FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Kejutan dari Rafael



Cukup lama Ayasha mengagumi buket bunga pemberian Rafael yang sangat cantik itu. Lumayan bikin hatinya terhibur sejenak. Sepertinya siang ini Ayasha sudah dapat kejutan tak terduga dari Rafael, seperti tadi siang di jam makan siang dia diajak oleh Amelia ke restoran hotel yang katanya sudah menyiapkan makan siang untuknya, dan ternyata itu atas perintah Rafael khusus. Untuk kali ini gadis itu menikmati kejutan dari Rafael dengan hati yang menerima, tanpa memikirkan hal yang berlebihan, lagi pula mungkin ini salah satu sikap baik Rafael dari dirinya.


“Selamat siang Pak, selamat datang di Hotel Inna Garuda, ada yang bisa kami bantu?” salam sapa Reni saat ada pria bermata sipit menghampiri meja resepsionis.


“Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Ibu Ayasha Elshanum nya, bisa?” tanya pria bermata sipit itu.


“Bapak dengan siapa ya?” tanya Reni sopan, Ayasha yang masih dimeja resepsionis melirik pria itu.


“Saya Hendrick dari utusan dari perumahan Sahira Dharmawangsa,” jawab pria bermata sipit itu.


Mendengar kata perumahan, Ayasha beranjak dari duduknya. “Dengan saya sendiri, Ayasha. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sambung Ayasha.


“Oh dengan Ibu Ayasha, saya ingin menyampaikan sesuatu Bu.”


Ayasha memutar dari meja resepsionis, lalu mengajak tamunya ke ruang tamu agar lebih nyaman berbicara.


“Silahkan duduk, Pak Hendrick,” pinta Ayasha.


“Terima kasih, Bu Ayasha.” Pria itu duduk lalu menaruh tas kerjanya di atas meja.


“Kalau boleh saya tahu ada keperluan apa Bapak mencari saya?”


Pria bermata sipit itu, mengeluarkan beberapa map dari dalam tas kerjanya. “Begini Bu Ayasha, saya diutus oleh Pak Rafael untuk memberikan surat ini berserta kunci rumah,” ucap Hendrick, sembari memberikan akta jual beli, surat hak milik dan beberapa kunci.


Ayasha terkesiap melihatnya. “Maaf kalau boleh tahu Pak Rafael minta dititipkan ini semua ke saya kah?” tanya Ayasha penuh tanda tanya.


“Beberapa hari yang lalu, asistennya sempat ke kantor kami dan menitipkan surat ini. Dan diminta diberikan berbarengan dengan surat-surat ini. Mungkin Ibu bisa baca terlebih dahulu suratnya,” ucap Hendrik sembari memberikan amplop putih panjang yang masih tercekat dengan lem.


Ada apa lagi ini?


Ayasha membuka amplop tersebut dengan hati-hati, agar isi suratnya tidak terikat sobek.


Dear Ayasha Elshanum


Selamat Ulang Tahun gadis kecilku, aah ternyata sakit juga rasanya saat aku diacuhkan olehmu saat mengucap hari lahir mu waktu di depan restoran korea.


Aku tahu saat itu kamu pasti sangat membenciku, aku menyadarinya.


Tapi tahukah kamu, setiap hari lahir mu ... aku selalu datang ke restoran favoritmu tempat biasa kita merayakan ulang tahunmu, lalu aku memesan makanan favoritmu ... aku menikmatinya sendiri selama lima tahun kamu benar-benar menghilang, namun sayangnya aku tidak bisa membelikan kado untukmu, karena aku tidak tahu harus mengirimnya kemana.


Sekarang aku ingin memberikan hadiah untukmu, aku ingin kamu menerimanya, hadiah ini bukan untuk merayu mu agar kembali padaku. Tidak! Karena aku tahu luka yang pernah aku berikan amatlah perih buatmu.


Aku ikhlas memberikannya untuk mu sebagai akumulasi hadiah selama lima tahun yang tak pernah aku berikan untukmu.


Rumah yang tempo hari kita lihat bersama-sama, itu adalah kado untukmu. Aku ingin kamu tinggal ditempat yang nyaman. Ajaklah Amelia tinggal disana bersamamu, jangan lagi tinggal di rumah kontrakan lagi, aku juga sudah menyiapkan asisten rumah tangga untuk mu disana, plus aku yang mengaji artnya.


Ayasha, dari hatiku yang paling dalam mohon terima hadiahku yang terakhir dariku untukmu, jangan membuat aku menyesal jika kamu tidak mau menerimanya, karena aku tidak menerima penolakan darimu.


Aku mohon ....


Entah kenapa saat membaca surat dari Rafael ada rasa sedih yang menghinggapi dihatinya, sedih yang amat menyedihkan. Sesaat gadis itu memalingkan wajahnya, rasanya malu jika dia sampai mengeluarkan air mata di depan Hendrick, kemudian kembali menatap berkas rumah tersebut.


“Bagaimana Bu Ayasha?” tanya Hendrick.


Ayasha meraih surat akta jual beli dan membukanya, benar saja nama lengkap dan identitasnya tertera jelas diakta tersebut. Jatuh sudah air mata Ayasha, tapi dia bingung ini air mata kebahagiaan atau kesedihan. Rumah senilai 4 milyar tersebut sudah menjadi hak miliknya, buat Ayasha ini hadiah yang sangat fantastis dari mantan tunangannya.


“Saya terima surat rumahnya Pak Hendrick,” ucap Ayasha pelan.


 Setelah semua ditanda tangani oleh Ayasha, berkas tersebut diserahkan semuanya pada Ayasha.


“Untuk rumahnya sudah siap dihuni ya Bu. Jadi kapan saja Ibu bisa datang, semuanya sudah rapi,” ucap Hendrik sebelum berpamitan.


“Terima kasih banyak Pak Hendrick.”


...----------------...


Sepeninggalnya Hendrick, Ayasha masih termenung menatap surat akta rumah tersebut, sesekali dia menghela napas panjangnya. Tak lama dia mengambil ponselnya yang sempat dibawanya untuk menghubungi Rafael.


Berulang kali dia menelepon pria itu, namun ternyata ponsel Rafael tidak aktif, akhirnya dia memilih kembali ke bagian resepsionis untuk mengambil berkas dan buket bunga rose dari Rafael.


“Selamat siang, Ayasha,” sapa pria yang baru saja masuk ke lobby hotel, mengulas senyum tipisnya di wajah tampannya.


Ayasha menoleh mencari orang yang menyapanya sembari memegang buket bunga. “Selamat siang juga Kak Darial,” balas sapa Ayasha.


Darial melirik buket yang dipegang oleh Ayasha. “Bunganya cantik ya, punya kamu kah?”


Ayasha ikutan menatap buket miliknya, “Iya punyaku Kak,” jawab Ayasha apa adanya.


Senyumnya yang sempat terukir di wajah Darial, tiba-tiba redup. “Dari siapa?” tanya Darial dengan tatapan menyelidik.


“Ini dari Om Rafael,” jawab Ayasha jujur.


Darial diam sejenak namun melihat buket bunga tersebut. “Bisa kamu buang buket bunga itu atau kamu kasih kepada temanmu. Saya bisa membelikan bunga yang lebih cantik dari itu,” ucap Darial tegas.


Ayasha tercenung dengan permintaan Darial lalu kembali menatap buket bunga rose itu, apa salahnya dengan bunga ini hingga disuruh dibuang atau dikasih ke temannya. Reni yang berada diantara Ayasha dan Darial jadi ikutan melihat buket bunga tersebut.


Melihat Ayasha terdiam, Darial mengambil buket dari tangan Ayasha, hingga membuat gadis itu terkesiap, “Kak!” tegur Ayasha.


“Saya bisa menggantikan bunga yang lebih bagus!” kata Darial penuh penekanan.


Darial segera memberikan buket bunga itu kepada Reni. “Tolong kamu buang bunga ini, atau kalau kamu suka ambil saja,” kata Darial, sembari mengambil ponselnya untuk memesan buket bunga untuk Ayasha.


Reni terlihat bingung saat menerima buket milik Ayasha, lalu menatap penuh keraguan. Sedangkan Ayasha menatap sedih ke arah bunga itu, lalu menatap pria yang baru saja dia kenal. Cemburukah pria itu?


Tapi buat Ayasha, dia tidak suka dengan sikap kekasihnya yang belum ada sebulan mereka menjalin kasih. Namun jika Rafael yang memiliki sikap seperti itu mungkin wajar baginya karena mereka sudah mengenal puluhan tahun, bukan baru kenal sebulan.


Ayasha menarik napasnya dalam-dalam. “Maaf Kak Darial, aku tidak butuh dibelikan buket bunga kembali, tidak ada gunanya jika hanya ingin menggantikan buket dari saudaraku. Dan aku benar-benar tidak suka dengan sikap Kak Darial seperti ini, maaf aku kecewa,” kata Ayasha, gadis itu memilih meninggalkan Darial yang masih terdiam ditempat berdirinya tanpa mengambil buket bunga miliknya yang masih berada ditangan Reni.


bersambung ....