
Angin di luar terasa amat dingin malam ini, sinar bulan pun tampak menyinari gelapnya malam. Satya sudah cukup lama berdiri di belakang Rafael yang masih menatap daun pintu rumah yang baru saja ditempati Ayasha, hampir setengah jam mereka berdiri dan waktu sudah menunjukkan jam 21.15 wib.
“Pak Rafael, sampai kapan kita berdiri di depan rumah? Kapan masuknya?” tanya Satya dengan hati-hatinya, takut bosnya tersinggung.
Rafael menoleh ke samping dan menatap kesal asistennya, sudah tahu dia lagi bimbang antara masuk atau balik ke hotel, ini yang sedari tadi dia pikirkan.
Klek!
Pintu belum diketuk, tapi pintu tiba-tiba saja sudah terbuka dari dalam. Ayasha dan Rafael sama-sama bersitatap dan mengunci tatapan mereka berdua.
“Assalamualaikum, Ayasha,” sapa Rafael begitu pelannya, sapaannya tersirat ada nada kerinduan yang tertahankan dalam dirinya.
Akhirnya ada yang keluar dari rumah juga ... batin Satya. Lumayan berdiri setengah jam diluar.
“Waalaikumsalam, Om Rafael,” balas Ayasha, wajahnya terlihat terkejut melihat Rafael yang sudah ada di depan rumah.
“Ada siapa Aya?” tanya Amelia, yang kebetulan ada di belakang punggung Ayasha.
Sahabat Ayasha tersenyum sipu-sipu saat dapat kedipan mata dari Satya. “Oh ada Om Rafael dan Mas Satya,” kata Amelia.
“Iya ... saya datang mau bertemu dengan mama,” kata Rafael, antara benaran ingin bertemu dengan mama Rara atau hanya alasan belaka saja.
Dibenak Ayasha, Rafael datang untuk menemui nya namun rupanya untuk menemui mama Rara. Oh mau bertemu dengan mama, dikirain mau— sekilas membuat hatinya agak sedih.
“Kalau begitu silakan masuk Om, mama ada di kamarnya,” jawab Ayasha mempersilahkan pria itu untuk masuk.
Ayasha yang sudah mengenakan cardigan dan menjinjing sendalnya segera mengenakan di kedua kakinya, saat mau keluar rumah.
Rafael yang baru saja mau masuk ke dalam rumah, tiba-tiba memundurkan langkah kakinya.
“Kamu mau ke mana malam-malam begini, kamu ini baru sembuh, Aya?” tanya Rafael penasaran.
Ayasha memalingkan wajahnya dari Rafael, rasanya amat canggung ketika menatapnya, apalagi pria itu pernah mengucapkan kata cinta padanya walau akhirnya memang tidak bersama.
“Kita mau ke depan kompleks Om Rafael, Ayasha pengen makan sekoteng, siapa tahu di depan ada yang menjualnya,” jawab Amelia terlebih dahulu sebelum Ayasha yang menjawab.
“Aku antara ya,” tawar Rafael.
“Tapi katanya Om Rafael mau ketemu sama mama,” jawab Ayasha, baru berani menatap mata Rafael.
“Aku antar dulu, baru nanti ketemu sama mama. Sekarang masuklah ke dalam mobil,” pinta Rafael dengan lembutnya.
Ayasha menggelengkan kepalanya. “Aku ingin jalan kaki ke depannya, tidak mau naik mobil,” jawab Ayasha, menolak perintah Rafael.
“Baiklah, ayo kita jalan,” ajak Rafael. Namun sebelum jalan, Rafael menatap Satya dan Amelia. “Aya, gue gak bisa ikut ke depan ya, tiba-tiba perut gue mules nih pengen ke kamar mandi, lo jalan sama Om Rafael aja ya, gue titip satu bungkus sekoteng aja,” ujar Amelia sembari mengelus perutnya, dia paham dengan tatapan Rafael.
Semakin canggung lah Ayasha terhadap Rafael. “Oh ... iya deh Mel,” jawab Ayasha terkesan pasrah, mau bilang gak jadi ke depan kompleks rasanya tidak enak.
“Satya, kamu tunggu di rumah saja,” pinta Rafael.
“Baik Pak,” jawab Satya semangat, bisa ngobrol sama calon istrinya di rumah.
Akhirnya Ayasha dan Rafael jalan berduaan ke depan kompleks. Langkah kaki Rafael berusaha menyesuaikan langkah kaki gadis itu agar selalu jalan berdampingan, dan tidak lupa pria itu juga berusaha untuk menjaga jaraknya agar Ayasha nyaman ketika jalan dengannya.
Saat langkah kaki mereka berdua jalan beriringan tak ada suara yang keluar dari bibir mereka berdua, yang terdengar hanyalah suara langkah kaki mereka dan deru angin malam yang berhembus, menyentuh pori-pori kulit. Akan tetapi ujung ekor mata mereka saling melirik namun tak kentara.
“Masih sakitkah perutnya?” Akhirnya Rafael tak tahan dengan keheningan antara mereka berdua.
“Sudah tidak terlalu sakit, Om,” jawab Ayasha, dengan nada rendah.
“Masih kuat buat jalan ke depannya?” kembali bertanya Rafael penuh perhatian.
“Masih,” jawab Ayasha. Mereka berdua mulai berbicara tanpa menghentikan langkah kaki mereka berdua.
Di sela-sela mereka berjalan kaki, dari arah belakang mereka terdengar bunyi klakson mobil, refleks Rafael menarik lengan Ayasha yang hampir saja di cium mobil, lalu memeluknya dengan erat.
DEG ... DEG ... DEG
Degup irama jantung mereka berdua seirama dan senada, tarikan napas mereka pun sama naik turunnya. Rafael semakin mengeratkan pelukannya, melampiaskan rasa rindunya, sedangkan Ayasha yang sempat terkejut, kedua tangannya hanya tergontai ke udara namun tak lama kedua tangan Ayasha menyentuh punggung pria itu, sejenak ada perasaan hangat yang menyelusup dihati Ayasha.
Bolehkah saat ini mereka melepaskan rasa yang ada dihatinya, walau hanya seperkian menit?
Rafael yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Ayasha, pria itu ber kesempatan mengecup ujung kepala gadis itu, dan menghirup aroma wangi yang menguar dari rambut gadis itu.
Sedangkan Ayasha semakin membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu. Salahkah saat ini dia melupakan Darial sejenak, lalu larut dengan keadaannya saat ini?
Bisakah aku memilikimu kembali Ayasha? Jika aku tak bisa memilikimu, jadikan ini malam yang indah buatku. Kenangan indah yang terlukis dari hati kita berdua yang paling dalam.
Tak lama, Rafael dengan berat hati mengurai pelukannya karena mereka masih berada di jalanan. “Kamu gak pa-pa kan? Tidak ada yang terluka?” tanya Rafael memastikan keadaan Ayasha, sembari merapikan anak rambut gadis itu yang ada di keningnya.
“Gak pa-pa Om, makasih,” jawab Ayasha.
Pria itu menatap lekat Ayasha, kemudian menggenggam tangan gadis itu. Kedua netra Ayasha pun turun lalu melihatnya. “Kita jalannya sambil gandengan tangannya saja ya, sekalian mengingat masa lalu kita waktu kamu masih kecil, kamu kan paling suka kalau jalan digandeng tangannya sama aku,” tutur Rafael, mengulas senyum tipisnya.
Ayasha menegakkan kepalanya kembali lalu menatap pria itu dengan tatapan yang tak dia mengerti, antara suka atau tidak sukanya, namun dia menganggukkan kepalanya pelan.
Kini mereka melanjutkan perjalanan mereka berdua dengan bergandengan tangan hingga ke depan kompleks perumahan, sampai bertemu dengan tenda wedang ronde, rasa canggung antara mereka berdua mulai terurai dengan sendirinya.
“Mau makan di sini saja, atau dibungkus aja?” tanya Rafael saat ingin memesan.
“Makan di sini aja, tapi ada yang dibungkus buat di rumah, sekalian beliin buat mama,” pinta Ayasha. Pria itu bergegas memesannya dan kembali duduk di samping Ayasha dan pria itu pun merangkul pinggang gadis itu karena melihat beberapa pembeli pria menatap wajah Ayasha.
Kali ini entah kenapa Ayasha membiarkan pria itu merangkul pinggangnya, dan menatap tajam ke arah pria yang menatap dirinya, tanpa dia sadari ada perasaan aman ketika berada di samping Rafael.
Jodohku mungkin masih rahasia Allah, namun ku mohon tunjukkanlah siapa yang lebih baik untukku ... batin Ayasha.
Rafael menatap Ayasha penuh kehangatan dari samping, sedangkan Ayasha memalingkan wajahnya dari tatapan pria itu karena malu melihat tatapan Rafael.
Aku masih berharap bisa berjodoh denganmu, Ayasha dan aku tak ingin menyia-nyiakan mu lagi ... batin Rafael.
bersambung ...
Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Makasih sebelumnya.
Lope Lope sekebon 🌹🌹🌹🍊🍊🍊🌻🌻🌻