
Rumah kontrakan Ayasha
Hampir dua jam Darial masih berada di rumah Ayasha, walau pintu rumahnya terbuka lebar ... tetap saja tetangga ingin tahu siapa yang ada di dalam, mereka bergantian lalu lalang di depan rumah Ayasha.
Kalau Rafael jangan ditanya lagi, pria itu sudah gelisah dalam duduknya di mobil, dan bolak balik mengecek jam tangannya. “Keterlaluan sudah dua jam laki-laki itu belum juga pulang,” gerutunya sendiri, beberapa kali pria itu menepuk-nepuk pahanya sendiri melampiaskan rasa kesalnya.
Setengah jam yang lalu Darial dan Ayasha sudah menyelesaikan makan malamnya, serta sudah merapikan bekas makannya. Akan tetapi melihat para tetangganya berulang kali lewat depan rumahnya, ada perasaan tidak enak, apalagi dia seorang wanita sendiri di rumah.
“Kak Darial, mohon maaf bukan maksudnya mengusir. Tapi saya tidak enak jika Kak Darial terlalu lama di rumah saya, takut timbul fitnah walau kita berdua tidak melakukan apapun di dalam,” ucap Ayasha begitu pelannya, takut menyinggung perasaan Darial.
Sebenarnya buat Darial yang keturunan orang Inggris, budaya barat jelas berbeda dengan budaya timur. Ini untuk pertama kalinya pria itu diusir secara halus oleh seorang wanita dalam hidupnya, dengan terpaksa pria itu bangkit dari duduknya.
“Ya sudah kalau begitu saya pamit pulang, lain kali ponselmu jangan dimatikan ya, aku sangat mencemasimu jika tidak bisa terhubung,” kata Darial.
“Ya Kak Darial,” jawab singkat Ayasha.
Rafael yang berniat ingin menghampiri rumah Ayasha terpaksa melangkah mundur, setelah melihat Darial keluar dari rumah di temani oleh Ayasha, dan gadis itu mengantarnya sampai ke mobil pria tersebut.
“Terima kasih sudah mau menemani saya makan malam,” kata Darial sebelum masuk ke dalam mobil.
“Sama sama Kak Darial, saya sudah di traktir makan lagi,” balasnya. Darial meraih tangan kanan Ayasha, lalu mengecupnya dengan lembut punggung tangan gadis itu. “Met istirahat ya,” kembali berkata lembut Darial.
Ayasha hanya bisa mengulas senyum tipisnya, sedangkan Rafael hanya bisa menatap sedih melihat adegan yang sangat romantis dari tempatnya berdiri. Rafael menyangka jika kata calon suami atau kekasih hanya omongan belaka Ayasha, ternyata untuk ketiga kalinya melihat langsung, semua yang diduganya bohong terpatahkan, nyatanya memang ada sesuatu diantara Ayasha dan Darial.
Rafael kembali melangkah mundur dengan perasaan yang hancur, patah hati, remuk tak terkira menuju mobilnya.
“Kita kembali ke hotel,” pinta Rafael.
“Baik Pak.”
Mobil yang ditumpangi Rafael kembali melewati rumah Ayasha, dan gadis itu pun masih berdiri di depan rumah karena habis mengantar Darial. Dibalik kaca gelap mobil Rafael, mereka berdua bersitatap. Ayasha yakin jika mobil yang lewat adalah mobil dinas hotel yang membawa Rafael.
Rafael menatap nanar gadis itu. Mungkinkah ini karma untukku setelah dulu sempat menyia-nyiakanmu, ketika dulu aku hanya menganggap dirimu hanyalah seorang anak kecil yang tak akan menjelma menjadi wanita dewasa.
Inikah yang kamu rasakan Ayasha waktu itu, ketika aku memilih wanita lain dan memutuskan ikatan kita. Sungguh ternyata rasanya menyakitkan ketika melihatmu tersenyum hangat dengan pria lain, melihat tanganmu dicium oleh pria lain saja hatiku bagaikan ditusuk belati ... sangat sakit.
Mungkinkah hati kamu sesakit ini atau lebih sakit lagi ketika melihatku se—
Batin Rafael tidak mampu melanjutkan kata-katanya, pria itu menepuk dadanya dengan kuat, rasanya tersiksa dan dia mengumpat dirinya sendiri.
Ya Allah betapa kejam dan hinanya perbuatanku dahulu, pasti sangat menyakitkan buat hati Ayasha, gadis kecilku.
Tubuh boleh saja besar, wajah boleh saja selalu terlihat berwibawa ketika memimpin para karyawannya. Tapi kali ini hatinya benar-benar melow karena Ayasha. Pria itu kini baru tahu apa rasa sakit yang pernah dialami oleh Ayasha.
Setelah melihat kepergian Darial, lalu melihat mobil hotel melewati dirinya, Ayasha hanya bisa menatap nanar hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.
Yang berlalu biarkanlah berlalu ...
...----------------...
Hotel Inna Garuda.
Delia tampak merenggangkan badannya dan menggeliat di atas ranjang, wanita itu tersenyum sumbrigah setelah dapat kepuasan dari Rian.
Wanita itu menyibakkan selimut yang dikenakannya kemudian mengambil baju yang ada dilantai.
Ponsel milik Delia yang berada di atas nakas berdering. Wanita itu bergegas mengambilnya.
Ibu Calling
“Halo, Delia,” sapa Bu Laras.
“Ya Bu ...,” balas sapanya.
“Del, Ibu sudah ketemu sama orang pintarnya, tolong transfer uang ya ... dia minta 50 juta dulu buat uang maharnya.”
Delia kembali mengulas senyum bahagianya. “Ibu yakin kali ini orangnya pasti berhasil menggaet Mas Rafael dari jarak jauh?” tanya Delia biar lebih meyakinkan dirinya sendiri.
“Kali ini Ibu sangat yakin, sudah banyak buktinya. Jadi kamu tidak perlu khawatir, yang penting sekarang kamu kirim uangnya biar orangnya langsung ngerjaiin, sekalian kamu kirim lagi foto Rafael ya,” pinta Bu Laras.
“Ok Bu, aku langsung transfer sekarang ya dan kirim foto mas Rafael,” balasnya. Delia pun langsung memutuskan panggilan teleponnya, kemudian mengecek mobile bankingnya.
Kening wanita itu berkerut hingga menimbulkan beberapa lipatan saat melihat saldo mobile bankingnya yang masih tetap sebesar 50 juta. “Kok tumben Mas Rafael belum transfer uang jatah bulanan ku, kalau aku transfer uang ini ke ibu berarti habis dong uangku. Eeh tapi gak masalah sih masih ada blackcard dari Mas Rafael jadi aman deh. Lagi pula nanti aku akan tanya sama mas Satya kenapa belum ditransfer uang bulananku dari mas Rafael,” gumam Delia sendiri, lalu jempol wanita itu meklik transaksi transfer ke rekening ibunya.
“Semoga orang pintar yang kali ini, benar-benar berhasil. Dan mas Rafael kembali bertekuk lutut denganku,” gumamnya sembari mengulas senyum smirknya.
Manusia punya rencana namun Allah lah yang menentukan, jika sekarang Delia berharap besar dari orang pintar maka jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Mama Rara. Wanita paruh baya itu dengan mukena berwarna putihnya sedang bermunajat agar anaknya terlindungi dari segala bala yang membahayakan dan segera kembali ke jalan yang lurus, sedangkan di Jakarta ... Pak Ustadz membantunya dengan berdzikir dan mengirim doa untuk Rafael.
...----------------...
Satya terlihat mondar mandir di lobby menunggu kedatangan Rafael yang sempat menghubunginya jika sebentar lagi akan tiba di hotel. Melihat mobil dinas hotel tiba di luar lobby, Satya bergegas menghampirinya dan membukakan pintu untuk bosnya.
Wajah Rafael terlihat lesu ketika keluar dari mobil. “Satya pesankan saya bubur ayam dan minta di antarkan ke kamar,” pinta Rafael ketika melihat Satya.
“Baik Pak Bos.”
Rafael dengan langkah tergontai masuk dan menuju ke kamarnya yang ada dilantai 5, sedangkan Satya membuntuti bosnya namun sebelumnya meninggalkan pesan ke salah satu staf restoran untuk mengantarkan bubur ayam.
Selama menuju kamar, Rafael lebih banyak diam dan tatapannya terlihat kosong, Satya diam-diam mengamatinya. Sesampainya di kamar, seperti biasa Satya menyiapkan keperluan Bosnya dan sesuai pesan dari Mama Rara, sang asisten menuangkan air mineral yang dibawakan oleh Mama Rara.
“Pak Rafael, silakan diminum dulu,” pinta Satya menyodorkan gelas minum, sesi pertama.
Tanpa banyak bertanya pria itu langsung menegak air minum tersebut sampai tandas, Satya pun tersenyum.
“Satya siapkan saya air hangat,” pinta Rafael sambil menyodorkan gelas kosongnya.
“Baik Pak.” Sesi kedua air mineral yang dibawa oleh Mama Rara akan dicampuri ke air buat mandi.
“Semoga setannya pada kabur,” gumam Satya sendiri ketika menyiapkan air hangat di bathub kemudian menambahkan air mineral tersebut.
bersambung .....
Kakak readers yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggalkan jejaknya. makasih sebelumnya 🙏
Lope lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊🌻🌻🌻