
Ayasha membalas tatapan serius Darial dengan tatapan dinginnya, gadis itu kalau sudah mendengar ada orang menunjukkan kekuatan uangnya, dia sangat tidak menyukainya. “Terima kasih atas tawaran Kak Darial, tapi lebih baik simpan saja tawaran yang menggiurkan itu buat wanita lain saja karena aku tidak tergiur untuk mendapatkan gaji yang lebih banyak dari sebelumnya. Aku digaji sesuai dengan kemampuan yang aku miliki serta jabatan pekerjaannya, aku tidak ingin digaji besar karena ada sesuatu hal!” ucap Ayasha tegas, kemudian dia bangkit dari duduknya karena ada perawat yang ingin mencabut infusan dari tangannya.
Ucapan Ayasha bagaikan tamparan buat Darial, dia pikir dengan memberikan uang yang banyak, Ayasha akan menuruti kehendaknya, oh itu tidak berlaku buat gadis itu. Jika Ayasha memang gadis matre sudah sejak dulu dia akan memoroti uang Rafael seperti Delia, namun dia tak pernah melakukannya, harta tidak selamanya membuat gadis itu bahagia. Namun buat Darial, harta memuluskan keinginannya untuk mendapatkan yang dia inginkan.
Ternyata kamu memang berbeda dengan wanita lain, Ayasha. Saya tidak salah memilihmu untuk menjadi istriku ... batin Darial.
Yess, gue sempat deg deg degan kalau sampai Ayasha menuruti permintaan Darial. Dia itu gak suka karena lo kerja di hotel karena milik Om Rafael, Aya ... batin Amelia.
Bekerja bukan hanya semata mencari uang, namun adanya kepuasan hati serta rasa nyaman ketika bekerja. Jika Ayasha sudah merasa tidak nyaman dalam lingkungan bekerja, tentu saja dia akan memutuskan untuk berhenti dan mencari tempat yang lebih baik, bukan karena paksaan seseorang.
Selepas jarum infusnya sudah diganti, Ayasha bergegas mengganti pakaiannya. Tas yang sudah dikemasi oleh Amelia dan Satya, telah dibawa Satya untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Lagi-lagi Darial ingin menunjukkan perhatiannya dan kepemilikan atas Ayasha saat Satya membawa barang milik Ayasha, namun kali ini sudah dihalau oleh Amelia. Mama Rara yang ada di antara mereka, berasa tidak dihargai oleh Darial karena sangat terlihat ingin menguasai Ayasha seorang diri, bagaimana kalau Mama Nia yang melihat calon menantunya bersikap seperti itu, suka kah?
“Kak Darial, maaf tidak perlu mengantarku pulang ke rumah. Ada Pak Satya yang mengantarku. Terima kasih atas perhatiannya,” ucap Ayasha ketika mereka sudah di lobby rumah sakit dan akan masuk ke mobil.
“Tapi Ayasha, kamu itu tanggung jawab saya sebagai kekasih. Saya tidak enak dengan mama kamu kalau saya tidak mengantarmu pulang,” jawab Darial, tidak suka Ayasha bersikap menolaknya seperti itu.
Ayasha menatap dengan seksama wajah pria bule itu. “Ada saatnya aku butuh privacy dengan keluargaku, Kak Darial. Jadi tolong pahami, bukannya aku tidak senang mendapatkan perhatianmu, namun aku juga butuh keleluasan waktu. Lagi pula dilain waktu kita akan bertemu kembali,” jawab Ayasha.
Darial menghela napas panjang, baru kali ini bertemu wanita yang tidak menginginkan dia berada dalam waktu 24 jam disisinya, sedangkan di luar sana banyak wanita yang menginginkan dirinya.
“Baiklah kalau begitu, kalau sudah sampai rumah, tolong kabari saya secepatnya,” pinta Darial.
“Ya, aku akan mengabarinya,” jawab Ayasha. Pria bule itu mencondongkan diri lalu sedikit menundukkan kepalanya, agar bisa lebih dekat dengan wajah Ayasha.
“Aya, ayo cepatan masuk mobil,” teriak Amelia yang sudah berada dekat pintu mobil yang telah terbuka lebar, Ayasha langsung menolehkan wajahnya dari Darial, dan pria itu mendengus kesal karena tak jadi mencium pipi Ayasha.
“Aku pulang Kak Darial,” pamit Ayasha, bergegas menghampiri Amelia.
“Ya ... hati-hati,” jawab Darial sedikit kesal.
Rafael yang berdiri tak jauh dari pintu lobby rumah sakit, bersyukur Ayasha tak jadi dicium oleh Darial karena suara teriakan Amelia.
Entah kenapa Ayasha merasa lega setelah akhirnya tidak ada keberadaan Darial di sampingnya, seakan ada oksigen segar yang menyelusup ke rongga paru-parunya.
...----------------...
One more day, one last look. Before I leave it all behind, and play the role that's meant for us, that said we'd say goodbye. Satu hari lagi, sekali lagi untuk melihat. Sebelum aku meninggalkannya semuanya, dan memainkan peran yang kita maksud untuk kita, yang mengatakan bahwa kita akan mengucapkan selamat tinggal.
Lantunan music The Corrs – The Hardest Day terdengar di dalam mobil saat Ayasha masuk, pintu mobil pun tertutup otomatis. Darial masih berdiri dengan gagahnya di luar lobby rumah sakit, kaca mobil pun sedikit dia turunkan untuk sekedar melambaikan tangannya lalu tersenyum tipis.
I've no choise, I Love you, leave
Dikala Ayasha melambaikan tangannya ke Darial, kedua netranya tak sengaja menangkap sosok pria yang dia kenal, Rafael. Dia berdiri di sisi pintu lobby, dan mengangkat sedikit tangannya untuk melambaikannya ke Ayasha. Entah karena lagunya atau karena keadaan mereka berdua, Ayasha terdiam dalam hati yang pilu, seakan bisa merasakan adanya perpisahan yang sangat menyakitkan, namun entah kapan itu akan terjadi, sedangkan Rafael juga merasakan hal yang sama.
Om Rafael
Ingin dia memanggil nama pria itu, namun mobil yang membawanya sudah melaju dan meninggalkan rumah sakit. Ayasha masih menatap ke arah jendela, terpaku. Amelia yang melihat sahabatnya melamun, dia menyentuh tangan Ayasha. “Hei, jangan melamun,” tegur Amelia, Ayasha pun langsung memalingkan dari jendela mobil, dan menunjukkan dirinya tidak melamun.
Selamat 45 menit mobil tersebut masuk ke gerbang perumahan Sahira Dharmawangsa, Ayasha terlihat tercengang dan kenal akan tempat tersebut.
“Amel, Pak Satya kenapa kita ke sini?" tanya Ayasha.
“Sudah waktunya kamu menempatinya,” jawab Amelia terkesan ambigu.
Mobil pun sudah terparkir disalah satu rumah, Satya bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Ayasha.
Ayasha sudah tidak mampu berkata-kata, sudah menduga pasti ini keinginan Rafael agar dia mau menepati rumah yang dia beli, padahal dia belum mempersiapkan apa.
Dua orang pekerja rumah tangga terlihat menyambut ke datangan Ayasha, Amelia dan Mama Rara. Kedua netra Amelia membulat, tak menyangka rumah yang dibeli oleh Rafael untuk Ayasha sangatlah mewah, belum lagi isi rumahnya juga sudah terisi dengan perabotan yang sangat menyesuaikan selera gadis itu.
Om Rafael, nanti kalau kita punya rumah, aku ingin desain interiornya sama furniturenya seperti ini ya. Terus kamar kita di desain seperti ini juga ya. Ingatan lima tahun tiba-tiba muncul, ketika mereka berdua melihat pameran interior rumah.
Langkah kaki Ayasha terhenti, kedua matanya pun dia pejamkan, tak lama dia menepuk dadanya yang terasa sesak.
Kenapa Om Rafael mewujudkan apa yang aku inginkan? Kenapa!
Tak kuasa rasanya dihati gadis itu untuk menahannya, dia berpegangan di sisi pintu ruang keluarga, kemudian dirinya melorot ke bawah dengan berderai air mata, haruskah dia bahagia menerima semuanya? Tapi buat dia ini sangat menyedihkan, seakan ini akan menjadi akhir dari segalanya yang berhubungan dengan Rafael.
“Ayasha,” Mama Rara mengapai badan Ayasha yang sudah terduduk di lantai, lalu memeluk gadis itu yang sedang menangis tersedu-sedu, Amelia pun ikut menghampiri gadis itu tapi tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mengusap lengan sahabatnya.
Pernahkah berpikir jika ada orang yang tiba-tiba saja mewujudkan mimpimu, namun ketika menerimanya terasa tidak membahagiakan justru terasa sedih? Ada apa?
Larissa yang masih tinggal di Jakarta, sedang dipeluk oleh Valerie karena gadis kecil itu tiba-tiba saja menangis kencang saat tidur siang.
“Uncle ... Tante.”
bersambung ...