FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Malam dan pagi yang indah



Malam yang indah buat Rafael, setelah mendapat kesempatan kedua dari Ayasha secara terbuka, dan tidak lagi secara sembunyi. Raut wajah yang nampak berseri-seri dibalik rasa lelahnya, Ayasha bisa melihatnya, ternyata setitik kesempatan itu memberikan kebahagiaan untuk pria itu.


Rafael memberikan bungkusan wedang ronde yang mereka beli kepada asisten rumah tangga ketika mereka masuk ke dalam rumah. “Sebelum tidur, kamu sudah sholat Isya?” tanya Rafael.


“Belum Om, ini mau sholat dulu baru tidur,” jawab Ayasha.


“Kita berjamaah ya, sholat di musholla,” pinta Rafael.


Ayasha menganggukkan kepalanya, dan mengikuti langkah Rafael menuju musholla kecil yang ada di lantai bawah dekat dapur.


“Amel, wedang ronde nya ada di Bik Inem ya,” kata Ayasha sambil lalu ketika melewati Amelia dan Satya yang ada di ruang tengah.


“Oh iya, Aya,” jawab Amelia sembari menoleh ke arah Ayasha dan Rafael berjalan, lalu kembali menatap Satya.


“Mas Satya, kayaknya ada yang udah berbaikan nih,” kata Amelia.


“Alhamdulillah kalau ada kemajuannya, itu lebih baik. Daripada Ayasha sama Darial yang udah punya anak,” jawab Satya.


Amelia menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu menghela napas begitu panjang. Sedari tadi Satya menceritakan tentang Darial dari hasil penyelidikan Andi, dan gadis itu mengelus dadanya, tidak menyangka jika kekasih Ayasha sudah memiliki anak laki-laki di luar pernikahan, belum lagi Satya menunjukkan foto kebersamaan Darial dengan beberapa wanita di ponsel Satya.


“Mas Satya, andaikan saya boleh kasih tahu tentang ini ke Ayasha. Saya senang hati sekali,” kata Amelia, mendesah.


“Jangan Mel, kasihan dan hargailah Pak Rafael, kamu tidak lihat mereka berdua sudah kembali tersenyum bersama, bukan lagi main ngontok-ngontokkan kayak tempo hari. Kita berdoa saja agar Ayasha tahu dengan sendirinya.“


“Tapi saya gemes Mas,” rengek Amelia, sembari menghentakkan kedua kakinya ke lantai.


“Saya juga gemes kalau lihat kamu begini,” jawab Satya sambil memencet hidung mancung Amelia.


“Auw ... sakit, Mas,” kembali merengek Amelia, sambil menepuk bahu pria itu.


Pria itu terkekeh melihat Amelia. “Amel, nanti kita cari waktu ya ... saya ingin segera bertemu sama bapak dan ibu kamu di Jakarta,” pinta Satya.


Amelia yang tadinya terlihat santai, kini terlihat serius menatap calon suaminya. “Iya Mas Satya, nanti saya cari waktu untuk bisa pulang ke Jakarta sebentar.”


Satya menggenggam tangan Amelia, lalu menatap hangat, “saya tidak sabar ingin menghalalkan kamu,” ucap Satya. Amelia tertunduk dan tersipu malu-malu, siapa sih yang gak mau dihalalin sama cowok ganteng dan baik hati kayak Satya.


“Non Amel, ini wedang ronde nya,” ucap Bik Inem, tiba-tiba datang ke ruang tengah, buyar sudah adegan mesranya.


“Oh iya Bik, makasih ya,” jawab Amelia agak gelagapan, padahal Bik Inem biasa saja.


Sementara itu di musholla Rafael dan Ayasha terlihat sudah menyelesaikan sholat Isya nya, gadis itu mengecup punggung tangan pria itu, kali ini entah kenapa Ayasha begitu nikmat menjalankan ibadah sholat bersama Rafael, ada rasa adem dihati. Hati Rafael pun menghangat saat tangannya dikecup oleh Ayasha, serasa dihormati oleh seorang istri.


“Aya, aku izin boleh menginap di sini ya. Kayaknya udah larut malam kalau kembali ke hotel?” tanya Rafael sembari melirik jam dinding.


Ayasha yang sedang melipat mukenanya, terhenti sejenak. “Iya Om, nanti tidur di kamar Amel aja, biar Amel tidur sama aku berdua di kamar,” jawab Ayasha, mengizinkannya karena ada Mama Rara di rumahnya.


“Makasih ya.” Bibir Rafael ingin rasanya panggil sayang sama Ayasha, namun tidak enak, karena gadis itu masih punya kekasih.


...----------------...


Esok hari


Jam 05.30 wib


Mama Rara berurai air mata terharu dan bahagia, tangan tua itu pun mengusap lembut lengan putranya. Setelah sholat shubuh, Rafael mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Mama Rara, lalu pria itu menceritakan perihal semalam dengan Ayasha.


“Semoga kalian kembali berjodoh Nak, segera menikah dan membangun rumah tangga bersama,” kata Mama Rara, penuh pengharapan


“Iya Nak, kamu harus menemui orang tua Ayasha. Minta maaflah dan minta restu dari mereka berdua. Mama mesti ikut ke Jakarta kah, untuk menemani kamu?”


“Justru aku berharap Mama bisa menemani Ayasha dulu di sini, biar aku minta ditemani sama papa saja. Dan berharap nanti orang tua Ayasha, mau diajak ke Jogja,” jawab Rafael.


“Semoga langkahmu dimudahkan, dilancarkan niat baikmu, Nak,” kata Mama Rara begitu lembutnya, dan tulus dari dalam hatinya.


“Aamiin.”


Langkah selanjutnya dia harus mengambil hati kedua orang tua Ayasha dan meminta restu kembali, mungkin agak berat karena rasa kecewa di masa lalu, namun Rafael harus bisa meluluhkan kedua orang tua Ayasha.


Pagi ini Ayasha dan Amelia tampak sibuk memasak di dapur, padahal ada Bik Inem, namun mereka berdua tetap mengerjakannya, dan meminta Bik Inem untuk membantunya saja.


Wajah Amelia menjelang bangun tidur sudah berseri-seri, apalagi Satya ikut menginap di rumah, tidur sekamar dengan bosnya. Gadis itu bersemangat membantu Ayasha masak, dan dia juga ingin menunjukkan kebolehannya saat memasak.


Ayasha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Amelia yang tampak bahagia, dan dia turut bahagia melihatnya.


“Pagi, kamu kok ada di dapur, kan ada Bik Inem,” suara pria itu sejenak membuat Ayasha terkejut, apalagi tangan pria itu sudah merangkul pinggangnya, untung saja spatula yang dia pegang tidak terpental, masih dia genggam erat ditangannya.


“Om Rafael ini bikin aku kaget aja, untung ini spatula masih ke pegang,” jawab Ayasha.


Pria itu tersenyum hangat, lalu mengusap pipi Ayasha sebentar. “Kamu itu baru sembuh, kenapa repot-repot masak, aku gak mau kamu sakit dan kecapean lagi, Aya?” cemas Rafael.


“Hanya bikin nasi goreng buat sarapan aja Om, cuma sebentar kok. Ini dikit lagi juga sudah matang kok,” jawab Ayasha.


“Ya udah aku temenin,” kata Rafael. Pria itu tetap berada di samping Ayasha, sedangkan Amelia mundur alon-alon ke belakang, gak enak gangguin orang yang mau pendekatan lagi.


Ayasha mengambil sendok makan, lalu mengambil sedikit nasi goreng yang dia buat untuk dicicipinya. “Om cobain udah pas belum rasanya,” pinta Ayasha sembari menyodorkan sendok ke mulut Rafael. Pria itu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ayasha. “Mmm, masakan kamu memang tetap enak ya, aku minta porsi banyak ya,” pinta Rafael. Setelah sekian lama akhirnya pria itu kembali merasakan masakan buatan Ayasha, gadis yang dulu hobi kirim masakannya ke kantornya.


Amelia dan Satya yang melihat mereka berdua jadi salah tingkah dan ikutan baper. Mau juga kayak begitu 😊.


bersambung ...


Dear Kakak Readers yang saya sayangi, Masya Allah ... Alhamdulillah, dengan segala rasa hati yang tak terkira, dan masih dengan rasa tidak percaya. Alhamdulillah kisah Ayasha terpilih menjadi juara 1 lomba menulis tema pengkhianatan.


Setelah sebelumnya Kisah Tania dan Albert dapat juara 3, sekarang karya saya kembali terpilih dan mendapatkan juara 1 untuk kisah Ayasha dan Rafael. Terima kasih banyak yang tak terhingga buat Kakak Readers yang selalu mendukung dan menemani saya dalam setiap berkarya, dan mendoakan saya selalu semangat serta berusaha lebih baik lagi.


Peluk online buat Kakak Readersku untuk Kak Ayumi, Kak Miku, Kak Ana, Kak Vivi, Kak Hanum, Kak Mbok Darmi, Kak Tatik, Kak Queen, Kak Wardah, Kak Nofita, Kak Novi, Kak Shebina, Kak Fuzein, Kak Chauli, Kak Karla, Kak Ian, Kak Imah, Kak Inayah, Kak Sandisalbiah, Kak Rosita, Kak Raden Roro, Kak Bayu, Kak Nur, Kak Isna, Kak Wiek, Kak Sugiharti, Kak Wiwin, ... dan masih banyak lagi, yang tak bisa disebutkan satu persatu.


Lope Lope sekebon 🌻🌻🌻🌹🌹🌹🍊🍊🍊


Ikuti terus kisah Ayasha sampai tamat ya, akan ada give away untuk 10 orang. Jangan lupa like, komentar, poin, vote dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐