
Yogyakarta, Hotel Inna Garuda.
Gadis itu mengulas senyumnya kepada siapapun yang berpapasan, setelah hari-hari berlalu dari hari ungkapan hati Rafael terhadap dirinya.
Namun kala di saat dia sendiri suka merenungi segala halnya, kenapa mantan tunangannya menyatakan cintanya walau tidak butuh dibalas. Dan satu yang belum bisa dia lupakan hingga saat ini yaitu ciuman pertamanya yang masih terasa dibibir ranumnya.
“Pagi-pagi kamu sudah melamun aja, Aya,” tegur Lena yang baru saja kembali dari kamar mandi.
Lamunan Ayasha pun buyar karena teguran temannya. “Ah siapa bilang melamun,” sanggah gadis itu, dia kembali membuka dokumen-dokumennya.
“Oh iya Lena, kita nanti briefing buat persiapan company gathering PT. Praja Land ya, nanti tolong kasih tahu yang lain,” pinta Ayasha, teringat schedule pekerjaannya.
“Perusahaan milik Pak Darial ya?” tanya Lena.
“Iya, dua hari lagi acaranya,” sahut Ayasha.
“Oke,” jawab cepat Lena, lalu langsung menghubungi staf dari semua bagian.
Ayasha kembali menyelesaikan pekerjaannya, dan mempersiapkan beberapa data yang akan dibawanya saat briefing nanti. Setelah semua sudah siap, Ayasha bersama Lena di susul team yang lain dari divisi yang berbeda menuju ruang meeting untuk briefing company gathering.
Hampir dua jam briefing untuk memantapkan semua persiapan acara yang akan di selenggarakan di hotel Inna Garuda, akhirnya selesai juga.
Farel sebagai asisten manajer keuangan turut ikut hadir karena berkaitan dengan dana yang masuk dan dana yang akan dikeluarkan.
Pria yang sudah terpatahkan hatinya dengan hembusan berita beberapa hari yang tersebar di hotel, namun bukan berarti dia menjaga jarak dengan Ayasha, mereka tetap berteman dengan baik.
“Udah lama kita tidak makan siang bareng nih,” kata Farel, sembari merapikan laptopnya.
“Mmm ... kayaknya ya Mas. Gimana kalau kita makan nasi gudeg yuk,” ajak Ayasha.
“Aku ikut ya,” timpal Lena, sambil mengacungkan jari telunjuknya ke udara.
“Iya ikut,” sahut Farel.
Mereka bertiga akhirnya pergi bersama-sama dengan mobil Farel menuju rumah makan nasi gudeg. Berhubung jam makan siang, jadi lumayan penuh tempatnya, namun mereka bertiga masih kebagian tempat duduk, dan mereka langsung memesan makan siang.
“Jiah, gimana pendekatannya dengan CEO kita berhasil gak?” tanya seseorang yang berada di belakang Ayasha duduk.
“Aku lagi usaha, pokoknya aku harus bisa merebut hati Pak Darial, CEO kita yang ganteng itu, dia harus jadi suamiku,” jawab wanita yang bernama Jiah itu.
DEG!
Ayasha dan Lena yang sama-sama duduk bersebelahan, tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Kepala Lena langsung menoleh ke samping, dan menatap Ayasha.
Mungkinkah nama yang mereka dengar adalah orang yang sama mereka kenal. Darial!
Ayasha hanya terdiam, dan tak ingin melihat ke belakang, entahlah saat ini dia tak ada rasa ingin tahu lebih lanjut lagi.
“Are you okay, Aya?” tanya pelan Lena.
Gadis itu mengulum senyum tipis, “I’m okay.”
“Tapi aku dengar-dengar dia sudah punya kekasih loh, Jiah,” ucap wanita itu, masih melanjutkan pembicaraan.
“Peduli amat, kayak kamu gak tahu aja kalau Pak Darial itu kan playboy dari dulu suka gonta ganti pacar, jadi aku pikir pasti hanya pacar sesaat aja. Kalau sudah bosan, pasti bakal ditinggalkan begitu saja, lagi pula pacar barunya pasti cuma buat porotin uangnya aja, ” jawab wanita yang di panggil Jiah itu.
Lena jadi menghela napas panjang, sedangkan Ayasha hanya tersenyum tipis mendengarnya. Hatinya berharap hanya namanya saja yang kebetulan sama.
Makanan yang mereka pesan sudah datang. “Ayo dimakan dulu, jangan bengong aja dari tadi,” tegur Farel yang ternyata ikut mendengar pembicaraan orang lain.
Ayasha dan Lena segera menarik piringnya lalu menyantapnya tanpa banyak berbicara, Farel merasa aneh dengan suasana antara mereka bertiga gara-gara ada yang berbicara tentang pria yang bernama Darial.
Aya, gue hanya mengingatkan saja, pria yang memiliki kedudukan di perusahaan atau kekayaan, pasti akan banyak wanita yang akan mengejarnya dengan segalanya caranya. Dan di sinilah hubungan kita dengan pasangan di uji, sampai dimana dia benar-benar serius dengan kita, dan benar-benar mencintai kita.
Tapi ada satu yang menjadi pelajaran gue saat dengan Mas Rian, jangan terlalu percaya dengan mulut manis serta sikap yang begitu sangat perhatian, ternyata menyimpan boroknya.
Entah kenapa malah gue jadi suka dengan sikap om Rafael yang menunjukkan emosinya dengan amarahnya, tidak bersikap manis, apa adanya. Tapi sayangnya itu bodoh banget dibuat sama Delia!
Sambil menyantap nasi gudeg sebagai makan siangnya, Ayasha kembali mengingat perbincangan nya dengan Amelia, saat dia menerima buket dan surat dari Rafael.
Aku bukannya tidak senang kamu telah membuka hatimu untuk pria yang bernama Darial, aku mendukungmu. Tapi aku ingin kamu lebih berhati-hati, jangan terlalu bucin. Namun sejujurnya aku punya feeling yang tak enak saat melihat wajahnya, kayaknya aku pernah melihatnya dengan seseorang ... tapi entah di mananya ... Aku tak ingat.
Di saat sendok’kan terakhir masuk ke mulutnya, gadis itu kembali menarik sudut bibirnya. Sohibnya itu memang benar-benar apa adanya, kalau dia merasa ada yang terganjal di hatinya pasti langsung diutarakan, tapi sayangnya Ayasha suka keras kepala dan tak percaya. Namun untuk kali in Ayasha mulai coba menerima saran Amelia, agar hatinya tak terluka kembali.
...----------------...
Jakarta
Mansion Stevan
Semua yang berada diruang tengah tampak kebingungan membujuk Larissa untuk tidak menangis, coba bayangkan saja gadis kecil itu sudah menangis selama satu jam, untung saja Rafael tak lelah mengendong gadis kecil itu.
Dengan penuh kesabaran dan kelembutan, Larissa yang masih dalam gendongan Rafael dengan kedua tangan mungilnya merangkul tengkuk pria itu, dibawanya ke dalam kamarnya.
Tangan pria itu mengusap punggung keponakannya dengan lembut, dan kepala gadis itu pun bersandar di atas bahu Rafael.
“Apa yang buat kamu menangis, Nak?” tanya Rafael, suaranya bagaikan seorang Ayah bertanya pada anaknya.
“Tante, Uncle ...” Akhirnya bersuara juga Larissa, walau masih terisak menangis.
Kalau sudah menyangkut mantan tunangannya, degup jantung Rafael semakin cepat, mulai khawatir. “Tante cantikkah? Ada apa dengan tante ... Nak?”
Larissa menenggelamkan wajahnya ke bahu Rafael, dan kembali menangis. “D_aarraah, aaddda darah Uncle.”
DEG...
Kedua kaki Rafael langsung lemas, buru-buru dia duduk di sofa walau masih mengendong Larissa.
Valerie yang sengaja mengikuti Rafael dari belakang, langsung melorot ke lantai sambil menggelengkan kepalanya, wajahnya pun memucat.
Jangan ... jangan ... sampai terjadi yang buruk Ya Allah, cukup sekali Larissa mengatakan hal itu sebelum temanku tiada.
"A-aku t-takut Uncle .... banyak darah di badan Tante cantik," kata Larissa dalam isak tangisnya.
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen, kembang, kopi, iklan, vote dan rate bintang 5 nya, karena semuanya berharga buat saya. Makasih sebelumnya
Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🌻🌻🌻🌹🌹🌹