FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Amelia vs Delia dan Rian



Amelia jadi teringat sahabatnya ketika merasakan kesakitan, menangis pilu dan mencoba bertahan melanjutkan hidup walau hatinya hancur berkeping-keping disaat hubungannya dengan Rafael kandas lima tahun yang lalu karena ada wanita lain, dan wanita lain itu juga ternyata bermain api dengan calon suaminya.


Marahkah Amelia! Oh jelas gadis itu murka saat ini. Ponsel milik Delia masih di genggaman tangannya, dan sudah bisa di pastikan jika tadi Amelia sempat merekam sedikit percakapan Delia dengan Rian tentang tiga ronde mereka sebelum dia menunjukkan dirinya dari tempat persembunyiannya.  Jadi bisa dipastikan kedua manusia laknat itu tidak bisa berkilah lagi.


“Amel, aku bisa jelaskan semuanya. Apa yang kamu lihat dan dengar itu hanya candaan kami berdua saja,” sanggah Rian.


Wajah manis Amelia sudah terlihat begitu sangar ketika menatap wajah Delia dan Rian secara bergantian. Tangan kiri Amelia masih mengusap rambut panjang Delia, kemudian tak lama di genggamannya rambut Delia lalu di sentakkan ke belakang, hingga wajah Delia mendongak ke atas.


“AAKH ...!” pekik Delia, meringis kesakitan.


“Aku tidak butuh penjelasan darimu Mas Rian, apa yang aku dengar dan lihat dengan kedua mataku ... itu lebih dari cukup. Dan sudah jelas jika hubungan kita selesai sampai di sini!” jawab tegas Amelia.


“Dan ponsel ini kah yang Mbak cari kan?” lanjut katanya, Amelia menunjukkan tangan kanannya.


“Kembalikan ponselku!”


“Ooh tidak bisa, ponsel ini akan jadi bukti kalau Mbak ada main sama mantan calon suamiku!”


Rian ingin membantu Delia merebut ponsel milik Delia, namun sayangnya, benda pusakanya  itu kena tendangan kaki Amelia, di saat pria itu ingin merampas ponsel dari tangan Amelia.


“Ck ... Ck oh Mas Rian, ternyata kamu ingin melindungi wanita murahan ini ya ... hebat ya!” ejek Amelia, buru-buru ponsel milik Delia dimasukkan ke dalam tas yang dikenakannya tanpa melepaskan tangan kirinya.


“Bukan begitu Amel, sebaiknya kembalikan ponselnya ke Delia, kami benar-benar tidak ada hubungan apapun, dan kamu tidak boleh seenaknya memutuskan hubungan kita, apa kata orang tua kita nanti di Jakarta,” sanggah Rian, sembari menahan sakit di bagian otongnya.


“BOHONG! AKU TIDAK PEDULI! POKOKNYA KITA PUTUS!” teriak Amelia. Gadis itu masih menarik rambut Delia, tidak peduli dengan ringisan kesakitan wanita itu. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Amelia mengerek Delia dengan menggenggam rambut wanita itu.


“LEPASKAN! MEMANGNYA KAMU SIAPA BERANI MENYERETKU. RIAN TOLONG LEPASKANKU DARI CEWEKMU INI!” teriak Delia tidak terima, namun terpaksa mengikuti Amelia, karena jika menahan rambutnya akan semakin sakit kepalanya.


“Berani kamu menyelamatkan wanita murahan ini, maka aku tidak akan segan menghajar wanita ini!” balik ancam Amelia, menunjukkan wajah arogannya, Rian pun mati kutu dibuat bingung sendiri ... apalagi si otong masih nyut nyutan pedes rasanya.


“TOLONG ... TOLONG SIAPA PUN, ADA WANITA GILA!” teriak Delia ketika  mereka sudah dilorong kamar menuju ke arah lift, wanita itu berusaha menahan rambutnya dengan kedua tangannya agar tidak semakin ditarik oleh Amelia.


Rian pun mengejar Amelia yang sudah menggerek Delia dengan langkah kaki yang sangat pelan, lalu saat sudah mendekat dia berusaha melepaskan Delia dari jeratan Amelia.


BUGH!!


Berkat ilmu karatenya, kaki Amelia melayang tinggi dan menyentuh wajah Rian hingga pria itu pun bergerak mundur karena tendangan. Sempurna sekali Rian kali ini, atas bawah kena tendangan maut Amelia, pria itu tak menyangka gadis yang terlihat polos dan lemah lembut, ternyata ada sesuatu dibalik itu semuanya.


Satya yang baru saja mau ke kamarnya yang ada di lantai empat, langsung tercengang dan mengangga, apalagi melihat wanita yang dijambak rambutnya sama Amelia.


Amelia ... Delia! batin Satya.


“DASAR PRIA BRENGSEK, BADJINGAN ... KAMU DAN WANITA INI BENAR-BENAR PASANGAN LAKNAT!” teriak Amelia. “KAMU SUDAH PUNYA CALON ISTRI, TAPI TERNYATA KAMU MAIN SERONG DENGAN WANITA LAIN ... HUH!” masih menggebu-gebu Amelia meneriaki Delia dan Rian.


Berkat teriakan Amelia, beberapa orang yang ingin kembali ke kamarnya jadi menonton dan mereka merekam kejadian tersebut secara sembunyi-sembunyi.


Rian kembali mendekati Amelia, lalu mencoba untuk memisahkan Delia dari Amelia. Namun sayangnya pintu lift sudah terbuka, dan Amelia bergegas masuk ke dalam lift dengan mengerek Delia, kemudian pintu lift tertutup dengan cepatnya.


Melihat layar lift menuju lantai ground, Satya bergegas turun menggunakan tangga darurat, sedangkan Rian menunggu lift selanjutnya, maklumlah si otongnya sakit dibawa jalan semakin sakit.


“Wah kayaknya ada yang ketahuan selingkuh nih,” celetuk salah satu tamu pada temannya, mereka ikutan turun menggunakan tangga darurat, karena pengen tahu kejadian selanjutnya.


Di dalam lift, Amelia menatap tajam Delia. “Kamu tahu kah Mbak, jika sahabatku dulu hanya diam disakiti hatinya, tapi berbeda denganku!” sentak nya. Sejujurnya wajah Delia mulai agak takut, namun tercampur dengan rasa marahnya.


Ting ...


Pintu lift terbuka dilantai lobby, dengan tangan masih menjambak rambut wanita itu, seketika itu juga gadis itu menghempaskan tubuh wanita itu hingga terjerembap di lantai marmer yang terasa dingin ketika mereka keluar dari lift.


“Hei semuanya kemana pemilik hotel ini, Om Rafael ... aku ingin memberitahukan jika istrinya sedang berselingkuh dengan calon suamiku di hotel miliknya!” teriak Amelia di lobby hotel. Amelia tahunya jika Delia istri Rafael, belum tahu kabar yang terbaru.


Delia yang masih terkapar di lantai, menggelengkan kepalanya. “Bohong jangan mendengarkan wanita ini, wanita itu sudah gila main tuduh saja!” seru Delia menyanggah tuduhan Amelia.


“Oh ternyata masih menyanggah juga padahal aku punya buktinya loh, tiga ronde mainan di ranjang cuy!” sahut Amelia geregetan.


Gadis itu melebarkan kedua pahanya kemudian langsung saja naik ke atas tubuh wanita itu dan duduk diatas perut wanita itu, lalu ...


PLAK!


“Ini untuk rasa sakit sahabatku!”


PLAK!


 “Dan ini untuk rasa sakit hatiku!”


Delia sudah tak tahan lagi dengan Amelia, akhirnya kedua tangannya meraih rambut Amelia kemudian menjambaknya, begitu pula dengan Amelia tidak mau kalah ... terjadilah pergulatan diantara mereka berdua di lantai.


Reni yang kebetulan bertugas shif malam segera menghubungi Rafael melalui line teleponnya ke kamar, kemudian menelepon Ayasha yang sebagai atasannya. Sedangkan yang lainnya sibuk merekam, tidak ada yang memisahkan Amelia dan Delia.


Satya yang baru saja tiba, bergegas meraih pinggang Amelia begitu pula dengan salah satu security hotel turut membantu setelah dapat anggukkan dari Satya.


“Lepaskan jangan hentikan aku menghajar pelakor itu!” teriak Amelia yang tubuhnya sudah terangkat oleh kedua tangan besar Satya, dan pria itu benar-benar tidak mau melepaskan Amelia, hingga kedua kakinya tidak menapak lantai.


Delia dengan napasnya yang tersengal-sengal berusaha bangkit dan berdiri. Satya sudah menatap sinis wajah Delia yang sudah terlihat kacau balau.


Wah kacau, ada Mas Satya ... pasti Mas Rafael akan tahu hal ini! Batin Delia mulai ketar ketir.


“Lepaskan aku, aku ingin menghajar wanita murahan itu yang sudah main serong dengan calon suamiku ... Eeh bukan calon tapi sudah jadi mantan!” Amelia teriak kembali, sambil menepuk tangan besar yang melingkar di pinggangnya dari belakang.


Sesaat Amelia menoleh ke belakang, melihat siapa yang memisahkan dirinya dengan Delia.


DEG!


SERR ...


Wajah Amelia langsung merah merona ketika Satya turut menatapnya dari belakang, blush!


Amelia yang masih ngos-ngosan, rasanya semakin bertambah cepat deru napasnya. Astaga kenapa dia yang memisahkan aku! Dilihat semakin dekat, wajahnya Mas Satya semakin tampan.


BUGH!


Rian yang baru saja tiba di lobby, hatinya memanas melihat Amelia dipeluk dari belakang oleh pria lain hingga refleks dia memukul wajah Satya. Hal itu membuat Amelia dan Satya terkesiap, sang asisten pribadi Rafael melepaskan tangannya dari pinggang Amelia, lalu...


BUGH!


Bogeman mentah dilayangkan ke wajah Rian. “Ini buat pria yang sudah berkhianat dengan calon istrinya!” geram Satya, kembali memukul wajah Rian.


BUGH!


Hati Amelia langsung berdesir ketika Satya menghajar Rian di hadapannya, seakan tahu isi hatinya yang ingin sekali menghajar Rian.


 bersambung .....


Ayo jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 😊, kasih vote buat Amel juga boleh kok 😁