
Mansion Stevan.
Ruang kerja
Rafael terlihat begitu serius membaca beberapa dokumen yang dibawa oleh Satya dari perusahaannya. Walau pikirannya gusar, dia juga harus membagi pikirannya untuk perusahaannya demi kelangsungan kehidupan para karyawannya, begitu pula kestabilan perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang batu bara.
“Kamu sudah cek semua file yang tersimpan di komputer Delia?” tanya Rafael tanpa menatap Satya.
“Saya sudah memindahkan semua data file penting yang ada di komputer Delia, ke hardisk ini. Tapi maaf Pak ... saya menemukan sesuatu di komputernya,” jawab Satya, sembari memasang hardisk yang dibawanya ke laptop Rafael.
Rafael mengangkat wajahnya, lalu menatap laptopnya. “Sebelumnya saya minta maaf, Pak Rafael, saya tidak sengaja melihatnya saat mensortir filenya.”
Pria itu hanya diam namun mengamati Satya yang menunjukkan file yang dimaksud Satya. Dan tak lama sudah erangan dan desaahan terdengar dari speaker dalam laptop bersamaan dengan gambar dua orang yang sedang berbagi peluh tanpa sehelai kain. Rafael meraup wajahnya dengan kasarnya lalu mulai memerah menahan emosi, wajah Ayasha yang terdiam di ambang pintu kamarnya di apartemen tiba-tiba muncul di pelupuk matanya.
Maafkan aku, Ayasha.
Rafael tak menyangka jika Delia merekam hubungan intim mereka di apartemen sebelum kedatangan Mama Rara dan Ayasha lalu memergokinya, lima tahun yang lalu.
Satya memalingkan wajahnya untuk tidak melihat rekaman video tersebut, namun masih bisa mendengar suara lacknat tersebut.
Rafael langsung menghapus video mesumnya sendiri dengan Delia. “kurang ajar, ternyata diam-diam dia telah merekam!” umpat Rafael.
“Yang di komputernya sudah kamu bersihkan semua, dihapus total?” tanya Rafael dengan kesalnya.
“Sudah saya bersihkan semuanya, hingga tidak bisa dipulihkan kembali.”
Rafael sedikit lega, untung saja dia sudah meminta Satya mengecek komputer yang biasa dipakai oleh Delia, tapi sebenarnya agak meragukan, takutnya Delia punya copy video tersebut, dan akhirnya akan menjadi petaka buat Rafael sendiri.
“Saya minta kamu suruh seseorang ke kosan Delia, cari laptopnya! Saya takutnya dia masih menyimpan video tersebut,” perintah Rafael.
“Baik nanti saya suruh satu orang untuk ke kosannya.”
“Dan satu lagi, saya minta kamu mengecek tentang Darial klien hotel saya, selidiki semuanya mulai dari perusahaannya dan kehidupan pribadinya.”
“Baik Pak, kalau begitu saya harus menghubungi orang kita yang ada di Yogyakarta.”
“Ya ... Kamu atur saja, intinya saya minta kabar tentang Darial secepatnya, tidak lama-lama.”
Satya mengangguk patuh atas perintah Rafael, dan langsung bergerak cepat. Namun disaat sang asisten baru mau beranjak berdiri, Rafael kembali berkata, “Pesankan buket bunga mawar pink campur putih, lalu kirim ke Ayasha, jangan lupa makan siangnya tolong bilang pihak restoran hotel nya buatkan makanan yang sehat, sekalian gadis yang sedang kamu incar kasih makan siang juga dari hotel,” perintah Rafael.
Kedua netra Satya melongo mendapat perintah tersebut, tak lama bibirnya tersenyum lebar saat Rafael minta gadis yang dia incar di kasih makan siang dari hotel. Aah otw bisa kabar kabari via telepon lagi sama Amelia.
Rafael menatap aneh wajah Satya. “Kok malah bengong Satya, kamu dengarkan yang saya pinta?” tegur Rafael.
“Eeeh ... iya Pak ... saya dengar Pak, segera saya laksanakan,” jawab Satya dengan hati yang senang, kemudian dia menuju meja kerjanya dan mengerjakan semua permintaan bosnya.
Rafael menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya, kemudian merebahkan kepalanya menatap langit-langit ruang kerja. Dia tak menyangka Delia merekam adegan intim mereka berdua, dan berharap wanita itu tidak menyimpannya, dan tidak menyebarkan video mesum tersebut, karena dia ingin menjaga perasaan Ayasha.
...----------------...
Ruang keluarga
Usai makan siang bersama di ruang makan, Rafael menyusul Mama Rara yang berada di ruang keluarga bersama Papa Stevan.
“Mah,” sapa Rafael, sebelum duduk di hadapan kedua orang tuanya yang sedang menikmati buah potong.
“Ya ada apa, duduklah jangan berdiri seperti itu,” pinta Mama Rara yang melihat wajah Rafael begitu seriusnya.
Rafael menuruti permintaan Mama Rara untuk duduk, tapi bukan duduk di sofa namun dia bersimpuh di hadapan mama Rara.
“Mah, bolehkah aku minta sesuatu sama Mama dan Papa?” tanya Rafael.
Mama Rara dan Papa Stevan saling bersitatap kemudian bersamaan menatap putra sulungnya.
“Minta apa Nak, kamu juga tidak perlu bersimpuh seperti ini. Memangnya ada apa?” tanya mama Rara penuh dengan rasa ingin tahu yang lebih.
“Aku minta restu dari Mama dan Papa.”
Tubuh Mama Rara dan Papa Stevan mulai tampak tegang begitu pula dengan wajah mereka berdua.
“Restu apa Rafael, jangan bilang kamu mau menikahi Delia!” seru Papa Stevan, kepikiran ke arah sana.
Rafael menggeleng, “bukan restu itu Pah, aku minta restu sama Mama dan Papa untuk mendekati Ayasha kembali, walau aku tahu jika Ayasha sudah punya kekasih. Dan aku tahu jika di masa lalu telah menyakiti hati Ayasha, tapi aku ingin memperbaiki segalanya. Mungkinkah aku dapat kesempatan itu Mah, Pah,” ucap Rafael dengan nada rendahnya.
Mama Rara mendesah lalu menatap wajah anaknya yang sekarang tertunduk. “Sudahkah kamu memperbaiki dirimu Nak menjadi lebih baik? Untuk memantaskan dirimu saat mengejar Ayasha kembali.”
Rafael bergeming sejenak, saat kembali menatap wajah mama Rara.
“Setiap orang pasti memiliki kesempatan kedua, dan itu dimulai dari diri sendiri. Jika dirasa sudah pantas, maka kejarlah namun bukan berarti kamu memaksakan kehendakmu pada Ayasha. Kita sudah tahu jika Ayasha sudah memiliki pilihannya sendiri, kita jangan membuat dia kecewa dan terluka kembali,” tutur mama Rara begitu lembutnya.
“Aku tahu maksud Mama, aku juga tidak akan memaksakan kehendakku. Aku akan mendekatinya dengan caraku sendiri tanpa merebut Ayasha dari pria lain, aku juga sadar diri yang bukan pria berstatus perjaka tak pantas untuk wanita yang mampu menjaga kehormatannya. Tapi paling tidak aku ingin berusaha dengan restu Mama dan Papa, agar langkah kakiku ringan.”
Kembali lagi Rafael menundukkan kepalanya. “Mah, aku sangat mencintai Ayasha dan aku terlambat menyadarinya. Kini aku hanya ingin melindunginya ... sebelum aku lebih menyesali semuanya,” ucap Rafael, lirih.
Mama Rara dan papa Stevan sudah tahu maksud melindungi, karena Valerie sudah bercerita apa yang dikatakan oleh Larissa mengenai Ayasha, walau Rafael tidak bercerita kembali ke mereka berdua.
Mama Rara menyentuh bahu Rafael lalu mengusapnya. “Dari dulu Mama dan Papa sudah memberikan restu kami untuk kamu dan Ayasha, namun kamu tidak mengindahkannya, kamu sia-siakan begitu saja. Jika sekarang kamu berniat untuk melindunginya, Mama merestui niat baikmu Nak, tapi jangan pernah merebut Ayasha dari kekasihnya. Jadilah pribadi yang lebih baik lagi, biarkan waktu yang menunjukkan arahnya akan kemana dan ingat selalu berdoa minta yang terbaik dari Allah, jika Ayasha masih menjadi jodohmu maka mintalah pada Sang Pemilik Ayasha, hanya DIA lah yang membolak balikkan hati manusia. Namun jika Ayasha bukan jodohmu maka jangan berkecil hati Nak, mungkin Allah sudah menyiapkan jodohmu yang lain,” tutur mama Rara, menasehati putranya.
Manusia boleh saja punya rencana, namun tetap Allah lah yang mengabulkan rencana semua itu. Doa ... Doa ... Doa ... mintalah segala keinginanmu yang baik kepada Sang Maha Pencipta, lalu berikhtiar dan bertawakallah, berserah dirilah atas hasilnya. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya.
bersambung ....
Kakak Readers mampir yukk ke kisah Arash dan Almira, bantu ramaikan ... masih sepi 😭😭