FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Darial cemburu



Darial, pria berketurunan Inggris itu tampak bergegas masuk ke dalam rumah sakit dengan membawa tentengan di tangannya. Dari kejauhan terlihat pria memakai kacamata hitam plus topi di kepalanya mengamatinya Darial dari jauh.


Tatapan matanya yang terhalang oleh kacamata hitamnya, terlihat menyedihkan namun berusaha untuk kuat menghadapi kenyataan yang sudah terjadi.


Di saat pria bule itu sudah masuk dan menuju ruang rawat Ayasha, tak selang berapa lama pria itu turut masuk juga namun tetap menjaga jaraknya.


Kondisi di ruang rawat sekarang, Ayasha sedang dicek oleh Dokter spesialis penyakit dalam, wajah cantik Ayasha terlihat sedang menahan rasa sakit diperutnya, hingga akhirnya Dokter memberikan suntikan obat nyeri di infusnya.


“Jadi sebenarnya kondisi anak saya, bagaimana Dokter?” tanya mama Rara yang sempat menemui Dokter tersebut, dan hasil analisanya tidak ada yang perlu dicemaskan. Tapi sekarang melihat Ayasha kembali merintih kesakitan, mama Rara tak tega walau sebenarnya tahu penyebabnya.


“Nanti agak siangan, anak ibu kita USG abdomen kembali, sekalian cek urine, karena ada beberapa faktor penyebab perut kolik, seperti infeksi saluran kemih, adanya batu empedu, gangguan ginjal, dan gerd. Jadi Ibu mohon bersabar untuk itu, saat ini saya berikan obat nyerinya terlebih dahulu. Agar kondisi anak ibu tenang,” ucap sang Dokter.


“Baik Dokter, saya akan menunggunya,” jawab mama Rara, sambil mengusap-usap kepala Ayasha agar tenang. Lalu Dokter berpamitan untuk koordinasi tindakan USG ke Dokter yang lain.


“Dibawa istighfar ya nak, selalu berdzikir,” pinta mama Rara.


“Ya Mah,” jawab Ayasha terdengar lemah.


Dalam waktu bersamaan tibalah Darial untuk berkunjung, Amelia yang kebetulan membuka pintu, mempersilahkan pria bule itu untuk masuk. Namun Mama Rara tidak bergeser dari tempatnya yang duduk di sisi ranjang Ayasha.


“Assalammualaikum, Tante, Ayasha,” sapa Darial begitu ramahnya.


“Waalaikumsalam, Darial,” jawab sapa mama Rara.


Ayasha tak bisa menjawab, gadis yang sedang meringkuk itu hanya bisa melihatnya sejenak lalu kembali memejamkan matanya karena masih menahan rasa sakit perut yang ternyata semakin menjadi-jadi, padahal sudah dikasih obat pereda nyeri, mungkin obatnya belum bekerja total.


Darial tidak dipersilahkan duduk oleh siapapun yang ada di dalam ruangan tersebut, pria itu hanya berdiri di sisi ranjang gadis itu. Tentengan yang dia bawa, diberikannya pada Amelia.


“Ayasha, sakit apa Tante?”


“Perutnya kolik dari semalam, dan sekarang sedang tahap observasi.”


Pria itu di hadapan mama Rara yang dia ketahui sebagai mamanya Ayasha, memberanikan diri mengusap lengan Ayasha dengan maksud hati menunjukkan perhatiannya, namun kalau buat mama Rara rasanya tidak etis sih, apalagi baru saling mengenal, namun ya sudahlah.


Ayasha membuka matanya saat merasakan lengannya diusap oleh tangan besar pria itu, entah kenapa usapan itu seperti rasa yang semalam dia rasakan, usapan lembut lalu lantunan surat pendek dari Al-Qur'an yang sempat dia dengar, mungkinkah itu Darial? Rasanya tidak mungkin, apa benar pria bule itu bisa mengaji? Bukan maksud hati Ayasha meremehkan kekasihnya.


Ah mungkin yang sempat aku rasakan semalam hanyalah sebuah mimpi.


Darial menatap hangat pujaan hatinya yang sempat membuat hatinya kecewa kemarin. “Semoga cepat sembuh ya, saya akan menemani mu di sini,” ucap Darial.


“Tidak usah repot-repot Kak, nanti mengganggu waktu bekerja Kak Darial, lagi pula ada mamaku dan Amel di sini,” jawab Ayasha terdengar lemah, sejujurnya dia tidak menginginkan kehadiran Darial saat ini, dan dia juga tidak membutuhkan perhatian pria itu untuk saat ini.


“Gak pa-pa, lagi pula itukan perusahaan saya sendiri, jadi bisa diatur,” jawab Darial, seolah-olah memberitahukan ke mama Rara jika dia memiliki perusahaan.


Mama Rara memalingkan tatapannya yang semula menatap ke arah Darial, sekarang ke Ayasha.


Kok jadi kelihatan sombong banget ya. Belum tahu ya jika tante Rara itu juga punya perusahaan besar di Jakarta ... batin Amelia yang sempat mendengarnya.


Satya yang terlihat tenang dalam duduknya, padahal kamera ponselnya sedang mengarah ke ranjang Ayasha yang tersambung dengan ponsel Rafael.


Darial mengambil kursi kosong yang ada dekat meja bundar, lalu menaruhnya di sebelah ranjang Ayasha, kemudian duduk di sana. Mama Rara tidak menggubrisnya begitu juga dengan Ayasha.


Gadis itu kembali mengusap perutnya yang semakin menyiksanya sambil melafadzkan doa, lalu meraih tangan mama Rara untuk digenggamnya dengan erat.


“Sakit Mah,” ringis Ayasha. “Perutku seperti ditusuk-tusuk lagi ... AAKKHH!”


Amelia dan Satya sontak terbangun dari duduknya, langsung mendekati ranjang Ayasha. Mama Rara terlihat tenang namun hatinya menangis, wanita paruh baya itu mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an, sedangkan Amelia mengambil air minum lalu segera memberikannya ke Ayasha.


Darial tampak kebingungan melihatnya, namun ikutan beranjak dari duduknya.


“Astagfirullah ... Ya Allah ... Sakit!” teriak Ayasha, mengadu kesakitan.


“Huek ...,” kembali lagi Ayasha muntah darah segar.


Mama Rara dan Amelia tak kuasa melihat keadaan Ayasha, air mata mereka berdua pun jatuh di pelupuk kedua matanya.


Satya bergegas keluar ruangan menunggu kedatangan Rafael, dan Ustadz yang katanya sudah dalam perjalanan.


Dari kejauhan terlihat Rafael berlarian lalu langsung masuk ke ruangan tanpa menyapa Satya, sang asisten memahaminya dari raut wajah Rafael yang terlihat panik.


“AAKKHH ...,” ringis kembali Ayasha. Darial tidak berbuat apa-apa hanya melihat saja, apalagi melihat darah yang keluar dari mulut Ayasha, terlihat jijik.


Rafael yang baru saja masuk langsung mendekati ranjang gadis itu. Mama Rara dan Amelia masih membaca ayat kursi. Rafael langsung meraih tubuh Ayasha, lalu merangkulnya kemudian mengusap darah yang keluar dari mulut gadis itu.


“Mohon bersabar Ayasha, maafkan aku, tolong bertahanlah,” ucap Rafael lirihnya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


Ayasha pun sejenak menatap nanar ke wajah Rafael yang tiba-tiba saja hadir di hadapannya kemudian mengusap bibirnya yang baru aja muntah darah. Ada perasaan hangat yang menyelusup di hati gadis itu. Namun apa yang terjadi ...


BUGH!


BUGH!


Darial menarik kerah baju Rafael hingga pria itu bangkit dari atas ranjang, lalu menghadiahkan bogeman mentah di wajah tampan Rafael.


“Dasar brengsek, berani sekali datang-datang  langsung memeluk kekasih saya. Mentang-mentang kamu saudaranya Ayasha, tapi tidak seenaknya begitu!” murka Darial menunjukkan emosinya.


Semua yang ada di ruangan terkesiap, Rafael yang sempat memalingkan wajahnya, mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah. Rafael pun juga turut murka, lalu membalas memberikan bogeman mentah ke wajah tampan Darial. Satu sama.


Ayasha kembali meringkuk menahan sakit, mama Rara akhirnya mendekati kedua pria itu yang tampak mulai bersitegang.


“Jika kalian berdua ingin ribut atau berkelahi, silakan keluar dari ruangan, jangan di sini!” geram mama Rara, wajahnya terlihat marah.


“Kalian berdua lihat kan jika Ayasha sedang kesakitan! Dan kalian berdua ingin mencari perkara baru!” bentak mama Rara.


“Maaf Tante, saya cemburu melihat Ayasha dipeluk Rafael,” jawab Darial apa adanya.


“Sekarang bukan waktunya untuk menunjukkan kecemburuanmu Darial!” jawab mama Rara, pelan namun penuh penekanan.


Rafael mengacuhkan Darial yang masih terlihat emosi, dia kembali ke ranjang lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembutnya, lalu membacakan surat khusus ruqyah mandiri. Mama Rara pun menyusul mendekati ranjang Ayasha.


Tinggallah Darial yang terdiam dan terpaku melihatnya.


Ada apa ini? ... Batin Darial.


 


bersambung ...