
Sinar matahari mulai berganti warna menjadi orange tanda senja mulai datang, awan putih mulai memudar menuju kegelapan. Deburan ombak pun mulai tenang, tidak setinggi di waktu siang hari.
Tangan besar pria itu masih betah melingkar di pinggang gadis itu, dadanya pun masih menjadi tempat sandaran kekasih hatinya. Mereka berdua tampak duduk bersama di atas pasir putih, kedua netranya pun sama-sama menikmati waktunya matahari terbenam di pinggir pantai.
Rafael mengulas senyum hangat dan menikmati suasana yang begitu hangat. “Sayang,” panggil Rafael.
“Mmm ...,” gumam Ayasha.
“Jika aku telah tiada nanti, masihkah kamu mencintaiku, dan selalu mengingatku sepanjang hidupmu?” tanya Rafael.
Ayasha langsung menarik badannya dari bersandar ditubuh Rafael, kemudian menatap curiga kepada pria itu. “Om Rafael kok bilangnya seperti itu, memangnya mau ke mana? Jangan ngaco ngomongnya ... omongan itu doa. Aku gak mau ditinggal sama Om Rafael,” sewot Ayasha, tidak suka.
Lagi lagi pria itu mengulas senyum hangatnya, lalu menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, menatap penuh damba pada kekasih hatinya, lalu mengecup seluruh wajah gadis itu berkali-kali.
“Aku hanya bertanya sayang, kita tidak akan pernah tahu kapan ajal kita tiba. Tapi jika ajalku sudah tiba, aku akan pergi dengan tenang, karena aku sudah mengungkapkan hatiku padamu, jika aku sangat mencintaimu,” balas Rafael, tersenyum hangat.
Ayasha menggelengkan kepalanya. “Bisakah tidak berkata seperti itu Om. Om bilang ingin menua bersamaku, Om bilang akan menikahi ku, Om bilang ingin punya anak dariku. Kenapa sekarang seakan-akan Om Rafael ingin pergi jauh?” tanya Ayasha, kedua netranya mulai berembun.
Pria itu mendesah, lalu menarik pinggang gadis itu agar kembali didekapnya. “Aku ingin hidup bersamamu hingga kita menua, sampai kita punya cucu-cucu yang ganteng dan cantik. Tapi entahlah sayang, apakah keinginan aku akan terwujud,” balas Rafael terdengar memelas, tatapannya tiba-tiba saja hampa saat menatap langit yang berwarna orange itu.
“Jika Om Rafael ingin pergi, aku ikut Om, bukankah Om mencintaiku, jadi bawalah aku,” pinta Ayasha.
Rafael menarik napas panjangnya. “Jangan, kamu tidak boleh ikut denganku, aku ingin kamu tetap di sini,” tolak Rafael.
“Berarti Om tidak cinta padaku, kalau tidak mau mengajakku,” sentak Ayasha.
“Bukan begitu sayangku cintaku, aku sangat mencintaimu tapi aku tidak bisa mengajakmu pergi bersama.” Rafael kembali mendesah, ada rasa frustrasi di hatinya.
Bagi Ayasha mendengar ucapan Rafael yang seolah-olah ingin pergi menjauh darinya, air matanya pun jatuh membasahi pipinya, Rafael pun memeluknya dengan erat. "Maafkan aku sayang, bukan maksud ingin membuatmu menangis," ucap Rafael begitu lirih.
“Jangan tinggalkan aku, Om Rafael.”
“Jangan tinggalkan aku, Om Rafael,” teriak Ayasha dengan sekuat tenaganya.
Mama Nia dan Papa Tisna ikutan berlinang air mata mendengar teriakan Ayasha yang terdengar memilukan.
Mama Nia bangkit dari duduknya, lalu mengusap lengan anaknya. “Sayang, Ayasha ...,” panggil Mama Nia dengan lembutnya, melihat Ayasha masih meracau memanggil nama Rafael.
Ya Allah, bagaimana jika Ayasha tahu keadaan Rafael ... batin Mama Nia mulai cemas.
Hampir dua jam Ayasha masih tidak sadarkan diri karena di bawah pengaruh obat bius setelah dapat tindakan operasi kecil pada bagian kepalanya. Dan sekarang masih berada di ruang intensif sebelum dipindahkan ke ruang perawatan.
Perlahan-lahan kelopak mata gadis itu mulai terbuka, dan mencoba mengenali suasana di sekelilingnya. Tapi tiba-tiba saja gadis itu menitikkan air mata.
“Om Rafael,” ucap Ayasha lemah, dadanya mulai terasa sesak, sekelebat ingatan kecelakaan itu berada di pelupuk matanya.
“Ayasha.” Mama Nia mengusap lengan gadis itu, namun matanya tak bisa berbohong jika wanita paruh baya itu juga menangis.
“Mah ... mana Om Rafael?” tanya Ayasha, pikirannya sudah kemana-mana.
“Tenang Nak, kamu juga baru sadar,” kata Mama Nia berusaha menenangi Ayasha.
“Mah, di mana Om Rafael ... aku mau ketemu sama Om Rafael, Om Rafael baik-baik aja kan, Mah?” kembali Ayasha mengulangi pertanyaannya.
Mama Nia tidak menjawab pertanyaan anaknya, justru wanita paruh baya itu makin terisak sembari mengusap air matanya. Dada Ayasha semakin sesak melihat Mama Nia yang menangis.
Gadis itu berusaha bangkit dari pembaringannya walau kepalanya masih terasa pusing.
“Kamu mau ngapaiin Nak, kata Dokter masih belum boleh duduk dulu, kepala kamu pasti masih pusing,” kata Papa Tisna terdengar cemas.
“Aku mau ketemu sama Om Rafael, aku mau lihat Om Rafael, Pah,” pinta Ayasha memaksa, dengan suaranya yang bergetar hebat, pikirannya pun sudah kacau.
Papa Tisna melirik Mama Nia. “Nanti ya Nak, tunggu kalau kamu sudah diizinkan oleh Dokter untuk turun dari ranjang,” jawab Papa Tisna.
“Aku mau ketemu Om Rafael sekarang! Om Rafael baik-baik ajakan, atau minta Om Rafael ke sini aja Pah, Mah,” pinta Ayasha menggebu-gebu.
Mama Nia dan Papa Tisna sama-sama terdiam, tapi tak lama Mama Nia memeluk anak gadisnya. Semakin membuncahlah hati Ayasha yang terasa sesak itu. “J-jangan b-bilang Om —“ tak sanggup Ayasha menyebut nama calon suaminya, pecahlah tangisan Ayasha di pelukan Mama Nia dengan tubuh yang bergetar hebat.
Jika aku telah tiada nanti, masihkah kamu mencintaiku, dan selalu mengingatku sepanjang hidupmu.
Mimpi yang baru saja Ayasha impikan kembali hadir dipelupuk kedua matanya, dan amat terasa nyata buat Ayasha. Mungkinkah pria itu baru saja berpamitan padanya?
“TIDAAAAKK ... OM RAFAEL!” teriak histeris Ayasha, kemudian gadis itu tak sadarkan diri di pelukan Mama Nia.
bersambung ... 😭😭😭
Hari Senin, mau dong votenya buat Ayasha dan Rafael dari kakak Readers 😊😊😊