
Jakarta
Rumah sakit
Bu Laras setelah terbangun dari komanya, wanita paruh baya itu masih dirawat di rumah sakit karena harus menjalankan fisioterapi. Wanita paruh baya tersebut sudah mengalami kelumpuhan pada bagian kedua kakinya serta tak mampu untuk berbicara, melihat keadaan bu Laras seperti itu pak Tony hanya bisa mengelus dadanya. Para tetangga yang menjenguk bu Laras hanya berempati di depan mereka berdua, namun di belakangnya malah bersorak gembira melihat keadaan bu Laras. “Karma itu nyata!” kata Bu Sri, tetangganya, berkata pada ibu-ibu yang lain.
Delia yang sudah dinyatakan sakit kanker serviks, bukannya tobat malah semakin menjadi-jadi ulahnya, dia tidak melakukan pengobatan yang disarankan oleh Dokter, justru dia sibuk mempercantik dirinya ke salon kecantikan karena ingin menemui Rafael dan dia ingin membuat pria itu menyesal telah mencampakkan dirinya, tapi apa yang dia dapatkan? tubuhnya sekarang melepuh, kemerah-merahan, begitu pula dengan wajahnya berubah berwarna merah bagaikan terbakar Matahari.
“Delia, kamu benar-benar tidak punya perasaan. Ibumu lagi sakit, dan sekarang kamu bilang mau pergi ke Jogja!” kata Pak Tony, suaranya terdengar meninggi pada wanita yang menutupi wajahnya dengan masker.
“Ibu sakit ... itu urusan Bapak lagi pula itukan istri Bapak, tanggung jawab Bapak. Lagi pula aku juga punya urusan yang harus aku selesaikan. Memangnya Bapak bisa menyelesaikan urusanku!” jawab Delia agak kasar bicaranya pada pak Tony.
Pak Tony mendesah kemudian menatap lekat-lekat putri satu-satunya. “Apalagi urusanmu, kamu sudah tidak bekerja lagi. Hubungan dengan Rafael pun sudah berakhir, jangan bilang kamu ke sana mau mengejar pria itu! Jika iya ... benar-benar tebal sekali mukamu, Delia. Tak tau malu!”
Dibalik maskernya wanita itu menarik salah satu sudut bibirnya. “Jika aku tidak bisa mengambil milikku kembali, maka orang lain pun tak bisa memilikinya, Pak,” jawab Delia sinis.
“Hatimu sudah benar-benar kotor Delia, jiwamu sudah dikuasai oleh setan. Mau sampai kapan hidupmu akan seperti ini, ternyata dengan penyakit yang menderamu tidak membuatmu sadar diri dan tobat!” jawab Pak Tony pelan.
“Bapak tidak perlu menasehati ku, ini adalah kehidupanku. Yang jelas aku hanya ingin kasih tahu, jika beberapa hari lagi aku akan ke Jogja dalam waktu lama!” pungkas Delia. Wanita itu pun bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan kedua orang tuanya yang berada di kamar inap.
Bu Laras yang masih bisa mendengar percakapan antara bapak dan anak, hanya bisa meneteskan air matanya. Menyesal kah? Siapa pun jika sudah tertimpa keadaan seperti bu Laras sudah pasti amat menyesali, dan berharap bisa memutar waktu mundur, dan memperbaiki perbuatannya di masa lalu.
“Lihatlah anak kita Bu.” Pak Tony menghela napas panjang sebari menatap pintu kamar. “Anak kita sudah di vonis sakit kanker serviks.” Jeda sejenak, kemudian pak Tony menatap bu Laras. “Ibu pasti sangat menyesali kan? Bapak selalu mengingatkan kalian berdua untuk selalu berada di jalan yang benar, tapi kalian berdua memilih jalan yang berbeda, sekarang apa yang bisa bapak lakukan,” lanjut kata Pak Tony, sembari meraup wajahnya dengan kasar.
Maafkan Ibu, Pak ... Ibu benar-benar menyesalinya, andaikan Ibu selalu mendengar omongan Bapak.
Di tempat berbeda, mansion Stevan.
Larissa semenjak tangisan histerisnya saat dia tidur siang, gadis kecil itu lebih banyak terdiam, seperti sekarang gadis itu berada di ruang keluarga menemani adiknya bermain, namun kedua netranya selalu melihat bingkai foto keluarga Stevan yang menempel di dinding, lalu menatap sedih ke wajah Rafael.
Lalu gadis kecil itu menundukkan kepalanya menatap jari-jari mungilnya, jari itu bergerak bagaikan sedang belajar berhitung.
“Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima,” gumam Larissa sendiri, tak lama gadis itu kembali terisak menangis. Bayangan yang hadir di pelupuk matanya masih belum mau pergi, rentetan kejadian tergambar jelas diotak Larissa, namun gadis kecil itu tak sanggup untuk bercerita kepada mommynya. Valerie yang sudah pelan-pelan bertanya pada Larissa, hanya mendapat jawaban ‘Uncle ... Tante cantik.’
...----------------...
Rumah Ayasha.
Suasana malam yang baru buat Ayasha, gadis itu tidak menempati rumah kontrakannya, sekarang dia tinggal di rumah baru bersama Amelia.
Malam ini kedua asisten berjibaku menyiapkan makan malam untuk nona mudanya, Mama Rara yang kebetulan menginap di sana turut membantu masak untuk gadis itu.
“Ayo Nak, duduk dulu ... Mama masak dendeng balado kesukaan kamu,” kata Mama Rara saat melihat Ayasha baru turun dari lantai 2.
Gadis itu memeluk Mama Rara dari belakang. “Makasih Mah, udah masakin buat aku,” jawab Ayasha lembut. Mama Rara tersenyum hangat sembari mengusap tangan gadis itu yang masih melingkar di pinggangnya.
“Biar kamu cepat sehat Nak, ayo kita makan sama-sama. Amel nya di mana?” tanya Mama Rara.
“Saya hadir Tante Rara,” sahut Amelia yang baru saja menuruni anak tangga.
Mereka bertiga pun menikmati makan malam bersama dengan ngobrol cantik, hal-hal yang lucu karena Mama Rara dan Amelia tahu jika gadis itu sedang bersedih hati.
Setelah menikmati makan malam bersama, Mama Rara berpamitan duluan untuk beristirahat di kamarnya, tinggallah Ayasha dan Amelia berada di ruang tengah sedang menikmati buah potong.
“Aya, gue boleh ngomong sesuatu gak sebelumnya?”
Ayasha menoleh ke arah Amelia. “Kalau mau ngomong tinggal ngomong aja, tumben pakai bilang dulu.”
“Ya soalnya gue takut lo keadaannya sedang sensitif, terus gue juga takut lo nya jadi tersinggung,” jawab Amelia, sambil ngunyah buah apelnya.
“Gak kok, memangnya mau ngomongin apaan sih?” jadi agak penasaran Ayasha.
“Ini tentang hubungan lo sama Kak Darial,” jawab Amelia, dia memiringkan badannya agar bisa menatap gadis itu. Ayasha pun ikutan memiringkan badannya agar bisa serius menatap sahabatnya.
“Ada apa dengan Kak Darial, Mel?”
“Begini Ay, sebenarnya lo udah cinta banget belum sama Kak Darial, maksud gue bener-bener jatuh cinta kah?”
Sejenak Ayasha mencoba meresapi hatinya sendiri. “Mungkin lebih ke arah suka, mengagumi ... Kalau dibilang jatuh cinta entahlah Mel. Sejujurnya gue seperti agak takut untuk jatuh cinta, tapi bukankah gue harus membuka hati buat menerima orang lain. Tapi seperti nya sebelum hati gue benar-benar jatuh cinta dengan Kak Darial, gue harus tahu tentang dia,” jawab Ayasha.
“Nah itu maksud gue, Aya. Lo harus tahu tentang Kak Darial seperti apa kehidupannya, kalau perlu lo sewa detektif biar menyelidikinya. Gue dukung deh,” jawab Amelia sangat bersemangat.
Ayasha menepuk paha Amelia. “Duit dari mana buat nyewa detektif segala, memangnya gue orang kaya,” celetuk Ayasha sembari tersenyum lebar.
“Ya kali aja ada orang yang berbaik hati buat pinjamin uang, jadi bisa sewa detektif,“ balas Amelia, hampir aja dia keceplosan sebut nama Rafael.
“Biarkanlah Allah membantu, dan menunjukkan dengan caranya, segala sesuatu jika kita melibatkan Allah, insya Allah pasti akan ada jalannya,” imbuh Ayasha.
Amelia mengelus lengan sahabatnya dengan lembut. “Semoga Allah memperlihatkan baik dan buruknya Kak Darial. Gue hanya tak ingin lo tidak terluka kembali.”
Gadis itu mengulas senyum tipisnya pada Amelia. “Thanks lo selalu ada, dan menemani gue dalam keadaan apa pun.”
“Itulah arti persahabatan.”
Jika di dalam rumah, Ayasha dan Amelia sedang berbincang hangat. Berbeda dengan keadaan di luar rumahnya.
Rafael tampak sudah berdiri di ambang pintu, namun masih meragu untuk mengetuk pintu.
bersambung ...
Sebaiknya Rafael tetap menemui Ayasha, atau putar balik ke hotel??