
Tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar.
Tabiat orang tamak senantiasa lapar dan dahaga dengan urusan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan dari apa yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu beban hidup.
Sifat tamak yang menggelayuti hati Delia ternyata telah mengelapkan hati dan matanya, dia tak percaya dengan karma yang diucapkan oleh pria tua itu.
“Jangan pakai mengancamku Pak Tua, aku tak percaya padamu!” gertak Delia, berusaha tidak takut.
“Kita lihat saja keadaan Ibumu jika tidak percaya, dia sekarang sudah tidak bangun dari pingsannya,” sahut dukun itu, menyeringai lebar.
Ibu Laras memang punya riwayat penyakit darah tinggi, tapi setahu Delia ibunya rajin konsumsi obat, namun tidak menjaga pola makannya, masih suka makan yang asin-asin.
Disaat mereka berdua berbicara datanglah tetangga Delia menghampiri mereka berdua.
“Ada apa ya Pak Agus?” tanya Delia saat menyambanginya diluar rumahnya.
“Begini Delia, Bapakmu menyuruh kamu segera menyusul ke rumah sakit? Keadaan Ibumu sedang kritis, dan sekarang sudah ada di ruang ICU,” kata pak Agus, suaranya terdengar parau.
Wajah Delia langsung menegang, lalu menoleh ke belakang, bapak tua itu menyeringai dengan lebarnya lalu kembali mengebulkan asap dari batang candunya itu. Ini pasti bohong ... Ibu tadi hanya pingsan sesaatkan.
“Baik Pak Agus, nanti aku akan ke rumah sakit,” jawab Delia, lalu buru-buru masuk ke ruang tamu kecilnya.
“Benarkan apa yang saya katakan, jika Ibumu dalam keadaan sekarat!” kata pak Tua itu dengan senyum kemenangan.
Ini semuanya gara-gara video Ayasha di hotel waktu itu, akan aku balas semuanya ... batin Delia.
“Aku akan melunasi hutang 20 juta, tapi sebelum aku bayar ... aku minta bonus dari Bapak!” kata Delia, dengan tatapan tajamnya.
“Bonus apa? asal tidak terlalu sulit,” sahut pak Tua itu.
“Sebentar.” Delia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel milik ibunya lalu tas yang tadi dibawanya.
Delia mencari video dia yang beredar, lalu mencari wajah Ayasha lalu di screen shotnya.
“Selain Bapak menyelesaikan ritual untuk menaklukkan Rafael, aku ingin Bapak membuat wanita ini sakit yang mematikan atau kecelakaan yang mengenaskan, namanya Ayasha Elshanum,” pinta Delia, sembari menunjukkan foto Ayasha.
“Oh dibuat sakit, tapi saya tidak bisa janji untuk dibuat nyawanya hilang, jika wanita ini lebih kuat, maka semuanya akan terpental ke dirimu. Dan satu lagi saya tidak mau menggadaikan nyawa saya sendiri, tapi nyawamu lah yang harus tergadaikan!” jawab pak Tua.
“Katanya dukun paling hebat, tapi gak bisa buat orang mati!” gerutu Delia, menyepelekan dukun tersebut.
“Saya memang dukun, tapi bukan pencabut nyawa! Dan saya tidak pernah memainkan nyawa orang!” balas pak Tua.
“Ya sudah bikin dia sakit saja, jika deal ... Akan aku lunasi hutangnya.”
Dengan santainya pak Tua mengiyakan, lalu Delia memberikan uangnya sebanyak 20 juta itu.
Sebelum meninggalkan rumah Delia, pak tua itu menatap wanita itu. “Ingatlah baik-baik, apa yang telah kita lakukan bersama jin tidak bisa ditarik kembali! Kamu harus menerima semua yang akan terjadi!” katanya dengan kedua netra yang menyeramkan, bagaikan iblis yang melihatnya.
Ada rasa takut dibenak Delia, namun hatinya sudah gelap, keras hati, tak memikirkan akan akibatnya, yang terpenting tujuannya berhasil.
...----------------...
Yogyakarta
Hotel Inna Garuda.
Darial yang ditinggalkan begitu saja oleh Ayasha di lobby hotel, bergegas menyusul Ayasha yang akan ke lantai dua.
“Apa saya salah jika melihat kekasih sendiri menerima buket bunga dari pria lain,” lanjut kata Darial.
Ayasha menoleh dan menatap datar wajah Darial. “Buket bunga itu bukan dari pria lain, dia saudaraku yang aku kenal dari bayi. Lantas atas dasar apa Kak Darial merampas bunga itu dari tanganku lalu minta dibuang lewat orang lain. Atas dasar cemburu! Jika Kak Darial cemburu, aku sangat menghargainya. Tapi cemburu kenapa? Dia saudaraku bukan kekasihku. Kita baru kenal Kak Darial, belum ada sebulan, jujur aku tidak suka dengan sikap Kak Darial. Aku punya privacy sendiri begitu juga dengan Kak Darial yang memiliki privacy sendiri yang sangat aku hargai,” pungkas Ayasha.
Andaikan Darial tahu jika Ayasha mantan tunangan Rafael, mungkin sikap Darial akan lebih dari ini. Namun dia menghargai pria itu, jadi tidak menceritakan masa lalunya demi menjalin hubungan baru.
Darial menyugar rambutnya ke belakang, tidak menyangka jika gadis yang dia hadapi tidak semudah yang dibayangkannya.
“Aya ada apa nih di sini, pantas saja gue cariin diruangan gak ada?” tanya Amelia yang kebetulan baru keluar lift, sahabat Ayasha menatap Darial bagaikan tatapan detektif.
“Gak ada apa-apa kok Mel hanya ngobrol sebentar,” jawab Ayasha.
“Ooo...” membulat mulut Amelia.
“Maaf Kak Darial jika tidak ada pembicaraan lagi, aku harus kembali ke ruangan ... pekerjaan aku lagi banyak,” ucap Ayasha dingin, ingin menjauh dari Darial untuk saat ini.
Darial agak canggung karena ada Amelia di antara mereka berdua. “Silahkan kalau begitu,” jawab Darial pasra. Ayasha langsung menarik lengan Amelia, dan mereka berdua masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
Duh gue kok bisa gak ingat ya, pernah ketemu tuh cowok dimana? Apa otak gue kurang vitamin otak! Tapi gue ngerasa pernah lihat tuh cowok ... Batin Amelia kesal sendiri
Amelia melihat Ayasha diam saja selama di lift, dan Amel melirik berkas yang dibawa Ayasha.
“Lo baik-baik saja kan?” tanya Amelia curiga.
“Gue baik-baik saja,” jawab Ayasha, namun kedua netranya berkaca-kaca.
Amelia merangkul bahu Ayasha. “Lo jangan bilang baik-baik saja, gue tahu lo lagi menahan sesuatu,” kata Amelia pelan.
Dengan sendirinya Ayasha menceritakan kejadian dia dengan Darial pada Amelia. “What, belum ada sebulan ... Cowok lo udah begitu! Astaga ngimana kalau lo jadi bininya, Ayasha!” geram Amelia mendengarnya.
“Kalau om Rafael yang bersikap ke lo kayak begitu masih wajar ... Kalian berdua sudah kenal lama, nah ini belum ada sebulan jadian ... Ampun deh Aya, mending pikir-pikir lagi deh, gue juga entah kenapa kadang lihat wajah Darial kayak gak suka aja ... Seperti ada yang disembunyikan!” cerocos Amelia.
Ayasha hanya bisa menghela napas panjangnya, dan menatap ke arah mereka melangkah keluar dari lift.
Amelia kembali merangkul bahu Ayasha saat mereka jalan. “Buka mata batin lo, dengarkan feeling lo, dan ikutilah. Ingatlah kadang mata batin lebih mengetahui kebenaran ketimbang kedua mata kita yang melihatnya,” saran Amelia.
bersambung....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, dan terima kasih buat sudah kasih VOTE nya 🙏😘.