
Tidak ada yang salah dengan sikap Darial yang cemburu sebagai pria yang mencintai Ayasha, apalagi dengan statusnya sebagai kekasih Ayasha.
Mungkin ini salah Rafael yang kelepasan menunjukkan rasa khawatirnya pada Ayasha di depan Darial, harusnya dia bisa menjaga perasaan kekasih Ayasha itu. Namun rasa cintanya itu tak bisa dielakkan, semua tindakannya memang dari hatinya dari dalam, namun bukan untuk mencari perhatian gadis itu semata.
Pertengkaran antara kedua pria matang tersebut sesaat terhentikan, mereka kembali fokus dengan keadaan Ayasha. Darial tidak keluar dari ruangan, namun berdiri tak jauh dari sisi ranjang Ayasha, hanya bisa mengamatinya, karena untuk melafadzkan doa saja dia tak bisa.
Tak lama Satya kembali ke ruang rawat dengan sepasang suami istri, rupanya teman Pak Ustadz yang berada di Jogja sudah datang ditemani oleh istrinya.
Pak Abshori dan bu Tutik namanya saat mereka memperkenalkan dirinya, setelah melihat keadaan Ayasha. Pasangan suami istri tersebut izin ke kamar mandi sebentar untuk mengambil wudhu, lalu melaksanakan shalat dua rakaat.
Mama Rara, Rafael, Amelia memberi ruang untuk pak Abshori dan bu Tutik ketika ingin memulai menangani keadaan Ayasha. Namun bu Tutik meminta Amelia ikut mendampinginya, karena takut Ayasha memberontak.
Ayasha tidak bisa banyak bertanya, dia terlihat pasrah karena dia sedang merasakan jika jiwa sedang melayang, seakan tidak ada ditubuhnya kembali.
“Dengan memohon pertolongan kepada Allah, semua yang ada di tubuh mbak ini semoga keluar dengan seizin Allah dan jangan pernah meminta untuk mengembalikan kiriman santet ini. Yang terpenting mbaknya bersih dan sehat kembali. Dan biarkanlah Allah yang membalas kepada orang yang mengirim santet ini,” ucap Pak Abshori kepada semua orang yang ada di dalam ruangan.
Santet! Batin Darial.
Buat pria bule itu agak mencengangkan, karena memang dia tidak tahu menahu tentang hal seperti itu, maklum bukan orang Indonesia asli, karena lebih lama tinggal di Inggris.
Pak Abshori beserta istrinya sudah terbiasa membantu jamaah yang terkena santet, maka dari itu waktu dia pertama kali datang langsung bisa melihat apa yang dirasakan oleh Ayasha, dan sering menemuinya.
“Yang lainnya jika tidak mengerti bacaan pengusir jin, bisa baca surat yasin. Mari kita sama-sama mengangkat penyakit yang ada di badan mbaknya,” pinta Pak Abshori.
“Baik Pak Abshori,” jawab mereka serempak.
Amelia mulai berada disisi Ayasha berbaring, begitu juga dengan bu Tutik. Pak Abshori mulai melantunkan surat pengusir jin, dengan kedua tangan berada diatas tubuh Ayasha tanpa menyentuh.
Tubuh Ayasha mulai menggeliat dan memberontak, namun dia berusaha tetap berdzikir melawan bisikan yang dia dengar di telinganya.
“Sakit ... Sakit ... Astagfirullah, “ ringis Ayasha.
Rafael tak kuasa melihat kondisi Ayasha yang sedang merintih kesakitan, air matanya kembali terjatuh dan mulai terisak-isak, tak peduli jika orang mengatakan dia pria cengeng. Sedangkan Darial hanya bisa mengidikkan kedua bahunya.
Semakin panjang dan kencangnya lantunan surat Al Qur'an, maka semakin memberontak Ayasha.
“Sakit ... Ada yang menusuk!” teriak Ayasha dengan wajah yang kesakitan.
Sementara di tempat yang berbeda, di rumah dukun pasnya di ruang ritual Pak Tua, tampak ada boneka dengan wajah foto Ayasha, dibagian perut boneka tersebut sudah tertusuk beberapa jarum yang sangat panjang.
Boneka yang berada di atas meja ritual di temani senampan bunga tujuh rupa bersama dupa kemenyan yang masih hidup, lalu darah ayam hitam berserta segelas kopi hitam, tiba-tiba saja bergoyang bersamaan, padahal tidak ada satupun orang di ruangan tersebut.
Kembali ke rumah sakit ...
Pak Abshori memberikan kode kepada Bu Tutik ke arah perut Ayasha. Tangan Bu Tutik pun menyibak sedikit kaos bagian bawah perutnya, dan tak lama dengan menyebut nama Allah.
“Astagfirullah ... Allah Akbar, ampun ya Allah,” jerit kesakitan Ayasha.
Mama Rara langsung memeluk Rafael, sudah tak kuat melihat keadaan yang sangat menyiksa Ayasha. Tiba-tiba saja perut Ayasha bergerak sendiri, Bu Tutik dibimbing oleh Pak Abshori, melafadzkan doa kemudian menyentuh perut gadis itu. Amelia yang jelas ada di sebelah Ayasha, kedua netranya terbelalak sembari terisak nangis. Beberapa jarum panjang keluar dari perut gadis itu. Jika secara kedokteran pasti tidak masuk akal, namun jika secara non medis, hal ini memang ada dan nyata adanya.
Ya Allah kenapa harus wanita yang kucintai terluka seperti ini? Kenapa tidak ke aku saja, biar aku yang menanggungnya. Biar aku saja yang tersiksa jangan Ayasha.
BRAK!
Tidak ada angin, tidak ada orang dekat daun pintu, namun tiba-tiba saja daun pintu terbanting membuat mereka yang berada di dalam ruangan terjingkat kaget , dan Ayasha pun langsung tak sadarkan diri.
Boneka yang berwajah foto Ayasha pun terjatuh bersamaan nampan sesajen, jarum-jarum yang ada di bagian perut boneka itu pun terlepas. Pak Tua yang kebetulan mendengar ada yang terjatuh langsung ke dalam ruang ritualnya, lalu melihat lantainya sudah berserakan dengan sesajen.
“Ternyata dia lebih kuat, mampu melepaskan santet ini!” gumam Pak Tua sembari boneka yang sudah terlepas oleh jarum yang kemarin dia tusuk.
“Perjanjian saya telah usai, Delia, Bu Laras!”
Kembali ke keadaan Ayasha.
Bu Tutik menunjukkan beberapa jarum yang keluar dari perut Ayasha dengan berlumuran darah kepada Mama Rara dan Rafael.
“Alhamdulillah dengan seizin Allah, biang penyakit yang bersarang di perut mbaknya, adalah jarum jarum ini,” ujar Pak Abshori.
Hati siapa yang tidak sakit melihatnya. “Berarti yang ada ditubuh Ayasha sudah keluar semua Pak Abshori?” tanya Rafael.
“Insya Allah, sudah tak ada, dan sudah terangkat semuanya,” jawab Pak Abshori. Rafael bernapas lega mendengarnya, hal yang menyakitkan tubuh Ayasha sudah keluar.
Amelia juga sangat bersyukur, lalu mengusap kening sahabatnya yang sudah berkeringat dan sedang tak sadarkan diri.
Rafael meminta Satya untuk panggilkan Dokter untuk segera memeriksa keadaan Ayasha. Dan pria itu mendekati ranjang gadis itu, lalu menatap sedih namun bersyukur. Darial tidak mau kalah juga dengan Rafael, dia turut mendekati Ayasha lalu menyentuh lengan kekasihnya.
...----------------...
Bogor
Rumah sakit.
Perut Delia semakin lama semakin menjadi sakitnya, membuat dia meringis kesakitan saat menjenguk ibu nya di ruang ICU, yang belum di pindahkan ke ruang rawat biasa.
Wajah bu Laras tampak sedih saat menatap anak semata wayangnya, ingin rasanya mengatakan sesuatu, namun bibirnya sudah agak susah untuk berkata.
Nak, Ibu kenapa jadi begini? Inikah karma buat Ibu ... batin bu Laras.
Wajah Delia semakin memucat, tangannya pun mengusap perutnya sendiri, namun sepertinya tidak tahan lagi akan rasa sakitnya, akhirnya Delia terjatuh dilantai yang dingin. Suster yang melihat Delia terjatuh pun bergegas menolongnya.
bersambung ...
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ...