
Rafael masih betah memeluk Ayasha begitu eratnya, rasanya tak rela untuk melepaskannya, hatinya sangat bahagia yang tak terkira rasanya, perasaan yang sudah lama yang dia tak rasakan selama lima tahun belakangan ini.
Siapa yang tak menyangka dia bisa kembali dengan jodohnya yang sudah dia kenal dari lahir. Begitu pula dengan Ayasha, gadis itu tak menyangka akan kembali dengan pria yang pertama kali membuat dia jatuh cinta saat waktu duduk dibangku SMU, pria yang memang selalu ada sejak dia kecil sebagai saudaranya, walau pria itu pernah berkhianat padanya.
“Om Rafael, sudah dong pelukannya, aku mau ganti baju,” pinta Ayasha pada pria yang masih memeluknya dari belakang.
“Gak mau sayang, aku ingin memeluk seperti ini, hatiku rasanya damai,” tolak Rafael, masih tak rela melepaskan calon istrinya.
“Om, tapi kan kita harus bergegas kembali ke hotel buat siap-siap. Katanya mau cepat menghalalkan aku,” pinta Ayasha dengan lembutnya, agar Rafael mau menurutinya.
“Baiklah,” jawab memelas Rafael, kedua tangannya di tariknya dari pinggang gadis itu. Ayasha lalu memutar balik badannya dan menatap wajah Rafael. “Jangan cemberut dong, nanti cepat tua,” goda Ayasha, sembari mengusap rahang tegas pria itu, kemudian mengecup pipi pria itu, dan itu membuat pria itu mengulas senyum tipisnya.
“Ayo sekarang Om keluar dulu, aku mau ganti pakaian dulu,” pinta Ayasha.
“Sayang, yang sebelah kiri belum dicium. Nanti baru aku keluar deh,” jawab Rafael manja dengan tatapan menggodanya, dan menunjukkan pipi sebelah kirinya.
Ayasha sedikit menjinjit kedua kakinya, lalu memberikan kecupan lembut buat calon suaminya, hati Rafael jadi tambah berbunga-bunga padahal hanya kecupan singkat yang dia dapat dari Ayasha. Usai Ayasha memberikan kecupan, Rafael pun keluar dan memanggil pegawai butik untuk membantu membukakan kebaya yang dikenakan oleh Ayasha.
Di waktu yang bersamaan tak jauh dari salon & butik yang didatangi oleh Ayasha dan Rafael, terlihat mobil berwarna silver terparkir. Ibra duduk dibalik kemudi mobilnya, sedangkan Delia duduk di samping Ibra.
Ujung ekor mata Ibra melirik Delia yang masih saja melihat ke arah depan, memperhatikan pintu Salon & Butik tersebut.
“Mbak Delia kalau boleh tahu, sebenarnya kita mengintai begini buat apa ya?” Akhirnya segala pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakan oleh Ibra terucapkan juga.
Delia menoleh dan mendesah panjang. “Sejak dari awal aku sudah bilang jangan banyak bertanya, cukup kamu melakukan perintahku, dan kamu akan dapat bayarannya!” seru Delia.
“Ya tapinya saya juga perlu tahu apa yang harus saya lakukan, soalnya ingat pesan ibu saya untuk tidak melakukan hal yang buruk. Ingat dosa kata ibu saya,” jawab Ibra, sangat polos.
Delia mendengus kesal mendengarnya. “Tapi kamu butuh uang'kan buat berobat ibu kamu, dan sekarang kamu malah nasihati aku!” sentak Delia.
Ibra terdiam karena sentak'kan Delia, dan kalimat dia membutuhkan uang untuk ibunya.
“Jika kamu tetap ingin dapat uang 30 juta, ikuti perintahku. Jika tidak mau, kamu boleh keluar dari mobil ini!” kata Delia agak meninggi suaranya.
30 juta sangat berarti buat Ibra, pria itu masih diam dan kembali menghadap jalannya, hatinya mulai dilema karena dia agak curiga dan punya feeling tahu apa yang harus dia lakukan, sejatinya Ibra bukanlah preman, dia hanya anak muda yang baru lulus kuliah lalu jadi pengangguran selama dua tahun, luntang lantung cari pekerjaan namun hanya sebentar kontrak kerjanya.
Sementara itu, setelah semua urusan di salon dan butik sudah fix, team MUA akan bergegas ke hotel untuk mempersiapkan Ayasha di sana. Lena yang sudah menyelesaikan segala keperluan acara temannya, lebih dahulu keluar dari Salon & Butik.
“Sudah ada yang keluar, cepat nyalakan mesin mobil,” titah Delia terburu-buru pada Ibra, pria muda itu pun mulai menyalakan mesin mobil yang disewa Delia.
“Tugas kamu selanjutnya adalah, saat wanita yang bernama Ayasha itu keluar dari salon itu, kamu bawa mobil ini dengan kecepatan tinggi lalu tabrak wanita itu, biar mati tuh orang!” perintah Delia, suaranya terdengar tajam dan sinis.
“APA MBAK!” sontak Ibra kaget, dan menarik kedua tangannya dari stir mobilnya, ternyata feelling dia benar.
Pria itu bergegas melepas seatbeal yang dia kenakannya. “Saya memang butuh uang buat berobat ibu saya, tapi saya tidak mau mencelakakan orang lain yang tak berdosa. Sebaiknya saya pamit undur diri,” kata Ibra.
Kedua netra Delia langsung melotot. “Eh gak bisa begitu Ibra, lagi pula setelah kamu menabraknya kita akan kabur dari sendiri, dan tak akan ada yang tahu ... lagi pula kita pakai mobil sewaan ini.”
“Sialan, sok munafik menolak uang! Tahu begitu aku sewa preman pasar aja!” maki Delia dari dalam mobil wajah wanita tampak marah, kesal. “Baiklah aku yang akan melakukannya!” Delia pindah posisi ke tempat pengemudi, tanpa harus keluar dari mobil.
Ibra yang sudah keluar dari mobil mengusap dadanya. “Ya Allah, maafkan hambamu ini, semoga saya dapat pengganti rezeki lewat jalan yang lain. Sebaiknya saya harus memberitahukan ke wanita yang bernama Ayasha itu.” Tapi melihat jaraknya dia berdiri hingga ke salon lumayan jalan kakinya, mungkinkah keburu! sedangkan Ibra sudah melihat ada beberapa orang yang keluar dari salon dan butik itu.
Raut wajah Rafael dan Ayasha tampak bahagia ketika mereka keluar dari Salon & Butik, tak lupa pria itu selalu menggenggam erat tangan gadis itu.
“Om, ada yang jual es podeng. Aku mau, udah lama gak makan es podeng,” kata Ayasha, melihat di seberang jalan ada gerobak es podeng.
“Ya udah, kita beli dulu, tapi dibungkus aja ya. Makan di mobil aja,” jawab Rafael sembari merapikan surai di kening gadis itu yang tertiup angin sore.
Ayasha menganggukkan kepalanya, lalu menarik tangan pria itu agar bergegas menyeberang. “Ayo Om,” ajak Ayasha.
Mereka pun sekilas melihat ke kanan dan ke kiri sebelum menyeberang, sekiranya agak kosong kendaraan yang lewat baru mereka menyeberang jalan raya itu.
Delia tersenyum devil, dan sudah menancap gas mobil yang dia kendarai.
BUG
Ponsel milik Ayasha terjatuh dari tangannya ketika menyeberang, gadis itu pun melepaskan tangan Rafael. “Om, ponselku jatuh ... mau ambil dulu,” kata Ayasha, kembali melangkah mundur dan ini masih di tengah jalan.
Ayasha bergegas mengutip ponselnya yang terjatuh, Rafael jantungnya mulai berdegup kencang ketika melihat mobil dari kejauhan dan terlihat lajunya semakin sangat cepat, bukannya melambat.
“AYASHA!” teriak histeris Rafael, pria itu langsung menarik lengan gadis itu lalu memeluknya dengan erat.
Semua koper yang berisi gaun pengantin yang akan dikenakan oleh Ayasha dan Rafael terlepas dari genggaman salah satu karyawan butik ketika ingin memasukkannya ke bagasi mobil. Suara dentuman keras yang terdengar di jalan raya, membuat para karyawan butik yang melihat tubuhnya gemetar hebat.
“TIIIIIIDDDDDAAAAAKKKKK!” teriak histeris Lena yang menunggu mereka berdua dekat mobil hotel yang terparkir, Lena jatuh melorot diaspal dengan jeritan histerisnya.
"YA ALLAH ... AYASHA, PAK RAFAEL!" jerit Lena kembali, tak kuasa Lena melihatnya.
bersambung ...
Apa yang terjadi dengan Ayasha dan Rafael? Kakak Readers jangan stop dulu bacanya 😊, nikmati dulu alurnya, semoga tidak berakhir sad ending, berharap bisa menyajikan happy ending seperti kisah-kisah sebelumnya. Jadi mohon tetap stay tune ya sampai tamat.
Serta info berikutnya, karena dapat tugas terbaru lagi harus menyiapkan naskah terbaru ke editor, untuk sementara hanya bisa up 1 bab ya.
Kenalkan dulu ini salah satu visual di karya terbaru nanti, kembali ke kisah rumah tangga ya. Semoga Kakak Readers setia mendukung karya recehku ya.
...----------------...