
Suara pecahan kaca yang begitu nyaring mampu membangunkan wanita yang masih tergolek lemas di ranjang, di tambah lagi dengar suara pria berteriak kencang, sontak wanita itu bangun terduduk, kemudian mengerjapkan kedua kelopak matanya agar terbuka lebar.
“Mas Rafael!” ucap Delia terkejut, setelah tahu siapa yang membuat kegaduhan di kamarnya.
Rafael menajamkan kedua netranya bersamaan dengan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, tatapan berapi-api untuk wanita yang hidungnya diperban, belum lagi wajahnya agak lebam.
“Mas ... kamu menjengukku kah?” tanya Delia agak senang dengan kehadiran pria itu, membuat wanita itu yang semula terduduk, kini dia terlihat menyibakkan selimut yang pakainya, lalu bangkit dari ranjangnya.
Sepertinya pelet yang aku minta ke Ibu, sudah mulai bereaksi nih, sekarang Mas Rafael menghampiriku ... batin Delia.
Oh My God! ... batin Satya terkejut.
Satya langsung menutup matanya sambil beristigfar dalam hati setelah melihat penampilan Delia yang hanya mengenakan pakaian lingerie berwarna merah, pakaian saringan kelapa kalau menurut Satya, tembus pandang, bongkahan gunung kembar beserta pucuknya terlihat jelas membuat Satya menelan salivanya berulang kali waktu tak sengaja melihatnya.
Namun berbeda hal dengan tatapan Rafael yang tak terpejamkan, tapi sayangnya pria itu melihatnya biasa saja, tak tergoda malah terkesan jijik.
Wanita itu melangkahkan kakinya dengan sexynya mendekati Rafael, lalu tangannya menggenggam lengan pria itu. “Mas, kamu datang untuk menjenguk ku ya. Hidungku patah Mas, butuh di operasi,” ucap Delia manja. Rafael tersenyum sinis lalu menyentak lengannya agar terlepas dari genggaman tangan Delia.
“Mas,” terkejut Delia.
“Jangan pernah menyentuhku, dasar wanita penipu!” sentak Rafael.
Terbelalak kedua netra Delia. “Penipu ... Penipu apa? Aku tidak pernah menipu Mas Rafael kok,” balas Delia.
“Kamu bilang tidak pernah menipu, lantas ini apa!” bentak Rafael, langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
“Berarti selama lima tahun kamu dengan Delia menjadi partner ranjang?”
“Selama pacaran kami berdua sudah menjadi partner ranjang.”
“SIALAN! BRENGSEK KAMU DELIA! Dia bilang waktu itu masih perawan padaku!”
“Oh masalah keperawanan, dia sempat operasi selaput dara sebelum mendekati Anda, kalau tidak salah ada saksi teman kerjanya namanya Ning yang mengantarnya ke rumah sakit.”
Rekaman percakapan antara Rafael dan Rian sangat jelas terdengar dari ponsel Rafael. Wajah Delia mulai berubah agak mulai tak enak, dan agak takut dengan tatapan elang Rafael seperti ingin memangsa musuhnya.
Gak ... gak mungkin Rian berkata jujur sama Mas Rafael.
“Bohong itu Mas, kata-kata Rian itu bohong Mas,” sanggah Delia, tidak membenarkan.
Pria itu menggelengkan kepalanya. “Ckck ... tak perlu lagi kamu berkilah lagi Delia, kamu sudah menjebakku dibalik kata cintamu dan perhatianmu semua hingga mataku tertutup tak berpaling darimu, serta keperawanan mu yang kamu bilang akulah orang pertama menggaulimu hingga aku merasa bersalah padamu yang telah merenggutnya! Tapi apa nyatanya semua kebohongan! Dengan hal ini semua aku lupa jika saat itu sudah memiliki calon istri yang berharga, calon istri yang tidak pernah menuntut perhatianku, calon istri yang menjaga dirinya untukku, calon istri yang dulu mencintaiku dengan tulus!” Suara Rafael yang awalnya datar lama-lama meninggi, dengan rasa sesak akan bayangan wajah Ayasha.
Delia melorotkan tubuhnya ke lantai lalu memeluk salah satu kaki Rafael. “Maafkan aku Mas, aku tidak maksud menipumu Mas. A-aku sebenarnya k-korban pemerkosaan ... Aku takut jika bilang berkata jujur padamu Mas. D-dan aku b-bukan partner ranjang Rian ... aku tak tidak seperti itu Mas ... demi Tuhan, aku tidak seperti itu. Cintaku padamu itu bukanlah kebohongan Mas, aku benar benar mencintaimu hingga saat ini,” tutur Delia menjelaskan dengan cerita penuh dusta.
“Aakkh,” tubuh Delia terdorong ke belakang karena Rafael menyentak kakinya yang dipeluk oleh Delia, agar terlepas dari wanita itu.
Rafael membungkukkan badannya, lalu tangannya mencekik leher Delia, hingga kedua netra wanita itu terbelalak seperti ingin keluar dari sarangnya.
“Kamu pikir aku akan percaya padamu, setelah semua bukti ada ditanganku. Kamu benar-benar wanita ja lang yang aku kenal! Kamu bilang cinta denganku ... yang ada aku merasa harus tunduk padamu dan entah kenapa dulu aku tidak bisa jauh darimu, tapi sesungguhnya hatiku sangat hampa bersamamu Delia! Menyesal sekali aku memilihmu! Pantas saja selama lima tahun aku tak ada keinginan untuk menikahimu secepatnya, ternyata Allah ingin memberitahukan tentang dirimu yang sebenarnya, Delia! Dan aku benar-benar sudah salah memilih wanita dan telah membuang calon istriku yang sesungguhnya!” ucap geram Rafael. Wajah Delia mulai memucat, tangan Rafael pun masih mencekik leher Delia, hingga darah yang masih mengucur di jemari Rafael menempel di leher Delia.
Ini tidak bisa dibiarkan. Satya menghampiri mereka berdua.
“Pak Rafael, sadar Pak ... Delia bisa mati ... Bapak bisa masuk penjara!” seru Satya sambil berusaha melepaskan tangan Rafael dari leher Delia.
Rafael mulai tersadar dan cepat menarik tangannya dari leher Delia. “Astagfirullah, “ gumamnya sendiri lalu menjauhkan dirinya dari Delia.
Delia yang sudah terlepas dari cekikan Rafael, sedang berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dan menatap penuh ketakutan pada Rafael, dia tak menyangka pria yang selama ini begitu lembut bisa seperti setan.
“Aku tidak peduli lagi dengan segala omong kosongmu ataupun pembelaanmu, mulai hari ini kamu angkat kaki dari hotelku! Dan mulai hari ini juga kamu dipecat dari perusahaanku! Satu lagi yang harus kamu ingat, kita tidak ada hubungan apapun, aku bukan lagi tunanganmu! INGAT ITU!” kata Rafael tegas.
Delia yang napasnya masih engap karena kurang oksigen dibikin tambah lemas badannya. “TIDAK ... TIDAK ... AKU TIDAK MAU MAS!” teriak histeris Delia.
Rafael membalikkan badannya ke arah pintu, mengacuhkan teriakan penolakan Delia. “Satya minta staf hotel mengurus Delia untuk keluar dari hotel saya, sekarang juga!” perintah Rafael.
“Baik Pak Rafael, tapi bukankah Delia sedang sakit—,”
“Jangan membantah saya, Satya!” sela Rafael, tak ingin dibantah perintahnya.
“B-baik Pak Rafael, akan saya laksanakan,” jawab patuh Satya, bergegas keluar kamar, begitu juga Rafael meninggalkan Delia begitu saja.
“TIDAK MAS RAFAEL ... JANGAN TINGGALKAN AKU ... JANGAN PECAT AKU ... AKU MINTA MAAF!” teriak histeris wanita itu, sambil mengacak-acak rambutnya sendiri bak orang gila.
Rafael menatap tangannya yang terluka, hampir saja dia melenyapkan nyawa Delia jika tidak dipisahkan oleh Satya. Emosi yang sudah tak terbendung membuat dia lupa diri dalam bertindak, begitulah manusia jika sudah dikuasai oleh setan maka manusia bisa melakukan apapun termasuk menghilangkan nyawa seseorang.
Rafael dan Satya masih jalan beriringan menuju lift namun tujuannya berbeda. “Pak Rafael sebaiknya tangannya segera diobati, saya akan panggil dokter untuk mengobatinya,” kata Satya.
“Mmm ...,” gumam Rafael hampir tak terdengar.
Luka ditangan bisa diobati dan sembuh, lalu bagaimana dengan luka di hati Ayasha, pernahkah aku menanyakannya. Luka ditanganku belumlah seberapa sakitnya.
Pria itu menengadahkan kepalanya ke atas, agar buliran bening yang mendesak kedua netranya tak jatuh kembali.
bersambung ...
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Makasih sebelumnya 🙏, dan jangan lupa mampir dong ke kisah Arash dan Almira 'Badboy For Little Girl'
Lope lope sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻🌻