
Waktu terus berjalan, tak terasa waktu pun sudah menjelang malam. Barang perabotan milik Ayasha dan Amelia sudah berpindah tangan ke para tetangga yang memerlukannya, dan mereka berdua hanya mengemasi pakaian dan dokumen milik mereka.
“Ya Allah, gak terasa udah jam tujuh aja, mau pulang gak?” tanya Amelia, sembari memberikan beberapa kotak pada office boy.
Ayasha yang sedang mengemasi mukena yang habis dipakai saat sholat magrib ke dalam tas besarnya, menoleh ke samping. “Iya kita pulang sekarang, perutku juga udah lapar banget.”
Sebelum mereka benar-benar meninggalkan rumah kontrakan, mereka berdua kembali mengelilingi dalam rumahnya, dan mengucapkan salam perpisahan, karena rumah ini tempat bersejarah mereka berdua, meniti masa depan bersama-sama.
Selamat tinggal rumah kontrakan.
...----------------...
Perumahan Sahira Darmawangsa.
Mama Rara bahagia melihat kedatangan mama Nia, papa Tisna dan tentunya suaminya, sungguh kejutan yang tak terduga. Mama Rara yang saat itu sibuk menyiapkan makan malam, kini terlihat dibantu oleh Mama Nia. Rasa rindu, karena telah lama tak berjumpa sekarang terobati dengan suasana yang hangat, kemudian meninggalkan masa lalu yang pernah membuat hubungan dua keluarga meregang.
Rafael setelah sampai kembali dari Jakarta, dia tampak bergegas membersihkan dirinya agar lebih dirinya lebih segar dan rapi saat menyambut Ayasha pulang.
Papa Stevan dan papa Tisna tampak sedang ngopi santai di samping kolam renang sembari ngobrol. Di sela-sela kedua pria paruh baya itu berbincang sembari menunggu makan malam siap dan kepulangan Ayasha, papa Tisna terharu mendengar jika rumah mewah yang sekarang mereka datangi adalah rumah Ayasha yang dihadiahkan oleh Rafael, ini hal yang tak diduga buat papa Tisna sebagai orang tua Ayasha. Pria yang baru saja minta restu kembali, ternyata sudah menunjukkan perjuangannya.
Rafael yang sudah tampak segar, terlihat sudah mondar mandir di teras rumah menanti kepulangan Ayasha, yang menurut info Satya sudah masuk ke dalam perumahan. Dan benar saja lima menit kemudian mobil yang membawa Ayasha dan Amelia sudah tiba di depan rumah.
Rafael pun bergegas menghampiri mobil tersebut dan membuka pintu tengah.
“Loh, Om Rafael,” ucap Ayasha terkejut melihat pria itu sudah didepan mata, ketika mereka sama-sama membuka pintu mobil.
Pria itu tersenyum hangat. “Baru sampai, sini aku bawakan,” balas Rafael, pria itu langsung mengambil tas besar yang dipegang oleh Ayasha, lalu membawanya kemudian membantu Ayasha keluar dari mobil dengan menggenggam tangan kanan gadis itu.
Mungkinkah aku harus memilih Om Rafael kembali, batin Ayasha. Perhatiannya Rafael memang sangat berbeda dengan Darial.
Di pintu mobil yang berbeda, Satya membantu Amelia menurunkan barang bawaannya. Ah si Amelia tidak kaget kalau Satya sudah kembali lagi ke Jogja, karena mereka berdua sempat berbalas pesan.
“Om Rafael, bukannya katanya balik ke Jakarta, kok malam ini udah di sini lagi?” tanya Ayasha, agak heran.
“Urusannya sudah selesai Aya, sekarang kita masuk ke dalam dulu ya,” ajak Rafael, gadis itu pun menurutinya.
Di saat masuk kedalam, aroma masakan tercium wangi di ruang tamu, Rafael masih belum melepaskan tangan gadis itu, dan mengajaknya ke ruang tengah.
Kedua netra Ayasha membulat, bibirnya pun terkatup sejenak setelah melihat siapa yang sedang tersenyum padanya.
“Mama.”
Rafael melepaskan tangan Ayasha, gadis itupun langsung menghampiri mama Nia, lalu memeluknya dengan erat. Ibu dan anak itu sama-sama menangis terharu setelah sekian lama tidak bertemu.
“Mama kangen sama kamu, Nak,” ucap Mama Nia, sambil mengusap lembut punggung Ayasha.
“Aku juga kangen sama Mama,” balas gadis itu. “Kenapa gak bilang kalau mau ke sini?” Ayasha bertanya.
“Kalau kasih tahu, bukan kejutan namanya, Aya,” sambung Rafael.
Mendengar hal itu wajah Ayasha langsung cemberut pada pria itu, namun tak bisa dipungkiri jika dia suka kejutan ini. Tak lama papa Tisna menghampiri anaknya.
“Papa,” sapa Ayasha, sekarang bergantian memeluk papa Tisna, sungguh malam ini kejutan yang luar biasa buat Ayasha dengan kedatangan kedua orang tuanya.
Mama Rara, papa Stevan dan Rafael juga turut berbahagia bisa kembali berkumpul bersama, mereka sedang bereuni kembali.
“Mama sudah masak kesukaan kamu, kita makan sama-sama ya,” ajak Mama Nia dengan mata yang masih berbinar-binar. Ayasha pun menganggukkan kepalanya, sembari memencet hidungnya yang mulai meler karena habis menangis haru.
Pipi Ayasha malah jadi merah merona, karena malu atas perlakuan Rafael, diakan bukan anak kecil lagi, namun pria itu terlihat biasa saja.
“Terima kasih atas kejutannya, Om,” ucap Ayasha pelan.
“Demi kamu, apa pun aku lakukan,” jawabnya, sembari menatap hangat Ayasha.
“Ayo jangan lama-lama berduaan, kita udah lapar nih,” celetuk Mama Rara.
Rafael sama Ayasha jadi malu, lalu mereka berdua turut ikut bergabung makan malam bersama, begitu pula dengan Amelia dan Satya turut bergabung.
Berkumpul bersama-sama di ruang makan, menikmati makan malam bersama yang sudah lama tidak mereka lakukan selama lima tahun, hubungan yang sempat renggang kembali menyambung, semoga ini sebuah pertanda baik untuk dua keluarga.
Rafael yang sengaja duduk di samping gadis itu, sangat telaten menyiapkan makan malam buat Ayasha, padahal gadis itu tak memintanya. Perhatian kecil dari pria itu ternyata mampu membuat hati Ayasha terasa hangat. Dia pun teringat saat dirinya sakit, Rafael pun telaten menyuapinya hingga makanannya habis.
“Dimakan ya, tadi aku juga sempat mampir ke toko kue kesukaan kamu di Jakarta, aku simpan di kulkas,” ucap Rafael.
“Benarkah, Om beliin kue kesukaan ku?” tak percaya karena sudah lama tidak makan kue kesukaannya.
“Beneran Aya, Rafael tadi beli kue kesukaan kamu, sampai banyak begitu sebelum kita berangkat ke sini,” timpal Mama Nia yang turut mendengarnya.
Gadis itu tersenyum lebar. “Makasih banyak, Om Rafael,” ucap Ayasha dengan imutnya.
Rafael rasanya ingin mencubit pipi Ayasha, menggemaskan.
“Sama-sama,” jawab Rafael dengan lembutnya.
Bahagianya seorang wanita tidak harus dengan membelikannya perhiasan atau barang mewah, namun terkadang cukup memberikan perhatian yang tulus, membelikan makanan atau minuman yang disukainya, melindunginya, memberikan rasa nyaman. Hal yang sangat sederhana namun mampu membuat wanita itu tersenyum bahagia.
Bahagia itu sederhana.
Ya Allah, tetapkan hatiku pada siapa hatiku berlabuh. Jika memang jodohku yang terbaik adalah Om Rafael, mohon teguhkanlah hatiku ini.
Hati Ayasha malam ini dibuat sangat bahagia oleh Rafael, dia tak menyangka mampu mengajak kedua orang tuanya ke Jogyakarta dengan datang bersamaan, sudah bisa dia pastikan jika Rafael menemui kedua orang tuanya dan memohon pada mereka berdua.
Sembari menikmati makan malam, Rafael menyempatkan merangkul pinggang gadis itu dari belakang, tanpa rasa malu pada kedua orang tua mereka.
“I love you,” ucap Rafael tanpa mengeluarkan suaranya, hanya gerakan bibirnya, saat gadis itu menoleh ke arahnya.
Ayasha tersenyum.
Rafael pun tersenyum.
bersambung ....
Kasih yang manis-manis dulu ya, sebelum waktunya tiba 😔 ...
...----------------...