
"Jadi Amelia dan Ayasha temenan, wah gak nyangka,” gumam Satya sendiri, ketika melihat Amelia berpelukan dengan Ayasha. Pelan namun pasti Satya menjauh dari mereka berdua biar tidak mengganggu dengan kehadirannya, padahal Satya ingin mendekati Amelia, tapi ada rasa tidak enak dengan Ayasha karena masa lalu gadis itu dengan bosnya yang berakhir secara tidak baik.
Hari ini menjadi hari yang sangat melelahkan buat Ayasha, dari pagi dia sudah bersitegang dengan Delia. Lalu dia sengaja untuk menenangkan diri, tapi yang terjadi di sore hari dia kembali berhadapan dengan Rafael kemudian lanjut kedatangan Darial. Dan menjelang larut malam, dia harus menghadapi masalah lagi di hotel.
Sungguh batin dan fisik gadis itu amatlah sangat lelah, lebih dari hari-hari sebelumnya, dan dia tidak bisa menghindarinya.
Sesaat Ayasha memejamkan kedua netranya dalam pelukan Amelia, rasa lelahnya sepertinya semakin berat, tubuhnya terasa tak ada tenaganya, seakan dirinya tak menapak bumi kali ini.
“Aya...” panggil Amelia yang mulai merasa pelukan Ayasha semakin berat. Amelia menepuk nepuk bahu sahabatnya berulang kali, dan mulai perasaannya tidak enak.
“AYASHA ...!” seru Amelia, baru menyadari jika sahabatnya sudah tak sadarkan diri di pelukannya.
Mendengar teriakan Amelia yang memanggil nama Ayasha, Rafael melupakan rasa sakit di bagian intimnya, pria itu berlari dengan cepat menghampiri Amelia. “Ada apa dengan Ayasha?”
“A-Aya p-pingsan,” jawab Amelia terbata-bata sembari menahan bobot tubuh Ayasha.
Tanpa banyak bertanya, Rafael menarik tubuh Ayasha dari Amelia. “Satya cepat panggil dokter!” perintah Rafael terlihat panik. Satya yang kebetulan dekat meja resepsionis minta Reni untuk menghubungi dokter dari rumah sakit terdekat.
Berhubung keadaan sedang darurat, Amelia pasrah ketika Ayasha diambil alih oleh Rafael, sejenak dia melupakan mantan tunangan Ayasha yang menyebalkan itu.
Rafael tergopoh-gopoh mengendong tubuh Ayasha ala bridal style dengan wajahnya yang begitu cemas, sesekali pria itu menatap wajah Ayasha yang terlihat pucat. Demi mantan tunangan yang tiba-tiba pingsan pria itu melupakan rasa sakit di badannya, sungguh berbanding terbalik terhadap wanita yang telah menemaninya selama 5 tahun sebagai tunangan, pingsan di hadapannya malah menyuruh orang lain untuk mengurusinya.
Rafael membawa gadis itu ke kamarnya yang ada di lantai lima, sedangkan Amelia turut mengikutinya dari belakang, gak mungkin si Amelia membiarkan Rafael berduaan dengan Ayasha.
Aduh Om Rafael masih kuat ya nahan sakit si otong habis kena tendang Aya, sekarang malah gendong Ayasha sendirian.
Sorry ya Aya, terpaksa Om Rafael yang gendong kamu.
Para karyawan yang ingin membantu membopong Ayasha, ditolak mentah-mentah oleh Rafael yang tidak mau dibantu oleh siapapun ... rasanya tidak suka kalau ada pria lain yang menyentuh tubuh Ayasha.
Satya yang sudah selesai menghubungi dokter dan berkoordinasi tentang Rian dan Delia dengan beberapa staf, pria itu bergegas menyusul ke kamar bosnya di lantai 5.
“Kasihan Mbak Ayasha, gimana gak pingsan ... dari pagi tadi dia sudah menghadapi masalah, sekarang malam ada lagi. Saya kalau jadi Mbak Ayasha gak akan mampu menghadapi semua ini, sakit hati banget,” kata Reni, berkeluh kesah.
Dari pagi gosip sudah beredar jadi Sri sebagai lawan bicara jadi nyambung apa yang dibicarakan oleh Reni, apalagi sudah ada postingan di aplikasi tok tok tentang pelakor teriak pelakor. Eh malam ini malah lebih parah lagi, pelakornya ternyata sebagai wanita ja lang juga.
Tapi kenyataannya malam ini sudah ada yang memosting adegan brutal Ayasha yang menghajar Delia di aplikasi tok tok, auto banjir komentar.
Wanita cantik berani menghajar pelakor yang merebut calon suaminya yang ternyata merebut calon suami temannya juga!
@Cyilis : gile mantap tuh cewek keren berani brantas tuh pelakor.
@Gigi : bikin mampus aja tuh pelakor, kalau bisa lakinya juga dihajar. Yang namanya perselingkuhan itu yang salah kedua-duanya.
Begitulah dunia maya pasti akan cepat tersebar, tinggal siap-siap menghadapi hari esok.
...----------------...
Kamar 515
Amelia menahan pintu kamar agar Rafael bisa mudah masuk ke dalam. Pria itu dengan hati-hati merebahkan Ayasha di atas ranjangnya.
“Amel, tolong lihat sudah datang belum dokternya. Dan minta salah satu staf buatkan minum yang hangat buat Aya,” pinta Rafael, tanpa menatap ke Amelia, karena pria itu betah menatap Ayasha.
Rafael membuka kedua sepatu kets gadis itu yang berwarna putih, kemudian dia duduk di tepi ranjangnya. Pria itu meraih tangan Ayasha yang ternyata terasa amat dingin, penuh kelembutan dia mengusapnya agar terasa hangat.
“Ayasha ...,”panggil Rafael, berharap suaranya bisa membangunkan gadis itu, tapi sayangnya dia tak terbangun.
Jika sudah seperti ini Rafael kembali terasa sedih, menatap wajah lelah Ayasha namun terlihat damai saat terpejam. “Ayasha ....” Tangan pria itu menyentuh pipi putih gadis itu yang begitu mulus tak ada noda, lalu mengusapnya. “Kamu pasti sangat lelah hari ini,” ucapnya lirih.
“Wajahmu pucat, Aya.” Pria itu menatap sendu gadis itu, tak lama Rafael mencondongkan dirinya agar wajahnya lebih dekat dengan wajah Ayasha, kemudian kembali menatapnya lekat.
“Aku sangat menyesal telah menyia-nyiakanmu, Ayasha,” gumam Rafael sendiri, tak lama bibir pria itu menyentuh pipi Ayasha lalu mengecupnya begitu lembut, untuk pertama kalinya semenjak Ayasha dewasa, Rafael kembali mengecup pipi Ayasha sebagai seorang pria bukan hanya sekedar saudara.
Buliran bening yang keluar dari ujung ekor mata Rafael, turut membasahi pipi Ayasha. Ayasha ... Andaikan waktu bisa diulang kembali, tapi itu tidak mungkin terjadi. Rafael memejamkan kedua matanya, jika bibirnya saat ini masih mengecup pipi Ayasha, maka tangan kanannya mengusap pipi gadis yang tidak dikecupnya.
“Ekhm ... permisi Pak Rafael, dokternya sudah tiba,” kata Satya yang tiba-tiba masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sang asisten sebenarnya agak terkejut melihat bosnya sedang mencium pipi Ayasha, untung saja Amelia lagi ada diluar menunggu pesanan buat Ayasha, kalau tidak bisa diteriaki sama Amelia.
Waduh si Pak Bos diam diam cium Ayasha, kalau melek bisa ditendang lagi tuh si otong sama Aya ... batin Satya.
Rafael agak terkejut, lalu langsung menarik wajahnya dari wajah Ayasha kemudian buru-buru mengusap matanya yang berembun sebelum menoleh ke Satya.
“Tolong periksa, Dokter,” pinta Rafael ketika bangkit dari tepi ranjang.
Dalam beberapa menit Dokter yang dipanggil oleh Satya bergegas memeriksa kondisi Ayasha.
“Mbaknya sepertinya sangat kelelahan, harus dirawat di rumah sakit tapi jika tidak mau dirawat di rumah sakit, bisa dirawat di rumah tapi dengan prosedur harus dibantu dengan cairan infus,” saran Dokter.
“Tolong Dokter di rawat di sini saja, jika memang harus diinfus, silakan,” pinta Rafael memberikan keputusan seperti itu, karena Ayasha paling tidak suka dengan rumah sakit, pria itu sangat tahu.
“Baik Pak.” Dokter bergegas mengurus Ayasha, untuk saja asa perawat pendamping yang turut serta ikut dengannya.
Selagi Dokter dan perawat memasang jarum infus, Satya mendekati Rafael yang berdiri di sisi ranjang yang lain. “Maaf Pak Rafael, untuk Delia sepertinya butuh diperiksa oleh Dokter, kira-kira bagaimana?” tanya Satya penuh dengan rasa kehati-hatian.
“Nanti dulu, yang paling utama sekarang kondisi Ayasha bukan Delia, lagi pula saya juga butuh dicek sama Dokter!” jawab Rafael agak ketus.
Kedua netra Satya lihat bagian celana bosnya, baru ingat kalau si otong bosnya butuh di cek gara-gara kena tendangan maut Ayasha.
“Semoga dia baik-baik saja keadaannya,” gumam Satya masih melirik bagian bawah Rafael. Rafael mendengus kesal melihat tatapan ejek Satya.
bersambung ....
Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya makasih sebelumnya 🙏😊
Lope lope sekebon 🌻🌻🌻🍊🍊🍊🌹🌹🌹