FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Siuman dari pingsan



Mengakhiri hubungan secara baik-baik, tanpa mengumbar keburukan yang Ayasha ketahui tentang Darial, namun ternyata tidak diterima oleh pria bule itu, segala sikap yang terkesan baik selama ini, berubah menunjukkan jati diri dia sebenarnya. Maka dari itu jangan pernah menilai sesuatu hanya dari sampulnya, tapi menilai lah dari isinya, belum tentu yang terlihat baik isinya baik juga, dan belum tentu juga yang luarnya buruk isinya buruk juga.


Satya dibantu petugas security menahan tubuh Darial yang terlihat kaku, wajah pria bule itu masih nampak terkejut, hatinya pun amat sangat menyesali.


Kedua netra Rafael sudah mulai berkaca-kaca saat menopang dan memeluk Ayasha yang sudah tak sadarkan diri, akibat kena pukulan Darial yang seharusnya ditujukan untuk dirinya.


“PANGGIL DOKTER! DAN SIAPKAN KAMAR!” teriak Rafael pada karyawan yang ada di lobby. Tatapan Rafael begitu tajam saat menatap Darial bagaikan ingin menguliti pria bule tersebut.


Reni terlihat buru-buru menelepon Dokter, dan Sri menyiapkan access card lalu memberikannya pada Satya.


“JANGAN COBA-COBA MENDEKATI AYASHA KEMBALI! BERANI MENDEKATINYA, SAYA TIDAK AKAN SEGAN DENGAN ANDA!” teriak Rafael kembali begitu murka.


Darial mendengkus kesal, dan mencoba melepaskan dirinya dari kedua petugas security yang menahannya.


Tidak!... Saya akan mencari cara agar Ayasha menjadi milik saya kembali! Saya tidak akan membiarkan kamu memilikinya!


Rafael segera membopong Ayasha,  Amelia yang baru saja turun ke lobby, langsung berlarian setelah melihat Ayasha dibopong Rafael, untuk menghampirinya. Tatapan rasa ingin tahunya Amelia dibungkam oleh Satya untuk tidak bertanya dulu, namun Amelia mengikuti mereka bertiga.


Mereka pun sama-sama ke lantai lima ke kamar yang ditunjukkan oleh Satya. Sesampainya di kamar, Ayasha langsung direbahkannya di atas ranjang.


Pria itu mengusap pipi gadis itu dan memanggil namanya berulang kali, berharap gadis itu akan membuka kedua matanya.


“Maafkan aku yang Sayang, kamu jadi terluka lagi,” gumam Rafael sendiri, sembari menatap sendu Ayasha.


Amelia sudah membuatkan teh hangat dan meletakkannya di atas nakas, jaga-jaga jika Ayasha sudah siuman. Kemudian dia kembali ke ruang tamu untuk menemui Satya dan menanyakan apa yang terjadi oleh Ayasha.


Rafael masih setiap mengusap lembut tangan Ayasha, berharap gadis itu akan segera siuman, sedangkan Dokter masih belum juga datang. Sabar!


“Eeugh ...,” lenguhan keluar dari bibir ranum gadis itu, kedua netranya pun mulai mengerjap-ngerjap.


“Ayasha.“ Pria itu kembali memanggil nama gadis itu, seraya mengusap telapak tangan Ayasha yang terasa dingin itu.


Saat Ayasha sudah membuka kedua kelopak matanya, dia melihat Rafael tersenyum padanya. “Alhamdulillah kamu sudah sadar, sekarang apa yang dirasa?” Rafael langsung bertanya.


Hati gadis itu menghangat melihat Rafael berada disisinya dengan wajah yang sudah mulai terlihat memar. “Pusing,” jawab Ayasha pelan, sembari memijit pelepisnya yang terasa sakit.


Tanpa banyak bertanya lagi, Rafael ikutan memijit kening gadis itu agar pusingnya agak berkurang, Ayasha pun menarik tangannya dan membiarkan pria itu memijitnya.


“Permisi Pak Rafael, Dokternya sudah datang,” kata Satya, di sisinya sudah ada pria paruh baya berjas putih.


“Silahkan tolong dicek Dokter, tadi sempat kena pukulan di bagian tengkuknya,” ujar Rafael, memberikan ruang untuk sang Dokter, lalu dia berpindah posisi.


 “Sayang, kalau ada yang dirasa sakit kasih tahu Dokternya ya, jangan diam saja,” pinta Rafael saat  menemani Ayasha di sisi ranjang yang berbeda.


“Iya Om,” jawab Ayasha pada pria yang agak cerewet itu.


Usai diperiksa oleh Dokter, hanya diresepkan obat pusing, obat nyeri dan salep untuk luka lebam di bagian tengkuk untuk Ayasha.


Sekarang giliran Rafael yang duduk dihadapan Ayasha. Gadis itu sedang mengolesi salep pada wajah pria itu, penuh kehati-hatian, pria itu terlihat senang dapat perhatian dari Ayasha.


“Lain kali kalau ada orang yang berkelahi jangan coba-coba ikutan memisahkannya. Aku sedih saat kamu pingsan tadi, “ kata Rafael, menatap dalam gadis itu.


“Lagian kenapa kalian berdua jadi berkelahi, aku suruh berhenti, malah gak berhenti,” celetuk Ayasha, kesal.


“Emosi ... mungkin aku dengan Darial sama-sama emosi yang tak bisa dibendung lagi. Dia marah karena kamu putusin!”


Rafael sudah menduganya dan ternyata benar. “Ya sudah tidak pa-pa jika dia menduga kalau aku penyebabnya, semua hubungan diputuskan secara baik-baik pasti akan berpikir ada campur tangan pihak ketiga, itu sudah biasa. Aku minta jangan dipikirkan lagi, aku akan melindungimu jadi tetaplah di sisiku ya,” tutur Rafael begitu menyejukkan hati Ayasha.


Ayasha mengangkat tangannya lalu menyentuh rahang pria itu. “Jangan berkelahi lagi ya,” pinta Ayasha dengan tatapan sendunya.


“Tergantung kondisinya, Sayang,” jawab Rafael.


“Iish sama aja itu namanya,” balas Ayasha sebal.


Rafael langsung menarik pinggang gadis itu, lalu memeluknya. “Jika aku berkelahi untuk melindungi mu, apa salahnya, Sayang,” sahut pria itu, tangannya pun mengusap lembut punggung gadis itu.


Ya Allah semoga keputusanku tepat dalam memilih, dan kumohon mudahkanlah jalannya, jadikanlah kami berdua pasangan yang halal.


 


...----------------...


Jam makan siang pun tiba, setelah kejadian tadi pagi, Ayasha sempat diminta beristirahat terlebih dahulu oleh Rafael, dan meminta Amelia untuk menemani di kamar sebelum jam makan siang tiba.


Rafael dan Satya sudah berada di lobby, mengecek untuk memastikan jika Darial sudah tidak berada di hotelnya sembari menunggu kedua orang tuanya dan orang tua Ayasha tiba.


“Satya, jadi benar tidak ada Delia di hotel saya?”


“Sudah saya cek dua kali, memang tidak ada nama Delia. Ya semoga saja dia tidak memakai nama orang lain tapi ternyata dia ada di sini,” jawab Satya.


Rafael memindai seluruh sudut yang ada di lobby, sebenarnya banyak tamu yang mengenakan masker, hanya saja dia sempat mencurigai karena wangi parfum yang mirip wangi yang sering dipakai oleh Delia.


“Tetap saya harus waspada, karena dia pasti masih punya niat untuk mencelakakan Ayasha, saya tidak ingin hal itu sampai terjadi.”


“Saya sudah menghimbau ke karyawan untuk memperhatikan jika ada tamu mirip Delia, agar segera memberitahukan.”


“Bagus, pantau terus!”


 Dari luar lobby hotel, Rafael melihat kedua orang tuanya dan orang tua Ayasha sudah tiba, pria itu pun bergegas untuk menyambutnya, namun sebelumnya dia meminta Satya untuk menelepon ke kamar dan memberitahukan jika mereka  sudah tiba.


Tanpa di sadari oleh Rafael dan Satya, Delia sedari tadi duduk di lobby dengan penyamaran terbarunya, namun dia juga menutupi wajahnya dengan berpura-pura sedang membaca majalah, dan tentu saja tidak memakai parfum pada tubuhnya. Wanita itu samar-samar mendengar percakapan mereka berdua, dan hal itu membuat wanita itu tersenyum sinis.


Ternyata kamu masih ingat sama wangi parfumku, Mas Rafael!


 bersambung ...