
Ayasha tidak ada maksud untuk menduakan hati atau mempermainkan hati seorang pria, tapi lebih sedang memilih yang terbaik untuk diri sendirinya.
Awal gadis itu membuka hati untuk orang lain, namun seiring waktu berjalan, mencoba mengenalinya tapi hanya ada perasaan suka saja yang bukan berarti mencintai atau sayang. Dia sebenarnya ingin belajar untuk mencintai pria itu namun, hatinya masih mengganjal, rupanya rasa yang mengganjal itu terjawabkan mulai dari mendengar, lalu melihat video club malam. Sekarang gadis itu mengetahui hal lain tentang Darial.
Sesampainya Ayasha, Rafael, Amelia dan Satya di hotel, gadis itu tetap minta diberitahukan tentang Darial yang tidak dia ketahui. Hingga jadinya gadis itu tercenung sendiri ketika melihat bukti foto yang tergeletak di meja kerja Rafael.
Foto Darial bersama beberapa wanita, lalu foto anak remaja laki-laki yang memiliki wajah yang mirip dengan Darial. Inilah kenapa Ayasha meminta pria itu untuk berkata jujur kepadanya, karena setiap orang pasti memiliki masa lalu, dan jika pria itu sangat mencintainya pasti akan mengatakan apapun, karena dengan berkata jujur walau itu pahit kenyataannya, Ayasha akan tetap belajar menerimanya.
Tapi sayangnya memang hati gadis itu tidak bisa memaksakan dirinya untuk mencintai pria itu, hingga akhirnya dia mengirim pesan meminta bertemu dengan Darial selepas dia pulang bekerja.
“Aku tidak ingin karena bukti ini, menjadi alasan kamu berpisah dengan Darial,” pinta Rafael, pria itu menatap teduh gadis itu.
Ayasha meletakkan foto-foto tersebut ke atas meja kerja Rafael. “Tidak kok Om, bukti ini hanya untuk menguatkan hatiku yang selama ini mengganjal, sekarang sudah bisa lega. Dan aku bisa mengambil keputusan yang terbaik buat aku sendiri,” jawab Ayasha.
Rafael meraih tangan gadis itu lalu menggenggam. “Pilihlah yang terbaik buatmu, jangan karena aku menuntut ingin kembali padamu,” imbuhnya.
“Aku kan juga belum kasih jawaban buat Om, jadi bersabarlah. Kalau begitu aku kembali ke ruangan dulu, kerjaanku sudah menumpuk,” ucap Ayasha, sembari beranjak dari duduknya. Rafael pun turut bangkit dari duduknya.
“Peluk dulu, Sayang,” pinta Rafael terdengar lembut.
“Enggak ah, tadi malam udah pelukan,” tolak gadis itu, bahaya kalau pelukan terus sama Rafael, rasanya merinding bulu kuduknya, ada perasaan yang berdesir.
Namun sayangnya pria itu tak mau ditolak, sebelum Ayasha keluar dari ruangannya Rafael langsung memeluk. “Aku ingin sekali memelukmu, dan terus memelukmu hingga aku menutup mataku,” kata Rafael.
DEG!
Hati Ayasha yang awalnya terasa hangat, tiba-tiba saja terasa sedih mendengarnya. Gadis itu mendongakkan wajahnya kemudian menatap wajah Rafael, pria itu tersenyum dan wajahnya terlihat bersinar, sangat berbeda jika dilihat.
“Sampai tuakan, Om?” tanya Ayasha, hatinya tiba-tiba saja gundah.
“Iya dong kita akan menua bersama,” jawab Rafael penuh semangat, kemudian mengurai pelukannya. “Met bekerja cantikku, jangan lupa nanti siang kita makan siang bersama sama mama dan papa kita berdua.”
“Ok Bos Rafael,” jawab Ayasha, lalu meninggalkan ruangan Rafael dengan perasaan anehnya.
...----------------...
Sementara itu di lobby hotel, wanita yang memakai masker terlihat sedang duduk di bangku yang tersedia di sana, kemudian dia menunggu seorang pria yang tampak sedang memesan kamar di meja resepsionis. Reni yang menerima tamu pria itu tidak terlalu mengamati wanita bermasker itu.
“Di sangka aku wanita bodoh! Sekarang aku akan menunjukkan kepintaranku! Akan aku balas kamu, Ayasha. Karena kamu hidupku jadi hancur, kau telah merebut calon suamiku!” ucap Delia dengan sinisnya.
Pria yang sudah memesan kamar itu, menghampiri Delia. “Ini kunci kamar kamu,” kata pria yang bernama Ibra.
Delia menerimanya. “Jangan lupa kamu cari rental mobil di sini, pesan untuk seminggu, dan ini uangnya,” pinta Delia, mengeluarkan uang dalam amplopnya.
“Oke siap,” jawab patuh Ibra. Pria muda yang baru beberapa hari kenal dengan Delia di Jakarta, dan mau bekerja bersama Delia dalam waktu singkat demi uang yang dia butuhkan, apalagi uang yang dijanjikan oleh Delia lumayan banyak bagi Ibra yang masih pengangguran.
Wanita itu bangkit dari duduknya, kemudian dengan langkah anggunnya sembari menggeret koper kecilnya menuju kamarnya yang berada dilantai tiga, namun tanpa sengaja dia melihat Rafael dan Satya yang baru saja keluar dari lift, wanita itu tampak tenang dan malah tersenyum dibalik maskernya, kemudian dia membetulkan kaca mata hitamnya dan topi yang dia kenakan, agar Rafael tidak mengenalinya.
Aku merindukanmu, Rafael!
Di saat mereka berpapasan, Delia sengaja langkah kakinya mendekati Rafael sangking merindukan mantannya, parfum yang dikenakan oleh Delia begitu menyeruak sampai-sampai indra penciuman Rafael bisa menghirupnya.
DEG!
Delia!
Aroma parfum yang sangat Rafael hapal wanginya karena dia pernah membelikannya buat Delia. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan melihat wanita yang sudah berlalu darinya, namun dia tidak bisa melihat wajah wanita itu.
“Baik Pak, kalau begitu saya segera ke bagian resepsionis,” jawab patuh Satya, lalu bergegas menghampiri Reni, dan mengecek nama tamu yang masih menginap di hotel.
Rafael masih menatap pintu lift yang sudah tertutup itu, hatinya berharap jika aroma parfumnya saja yang sama, bukan kehadiran Delia kembali, kalau betul wanita itu Delia maka murka lah pria itu. Namun dia tidak boleh asal menuduh, atau asal mengejarnya karena ada prosedurnya, takutnya malah timbul salah paham kalau dugaan dia salah.
Rafael kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke restoran, dan meminta chef mempersiapkan acara keluarganya nanti siang, setelah selesai dia bergegas meninggalkan hotel seorang diri karena ada sesuatu yang dia beli.
Satya terlihat serius di meja resepsionis memperhatikan layar komputer bersama Reni, mencari nama Delia.
“Benar Pak Satya, tidak ada yang cek in pakai nama Delia,” ucap Reni.
“Kamu masih ingatkan wajah Delia?” tanya Satya.
“Saya masih ingat sekali Pak Satya.”
“Kalau begitu kamu harus perhatikan jika ada wanita yang wajahnya mirip dengan Delia, segera beritahu saya jika memang ada! Karena Pak Rafael sepertinya curiga ada Delia di sini, bisa jadi dia meminta orang lain memesan kamar di sini, tapi dia yang menginap,” kata Satya.
Reni tampak berpikir, ada benarnya juga kata Satya. “Baik Pak Satya, nanti saya akan menghimbau kan ke teman yang lain, termasuk house keeping yang berhubungan langsung dengan room service,” jawab Reni.
“Bagus, saya tunggu kabarnya.” Satya kembali mengecek data, agar benar-benar tidak kecolongan.
Sementara itu Ayasha yang baru saja dapat telepon dari Darial, ternyata pria itu sudah tiba di hotel tempat dia bekerja, padahal gadis itu sudah meminta untuk bertemunya sepulang dia kerja, tapi Darial menginginkan secepatnya bertemu.
Reni dan Satya yang berada di lobby melihat kedatangan Darial dengan membawa buket bunga yang sangat cantik, pria itu pun menghampiri meja resepsionis.
“Bisa hubungi Ayasha, saya sudah datang,” pinta Darial, seperti biasa sikapnya terlihat ramah.
Reni pun bergegas menghubungi Ayasha melalui line teleponnya. Satya dan Darial sama-sama bersitatap dengan tatapan sinisnya.
Tak selang berapa lama, Ayasha pun turun ke lobby dan bergegas menghampiri Darial. Pria bule itu tersenyum hangat menyambut kekasih hatinya.
“Hai Ayasha,” sapa Darial. “Ini bunga buatmu.” Pria itu menyodorkan buket bunga yang dia bawa.
Ayasha menerimanya. “Terima kasih Kak Darial, seharusnya tidak perlu repot membawa bunga.”
“Untuk calon istri, harus mau repot bawa bunga biar makin jatuh cinta,” kata Darial, suaranya agak terdengar kencang, hal yang disengaja agar terdengar di telinga Satya.
Cih ... calon istri, situ pede sekali!Kamu belum tahu aja Ayasha sudah tahu kelakuanmu, batin Satya.
Ayasha tampak biasanya saja di saat Darial berkata manis padanya, rasa hambar. “Sebaiknya kita ke coffe shop aja, lebih enak untuk berbicara,” ajak Ayasha.
“Kemana pun kamu mau, akan saya turuti, Ayasha,” jawab lembut Darial.
Preet ... kenapa gak sekalian ajak Darial ke neraka, Ayasha, batin Satya ngedumel.
Ya Allah mudahkan aku memutuskan hubunganku dengan Kak Darial, secara baik-baik, semoga dia bisa menerima nya dengan lapang hati.
bersambung ...
Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, dan jangan lupa mau votenya ya. Makasih banyak.
Jangan lupa mampir ke kisah anaknya Daddy Erick dan Papa Albert ya.
Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹