
Seperti malam sebelumnya, Ayasha sekamar dengan Amelia, karena semua kamar di rumah di isi oleh orang tua Rafael dan orang tua Ayasha, sedangkan Rafael yang enggan menginap di hotelnya lebih memilih tidur di sofa panjang yang ada di lantai dua pas depan kamar Ayasha, sedangkan Satya yang juga tidak mau balik ke hotel memilih tidur di musholla dengan kasur lipat. Sepertinya kedua pria itu tak mau jauh dari pujaan hatinya.
Ayasha dan Amelia sudah berada di kamar utama, mereka bergantian membersihkan dirinya, saat ini Amelia yang berada di kamar mandi.
“Mel,” panggil Ayasha sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Ya, apa Aya,” sahut Amelia dari dalam kamar mandi.
“Gue pinjam handphone lo dong, gue mau misscall hp gue, hp gue entah ada di mana belum ketemu,” teriak Ayasha.
Klek!
Kepala Amelia melongo di sela pintu kamar mandi. “Hp gue ada di atas meja yang ada figura foto, lo ambil aja,” kata Amelia.
“Ok thanks,” jawab Ayasha, kemudian mengambil ponsel milik Amelia.
Saat Ayasha membuka layar ponsel milik Amelia, masih ada video yang terjeda, dan tak sengaja jempol Ayasha mengklik playnya. Namun, ketika gadis itu ingin stop video tersebut dan keluar menu, tiba-tiba saja kedua netranya membulat, bibirnya pun menganga saat melihat adegan wanita berada di pangkuan pria yang dia kenal, lalu mereka berdua ciuman. Degup jantung Ayasha mulai cepat, kedua matanya masih menyaksikan video tersebut.
“Kak Darial ... Om Rafael,” gumam Ayasha sendiri.
Amelia yang masih berada di kamar mandi, tiba-tiba baru teringat sesuatu, akhirnya dia buru-buru menuntaskan bebersihnya lalu keluar dari kamar mandi. Aduh gawat ini, batin Amelia, dia lupa menutup video setelah menontonnya kembali sama Satya.
“Aya,” panggil Amelia setelah keluar dari kamar mandi, dan melihat Ayasha masih berdiri memegang dan melihat ponsel miliknya.
“Mel, ini apa?” tanya Ayasha tanpa menoleh ke Amelia, kedua netranya masih menatap video kejadian di club malam.
Kedua netra Ayasha sudah tampak berkaca-kaca, dirinya pun amat sedih melihat video ini, serta hatinya menertawakan dirinya yang kembali mendapatkan pengkhianatan untuk kedua kalinya.
Bibir Amelia agak keluh saat ingin menjawabnya karena teringat larangan dari Rafael untuk tidak banyak bercerita, namun sekarang sahabatnya sudah melihat video tersebut tanpa sengaja.
Usai menonton video rekaman itu, Ayasha mengembalikan ponsel milik Amelia. “Kenapa lo gak kasih tahu gue tentang hal ini, Mel? Kenapa?” tanya Amelia dengan tatapan sedihnya.
Amelia menerima ponsel miliknya dari Ayasha. “Sorry Aya, bukannya gue tidak mau kasih tahu tentang video ini, tapi gue dilarang untuk kasih tahu ke lo sama Om Rafael. Sebenarnya gue pengen kasih tahu tentang kak Darial, tapi Om Rafael ingin lo tahu dengan sendirinya. Dia tidak ingin terkesan memisahkan lo sama Kak Darial, saking dia mencintai lo! Om Rafael tidak ada niatan untuk memisahkan lo dengan Kak Darial, padahal banyak bukti masa lalu tentang kak Darial, tapi dia menyuruh kita untuk menyimpannya. Takut lo terluka lagi,” imbuh Amelia.
Ayasha terhenyak dengan perkataan Amelia, berarti Rafael sudah menyelidiki tentang Darial dan Amelia serta Satya juga sudah tahu. Gadis itu juga tidak menyangka sosok yang dia kenal baik, ternyata seperti itu di belakangnya, video itu menjadi bukti perkataan yang pernah dia dengar dari Jiah di warung makan, jika Darial adalah playboy, dan kini gadis itu berasa sebagai mangsa barunya Darial.
Ayasha mendesah. “Tapi gak begitu Mel, Om Rafael terluka karena dipukul pakai botol, dan gue gak tahu,” balas Ayasha, kecewa.
Amelia dibuat melongo, dikirain Ayasha bersedih karena melihat Darial lagi ciuman sama wanita lain, ternyata karena lihat Rafael yang dipukul pakai botol.
Ayasha bergegas keluar dari kamarnya, dan menghampiri Rafael yang belum memejamkan kedua netranya di atas sofa panjang, masih menatap layar ponselnya.
“Aya, kamu kok belum tidur?” tanya Rafael, kaget melihat Ayasha sudah berdiri di hadapannya, kemudian dia ganti posisi berbaring menjadi duduk.
Rafael menarik lengan Ayasha, agar duduk di sampingnya. “Kenapa kamu kok kelihatan sedih?”
Ayasha menatap sendu Rafael. “Punggung Om terluka kan?”
Pria itu mengerutkan dahinya karena pertanyaan Ayasha. “Punggung.” Kembali mengulang kata Ayasha.
Pria itu memiringkan tubuhnya, lalu merangkul pinggang Ayasha agar mereka berdua lebih dekat. Pria itu langsung teringat dengan video kejadian dari club. “Kamu sudah lihat videonya ... hem?” tanya Rafael dengan lembutnya.
Ayasha langsung menganggukkan kepalanya. “Iya barusan gak sengaja lihat di ponsel Amel.”
Rafael merapikan rambut Ayasha dan menyelipkannya dibalik telinga gadis itu, lalu mengusap lembut telinganya. “Aku tidak mau kamu terluka lagi, aku teringat kejadian kita dulu, makanya aku melarang Amel untuk tidak kasih tahu kamu. Lagi pula aku tidak mau ikut campur hubungan kamu dengan Darial. Aku hanya ingin berjuang merebut hatimu kembali, dan membiarkan kamu yang memilih, siapa yang terbaik buatmu, karena hanya hatimu yang bisa merasakannya.”
Tutur Rafael sangat lembut, tak ada kesan egoisnya, dan tak ada rasa menuntut dari pria itu terhadap dirinya, namun keputusan yang diambil itu demi menjaga hati gadis itu, namun kini dia sudah mengetahuinya sendiri. Salah satu doa gadis itu terkabul kan, dia ingin tahu tentang Darial yang tak dia ketahui dengan cara apapun.
“Kalau kamu mau marah dan kecewa sama aku boleh, tapi jangan marah sama sahabatmu, ini bukan salahnya tapi ini salahku,” kembali berucap Rafael.
“Kenapa, jadi diam ... hem?” tanya Rafael, kedua netranya masih setia menatap hangat Ayasha, pria yang sangat mencintai Ayasha namun tak menuntut untuk dicintai, biarkan semua berjalan dan mengalir seperti air.
Ayasha mengusap dada bidang pria itu, lalu semakin mendekat dirinya pada pria itu, Rafael pun semakin merangkul pinggang Ayasha hingga kepala gadis itu bersandar di bahu Rafael. Nyaman!
Percayakah jika obat dari luka selain waktu yang berjalan adalah orang yang membuat luka itu, dia yang mampu menyembuhkan luka itu karena dia pun berusaha memperbaiki dirinya, kecuali dia tidak berusaha memperbaiki dirinya.
Untuk saat ini hati Ayasha mungkin sedih telah tahu sedikit tentang Darial, namun kesedihannya itu tidak berlarut lama karena ada Rafael disampingnya, apalagi di video itu dia melihat Rafael menghajar Darial.
Cinta Rafael bukanlah sekedar ucapan belaka, namun membuktikan dalam segala perbuatannya, sedikit demi sedikit gadis itu mulai menerima cinta Rafael.
Rafael mengusap lembut rambut Ayasha. “Masih mau marah gak sama aku?”
“Enggak Om, aku gak marah. Om ...”
“Hmm ...”
“Bisa ceritain tentang Darial, yang Om ketahui?” tanya Ayasha, sembari menarik wajahnya dari bahu Rafael, lalu menatap pria itu.
“Besok saja yang ceritanya, wajah kamu sudah lelah,” jawab Rafael, tak lama dia mengecup kening Ayasha dalam-dalam.
Ayasha hanya bisa mendesah dan kembali menyandarkan dirinya pada bahu Rafael, pelukan pria itu ternyata malam ini dia butuhkan untuk menghadapi kenyataan yang baru tentang Darial.
Belaian lembut Rafael pada rambut Ayasha, membuat lama-lama gadis itu menutup kedua netranya, akhirnya terdengarlah dengkuran kecil dari bibir Ayasha, pria itu pun tersenyum melihatnya, kemudian dia memperbaiki posisi mereka berdua di atas sofa yang lumayan lebar agar lebih nyaman, dan Rafael membiarkan Ayasha terlelap dalam pelukannya, pria itu pun menyusul memejamkan kedua matanya.
bersambung ...