
Perusahaan Bara Nusantara
Wanita yang sudah menjadi mantan tunangan Rafael, tampak mengulas senyum lebarnya setelah tadi pagi dia pergi ke toko perhiasan untuk menjual cincin tunangan nya, sekarang dia sudah memiliki pegangan uang sebesar 150 juta, dan otaknya sudah menyusun strategi. Seperti siang hari ini, dengan langkah anggunnya dia melangkah masuk ke lobby perusahaan milik Rafael, walau hidungnya masih ada perbannya, tetap dia melangkah penuh percaya diri seperti biasanya.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Delia, terlihat menatap jengah dengan kehadiran wanita yang mereka tahu sebagai sekretaris CEO. Namun Delia menghiraukan tatapan mereka semua.
“Bety ... sebentar deh bukannya Delia sudah dipecat oleh pak Rafael deh, waktu kita nonton video tok tok?” tanya Lee salah satu petugas resepsionis yang melihat Delia masuk begitu saja dengan access card yang dimilikinya.
“Sebentar, kayaknya saya harus konfirmasi dengan asisten pak Rafael dan bagian HRD, soalnya kita tidak dipesan apapun kan?” sahut Bety. Wanita itu segera menghubungi Satya, sedangkan Delia lenggang kangkung menuju lantai 12 tempat biasa dia bekerja.
Sesampainya di lantai 12, wanita itu bergegas ke meja kerjanya, namun sesampainya dimeja kerjanya ada Nining disana.
Nining yang melihat kedatangan Delia tampak heran. “Delia, ngapain kamu ke sini ... Bukannya kamu sudah dipecat ya sama pak Rafael kata pak Satya?” tegur Nining.
Delia yang terlihat angkuh berdecak kesal. “Ck ... bukan urusanmu, minggirlah dari meja kerjaku,” kata Delia mengusir Nining secara kasar.
“Hah ... meja kerja kamu, sekarang ini jadi meja kerja aku. Dari hari kemarin aku sudah menggantikan posisi kamu,” jawab Nining.
BRAK!
Delia melempar tas bahunya ke meja kerjanya. “Kalau aku bilang kamu minggir, ya minggir!” sahut Delia dengan membulat kan kedua bola matamu.
Nining bangkit dari duduknya lalu berdiri bersandar pada meja kerjanya sambil bersidekap. Delia dan Nining dibilang teman dekat bukan, tapi sekedar teman saja juga bukan, bisa dibilang teman sekedarnya saja. Tapi Nining juga banyak membantu Delia saat pendekatan dengan Rafael.
“Sepertinya kamu tidak punya malu untuk datang ke perusahaan ini, Delia. Video kamu sudah beredar di dunia maya!” ucap Nining ketus, sembari memindai Delia.
Delia menatap ibu beranak dua itu dengan sinis nya. “Minggir!” sergah Delia menarik lengan Nining, lalu dia duduk di mejanya kemudian menatap layar komputer yang baru saja dipakai oleh Nining.
Nining yang sempat terhempas oleh Delia, langsung memutar balik badannya lalu menatap Delia yang sibuk mencari sesuatu di layak komputernya. “Apa yang sedang kamu cari Delia? File yang ada di komputer ini sudah dibersihkan oleh Pak Satya, jadi percuma saja kalau kamu mencari sesuatu!” kata Nining.
“Sialan!” umpatnya. Delia mendongakkan wajahnya dan menatap tajam wajah Nining.
Berarti video yang tempo hari aku rekam dan simpan di komputer ini tidak ada dong ... Astaga. Copy-nya ada di ponsel yang diambil sama tuh cewek. Duh bagaimana aku minta tanggung jawab dari Rafael! Gagal rencana yang ini dong!
“Tidak perlu kamu menajamkan matamu Delia, sebaiknya kamu tinggalkan perusahaan ini. Dan lihatlah siapa yang datang!” tunjuk Nining dengan tersenyum jahat ke arah beberapa orang yang mulai mendekati mereka berdua.
Delia sesaat menoleh kesamping, ternyata yang datang adalah Manajer HRD bersama beberapa petugas security.
“Selamat siang Delia, Anda sudah tidak diperkenankan berada di perusahaan Bara Nusantara! Ini surat pemecatan Anda, serta saya minta access card dan name tag Anda sekarang juga!” pinta Pak Tommy penuh ketegasan.
Delia tampaknya tidak mengindahkan kehadiran dan permintaan pak Tommy, justru menyilangkan kedua kakinya lalu bersidekap dalam duduknya.
“Berani sekali Pak Tommy memerintahku! Aku ini calon istri CEO di sini ya!” bentak Delia.
Nining menunjukkan wajah jengkelnya. “Hello Delia sudah cukup obsesimu selama lima tahun ini ingin menjadi istri Rafael tapi belum juga dinikahi! Sebaiknya kamu cek jiwa kamu deh di rumah sakit jiwa, biar kamu tetap waras, aku takut tiba-tiba kewarasanmu hilang!” celetuk Nining dengan santainya.
Delia beringsut dari duduknya kemudian melayangkan tangannya, namun Nining sigap menahan tangan Delia agar tidak mendarat dipipinya.
“Dulu aku pikir kamu memang kekasih pak Rafael sejak awal, tapi rupanya kamu merebut pak Rafael dari wanita lain. Berkat video yang beredar membuat mataku terbuka jika selama ini aku telah salah berteman dan berpihak denganmu, ternyata kamu pelakor dan wanita jallang rupanya!” ucap Nining geram.
“Kurang ajar kamu, dasar teman tidak tahu diuntung!” bentak Delia.
Nining mendesis. “Kamu bilang teman tidak tahu diuntung, memangnya kamu tidak ingat sebagian pekerjaanmu di kantor, akulah yang menyelesaikannya. Kamu kerjaannya hanya sibuk menggoda pak Rafael, sibuk memberikan perhatian pada pak Rafael agar terpikat olehmu!” balik bentak Nining tak ada rasa takutnya.
“Awas kamu ya!” sahut Delia sembari menunjuk-nunjuk wajah Nining.
“Pak Tommy, ambil saja access card dan name tagnya yang ada didalam tasnya. Dan kalian bawa dia keluar dari gedung ini, jangan sampai kalian izinkan dia masuk!” pinta Nining, sembari menyentak tangan Delia.
Dengan rasa tidak hormat lagi, petugas security menahan lengan Delia, sedangkan pak Tommy menggeledah tas Delia, setelah apa yang dicari sudah dapat. Wanita itu digerek untuk turun ke lobby, tapi sayangnya wanita itu memberontak dan berteriak kata-kata kasar.
Para karyawan yang tak sengaja melihat, menggelengkan kepalanya. “Kasihan tuh mantan sekretaris, udah gak waras,” celetuk salah satu karyawan.
BYUR!
BYUR!
Beberapa orang melempar sisa minumannya dinginnya ke wajah Delia. “Sadar Delia! Tobat! Dasar Jallang!” ejek beberapa karyawan.
Delia meradang sembari meraup wajahnya yang sudah basah dengan minuman dingin ini.
“Silahkan tinggalkan tempat ini juga! Sebelum terjadi sesuatu hal Anda!” Kata securty yang masih menunggu Delia untuk keluar dari gerbang perusahaan.
Delia menghentakan kedua kakinya dan menunjukkan amarahnya. “Awas kalian semua!” gerutu kesal Delia saat meninggalkan tempat.
Sadarkah wanita itu, jika dia sudah mulai gila!
...----------------...
Sementara itu di Yogyakarta ...
Lobby Hotel Inna Garuda
Ayasha terlihat sibuk di depan layar komputer yang ada di meja resepsionis.
“Selamat siang, saya mau anter paket,” ucap petugas kurir yang menyambangi meja resepsionis dengan membawa buket bunga rose berwarna putih dan pink.
“Selamat siang juga Mas, paket buat siapa ya?” tanya Reni yang menyambutnya.
“Paket untuk Nona Ayasha Elshanum, dan mohon tanda tangan tanda terimanya,” pinta petugas kurir.
Wow cakep banget buket bunganya, pasti dari pak Darial nih, batin Reni, sembari menandatangani tanda terima.
Ayasha yang sekilas ada yang menyebut namanya langsung mendongakkan wajahnya.
Reni pun membalikkan badannya lalu mendekati Ayasha dengan buket bunga rose itu. “Mbak Aya, ada yang kirim bunga lagi ini. Cantik banget,” kata Reni sembari tersenyum hangat.
Ayasha mengulurkan tangannya dan menerima buket bunga itu dengan suka cita, dan menduga jika bunga ini pasti dari kekasihnya Darial. Sejenak dia mencium aroma wangi yang menguar dari buket bunga rose itu, kemudian memandang rose putih itu, dan jadi teringat dengan Rafael yang pernah memberikan rose putih sebagai tanda perpisahan mereka berdua.
Gadis itu membuka mengambil amplop kecil yang ada di antara bunga itu, kemudian membacanya.
...Dear Ayasha Elshanum...
...Aku tahu sekarang aku tidak bisa memiliki mu kembali, tapi bolehkah aku memiliki senyummu walau hanya beberapa menit saat kamu memandang bunga ini. Bunga yang sangat kamu sukai rose putih dan pink....
...From Rafael Alviansyah...
Bibir ranum itu membentuk setengah bulan sabit saat memandang buket rose itu.
Terima kasih Om Rafael, bunganya cantik.
bersambung ....