
Keesokan hari.
Sekitar jam sembilan pagi, sesuai dengan perbincangan Lena dengan Ayasha, wanita itu bersama Satya dan Amelia menjenguk Ibra, pria yang menjadi salah satu korban kecelakaan.
Ibra di rawat di ruang kelas dua, setelah dua hari yang lalu sempat melakukan operasi pada bagian salah satu kakinya dan salah satu tangannya akibat kecelakaan mobil tersebut.
Lena memasuki ruang rawat itu, dan melewati dua ranjang yang ada penghuni nya, kebetulan ranjang yang ditempati oleh Ibra ada dipojokan dekat jendela, jadi mereka harus melewati dua ranjang pasien sebelumnya.
Ranjang yang ditempati oleh Ibra terlihat pucuknya agak meninggi ketimbang bagian bawahnya, jadi terlihat Ibra setengah duduk. Wajah pria itu terlihat sendu dibalik wajahnya yang terbilang lumayan enak dipandang, tak ada satu pun yang menemaninya, hanya mengandalkan perawat untuk membantu dalam segala hal. Tatapannya juga terlihat kosong di saat pria itu menatap dirinya sendiri, dia yang masih diberi kesempatan hidup kembali dari kejadian yang amat memilukan.
“Assalammualaikum,” sapa Satya, memecahkan kesunyian pria itu.
Pria itu menegakkan kepalanya untuk melihat orang yang menyapanya, terlihatlah satu pria dan dua wanita yang tidak dikenalnya sudah berdiri dekat ranjangnya.
“Waalaikumsalam, “ balas sapa Ibra terdengar parau.
Satya melangkahkan kakinya mendekati anakan yang ada di sini ranjang Ibra, dan meletakkan keranjang buah dan kotak makanan.
“Maaf ... Mas sama Mbaknya mau jenguk siapa ya?” Ibra bertanya karena tidak mengenal ketiga orang yang penampilan terlihat rapi, apalagi dia merasa tidak memiliki kenalan di Yogyakarta, apalagi sanak saudara, karena dia berasal dari Jakarta.
Satya yang masih berdiri di sisi ranjang Ibra, menatap pria malang itu.
“Sebelum kami minta maaf jika menganggu istirahatnya. Perkenalkan saya Satya, ini Amelia dan ini Lena. Kami bertiga adalah kerabat dari orang yang mengalami kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu,” kata Satya sembari mengukurkan tangannya menunjukkan Amelia dan Lena secara bergantian.
DEG!
Jantung Ibra mulai berdebar-debar, wajahnya pun tampak pias ketika dirinya ditatap oleh ketiga orang tersebut.
“S-saya dengan Ibra, Mas, Mbak,” jawab Ibra agak terbata-bata.
Ya Allah, bagaimana ini. Jangan-jangan wanita yang bernama Ayasha telah tiada, batin Ibra mulai gundah.
Lena yang awalnya berdiri di ujung ranjang, wanita itu berjalan ke sisi ranjang yang berbeda agar lebih dekat ketika berbicara dengan Ibra.
“Mas Ibra, saya salah satu saksi yang berada di tempat kejadian kecelakaan itu. Kalau boleh tahu apakah Mas Ibra kenal dengan Pak Rafael dan Mbak Ayasha?” tanya Lena, nada suaranya agak pelan.
Ibra yang baru saja menatap Satya, kini mengalihkan tatapan ke arah Lena yang ada di sebelah kanannya.
“Saya tidak mengenal mereka berdua, Mbak.” Ibra menundukkan kepalanya. “Kalau boleh tahun bagaimana dengan keadaan kedua orang tersebut, terutama wanita yang bernama Ayasha, apakah dia selamat?” tanya Ibra terdengar lirih.
“Kalau Mas Ibra tidak mengenal mereka berdua, kenapa Masnya berani mengorbankan diri untuk melindungi Ayasha, padahal katanya tidak kenal?” Lena sangat penasaran apa yang bisa membuat orang yang tidak mengenal namun mau ber korban begitu saja, apalagi pria itu juga jadi terluka parah, dan Lena pun tidak menjawab keadaan Ayasha saat ini.
Ibra masih menundukkan wajahnya, seakan dia tidak berani menatap ketiga orang tersebut, namun terdengar tarikan napasnya yang begitu berat. Dibalik dia menundukkan wajahnya, pria itu menyembunyikan kedua netranya yang mulai berembun.
“Waktu saya di Jakarta sedang beristirahat di pinggir jalan habis mencari pekerjaan, saya berkenalan dengan seorang wanita, mendengar saya butuh pekerjaan untuk biaya berobat ibu saya. Wanita itu menawarkan saya pekerjaan, dan meminta saya untuk ikut dia ke Yogyakarta. Semua perintah yang dia minta saya kerjakan semuanya.”
“Iya Mas, saya pesan kamar untuk wanita itu,” jawab Ibra, masih menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
Satya mendesah lemah. “Dan wanita itu bernama Delia bukan?”
Ibra mengangkat wajahnya dan menatap sendu Satya. “Iya Mas, namanya Delia,” jawab jujur Ibra.
Satya meraup wajahnya, berarti benar feeling Rafael jika ada Delia di hotelnya namun sayangnya wanita iblis itu mengelabui mereka, hingga tak mengetahui keberadaannya.
“Setelah itu Mas Ibra disuruh ngapain aja?” tanya Amelia, mulai ngemas mendengarkannya.
“Saya disuruh mencari mobil rental untuk disewa selama satu minggu, setelah itu mbak Delia minta saya mengawasi Ayasha, tapi saya tidak pernah dijelaskan kenapa harus mengawasi Ayasha. Dan setelah itu kami berdua mengikuti Ayasha ke salon, barulah mbak Delia memberikan perintah untuk menabrak Ayasha agar wanita itu merenggang nyawa,” tutur Ibra begitu pelan.
“Astagfirullah.” Lena, Satya dan Amelia serempak beristigfar.
“Benar-benar wanita iblis, udah main dukun sekarang mau menghilangkan nyawa teman gue!” naik hitam Amelia, Satya langsung mendekati calon istrinya dan mengusap punggungnya dengan lembut.
“Terus, setelahnya?” lanjut tanya Lena kepada Ibra.
“Saya menolak permintaan mbak Delia, walau saya sebenarnya sangat butuh uang buat biaya pengobatan ibu, tapi itu perbuatan yang berdosa jika sampai saya sengaja menabrak Ayasha dan Allah Maha Melihat, jadi saya memilih keluar dari mobil dan mengejar Ayasha untuk memberitahukan niat jahat mbak Delia, karena dia tetap akan melakukannya. Tapi ternyata saya terlambat,” jawab Ibra, kembali menundukkan kepalanya.
Satya, Lena dan Amelia jadi iba dengan Ibra setelah mendengar ceritanya, di satu sisi dia butuh uang untuk ibunya tapi di satu sisi dia ingat akan dosa. Mungkin jika Ibra tidak ingat akan Allah dan tak punya hati nurani, dialah yang akan menjadi pelaku kejahatan.
“Mas, Mbak tolong maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu jika saya ternyata membantu orang dalam kejahatan. Tolong jangan laporkan saya ke kantor polisi, kasihan ibu saya yang sedang sakit, ibu saya sangat membutuhkan saya,” ucap Ibra memohon, kedua netranya sudah berlinang air mata. “Ayasha dan pria itu selamat kan, Mbak?” lanjut kata Ibra dalam isak tangisnya.
“Pak Rafael hampir saja kehilangan nyawanya kemarin namun berhasil diselamatkan, sedangkan Ayasha alhamdulillah sudah mulai pulih,” jawab Lena.
“Alhamdulillah, mereka selamat,” jawab Ibra, pria itu dengan satu tangan yang tidak patah menangkup wajahnya sendiri, menutupi dirinya yang masih terisak menangis.
Satya mengusap bahu pria itu. “Terima kasih Ibra, kamu tidak terjerumus dengan yang merugikan kamu sendiri, insya Allah Pak Rafael dan Ayasha jika sudah mengetahui alasan kamu apalagi sudah mengorbankan diri untuk melindungi Ayasha, mereka pasti tidak akan melaporkan kamu, justru bisa jadi malah membantumu. Karena kamu sudah menyelamatkan istri dari pemilik perusahaan Bara Nusantara. Sekarang yang terpenting nanti kamu bersedia menjadi saksi inti yang akan memberatkan Delia dalam proses pemeriksaan, dan kamu juga harus pulih terlebih dahulu,” tutur Satya.
Ibra menarik tangannya dari wajahnya, terlihat wajahnya sudah memerah karena menangis.
“Makasih banyak Mas, saya bersedia menjadi saksi. Tapi Mas—,” Ibra menatap kaki dan tangannya yang digips.
Kembali Satya menepuk bahu Ibra. “Kamu jangan khawatir dengan masalah biaya rumah sakit, sudah diurus oleh keluarga Pak Rafael karena sejak awal mereka bersedia menjadi wali kamu saat mau di operasi, “ kata Satya sekana-akan tahu apa yang dipikirkan oleh pria muda itu.
“Alhamdulillah, terima Mas.” Ibra kembali menangis antara sedih dan terharu, karena dia menemukan orang yang berbaik hati mau membantunya. Karma itu selalu ada jika menanamkan kebaikan maka akan menerima hasil kebaikan pula.
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, dan hari Senin yang masih punya vote mau dong boleh buat Ayasha, boleh juga di tebar ke Almira. Makasih sebelumnya 🙏🏻