FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Melamarnya kembali



Para pengunjung restoran yang mejanya dekat dengan meja yang ditempati oleh Ayasha dan Rafael, turut menyaksikan moment yang sangat berharga. Gadis itu masih menundukkan kepalanya dan kedua netranya menatap Rafael.


“Siang ini dan di sini di depan kedua orang tua kita, aku ingin melamarmu secara resmi karena aku sangat mencintaimu, aku bersungguh-sungguh dari hatiku paling dalam. Ayasha Elshanum maukah kamu menjadi istriku, kekasihku, ibu dari anak-anak ku, dan teman seumur hidupku sampai kita menua, hingga maut memisahkan kita berdua?” tanya Rafael dengan mimik wajah yang serius, jantung pria itu berdegup cepat, hatinya sebenarnya takut untuk ditolak.


Baru saja tadi pagi di rumah, Rafael sudah mengungkapkan keinginannya untuk meminang Ayasha, namun gadis itu meminta waktu untuk berpikir. Dan siang ini pria itu serius kembali melamar Ayasha, karena dia ingin secepatnya bisa melindungi Ayasha 24 jam, sebenarnya hati pria itu sedang ketar ketir dan waspada.


Ayasha menatap dalam pria yang masih berlutut, dan menunjukkan cincin berlian yang ada di dalam kotak tersebut kepada dirinya. Gadis itu bisa menangkap keseriusan di wajah pria itu, sejenak dia memejamkan matanya lalu mendengar suara hatinya yang sedang berkomentar, dan tak lama dia membuka matanya, pria itu masih menatapnya.


Kedua orang tua masing-masing masih setia menunggu, sambil berdoa untuk anak-anaknya agar diberikan yang terbaik.


“Will you merry me, Ayasha Elshanum?” Rafael kembali bertanya, dan masih menggenggam erat tangan Ayasha.


Sejenak suasana hening, semua menanti jawaban dari gadis itu.


“I will, I will merry with you, Rafael Alviansyah,” jawab Ayasha begitu pelan, dan wajahnya terlihat sedikit malu.


Kedua netra pria itu berkaca-kaca hatinya sangat bahagia, cincin berlian dari kotak perhiasan dia keluarkan, lalu memakaikannya ke jari manis gadis itu dengan berderai air mata kebahagiaan kemudian mengecup tangan gadis itu. Usai itu dia berdiri lalu memeluk erat Ayasha. “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau mengabulkan doaku,” jawab Rafael.


Mama Rara dan Mama Nia, ikutan menangis haru dan berucap syukur.


“Kalau begitu, sore atau malam ini kalian harus segera menikah. Paling tidak akad nikah dulu, surat-surat akan diurus belakangan, pesta pernikahan bisa belakangan juga,” celetuk Papa Stevan, disela-sela rasa bahagia ini.


Belajar dari masa lalu untuk tidak menunda lagi, apalagi mereka berdua tidak perlu saling mengenal, karena sudah mengenal dari Ayasha lahir.


Rafael yang baru mengurai pelukannya dengan Ayasha, menatap bahagia dengan linangan air mata, Ayasha pun mengusap air mata yang membasahi pipi Rafael, dan mengulas senyum tipisnya.


Om Rafael, wajahmu sangat terlihat bahagia, semoga Om benar-benar bisa membuatku bahagia dan tak pernah membuatku terluka.


“Kamu maukan kita menikah sore atau malam ini?” tanya Rafael, sedikit memaksa.


“Jika memang sebaiknya kita segera menikah, kenapa aku harus menolak,” jawab Ayasha lembut.


Pria itu kembali memeluk gadis itu. “Ya Allah, aku bahagia ... alhamdulillah. I love you, Ayasha,” ucapnya berbisik.


Semua yang ada di restoran memberikan standing applause serta kata selamat pada Rafael dan Ayasha.


Rafael dan Ayasha sama-sama tersenyum hangat ketika melerai pelukannya, saat menerima tepuk tangan dan ucapan selamat.


Tangan Rafael mengusap lembut pipi gadis itu dan sedikit menundukkan kepalanya agar lebih dekat dengan wajah. “I love you more, calon istriku,” ucapnya begitu lirih.


Ayasha menatap hangat calon suami, dan tak butuh waktu lama, bibirnya terasa hangat dan basah, sesapan begitu lembut membuat dirinya meremang sejenak.


Tangan Delia memegang erat pisau steak yang dipegang, kedua matanya benar-benar melotot melihat adegan mesra itu.


 Sungguh keterlaluan kamu, Mas Rafael. Setelah putus denganku, kamu akan menikahi Ayasha, harusnya kita yang menikah! Aku tidak tidak rela, jangan sampai mereka menikah! Itu tidak boleh terjadi! Geram batin Delia.


Hatinya ingin sekali mengacaukan acara yang masih berlangsung, namun di sekitar Ayasha dan Rafael ada beberapa security yang standby berjaga-jaga, rasanya tidak memungkinkan untuk masuk ke celah-celah mereka semua, lagi pula saat ini Delia masih berpikiran jernih, jika dia melakukan kesalahan yang bodoh saat ini, yang ada dia akan masuk ke dalam bui.


“Tenang Delia, bukan saat ini! Sabar!” geram Delia sendiri.


Delia mendongakkan wajahnya. “Duduklah,” pintanya. Ibra pun duduk di hadapan Delia yang terhalang oleh meja.


“Mobil sudah saya sewa, dan sudah terparkir di luar, Mbak,” lapor Ibra.


Delia menganggukkan kepalanya. “Kamu perhatikan di sana, dan ingat wajah wanita yang memegang buket itu,” kata Delia sembari menunjukkan nya dengan gerakkan dagunya.


Ibra pun menoleh ke bahunya dan melihat yang ditunjukkan oleh Delia. “Kerjaan selanjutnya pantau pergerakan wanita, jangan sampai terlewat sedikit pun. Ingat itu!” perintah Delia.


“Baik Mbak, akan saya pantau,” jawab patuh Ibra, sembari menatap wajah Ayasha yang masih tersenyum dengan pria yang masih berdiri di hadapannya.


Cantik juga tuh cewek, ada apa sebenarnya dengan mbak Delia, kenapa harus mengintai cewek itu, atau jangan-jangan tuh cewek merebut pacarnya, batin Ibra bertanya-tanya.


Reni dan Sri yang dapat kabar bahagia dari staff restoran, menyusul ingin memberikan selamat, lagi pula mereka sedang jam istirahat.


“Alhamdulillah, mantan tunangan kembali rujuk lagi, mbak Ayasha dilamar lagi sama Pak Rafael,” Reni turut bahagia, bicara pada Sri sambil melewati meja yang ditempati oleh Delia dan Ibra.


Delia tambah mengeram mendengarnya, sedangkan tanda tanya Ibra terjawab sudah, kini pria muda itu beralih menatap wanita yang masih setia menatap meja Rafael.


...----------------...


Kebahagiaan dua keluarga yang sempat tertunda, insya Allah hari yang sama akan terwujud. Semua karyawan hotel turun tangan saling bahu membahu, menyiapkan ballroom untuk acara pernikahan mendadak sang pemilik hotel. Untung saja para karyawan sudah terbiasa menangani acara wedding, semua vendor segera dihubungi. Ayasha minta pernikahan sederhana saja, apalagi hanya akad nikah, tapi tetap saja Rafael ingin semua karyawan turut menyaksikan kebahagiaan mereka berdua.


Pak Wibowo selaku general manager turut sibuk mencari penghulu dari KUA setempat. Satya dan Amelia juga sama terlihat sibuk memastikan semuanya akan siap walau semua serba dadakan.


Lena menghubungi salon khusus wedding, dan meminta Ayasha untuk mencoba kebaya untuk acara akad nikahnya bersama Rafael, walau acaranya mendadak paling tidak Ayasha tetap menjadi pengantin yang cantik.


Sore ini mereka berdua, ditemani Lena karena yang tahu tempatnya berada di butik yang cukup terkenal di Yogyakarta untuk mencoba kebaya pengantinnya.


Melihat tubuh Ayasha sudah dibalut kebaya berwarna putih yang dipadu kain jarik, pria itu memeluk gadis itu dari belakang. “Calon istriku sangat cantik sekali,” bisik Rafael. Mereka berdua sama-sama melihat pantulan mereka di cermin, yang satu cantik dan yang satu ganteng.


Ayasha tersenyum, dan mengusap dagu pria itu, ingin rasanya pelukan hangat pria itu selalu hadir untuknya.


“Aku tak sabar untuk acara nanti malam, Sayang,” bisik Rafael pas ditelinga Ayasha.


“Kita harus bersabar, Om, sebentar lagi.”


Sementara itu di bandara Adisucipto, adik Rafael baru tiba dengan suami dan kedua anaknya, setelah dapat kabar jika kakaknya akan menikah malam ini, mereka segera berangkat menuju Yogyakarta, untuk menghadiri pernikahan dadakan Rafael dan Ayasha.


Sesampainya di Yogyakarta, tubuh Larissa sudah gemetar hebat, kedua bola matanya yang cantik mulai berkaca-kaca.


bersambung ...


SAD ENDING? OR HAPPY ENDING?