FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Larissa melihatnya



Keluarga Valerie sudah tiba di rumah sakit, Larissa si gadis cilik berlarian saat melihat Mama Rara dan Papa Stevan masih duduk di depan ruang operasi.


Gadis cilik itu berhamburan memeluk Mama Rara yang masih berlinang air mata, sedangkan Valerie sepanjang perjalanan menuju rumah sakit  sudah menangis, memeluk erat Papa Stevan, membuncahkan rasa sedihnya. Satya yang berada di sana menundukkan pandangan matanya, dan turut menangis dalam diamnya. Hingga kini mereka masih belum dapat kabar terbaru tentang Rafael yang sedang berjuang di ruang operasi.


Di saat gadis cilik itu menatap pintu ruang operasi dalam pelukan Mama Rara, tiba-tiba bibir mungil Larissa tersenyum manis, kemudian tangannya melambai seolah-olah sedang melambai ke seseorang, lalu mengerlingkan salah satu mata indahnya.


Larissa mengurai pelukan nya, kemudian kedua bola mata indahnya menatap dalam Mama Rara yang masih bersedih. Tangan mungil gadis kecil itu bergerak menyentuh pipi Mama Rara kemudian dia mengusap air mata yang membasahi pipi Mama Rara.


“Oma, kata uncle jangan menangis terus. Uncle jadi ikutan sedih, uncle minta Oma mendoakan uncle biar bisa kembali di dunia, dan kembali berkumpul sama kita, Oma,” ucap Larissa dengan mimik wajah yang amat serius.


Sontak saja semua yang mendengar ucapan Larissa, melayangkan pandangannya ke gadis kecil itu, termasuk Mama Rara.


Larissa kembali menatap pintu ruang operasi yang lampunya masih berwarna merah. “Uncle ada di sana, dia sedang melihat kita, Oma. Uncle terlihat tampan, dan meminta kita mendoakannya,” kata Larissa.


Bulu halus mereka semua seketika merinding mendengarnya. Sontak saja Mama Rara kembali memeluk cucu pertamanya, dan kembali menangis. Tangan mungil gadis itu mengusap punggung Mama Rara. “Jangan menangis lagi Oma, uncle jadi sedih.”


Mama Rara berusaha menekan rasa sedihnya agar tidak terlalu menangis meraung-raung, walau tidak bisa dipungkiri hatinya masih gundah.


Sepuluh menit kemudian, lampu yang berada di atas pintu ruang operasi sudah mati, dan tak lama keluar lah pria bermasker dengan pakaian berwarna hijau.


“Keluarga Pak Rafael,” ucap pria tersebut.


Papa Stevan langsung berdiri dan menjawab,“Saya Papanya Rafael, bagaimana keadaan anak saya.” Suara Papa Stevan terdengar bergetar.


“Alhamdulillah berkat kuasa Allah, kami berhasil menyelamatkan Pak Rafael setelah sempat ada gangguan fungsi jantungnya saat selesai operasi di bagaian kepalanya, dan nanti Pak Rafael akan kami pindahkan ke ruang ICU, untuk memantau perkembangan selanjutnya,” kata sang Dokter.


Papa Stevan langsung meraih tangan sang Dokter. “Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih banyak Dokter atas kerja keras, saya benar-benar berterima kasih. Dan saya minta tolong berikan pengobatan yang terbaik buat anak saya,” ucap Papa Stevan, untuk sejenak ada kelegaan hati.


“Kami hanya perantara saja Pak, hanya Allah lah yang menyembuhkan. Tapi kami akan berusaha memberikan yang terbaik,” jawab Dokter.


“Kapan saya bisa menengok anak saya, Dokter?” sambung Mama Rara, sang Dokter langsung menoleh ke arah Mama Rara.


“Kemungkinan besok bisa di tengok Bu, untuk saat ini masih belum bisa. Jadi sebaiknya malam ini Ibu dan Bapak bisa beristirahat dulu, dan jangan khawatir kami team dokter dan perawat akan standby menjaga Pak Rafael.” Kalimat yang menenangkan dari Dokter buat keluarga pasien, karena sudah bisa dipastikan kedua orang tua tersebut sudah amat kelelahan, lelah hati dan fisik menunggu kepastian tentang anaknya.


“Tolong kabari jika terjadi sesuatu pada Rafael, Dokter,” pinta Papa Stevan.


“Insya Allah akan kami kabari jika terjadi sesuatu.”


 Untung saja di dekat rumah sakit beberapa meter ada hotel, Satya bergegas mengurus penginapan untuk keluarga Rafael karena kedua orang tua Rafael tetap ingin selalu stand by jika terjadi sesuatu hal.


Larissa menggenggam tangan Mama Rara saat akan meninggalkan rumah sakit. “Jangan khawatir Oma, Uncle hanya tidur sebentar,” ucap gadis cilik itu.


Sebelum datang ke rumah sakit, Larissa memang amat bersedih, namun setibanya dan berada dekat pintu ruang operasi itu, rasa sedihnya semakin berkurang setelah melihat penampakan yang menyerupai uncle nya.


Sedangkan untuk keadaan Ibra, pria muda itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah berhasil melakukan operasi pada salah satu kaki dan tangannya yang patah, namun sayangnya tidak ada keluarga yang menemaninya.


...----------------...


Esok hari.


Ayasha semalam sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP sesuai permintaan Papa Stevan. Gadis itu sudah bangun dari tidurnya, wajahnya amat terlihat sendu, seperti tak ada semangatnya.


Di pagi hari ini Dokter yang menangani Ayasha sudah berkunjung untuk mengecek kondisi dan fungsi tubuh gadis itu, mulai dari kedua kakinya dan tangannya, serta menanyakan keluhan yang dia rasakan, sehubungan ada luka dan bentur di kepala Ayasha, dia masih mengeluh suka sakit dan pusing.


“Semangat ya, jangan dibawa sedih, biar cepat sehat, hati yang bahagia busa meningkatkan imun tubuh,” kata Dokter sebelum meninggalkan ruangan.


Gadis cantik itu hanya tersenyum tipis, bagaimana tidak sedih, hatinya galau, buat berbicara saja dia tak sanggup.


Pria berjas putih itu menatap lekat gadis itu sejenak. “Ayo semangat ya, biar bisa menjenguk calon suaminya,” kata Dokter. Dokter yang menangani Ayasha dan Rafael, sudah tahu jika mereka seharusnya semalam menikah, malah mengalami kecelakaan.


Seketika itu juga Ayasah melayangkan pandangannya yang sempat teralihkan. “Ca-calon suami saya, selamatkah, Dokter?” tanya Ayasha begitu lirih.


“Alhamdulillah, semalam sempat kritis tapi bisa diselamatkan,” jawab Dokter.


Kedua netra Ayasha yang sejak bangun sudah terlihat sendu, sekarang berkaca-kaca. “Bisa saya melihatnya Dok, saya mau bertemu dengan calon suami saya,” pinta Ayasha memohon.


Melihat sarapan pagi masih utuh di atas nakas, kemudian menatap Mama Nia yang berada disisi Ayasha. “Bisa menjenguknya, tapi sebaiknya sarapan dulu lalu minum obatnya. Nanti akan saya pinta perawat menjemput untuk menjenguk di ruang ICU,” pinta Dokter.


Ayasha menganggukkan pelan, dan meminta Mama Nia untuk menyuapinya. Akhirnya selama satu jam Mama Nia membujuk Ayasha untuk makan sarapan paginya, kini mau makan dengan lahapnya, demi bisa bertemu dengan Rafael.


Sementara itu di ruang ICU, keluarga Rafael sudah berkumpul, mereka tak sabar ingin bertemu dengan Rafael, terutama Mama Rara dan Papa Stevan.


Pihak dokter sudah menjelaskan jika keadaan Rafael masih dalam keadaan belum sadar atau koma, namun masa kristisnya sudah terlewati, tinggal menunggu waktu kapan Rafael akan sadar. Dan pasien hanya bisa di jenguk sebentar saja, itu pun satu persatu masuknya.


Mama Rara terlebih dahulu yang masuk ke ruang ICU, sedangkan yang lainnya hanya melihat dari balik jendela besar. Hati Mama Rara begitu sedih melihat keadaan Rafael, namun sekuat tenaga dia menatap anak sulungnya, kemudian wanita paruh baya itu mencium kening yang diperban itu sembari membacakan doa kesembuhan.


“Cepat bangun Nak, kami sangat merindukan mu. Kami masih membutuhkan kamu, Nak,” ucap Mama Rara lirih, kedua netranya kembali menitikkan air matanya, rasanya tak sanggup melihat begitu banyak alat kesehatan yang menempel di tubuh putranya.


 


bersambung ....