FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
SAH! SAH!



Ayasha tidak bisa berkata-kata lagi saat Rafael mengungkapkan keinginannya, gadis itu selepas kaget hanya bisa tersenyum pada pria itu. Ya mau bagaimana lagi, seharusnya hari ini mereka sudah resmi menjadi suami istri, akan tetapi Allah berkehendak lain.


“Sudah Om Rafael jangan pikirkan masalah pernikahan, sekarang yang terpenting Om harus pulih dahulu, baru kita membicarakannya kembali tentang pernikahan kita ya, ” jawab Ayasha terdengar lembut.


Rafael mengusap pipi Ayasha. “Kenapa memangnya, apa kamu sudah tak mau denganku, malu melihat keadaan ku sekarang?” tanya Rafael dengan tatapan sedih.


Ayasha mendekatkan wajahnya agar lebih dekat dengan calon suaminya. “Kenapa jadi berpikir kesana Om, kalau aku tidak mau dengan Om, aku tadi gak mau ciuman dengan Om. Dan satu lagi aku terima keadaan Om dalam kondisi apa pun, jadi jangan berpikir negatif ya.”


Pria itu tersenyum hangat. “Jika sudah ada niat baik, sebaiknya kita segera kan saja Ayasha, sudah tak perlu menunda-nunda lagi. Karena aku tidak ingin menumpuk dosa lagi, sayang. Jika kita sudah jadi pasangan halal, posisi berdekatan seperti ini sudah tidak berdosa lagi, tapi jadi pahala,” kata Rafael menjelaskan.


Ayasha tidak kepikiran kesana, ada benarnya kata Rafael, berdekatan seperti ini yang ada mereka berdua akan bertambah dosa, karena bukan pasangan halal. “Ya sudah terserah Om saja.”


“Makasih, sayang ku.”


Ayasha melirik nampan yang ada di atas nakas. “Om, aku suapin makan dulu ya, semenjak bangun belum makan kan?” tanya Ayasha.


“Iya Sayang, aku belum makan.”


Sebelum mengambil makanan, gadis itu mengatur posisi bagian kepala ranjang agar lebih tinggi, kemudian Ayasha pelan-pelan mengambil nampan yang ada di atas nakas, lalu membantu menyuapi Rafael makan. Walau pria itu makannya masih pelan-pelan, namun isi piring habis juga, buat Rafael disuapi makan sama Ayasha, makannya tambah nikmat rasanya walau sebenarnya makanannya terasa hambar.


Hampir dua jam Ayasha menemani Rafael, dia mau balik ke kamarnya sendiri agak sulit karena tidak ada yang mendorong kursi rodanya, tapi bukan berarti dia bosan menemani Rafael, dia hanya ingin pria itu kembali istirahat.


Klek!


Tiba-tiba saja pintu ruangan HCU terbuka, masuklah kedua orang tua Rafael dan Ayasha, kemudian ada salah satu pria paruh baya yang tidak dikenal oleh Ayasha, lalu ada beberapa Dokter yang menangani  Rafael dan Ayasha turut masuk. Dokter tersebut mengecek kondisi Rafael terlebih dahulu untuk memastikan keadaannya, kemudian tak lama ada cleaning servis membawa beberapa bangku dan diletakan di samping ranjang Rafael. Hal ini membuat Ayasha tampak aneh. Sedangkan di luar ruang HCU, sudah banyak karyawan hotel membawa meja lipat, perabotan makanan berserta makanannya, mereka bergerak cepat, Amelia dan Lena turut membantu mempersiapkan konsumsi, dan mulai mendekor prasmanan seadanya.



Pintu ruang HCU yang di tempati oleh Rafael seorang diri sengaja dibuka lebar, jadi keadaan di dalam ruang HCU bisa terlihat jelas.


Ayasha diajak untuk duduk di sofa oleh Mama Nia dan Mama Rara, sedangkan kedua papa, beberapa dokter, serta pria yang memakai setelan safari berwarna hitam plus mengenakan peci duduk di bangku persis sebelah ranjang Rafael.


“Mah ini ada apa ya?” tanya Ayasha agak heran.


Mama Nia mengusap lengan gadis itu dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan, sedangkan Mama Rara tersenyum hangat.


Satya yang baru tiba, bergegas ke ruangan lalu mendekati ranjang Rafael kemudian memberikan kotak kecil serta buket bunga rose kepada bosnya, tanpa banyak bicara, hanya senyum tipis.


“Baiklah, pengantin pria sudah siap untuk menikah hari ini?” tanya Bapak yang memakai peci.


Kedua netra Ayasha langsung membulat seketika itu juga, sedangkan Rafael tersenyum melihat Ayasha kaget. Gadis itu tak menyangka secepat itu mereka akan menikah, dan tidak terpikirkan akan menikah di rumah sakit.


“Rafael minta menikahi kamu saat ini juga, Nak, akad nikah dulu, untuk masalah resepsi urusan belakangan,” kata Mama Nia. Kedua netra Ayasha mulai berbinar-binar, mereka benar-benar akan menikah dengan keadaan apa adanya, ya mungkin ini juga sudah kehendak Allah, lagi pula sebuah pernikahan yang terpenting adalah ijab kabulnya, dan kehidupan setelah menikahnya.


Ayasha pengantin wanita sudah duduk di sofa didampingi oleh Mama Nia dan Mama Rara. Doa pembuka sudah mulai dipanjatkan oleh Pak Penghulu, suasana ruang HCU mulai terasa hening dan khidmat. Satya, Amelia, Lena, Pak Wibowo dan beberapa karyawan hotel ikut menyaksikan pernikahan dari ambang pintu.


Papa Tisna mulai berdiri di sisi ranjang dan menjabat tangan Rafael, yang berbaring di atas ranjang.


“Bismillahirrahmanirrahim, “ ucap Papa Tisna, kemudian menarik napasnya dalam-dalam, begitu juga dengan Rafael yang mulai gugup, mulai mengatur napasnya.


“Saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu, Ayasha Elshanum binti Tisna Wijaya dengan mas kawin uang tunai sebesar 100 juta dan cincin berlian.


“Saya terima nikah dan kawinnya, Ayasha Elshanum binti Tisna Wijaya dengan mas kawin uang tunai sebesar 100 juta dan cincin berlian dibayar tunai.” Sekali tarikan napas, dan tanpa belajar, Rafael mengucapkan dengan lancar.


Papa Tisna dan Rafael sama-sama bernapas lega, lalu menguraikan jabatan mereka berdua.


“Bagaimana saksi, SAH?” tanya Pak Penghulu kepada saksi nikah.


“SAH!”


“SAH!”


“Alhamdulillah. “


Bukan hanya saksi yang menjawab kata SAH namun semua orang yang menyaksikan acara pernikahan itu.


Ayasha memeluk Mama Nia dengan rasa haru karena bahagianya, status nya kini sudah berubah menjadi Nyonya Rafael Alviansyah. Rafael pun meneteskan air mata bahagianya walau masih terbaring di atas ranjang, namun dia memenuhi janjinya untuk menikahi gadis kecilnya, kekasih hatinya.


Lena dan Amelia juga karyawan hotel ikut terharu dengan meneteskan air mata saat menyaksikannya, siapa yang tidak akan menyangka pernikahan yang tertunda akhirnya terlaksanakan dalam sebuah kesederhanaan.


Mama Nia dan Mama Rara memapah Ayasha menuju ranjang, setelah Pak Penghulu sudah selesai memberikan kutbah nikahnya, dan sekarang saatnya Ayasha menerima mas kawin dari suaminya.


Ayasha  langsung cium punggung tangan suaminya dengan takzimnya, dan mereka berdua tersenyum bahagia dengan kedua mata yang berkaca-kaca, lalu Rafael minta Ayasha agar lebih mendekati nya, kemudian mengecup kening istrinya setelahnya membaca doa pengantin dan kembali mengecup kening Ayasha.


“Hai istriku.”


“Hai juga suamiku.”


Pria itu membuka kotak kecil itu yang sudah sejak tadi ditaruh disisi ranjangnya, kemudian  mengeluarkan cincin berlian dari kotak tersebut, Ayasha mengulurkan tangan kanannya di hadapan suaminya, dan Rafael pun menyematkannya ke jari manis Ayasha, setelah itu gantian Ayasha mengambil cincin satu lagi dari dalam kotak dan menyematkannya di jari manis Rafael, sekarang mereka sudah resmi menjadi suami istri.


 Ayo masih mau bersambung atau tamat nih???