FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Delia diusir



Di tempat yang berbeda.


Lantai 4


Langkah kaki Delia begitu cepat menuju kamar yang ditempati oleh Ria, tak peduli dengan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Ditambah wajahnya yang terlihat lebam, tampak penuh emosi yang membara.


“BUKA PINTUNYA RIAN!” teriak Delia, tangannya menggedor-gedor pintu kamar, tidak lagi memencet bel.


Klek!


Rian membukakan pintunya dan menatap malas wanita yang datang. Delia langsung mendorong dada Rian dengan kedua tangannya. “Brengsek kamu! Kenapa kamu bisa-bisanya mengatakan semuanya kepada Mas Rafael ... huh!” sentak Delia, kedua netranya melotot.


Rian menepis kedua tangan Delia yang masih saja mendorong dadanya hingga pria itu melangkah mundur. “Tenanglah Delia, tak perlu kamu marah-marah seperti itu!” sahut Rian.


Delia berdecak kesal. “Ck ... Kamu bilang aku harus tenang setelah semua kamu bongkar sama Mas Rian!”


Pria itu mendudukkan dirinya di atas sofa dan masih menatap malas partner ranjangnya. “Lebih baik aku berkata terus terang, dari pada aku kehilangan pekerjaanku. Jadi sorry Delia,” kata Rian santai.


“Woh hebat sekali kamu! Kamu menyelamatkan dirimu atas nama pekerjaan sedang aku gara-gara kamu harus kehilangan pekerjaanku, hilang tambang uangku, Rian!” kata Delia suaranya meninggi.


Rian hanya menaikkan kedua bahunya. “Jangan salahkan aku, itu resikomu! Andaikan kamu setia dengan Rafael mungkin kamu masih bersamanya. Jadi terima nasibmu sajalah!” sahutnya.


“Kamu benar-benar keterlaluan!” bentak Delia, tangannya mulai melayang ke udara, namun tangan Rian cepat menangkisnya.


“Cukup jangan menyalahkan aku, Delia! Kesalahan ini bukan hanya dariku tapi darimu juga. Bukan hanya kamu yang diputusi, tapi aku juga kehilangan calon istriku!” balik membentak Rian, lalu pria itu bangkit dari duduknya dan menarik tangan wanita itu lalu mendorongnya keluar kamar.


BRAK!


Pintu terbanting dengan kencangnya saat sudah mengeluarkan Delia dari kamarnya. Dan Delia pun berteriak dengan umpatan-umpatan kasar di depan kamar Rian.


“DASAR COWOK BRENGSEK!” maki Delia sebelum kembali ke kamarnya di lantai tiga.


Hanya amarah yang menguasai dirinya, kekecewaan karena hubungannya telah berakhir, belum lagi dirinya yang dipecat. Namun wanita itu masih saja tidak terima.


“Sialan ponselku masih sama cewek itu, aku harus bisa mengambilnya!” gumamnya seorang diri saat menuju kamarnya.


Dari kejauhan Delia melihat pintu kamar yang ditempatinya terbuka, dan di depannya ada troly cleaning service, akhiran Delia mempercepat langkah kakinya.


“Ada apa ini, jangan kurang ajar kalian ya!” bentak Delia saat masuk ke kamar dan melihat beberapa orang sedang menyentuh barang-barang miliknya.


Reni yang kebetulan mendampingi petugas housekeeping menoleh lalu mendekati wanita itu. “Mohon maaf Mbak, kami ditugaskan oleh Pak Satya untuk merapikan kamar ini dan meminta mbak untuk segera meninggalkan hotel ini. Kebetulan waktu kami ke sini, Mbak nya tidak ada jadi kami bantu untuk merapikannya,” tutur Reni begitu sopan namun penuh penekanan, jika awal kedatangan Delia, Reni menyambutnya dengan rasa hormat karena mengaku sebagai istri owner, sedangkan sekarang Reni memperlakukannya biasa saja.


Delia tambah emosi. “Hak apa kalian mengusirku, aku ini calon istri owner hotel ini ya!” bentak wanita itu masih saja belum terima keadaan.


Reni mengulum senyum tipis. Dasar gak waras masih saja ngaku-ngaku calon istri Pak Rafael ... batin Reni.


Barang milik Delia sudah ter-packing dengan rapi di dalam tas oleh petugas house keeping.


“Kalian tidak berhak mengusirku, ini hotel milik calon suamiku!” bentak Delia kembali.


Reni memberikan kode kepada salah satu petugas house keeping, lalu petugas itu keluar sebentar. Sedangkan Delia masih tidak terima diminta keluar dari kamarnya.


Tak menunggu waktu lama dua petugas securty pun datang ke kamar. “Silakan Mbak keluar dari kamar dan hotel ini!” perintah salah satu petugas securty, namun yang terjadi Delia masih tidak mau, akhirnya kedua petugas securty tersebut mencengkeram lengan Delia lalu membawa paksa wanita itu untuk keluar dari hotel tersebut.


Reni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, termasuk beberapa staff yang kebetulan melihat adegan mengusir Delia.


“Awal datang dengan sombongnya mengaku sebagai istri Pak Rafael, ternyata bohong,” celetuk salah satu karyawan.


“Dan kini berakhir dengan nasib yang diputusi sama Pak Rafael, gak menyangka wanita itu ternyata ada main dengan pria lain ... ckckck,” sambung kata karyawan yang lain.


Di luar lobby Delia sudah kelihatan urakkan dengan teriakan-teriakan umpatannya, dan tanpa disadari dia sudah jadi bahan tontonan orang yang ada di sekitar hotel.


...----------------...


Kembali ke kamar 515, setelah sempat ada suara barang terbanting dan teriakan yang menggema di dalam kamar Rafael, sejenak mulai hening.


Darial masih berdiri di luar kamar Ayasha, ingin bertanya apa yang terjadi rasanya sungkan karena dia baru pertama kali mengenal orang yang ada di dalam kamar tersebut.


Dirasa keadaan sudah kondusif Mama Rara ingin melihat keadaan anaknya namun Satya menahan wanita paruh baya itu. “Sebentar Nyonya biar saya dengan Dokter yang melihat keadaan di dalam kamar,” pinta Satya, takut ada kejadian susulan. Lagi pula Satya sudah terbiasa menghadapi emosi bosnya yang terkadang suka meledak-ledak.


Ayasha yang berada di kamar sebelah, langsung berpikir jika kegaduhan itu terjadi pada Rafael, namun dia tidak tahu karena apanya. Darial kembali masuk dan mendekati Ayasha yang masih termenung.


“Saya tidak tahu ada kejadian apa di luar, tapi sepertinya dari kamar sebelah,” ucap Darial memberitahukan sebelum Ayasha bertanya.


Ayasha menatap teduh Darial. “Kak Darial maaf sepertinya keadaannya kurang kondusif di sini, bukan maksud aku mengusir, tapi mungkin ada baiknya Kak Darial pulang dulu. Nanti kapan-kapan kita bertemu lagi,” pinta Ayasha.


Ada rasa kecewa yang tersirat di wajah Darial, namun dia bisa memahaminya jika ada sesuatu dikamar ini dan rasanya tidak etis jika dia ikut campur.


“Maaf ya Kak Darial sekali lagi bukan maksud mengusir, dan terima kasih sudah menjengukku,” kembali berucap Ayasha.


Darial meraih tangan gadis itu. “Iya gak pa-pa, saya memahaminya. Semoga cepat sembuh ya,” balas pria itu, lalu mengecup punggung tangan gadis itu, kemudian berpamitan dan meninggalkan kamar Ayasha.


“Bu, saya pamit kembali ke kantor. Lain kali saya akan mengunjungi Ibu,” kata Darial saat menyambangi Mama Rara yang ada di ruang tamu.


“Terima kasih sudah menjenguk anak saya,” balas Mama Rara.


Amelia yang juga duduk di ruang tamu, kedua netra sangat memindai pria bule itu seakan-akan pernah melihatnya, tapi lupa.


Ya sebaiknya pria itu pergi dulu, keadaan di sini sedang kurang baik ... batin Amelia, yang masih tidak nyangka ada hal yang mengerikan di kamar Rafael walau belum melihatnya.


 bersambung ...