FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Dukun mulai bekerja



Jakarta


Mansion Stevan


Seperti yang telah dijanjikan oleh pak Ustadz dihari sebelumnya jika Rafael akan melakukan ruqyah kembali, setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, langsung melaksanakan rugyah.


Pak Ustadz tetap didampingi oleh beberapa orang untuk menangani Rafael. Mama Rara, Papa Stevan dan Satya turut menyaksikan proses ruqyahnya.


Proses rugyah mulai berjalan di mansion, dan hal itu berbarengan dengan ritual si dukun dengan beberapa temannya. Pak Ustadz yang bisa merasakan aura hitam itu, meminta pendampingnya bersamaan melantunkan ayat suci Al Qur'an sedangkan beberapa pendamping yang lain memegang tubuh Rafael yang mulai seperti orang kesurupan.


“Kalian tidak bisa mengusirku ... ha..ha..ha!” teriak Rafael dengan mata terpejam nya, suaranya juga terdengar berbeda bukan seperti suara rafael.


Satya mulai standby merekam ritual Rafael, agar nanti bisa dilihat oleh Rafael sendiri.


Sambil membaca doa, Pak Ustadz memencet beberapa titik di bagian tubuh Rafael, hingga pria itu merintih kesakitan.


“PANAS ... PANAS ... KALIAN TAK BISA MENGUSIRKU ... TEMAN-TEMANKU JUGA SEDANG MENYERANG GADIS ITU!” teriak histeris Rafael bak orang kesetanan.


"DIA AKAN DIBUAT MATI OLEH TUANKU ... HAHAHA!" teriak Rafael yang masih dikuasi oleh jin yang bersemayam ditubuhnya.


DEG!


Mama Rara, papa Stevan dan Satya langsung terkesiap mendengarnya. Mama Rara beristigfar dalam hatinya yang mulai resah.


"Bilang pada Tuan mu kami tidak takut dengan ancaman kalian! Kami akan mengembalikan kalian kepada tempat semula, yaitu neraka!" ucap Pak Ustadz ketika berkomunikasi dengan jin tersebut.


Adegan ini real ya diambil dari pengalaman sendiri saat diruqyah waktu berobat. Disaat tubuh dirugyah maka jin itu akan berbicara, tapi jangan pernah percaya dengan ucapan jin karena kebanyakan suka berbohong, tapi ada juga yang jujur. Saat dirugyah akan ada beberapa bagian tubuh yang di pencet dengan tangan yang sudah menggunakan sarung tangan atau menggunakan benda kayu, gunanya mendeteksi keberadaan jin tersebut, tapi kebanyakan jin itu menempel dibagian dada, pas jantung. Jika pasiennya wanita maka pendamping wanita yang akan menekan bagian tersebut.


Di waktu yang bersamaan, namun ditempat yang berbeda. Ayasha baru saja selesai menunaikan sholat isya dan membaca Al Qur'an. Tiba-tiba saja perutnya terasa ditusuk-tusuk oleh benda tajam.


“Astaghfirullah.” Ayasha masih dalam keadaan duduk di atas sajadahnya terus beristigfar sambil memegang perutnya yang semakin sakit, bagaikan ditusuk-tusuk.


Amelia yang baru saja selesai menyiapkan makan malam, menyusul Ayasha yang ada di kamar untuk mengajaknya makan malam bersama.


“Ayasha,” terkejut Amelia, melihat sahabatnya sudah meringkuk diatas sajadah.


Wajah Ayasha sudah berkeringat segede biji jagung, dan juga sudah memucat membuat Amelia mulai panik.


“Astagfirullah s-sakit Mel, perut gue sa-sangat sakit,” ringis Ayasha kesakitan.


“Sa-sakitnya kayak ngimana Ayasha? Aduh gue bingung. Sakitnya kayak mau haid atau bagaimana?” cecar Amelia, selama tinggal bersama Ayasha baru kali ini melihat sahabat sakit seperti ini, kalau sakit perut mau haid tidak sampai meringis kesakitan.


“Huek ....,” tiba-tiba saja Ayasha memuntahkan darah dari mulutnya, lalu badannya terasa lemas.


“Ayasha ... D-darah,” terkejut Amelia dengan kedua mata membulat. Amelia bergegas keluar rumahnya, lalu meminta pertolongan tetangganya untuk membawa Ayasha ke rumah sakit terdekat, agar dapat pertolongan pertama.


“Tolong Bu, Pak ... Teman saya Ayasha.” Amelia sudah mulai ingin menangis, dia takut ... takut akan terjadi yang tak diinginkan.


Untung saja Ayasha memiliki pribadi yang baik pada tetangganya, jadi para tetangganya sigap membawa Ayasha ke rumah sakit.


Amelia dengan tubuh yang mulai gemetaran menelepon Satya. “Halo, assalamualaikum Amel,” sapa Satya saat menerima panggilan telepon dari Amelia.


“M-mas Satya, A-Ayasha,” suara Amelia terdengar terbata-bata, dan mulai menangis.


Raut wajah Satya mulai tegang, apalagi di hadapannya ada Rafael yang tampak kelelahan setelah di ruqyah.


“Mel, ada apa dengan Ayasha, kamu kenapa menangis?” tanya Satya.


Rafael yang mendengar Satya menyebut nama Ayasha langsung menoleh dan menatap Satya dengan tatapan penuh tanda tanya, dan meminta di loudspeaker.


“M-Mas, Ayasha dilarikan ke rumah sakit. Dia tiba-tiba saja mengeluh perutnya sakit lalu tiba-tiba muntah darah,” jawab Amelia mulai bisa bercerita walau masih menangis.


“Sabar ya Mel, saya akan bicarakan dengan pak Rafael. Nanti akan saya telepon kembali,” lanjut kata Satya, mencoba menenangi Amelia.


Pak Ustadz masih berada diantara mereka dan mendengar tentang Ayasha. “Mereka sudah mulai mengirimkan santet ke wanita itu, sekuat apapun iman kita saat di kirim santet, tetap tubuh akan merasakan kesakitan. Wanita yang dikirim santet itu, alhamdulillah memiliki iman yang bagus ... namun dia tak bisa sendiri menghadapinya.”


Rafael mencermati dan menelaah kalimat Pak Ustadz. “Saya minta nama lengkapnya dan nama bapaknya, akan kami bantu dari sini. Dan saya akan buatkan air untuk diminumnya,” pinta Pak Ustadz.


Mama Rara langsung menyebutkan nama lengkap Ayasha serta nama papanya Ayasha. “Pak Ustadz tolong bantu anak saya ini yang ada di Jogja,” pinta Mama Rara memelas.


“InsyaAllah akan saya bantu Bu Rara.”


Rafael menatap Papa Stevan. “Pah, aku pinjam jet pribadinya.” Papa Stevan menganggukkan kepalanya


“Satya siapkan penerbangan malam ini juga ke Jogja, kita akan berangkat malam ini!” perintah Rafael saat menatap asisten pribadinya.


“Baik Pak.” Satya segera menghubungi penerbangan, lalu menghubungi Amelia tentang keberangkatan mereka malam ini, agar Amelia pikiran tidak kalut.


“Rafael, Mama ikut ya ke Jogja,” sambung Mama Rara.


“Iya Mah.”


Pak Ustadz mulai berdzikir dan membacakan doa di atas air mineral yang akan dibawa untuk Ayasha. Sedangkan Rafael dengan kondisi tubuhnya agak lemas, memaksakan diri untuk berkemas demi Ayasha, dia tidak ingin menyesal jika sampai terjadi sesuatu hal dengan gadis itu, jika datangnya terlambat.


Sabar ya Aya, aku akan datang. Kamu pasti kuatkan ... batin Rafael.


Delia, aku benar-benar tak menyangka pikiranmu benar-benar licik. Untung saja pak Ustadz mengingatkan diriku untuk tidak membalas perbuatan jahatmu! Jika aku balas dendam dengan cara yang sama seperti mu, sama saja aku seperti mu! Semoga Allah membalas semua perbuatan mu itu.


Jam sebelas malam Rafael, mama Rara dan Satya berangkat ke Jogja, sedangkan Papa Stevan tidak ikut karena harus mengawasi perusahaan miliknya dan milik Rafael.


...----------------...


Yogyakarta


Rumah Sakit


Ayasha sudah ditangani dengan baik oleh Dokter IGD, mulai dari memberikan obat pereda nyeri dari bagian belakangnya. Kemudian langsung usg abdomen untuk mengetahui penyebab nyeri diperutnya.


“Hasil analisa sementara teman mbak, terserang nyeri kolik di perutnya. Tapi sebenarnya tidak sampai muntah darah, untuk lebih detailnya besok akan diperiksa oleh dokter penyakit dalamnya. Jadi sekarang terpaksa harus dirawat dulu untuk kita observasi,” kata dokter IGD.


“Terima kasih Dokter, saya ikut saran dokter saja,” jawab Amelia.


Ayasha mulai dipindahkan ke ruang rawat inap sesuai dengan kartu bpjs yang dimiliki dan Amelia tetap menemani sahabatnya itu.


Ya Allah ... semoga ini bukan penyakit kiriman dari Delia, jika memang benar, tolong lindungi Ayasha dari perbuatan orang-orang jahat.


bersambung ....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komentarnya yaaaaa