FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Tolong beri aku kesempatan!



Hampir satu jam lebih Rafael menunggu duduk di bangku teras depan rumah Ayasha, sampai ibu tetangga sebelah rumah kontrakan Ayasha membuatkan teh hangat untuk pria itu.


Setiap ada motor atau mobil yang lewat depan rumah, tak luput dari kedua netra Rafael berharap Ayasha lah yang datang. Tapi benar saja dugaannya setelah ada salah satu mobil berhenti di depan rumah, muncullah Ayasha dari mobil tersebut.


Rafael bergegas bangkit dari duduknya kemudian menghampiri gadis itu, sedangkan Ayasha dibuat tercengang dengan kehadiran pria itu, dia yang ingin menghindari pria itu untuk beberapa saat akan tetapi sekarang ada di depan rumahnya.


Gadis itu tidak perlu bertanya ‘tahu dari mana alamat rumahnya?’ sudah pasti pria itu akan mencari datanya di bagian personalia atau ke general manager.


Tidak perlu menghindarinya Aya, semakin menghindar maka tak akan pernah menyelesaikan masalah.


“Assalamualaikum, Ayasha,” sapa Rafael, agak canggung.


“Waalaikumsalam,” jawab Ayasha, dengan tatapan tidak sukanya dengan kedatangan Rafael.


Rafael bisa melihat tatapan tidak sukanya dengan kedatangan dirinya. “Ada apa Pak Rafael datang ke sini?” Gadis itu masih berdiri di hadapan Rafael, belum menuju rumahnya untuk membukakan pintu.


“Maaf jika kamu tidak suka dengan kedatangan ku, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu setelah kejadian tadi pagi di hotel. Aku sudah mencoba menghubungimu tapi ponselmu sepertinya tidak aktif, makanya aku berinisiatif untuk ke rumah mu ini,” kata Rafael menjelaskan, wajahnya juga terlihat mencemaskan Ayasha.


Haruskah Ayasha terharu atas tindakan Rafael? Tentunya tidak, dia tidak butuh dikhawatirkan oleh mantan tunangannya, dia juga tidak membutuhkan perhatian dari Rafael ... semua rasanya hambar.


Rafael menatap lekat-lekat wajah Ayasha yang tampak dingin dan datar. “Sekarang Pak Rafael sudah melihat keadaanku, jadi sebaiknya kembalilah ke hotel, tinggalkan rumahku ini. Lagi pula aku tidak perlu dikhawatirkan, aku sudah dewasa bukan anak kecil lagi ... aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik,” pinta Ayasha begitu sopan dan halusnya mengusir Rafael.


“Ayasha ...,” panggil Rafael ketika gadis itu berlalu melewati dirinya yang masih berdiri tak bergerak.


“Pulanglah Pak Rafael,” pinta Ayasha sembari membuka pintu rumahnya yang terkunci. Rafael memutar balik badannya dan menyusul gadis itu yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, tangan Rafael pun langsung menahan daun pintu yang ingin ditutup oleh Ayasha.


“Izinkan aku berbicara Ayasha,” pinta Rafael memelas, lalu pria itu memaksa masuk ke dalam rumah.


Ayasha memutar malas kedua bola matanya. “Apa yang harus dibicarakan lagi Pak Rafael, semua masalah yang ada di hotel sudah terselesaikan. Kita tidak butuh berbicara lagi.”


Tanpa permisi Rafael meraih tangan Ayasha, lalu menarik tubuh gadis itu kemudian memeluknya dengan erat, dan hal itu membuat Ayasha terkesiap hingga tas bahunya jatuh ke lantai. “Mungkin kamu tak ingin bicara lagi denganku, tapi aku yang ingin bicara denganmu. Tolong beri aku kesempatan untuk berbicara Aya, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua ... jika selama ini aku benar-benar tersiksa selama lima tahun. Tolong Aya,” pinta Rafael memohon dari lubuk hatinya dari dalam.


Ketika memeluk Ayasha, Rafael kesempatan mengusap kepala gadis itu lalu menghirup aroma rambutnya yang begitu wangi ... ada rasa nyaman dan hangat di hati Rafael yang selama ini tak pernah dia rasakan.


Ayasha mencoba mengurai pelukan Rafael yang tak pernah dia inginkan, akhirnya pria itu melepaskan pelukannya. “Aku tidak butuh penjelasan apapun dari Pak Rafael, karena tidak akan merubah keadaan apapun. Semuanya bukankah sudah jadi pilihan Pak Rafael. Pergilah dari sini ... aku ingin istirahat dan sejujurnya aku tidak mengharapkan kehadiran Pak Rafael di sini, aku benar-benar lelah hari ini,” pinta Ayasha sekali lagi mengusirnya.


Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Ayasha, semuanya karena keputusan dirinya  sendiri sedangkan gadis itu sudah tidak perlu penjelasan lagi. Rafael meraup wajahnya dengan kasar tampak frustasi, kemudian kembali menatap dalam wajah gadis itu. Sakit juga rasanya!


“Apa karena kamu sudah memiliki calon suami, hingga aku tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan. Jika aku selama ini batinku tersiksa, terbayang-bayang akan dirimu. Kamu pikir selama ini aku hidup bahagia? Aku tidak bahagia Ayasha, hatiku entah kenapa begitu hampa ... semenjak kamu pergi menghilang tanpa kabar lima tahun yang lalu,” ucap Rafael kali ini terdengar menggebu-gebu.


Hati Ayasha rasanya ingin tertawa mendengar ungkapan Rafael, lucu sangatlah lucu.


Ayasha membalas tatapan sendu pria itu dengan tatapan yang terasa dingin. “Kenapa harus tersiksa, seharusnya Pak Rafael hidup berbahagia dengan wanita yang sangat dicintai hingga mampu melakukan hubungan intim sebelum menikah dibelakangku. Harusnya aku yang tersiksa dibayang-bayangi oleh pengkhianatan pria yang telah dijodohkan serta mengenalnya dari aku kecil, dan merasakan sakit yang paling menyakitkan ketika dia lebih memilih wanita itu ketimbang aku. Tapi aku sadar diri ... aku yang tak berani berharap untuk dicintainya. Cinta tidak bisa di paksakan, bukan!”


Mereka terdiam sejenak, namun saling menatap dalam. Kedua netra mereka berdua semakin lama mulai berkaca-kaca.


“Pria jika sangat mencintai wanitanya pasti akan menjaga kehormatan wanitanya sampai hari pernikahannya. Sedangkan wanita terhormat pasti akan menjaga kehormatannya untuk suaminya kelak. Tapi apa yang terjadi kalian berdua melakukannya, sadarkah apa yang telah dilakukan saat itu Pak Rafael? Pernahkah berpikir tentang perasaanku ketika Pak Rafael melakukan hubungan intim dengan mbak Delia ... pernahkah? Tidak pernah kan? Karena Pak Rafael tidak pernah mencintai ku, lantas kenapa sekarang bilang hati Pak Rafael tersiksa! Seharusnya aku ... hatiku yang tersiksa ... aku yang pernah membuka hatiku untuk mencintai calon suamiku, namun hatiku ditikam dari belakang oleh kalian berdua ... Sakit rasanya ... hatiku sangat sakit Pak Rafael saat itu!” tutur Ayasha, mengungkapkan isi hatinya dengan rasa sesak yang tak terhingga, bayangan adegan live itu kembali hadir di pelupuk matanya.


DEG!


Hati Rafael berdenyut ketika menatap Ayasha yang sedang menahan dirinya agar tak meneteskan air mata. Sekarang posisi Rafael benar-benar terpojokkan oleh Ayasha, sudah tak mampu untuk menyanggahnya.


 bersambung .....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, poin, vote nya juga boleh. Makasih sebelumnya.


Salam dari Ayasha Elshanum