FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
FORGETTING YOU



Kamar 515


Darial terlihat tampak perhatian dengan Ayasha, seperti saat ini setelah mengambil pesanan makanan di lobby, kini dia membukanya satu persatu bungkusan tersebut.


“Aya, kamu mau makan yang mana dulu,” tanya Darial sambil menunjuk beberapa kotak makanan yang ada di atas nakas.


“Aku mau salad buah dulu, kayaknya segar Kak,” pinta Ayasha. Darial memberikan kotak salad buahnya, sembari kembali duduk di tepi ranjang.


“Ini salad buahnya.” Darial mengulurkan tangannya yang memegang tempat salad buahnya.


“Makasih,” jawab Ayasha, sembari menerima makanan yang diinginkannya, kemudian mulai menyantapnya, sedangkan Darial masih betah menatap Ayasha.


“Kak Darial mau cobaiin juga?” tanya Ayasha, menyodorkan sendok makannya di mulut Darial.


“Bolehkah?”


Ayasha menganggukkan kepalanya dan pria bule itu tersenyum hangat, kemudian membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Ayasha. Terjadilah suap suapan antara Ayasha dan Darial.


Tanpa sepengetahuan Ayasha dan Darial, di ambang pintu sudah berdiri pria dengan kedua netranya yang mulai memerah, rahangnya yang tampak tegas mulai mengetat, tangannya yang terluka sudah terkepal dengan kuatnya hingga buku kukunya memutih.


Aku menahan nafas saat melihatmu dengannya, seolah dunia telah berhenti, seperti angin yang lewat. Bahkan jika kamu tidak melihatku, hatiku menuju ke arahmu.


Mencintaimu adalah hal yang menyakitkan. Perasaan itu ada dihatiku ternyata selama ini dan tak bisa dihilangkan, ini hal yang menyedihkan.


Cintamu untukku telah dilupakan sepertinya, aku terlambat menyadarinya.


Mungkinkah kamu telah melupakanku, perasaanmu yang pernah ada untukku? Haruskah aku melupakanmu juga.


Ternyata mimpiku sangat menyedihkan Ayasha.


Pria itu memejamkan kedua netranya, hati yang memanas semakin lama semakin menyesakkan dan sudah tentu sangat-sangat menyakitkan, bagaikan belati tajam yang menyayatnya dalam tempo begitu pelan ke hatinya.


Tangan yang terlihat menua tampak menyentuh lengan besar pria itu dan mengusapnya dengan sentuhan begitu lembut. “Rafael,” ucap wanita paruh baya itu sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh Ayasha dan Darial yang tampak romantis.


Rafael membuka kedua netranya lalu menoleh ke samping untuk menatap wanita tersebut. “Jangan di sini Nak,” pinta mama Rara pelan, dan mengajak pria itu untuk tidak berdiri diambang pintu kamar Ayasha.


Pria itu melangkah dengan gontainya, dan mengikuti Mama Rara masuk ke kamar sebelah. Wanita paruh baya itu meminta anaknya untuk duduk, lalu kedua netranya memindai keadaan Rafael.


Kedua netra putranya sudah nampak berkaca-kaca, dadanya pun sudah terlihat naik turun hingga deru napasnya terdengar agak sesak. Mama Rara meraih tangan Rafael yang terluka dan masih basah karena ada darahnya.


“Pasti hari ini sangat berat untukmu Nak, namun inilah yang harus kamu hadapi, semuanya berawal karena keputusanmu dimasa lalu,” tutur mama Rara, sembari membalut tangan anaknya dengan sapu tangan miliknya.


Rafael memalingkan tatapan ke arah jendela kamarnya, buliran bening yang sejak tadi ditahan akhirnya mendesak dirinya untuk jatuh membasahi pipinya satu persatu.


“Lima tahun yang lalu, dia hanya bisa tertunduk diam, air mata tak sedikit pun keluar dari matanya tapi diamnya itu sudah menggambarkan hatinya diam-diam telah menangis dan hancur berkeping-keping, setelah melihat hubungan intimmu dengan Delia. Dia yang masih berusia 18 tahun menutupi kesedihannya dengan menunjukkan wajah tegarnya,” imbuh mama Rara, sembari menyentuh cincin tunangannya dengan Ayasha yang masih tersemat di jari manis Rafael.


Rafael masih tak kuasa menatap wajah Mama Rara. “Sebagai wanita, Mama bisa merasakan rasa sakit di hati Ayasha,” sejenak mama Rara terdiam kemudian tersenyum tipis di saat menatap wajah anaknya. “Dia mungkin tidak pernah mengutarakan isi hatinya padamu begitu juga denganmu, tapi sebelum acara pertunangan kalian berdua, dia bilang sama Mama jika dia sangat bahagia memiliki calon suami dirimu Nak, dia sangat menyayangimu. Dan Mama sangat bersyukur akan hal itu.”


Mama Rara mengusap lembut lengan anaknya yang mulai menangis. “Sakitkan rasanya setelah kamu mengetahui keburukan Delia, wanita yang selalu kamu bela, wanita yang kamu pilih sendiri? Tapi lebih sakit mana? Tahu Delia selingkuh atau tahu jika Ayasha sudah memiliki kekasih atau bisa jadi calon suami?” tanya wanita paru baya itu penuh rasa kehati-hatian.


Rafael semakin terisak, dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, pertanyaan terakhir Mama Rara sangatlah menyesakkan buat Rafael. Inikah cinta yang dia miliki, ooh bukan cinta yang tak bisa dimilikinya.


“A-aku benar-benar b-bodoh, Mah!” ucap Rafael terisak-isak.


Mama Rara memeluk anaknya kemudian mengusap lembut punggung anaknya. “A-aku baru menyadari j-jika a-aku mencintainya, a-aku mencintai Ayasha, ta-tapi semua sudah terlambat, Mah,” ucapnya Rafael terdengar lirih.


Ya, semua sudah terlambat! Terlambat menyadarinya walau janur kuning belum melengkung di rumah Ayasha.


“Terimalah kenyataan yang sudah terjadi Rafael, berbesarlah hatimu sekarang, semua berawal darimu bukan kesalahan Ayasha. Mulai sekarang berbenahlah dirimu, perbaikilah dirimu sendiri, mohon ampun atas dosa-dosa yang telah kamu perbuat selama ini. Dan biarkanlah Ayasha berbahagia dengan pilihannya,” imbuh mama Rara.


“Aku tak sanggup melihatnya Mah, aku tak sanggup dia dimiliki oleh orang lain ... aku sangat mencintainya,” ucap Rafael saat mengurai pelukannya, kedua matanya sudah basah dan memerah, tangan mama Rara pun mengusap pipi anaknya.


“Mencintai seseorang tidak harus memilikinya, kamu bisa mendoakan kebahagiaan Ayasha.” Sebenarnya mama Rara juga sedih dan pilu dengan hubungan Rafael bersama Ayasha, namun dia sudah tak mau ikut campur, yang dia inginkan saat ini adalah anaknya memperbaiki dirinya, lepas dari segala guna-guna Delia dan berdoa semoga anaknya memiliki pasangan hidup yang baik.


Rafael menggelengkan kepalanya tidak menyetujui dengan kata cinta tak harus memilikinya.


“Jangan egois Nak, Ayasha berhak bahagia dengan pasangannya. Sekarang tenangkan dirimu, Mama akan ambil minum untukmu,” kata mama Rara. Wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya kemudian keluar dari kamar untuk mengambil minum untuk Rafael.


Namun apa yang terjadi di dalam kamar  Rafael ...


PRANG!


PRANG!


“AAAKKKHHH!” teriakan sangat kencang dari kamar Rafael, beriringan dengan bunyi pecahan kaca.


Mama Rara terlonjak kaget, begitu pula dengan  Amelia, dan tidak jauh berbeda dengan Ayasha, Darial ikutan terkejut.


“Ada apa,” gumam Ayasha sendiri. Sedangkan Darial bergegas keluar dari kamar Ayasha untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamar.


Satya yang baru saja datang bersama dokter ikutan terlonjak kaget, dan pria itu langsung paham kenapa terjadi kegaduhan di kamar Rafael setelah melihat sosok Darial yang berdiri di depan kamar Ayasha.


Pasti salah satu sebab kegaduhan di kamar Pak Bos kemungkinan karena kehadiran pria itu! Batin Satya.


bersambung ...


 "Cinta itu sesuatu yang sangat indah. Walau kadang harus berurai air mata. Karena cinta tak selalu harus memiliki."


Melupakanmu - FORGETTING YOU