuti, semua teman baik pada fia karena berharap bisa dekat dengan kakak, fia tahu fia dimanfaatkan tapi fia tak bisa berbuat apa-apa, fia setiap hari membawa teman untuk di kenalkan pada kakak, fia tahu itu sangat menganggu tapi kakak tidak pernah marah dan kakak baik pada mereka karena mereka teman-teman fia, sejak dulu kakak selalu menjaga fia. mereka datang pada fia dan bertanya no telpon kakak, kalau fia menolak, mereka bilang fia sombong, yang benar-benar tulus sama fia cuma kakak, waktu kakak pergi fia seperti orang tersesat,. fia begitu marah pada kakak dan berharap hidup kakak menderita disana"
Sony melihat ekspresi sedih fia dari kaca spion di tengah, fia memandang keluar dengan tatapan kosong lalu ia membunyikan wajahnya dengan tertunduk
"fia jahat ya Mas.." dengan punggung tangannya, fia menghapus apapun itu yang membuat matanya perih.
"saya yakin Presdir pasti mengerti, jangan khawatir Presdir hidup baik saat di London"
"benarkah? fia bersyukur untuk itu"
Sofia tak pernah tahu kehidupan seperti apa yang Louis jalani disana, ia pun tak pernah bercerita dan fia tak pernah bertanya, Louis tidak membicarakan dirinya, ia lebih suka menyimpannya sendiri, sejak dulu fia tak pernah mendengar Louis mengeluh, yang dilakukanya hanya memastikan ia selalu ada untuk fia, memastikan fia aman dan nyaman, kini fia benar-benar menyadari bahwa selama ini fia hidup dalam keegoisan, menahan semua orang yang dekat dengan nya serta marah saat mereka akan pergi, mereka hidup di arus yang fia buat, mengikuti fia sesuai keinginan nya, fia bersyukur Louis membawa Lily pergi untuk mengejar kebahagiaan nya, hingga ia tak terjebak selamanya mengurus fia, yang lebih fia syukuri adalah ia tak terlambat menyadari nya, masih ada waktu untuk memperbaiki kesalahan nya, masih cukup untuk memperlakukan Louis dengan baik dan adil.
###
Sofia, kita sudah sampai" tanpa diminta, Sony turun dan membukakan pintu untuk fia
"terima kasih Mas Sony"
"sama-sama Sofia, Presdir berpesan agar saya mengurus semua keperluan anda, jika perlu sesuatu tolong jangan sungkan untuk menghubungi saya, saya akan dengan senang hati membantu.... oh dan satu lagi. setiap hari akan ada koki yang datang untuk menyiapkan makanan anda dan anda tak perlu repot merapikan rumah, Presdir sudah menyewa petugas jasa kebersihan untuk mengurus semuanya, mereka akan pastikan tidak ada debu yang tertinggal, setiap hari petugas laundry juga akan datang untuk mengambil pakaian kotor, anda hanya perlu fokus belajar"
fia terus saja di kejutkan tentang betapa perhatian nya Louis dan betapa kadang ia sangat berlebihannya Louis tentang semuanya tapi fia juga tahu menolak itu semua sama sekali tak ada gunanya, fia takkan pernah menang melawan Louis.
Sony tersenyum menyebalkan
"sepertinya anda harus terima kenyataan menjadi kesayangan Presdir"
"ya udah, tunggu kakak pulang aja"
"ah... satu lagi! Presdir sudah memasang sistem keamanan canggih di rumah, ada tombol panik di setiap ruangan yang langsung terhubung dengan kantor polisi terdekat dan passcode nya adalah tanggal lahir anda"
fia memijit dahi nya yang tak sakit tapi kenapa terasa berputar
kapan kakak memasang itu semua? hah... apa pertanyaan itu penting sekarang?
"Mas Sony, bukankah kakak sedikit berlebihan dengan semua ini? bisa-bisa kakak pindah kesini"
fia bahkan tak serius dengan kata-kata nya tapi Sony tersenyum seolah yang dia katakan benar.
"ga mungkin!! kakak ga benar-benar berpikir akan tinggal di sini kan?!"
"tak ada batasan bagi Presdir untuk memanjakan dan memastikan keamanan anda"
kakak ini benar-benar... aku bisa gila!!!
"ada kejutan lagi yang perlu fia tahu?"
"sayangnya hanya itu saja, kalau begitu saya pamit dan selamat beristirahat Sofia"
###
fia menggosok gigi nya, berganti baju dengan piyama dan berbaring di bawah selimutnya yang hangat, menatap langit-langit kamarnya yang pucat dan perlahan matanya menjadi lelah tapi getaran yang ia rasakan dari balik bantal mengejutkannya. fia mengangkat telepon dari Ryan.
"halo..."
"hai, sudah tidur..?"
"mm... belum"
"maaf, ga bisa ikut antar ibu ke bandara tadi"
"ga pa-pa, kamu kan harus sekolah"
fia mengerjap beberapa kali menahan rasa kantuk
"mau aku kesana temenin kamu?"
"ga perlu...." fia meregangkan tubuhnya dan menguap tak terkendali
"hihihi... kamu ngantuk ?"
"Hem..."
"ya udah kamu istirahat, aku tutup ya telpon nya"
"jangan.... aku suka dengar suara kamu, terus bicara Sampai aku tidur"
"aku nyanyi kan lagu pengantar tidur ya"
"ok..."
fia menutup matanya meski belum tidur, ia menikmati suara Ryan yang seindah nyanyian surga.
.....i don't know but i believe that something are meant to be, anda that you'll make a better me, everyday i love you.....
Ryan terus bernyanyi sampai ia mendengar dengkuran halus di seberang telponnya, dari sana Ryan tahu dia sudah tertidur dan meski fia tak bisa mendengarnya Ryan tetap mengatakan
"good night future wife".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Halo readers 🤗.
hope you like this episode.
.
.
.
.
#stayathome
stay save anda stay healthy 💪💪💪