
Sebelum melanjutkan percakapan dengan Ibu dari Delia, dan berpura-pura menirukan suara Delia, gadis itu meneguk air putihnya hingga tandas, lalu memberikan kode sesuatu kepada Satya agar pindah duduk di sampingnya, agar bisa menguping, walau sebenarnya percakapan antara dia dan ibu Delia sudah mode merekam. Satya menuruti permintaan gadis itu, kemudian pindah duduknya di samping Amelia, mohon dijaga dulu detak jantungnya ya Mas Satya.
Oh iya kenapa Amelia tidak meloudspeaker saja ponselnya, karena mereka ada di tempat umum, apalagi pembicaraan ini menyangkut privasi sang pemilik hotel.
“Delia, kamu masih mendengar Ibu kan?” tanya Bu Laras di ujung telepon.
“Eehm ...iya Bu ... Aku masih mendengar, tadi aku agak batuk,” jawab Amelia menyerakkan suaranya.
“Pantas saja suaramu agak berbeda.”
“Iya Bu, jadi bagaimana Bu ... bisa diulang lagi tadi aku sempat tidak mendengar dengan jelas,” pinta Amelia kepada Ibunya Delia agar mengulang lagi ucapannya.
“Begini loh Nak, semalam setelah kamu kirim uang 50 juta, Ibu sama teman Ibu sudah ke tempat orang pintar itu buat untuk mengerjai tunangan kamu itu Rafael, biar cepat kalian menikah, dan Rafael kembali lengket sama kamu lagi loh. Tapi tadi pagi Ibu tuh dapat kabar dari orang pintar itu, katanya semalaman dia ritual tapi agak susah katanya untuk menembus Rafael menurutnya ada pagar di sekelilingnya, jadi orang pintar itu minta tambahan uang maharnya 20 juta lagi buat mengajak teman-temannya buat membantu menembus pagar nya Rafael,” tutur Bu Laras.
Satya yang ikutan menyimak dengan menguping langsung dari ponsel yang menempel di telinga Amelia, tampak tersenyum sinis, dan menggelengkan kepalanya.
“Ooh jadi masih kurang Bu uangnya, memangnya orang pintarnya siapa Bu?” tanya Amelia.
“Itu loh masih temannya orang pintar yang dulu kita pakai itu ... Delia, waktu pertama kali kamu minta bantuan sama Ibu. Saat kamu pertama kali bekerja di perusahaan Bara. Masa kamu gak ingat, dulu kamu sering Ibu antar kok ke tempatnya, nah kalau yang ini memang dia jago guna-guna orang dari jarak jauh,” balas Bu Laras.
Refleks tangan Amelia mencubit paha Satya karena geregetan dengan cerita Bu Laras, Satya pun meringis kesakitan.
Berarti selama ini Mbak Delia pakai pelet ke Om Rafael ... Astagfirullah!
“Oh iya Ibu baru ingat, cairan pelet yang tempo hari Ibu kasih sebelum kamu ke Jogja masih ada gak? Kalau masih ada sebaiknya kamu kasih lagi buat Rafael, siapa tahu bisa membantu ritual orang pintar di sini?” tanya Bu Laras.
Sekarang tangan Amelia refleks menepuk paha Satya seakan mencari jawaban, tapi apa yang dia dapat, Satya hanya menggidikkan kedua bahunya karena memang tidak tahu, Amelia hanya bisa mendesah.
“Aku belum cek lagi Bu, kayaknya masih ada ... nanti aku cek dulu,” jawab Amelia asal tebak.
“Kalau begitu segera cek, kalau masih ada cepat kasih ke Rafael seperti biasa ... campurkan dalam kopinya. Lalu segara kirim uang 20 juta nya, biar Ibu cepat mengurusnya. Pokoknya kamu harus segera berhasil menikah dengan calon menantu Ibu yang kaya itu!” kata Bu Laras.
Wow melotot dong mata Amelia. “Iya Bu, nanti aku transfer uangnya.”
“Ibu tunggu secepatnya.” Bu Laras mengakhiri percakapan dengan Amelia tanpa rasa curiga, karena suara Amelia terdengar serak-serak kering.
Amelia bernapas lega setelah usai berbincang dengan Ibunya Delia, lalu gadis itu meletakkan ponselnya di atas meja kemudian tangannya lincah mengguncang bahu bidang Satya.
“Mas Satya ... Mas Satya ... ini benar-benar mencengangkan Mas,” kata Amelia geregetan dengan Satya, sampai pria itu meringis karena selain di guncang, bahunya juga dicubit gemas dan dipukul sama Amelia.
Amelia belum menyadarinya, tapi Satya suka dan tidak menghentikan tingkahnya Amelia, sungguh menggemaskan.
Tak lama kemudian, “Eeh ... Mas ... waduh maaf kok saya jadi cubit cubit Mas Satya ... maaf ya soalnya geregetan.” Amelia menarik tangannya dari bahu Satya, kemudian terlihat canggung.
Pria itu mengulum senyum tipisnya. “Gak pa-pa kok saya suka kok dicubit sama dipukul sama kamu walau agak sakit sih,” balas Satya, sambil mengusap bahunya sendiri.
Amelia turut mengusap lembut bahu Satya yang sempat menjadi pelampiasan dirinya tadi. “Maaf ya, pasti sakit ... sekali lagi maaf ya Mas Satya,” ucap Amelia begitu lembut.
“Ngelusnya yang lama ya, biar hilang rasa sakitnya,” goda Satya.
PUG
Satya pun kembali mode serius, pria itu mengambil ponsel milik Delia. “Bukti sudah bertambah lagi, terima kasih Mel, kamu secara tidak langsung sudah membantu orang tua Pak Rafael,” kata Satya mengeluarkan nada suara seriusnya.
“Maksud Mas Satya?”
“Selama ini saya memang punya kecurigaan jika Delia memakai guna-guna untuk mendapatkan Pak Rafael, dan akhir-akhir ini Nyonya Besar juga sudah mengetahuinya, namun yang nama nya hal gaib tidak bisa kita asal menuduh jika tidak bisa membuktikan. Tapi dengan rekaman percakapan kamu dengan Ibunya Delia bisa menguatkan dugaan kita.”
“Oh jadi selama ini Om Rafael dipelet oleh Delia, astagfirullah gak nyangka wanita itu telah musyrik! Itu dosa besar!”
Satya menganggukkan kepalanya, mereka berdua pun kembali mendengar hasil rekaman percakapan sembari mengelus dada masing-masing, dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
...----------------...
Kamar 515
Akhirnya setelah lima tahun tidak ada komunikasi dengan kedua orang tuanya, sekarang suasana kembali menghangat antara orang tua dan anak.
Mama Rara dan Rafael sama-sama menemani Ayasha yang sedang di cek oleh Dokter.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?” tanya mama Rara.
“Sudah ada kemajuan dari pada semalam yang terlihat kelelahan. Tapi tetap hari ini masih diinfus dan istirahat total di atas ranjang,” jawab Dokter.
“Alhamdulillah Dokter kalau begitu. Aya dengar kata Dokter ya, masih harus bedrest dulu,” kata mama Rara.
“Iya Mah.”
Dokter mulai menyuntikkan vitamin ke selang infus. “Ini saya kasih vitamin untuk pemulihannya ya, kalau bisa dibantu dengan makanan yang bergizi dan sering ngemil buah, agar cepat membantu memulihkan tenaganya.”
“Baik Dokter, nanti saya akan menyediakan makanan sehat dan buah buahan,” sahut Rafael, bersemangat.
Mama Rara menatap wajah Rafael yang tak lepas pandangannya dari Ayasha, hati nama Rara terasa miris melihatnya. Karena nama Rara bisa melihat jika tatapan Rafael begitu hangat seperti orang yang sedang jatuh cinta, sedangkan tatapan Ayasha ke Rafael terlihat biasanya saja seakan tak ada sesuatu, tapi memang tidak ada sesuatu.
Dua hati yang berbeda rasa, berbeda cerita. Di saat sang pria mulai merasakan cintanya, namun berbeda dengan sang wanita, cintanya telah usai dengan tragedi pengkhianatan.
bersambung .....