FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Sarapan pagi bersama



Mama Rara sudah selesai membantu Ayasha bebersih, sekarang mereka berdua keluar dari kamar mandi, Satya dan Amelia sudah terlihat biasa saja, rekaman video Darial pun sudah dimatikan.


“Pagi Nyonya, pagi Ayasha,” sapa Satya ramah.


“Pagi juga Satya, kamu bawa sarapan kah?” tanya Mama Rara sembari menghampiri meja bundar tersebut, Amelia sudah mengambil alih memapah Ayasha.


“Iya Nyonya, saya bawakan sarapan buat Nyonya, Ayasha dan Amelia, silakan dinikmati,” jawab Satya mempersilahkan.


“Makasih ya, Satya,” Mama Rara langsung mengambil beberapa hidangan yang tersaji.


Ayasha tidak kembali ke ranjangnya, tapi meminta untuk duduk di sofa karena ingin menikmati sarapan paginya. Amelia dan Satya pun membantu mengambilkan beberapa menu makanan untuk Ayasha.


Mereka berempat pun duduk di sofa dan menikmati sarapan pagi bersama-sama, namun di sela-sela mereka makan tiba-tiba saja Darial datang.


“Assalamualaikum,” sapa Darial begitu ramahnya.


“Waalaikumsalam,” jawab serempak mereka berempat.


Darial dan Satya tak sengaja saling bersitatap, asisten Rafael berusaha terlihat biasa saja sedangkan Darial sempat menunjukkan tatapan tidak sukanya lalu dia kembali terlihat biasa saja, dan menatap Ayasha.


“Sepertinya sedang sarapan pagi, saya kayaknya telat datang, padahal sudah bawakan sarapan buat Tante, dan Ayasha,” ucap Darial sembari menunjukkan paper bag yang dia bawa.


“Gak telat kok Kak Darial, kita juga baru mulai sarapan. Sekalian aja kita makan bareng di sini,” pinta Ayasha, dengan tatapan menelisik karena melihat wajah Darial ada lebamnya.


Amelia berusaha menutupi raut wajah kecewanya dengan Darial, dengan cara memalingkan wajahnya, fokus pada tempat makan yang dia pegang.


Alasan pamit katanya ada urusan pekerjaan, rupanya pekerjaannya ada di club malam sama wanita penghibur ... Cih! ... batin Amelia berdecih kesal.


 Dan berhubung Amelia yang duduk di samping Ayasha, dia tidak bangkit dari duduknya, dengan terpaksa Darial duduk di samping Satya, lalu dia membuka paper bag yang dia bawa lalu mengeluarkan kotak makan yang dia beli itu.


“Ini untukmu Aya, semoga kamu suka dengan makanan yang saya pilih,” ucap Darial, sembari menyodorkan kotak makanan tersebut.


Ayasha menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


“Dan ini untuk Tante,” lanjut kata Darial. Wanita paruh baya itu menerimanya dengan tersenyum, lalu meletakkannya di atas meja.


Darial dengan tidak sungkan lagi ikutan menikmati sarapan pagi bersama, namun sayangnya tidak ada yang bicara satu pun, termasuk Ayasha di saat  mereka kembali makan.


Amelia dan Satya terlihat kurang menikmati sarapan paginya, namun dipaksa untuk segera menghabiskannya, lalu tanpa aba-aba mereka berdua serempak bangkit dari duduknya. Sementara itu Ayasha masih menikmati sarapan paginya karena nafsu makannya sudah mulai membaik. Melihat Amelia sudah meninggalkan tempat duduknya, pria itu pindah duduk ke samping Ayasha.


“Makan yang banyak, biar kamu lekas sembuh,” ucap Darial, penuh perhatian.


“Iya Kak, ini juga sudah makan yang banyak.”


Amelia yang mendengar kata perhatian Darial, bibirnya mencebik, hal itu membuat Satya gemas melihatnya.


“Kak Darial, wajahnya kok kelihatan lebam?” tanya Ayasha, sambil menunjuk ke salah satu pipi Darial.


Semoga asisten Rafael belum cerita apa-apa ke Ayasha, kalau sudah sampai menceritakan! Mereka mencari masalah dengan saya!


“Oh lebam ini, ada kesalahpahaman tadi malam. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ada yang menghajar wajah saya,” jawab Darial, sembari kedua netranya melirik ke arah Satya berdiri. Satya hanya bisa menarik salah satu sudut bibirnya, dengan tatapan jengah nya.


Ya bisa ajalah Aya, pacar lo itu abis ciuman ama cewek lain, makanya kena hajar sama Om Rafael! Dasar Darial ternyata bisa berbohong juga tuh! Eeeuy rasanya gemes pengen kasih tahu sama Aya, tapi sudah dilarang sama Mas Satya. Ya Allah semoga Ayasha cepat tahu seperti apa Darial!


“Sudah kamu tidak usah memikirkannya ya, saya sudah biasa seperti ini, ada aja orang yang salah paham dan iri dengan saya kareba persaingan bisnis,” balas Darial, meyakinkan Ayasha sekalian untuk tidak membicarakan lagi.


Syukurlah mereka belum cerita dengan Ayasha ... batin Darial agak tenang.


Menurutku sangat aneh kalau ada orang yang tiba-tiba menghajar, pasti ada sebabnya! ... Batin Ayasha.


Mama Rara yang ada di antara mereka bertiga hanya menyimak saja, tidak ikut campur dalam pembicaraan antara Darial dan Ayasha.


...----------------...


Rafael sudah datang ke rumah sakit tapi tidak masuk ke ruang rawat Ayasha, tapi dia menemui dokter untuk mengetahui keadaan Ayasha saking perhatiannya. Sang Dokter spesialis meminta Rafael untuk menunggu terlebih dahulu, karena belum visit ke kamar Ayasha.


Sambil menunggu kabar keadaan Ayasha, Rafael menghubungi asisten rumah tangga yang sudah ditugasi untuk membersihkan rumah yang dia beli untuk Ayasha. Dia berharap setelah gadis itu dinyatakan bisa rawat jalan, mau menempati rumah pemberiannya, mungkin terkesan sedikit memaksakan tapi dia menginginkan kenyamanan buat Ayasha.


“Jadi Om Rafael, sudah membelikan rumah buat Ayasha di Jogja?” Terlihat tak percaya Amelia mendengar cerita Rafael, dan memang Ayasha belum sempat ceritanya dengannya karena keburu sakit.


Satya dan Amelia diminta untuk datang sebentar ke coffe shop menemui Rafael.


“Iya Mel, saya belikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Makanya dari itu saya  berharap banyak pada kamu agar bisa membujuk Ayasha untuk menempati rumah itu, termasuk kamu bisa ikut tinggal di sana,” pinta Rafael agak memohon.


Masya Allah, Ayasha dapat hadiah rumah mewah dari Om Rafael, aku gak menyangka.


“Om Rafael, saya tidak bisa menjanjikan tapi akan saya coba membujuknya. Semoga saja dia mau tinggal di sana,” jawab Amelia, semangat.


Pria itu sedikit bisa bernapas lega mendengarnya. “Om Rafael, masalah Darial kenapa tidak dikasih tahu ke Ayasha, atau izinkan saya memberitahukan video tersebut?”


Pria itu langsung menggelengkan kepalanya. “Biarkan Ayasha tahu dengan sendirinya, bukankah kamu dulu juga pernah mencoba memberitahu kan tentang hubungan saya dengan Delia waktu dulu, dan Ayasha tidak percaya, sebelum dia melihat dengan matanya sendiri.” Kalau bicara tentang masa lalunya, Rafael mengusap wajahnya dengan kasar, rasanya ingin melupakan semua perbuatan bodohnya.


Amelia menganggukkan kepalanya. “Tapi Om, saya takut Ayasha akan kembali terluka.”


“Berdoalah, bantulah temanmu dengan berdoa. Sama seperti yang saya lakukan saat ini, saya hanya bisa mendoakannya agar segala yang buruk cepat diperlihatkan dan bukan berarti kita tidak berusaha namun tetap kita mengawasinya dari jauh,” ucap Rafael. Apalagi yang bisa manusia lakukan setelah berusaha dengan segala cara, ya adalah berdoa minta pertolongan pada Allah.


Satya menggenggam tangan Amelia seakan turut meyakinkan pujaan hatinya, gadis itu pun tersenyum hangat, untuk saat ini bukan dia saja yang menemani Ayasha, namun ada Satya, Rafael dan Mama Rara yang turut menjaganya walau tidak selalu disampingnya.


Kedua netra Rafael jadi berbinar-binar melihat kedekatan asistennya dengan sahabatnya Ayasha. Pemandangan yang menyentuh hatinya yang paling dalam.


“Sepertinya kalian berdua sudah semakin dekat, Satya,” tegur Rafael.


Sontak saja Satya dan Amelia melepaskan genggaman tangan mereka berdua lalu terlihat kikuk.


bersambung ....


Selamat pagi, selamat hari Senin Kakak readers semuanya, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Kakak Readers, dan VOTE nya di hari Senin buat Ayasha. Makasih sebelumnya 🙏.


Lope lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊