FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Rumah Sakit



Memelukmu adalah moment yang terindah bagiku, memilikimu sebagai istriku adalah doaku setiap dalam sujudku.


Rafael mengeratkan tubuh Ayasha dalam dekapannya, dan membiarkan tubuhnya terhempaskan karena kena sentuhan yang begitu cepat dari kendaraan roda empat.


Aku bahagia bersamamu, batin Rafael.


Rafael menatap sendu wajah Ayasha saat mereka berdua sudah terhempaskan dan sekarang berbaring di atas aspal, begitu juga dengan Ayasha. Pria itu mengangkat pelan-pelan tangannya lalu menyentuh pipi gadis itu. “I ... love ... you, Ayasha. M-maafkan a-aku,” kata Rafael terbata-bata.


Ujung ekor kedua netra Ayasha mulai meneteskan buliran bening. “I ... Love ... You Om," jawab Ayasha sudah tak bertenaga lagi.


Aku bahagia dicintai olehmu, Om Rafael.


Mereka sama-sama tersenyum, kedua tangannya pun saling menyentuh pipi masing-masing pasangan, dan semakin lama kedua netra mereka tertutup.


Rafael telah membuktikan kata cintanya dengan segenap raganya untuk Ayasha, bukan hanya sekedar ungkapan, namun dia rela mengorbankan dirinya demi melindungi kekasih hatinya.


Semua orang yang melihat kejadian di depan salon dan butik langsung memblokade jalanan, dan mendekati pasangan yang sudah terhempaskan dalam keadaan berpelukan, darah segar mulai keluar dari tubuh kedua calon pengantin.


Tak jauh dari posisi Rafael dan Ayasha, ada satu pria juga yang sudah tak sadarkan diri, pria yang turut melindungi Ayasha yaitu Ibra. Dan dalam waktu bersamaan juga, mobil yang dikendarai oleh Delia ternyata juga menabrak truk yang membawa semen dari arah yang berlawanan, hingga bagian depan mobil tersebut hancur ringsek, karena Delia tidak bisa mengendalikan kecepatan mobilnya, sebab ingin segera kabur, namun naasnya dia pun mengalami kecelakaan juga.


Lena masih tak kuasa melihatnya, tak sanggup untuk mendekat ke tempat kejadian, beberapa orang sudah menghubungi mobil ambulans. Sedangkan Lena dengan tangan yang gemetar langsung menghubungi ke hotel melalui ponselnya, memberitahukan kejadian yang baru saja terjadi, alhasil di hotel menjadi gempar menerima kabar buruk tersebut. Karyawan yang sangat mengenal Ayasha, amat sedih dan menangis.


Amelia yang baru juga disampaikan berita tentang kecelakaan Ayasha dan Rafael, histeris menangis di pelukan Satya. Sedangkan kedua orang tua Ayasha dan Rafael, jangan ditanya lagi bagaimana syok mendengarnya, kedua mama tersebut jatuh pingsan di ballroom, saat mereka sedang mengecek persiapan acara nanti malam.


“Ya Allah, Mas ... kenapa begini,” teriak Amelia histeris menangis dalam pelukan Satya. Satya yang masih memeluk Amelia, hatinya juga sedih, kedua netranya juga turut mengeluarkan air mata. Siapa yang tak akan syok dan sedih mendengar kabar buruk tersebut.


Reni, Sri, dan Tia yang masih  gemetaran, tetap mencari kabar terbaru tentang calon pengantin itu dari Lena maupun dari pihak salon, baik keadaannya serta rumah sakitnya.


“A-ayo M-Mas, kita ke rumah sakit,” pinta Amelia masih dalam menangis.


“Iya ... Kita tunggu kedua orang tua Ayasha dan Pak Rafael, biar kita sama-sama ke rumah sakitnya,” jawab Satya berusaha menenangi Amelia dan dirinya sendiri.


Kabar kurang baik di sore hari, Pak Wibowo menghimbau kepada seluruh karyawan dan tamu hotel, sejenak untuk menundukkan kepala dan mengirim doa atau surat Al-Fatihah untuk keselamatan Ayasha dan Rafael yang hingga kini belum mendapatkan kabar terbarunya.


Persiapan untuk acara nanti malam pun terpaksa dihentikan karena musibah yang menimpa calon kedua pengantin.


Bunga-bunga berwarna putih yang sempat direquest oleh Rafael untuk calon istrinya, sudah terpajang indah di ballroom, para pekerja yang masih mendekor menatap sendu bunga-bunga tersebut, bunga yang akan menyambut sang mempelai pengantin.


“Semoga Mbak Ayasha dan Pak Rafael masih bisa terselamatkan,” kata salah satu karyawan, sembari mengusap air matanya.


“Iya, semoga tidak ada kabar duka,” jawab karyawan yang lain.


...----------------...


Sementara itu keluarga Valerie sudah berada di dalam mobil menuju hotel. “Mom, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu,” kata Larissa, kedua netranya sudah berkaca-kaca. Valerie langsung menoleh ke arah Larissa.


“Kok ke rumah sakit Nak, memangnya kamu sakit?” tanya Valerie mulai terlihat cemas, takut anaknya benaran sakit.


“Hiks ... hiks ... ke rumah sakit Mom, ada Uncle dan tante di sana,” sahut Larissa, pecah sudah tangisan gadis cilik itu.


“Halo, Mas Satya,” sapa Valerie ketika menerima panggilan teleponnya.


“Valerie, Pak Rafael dan Ayasha kecelakaan—“


Deg!


Ponsel yang dipegang oleh Valerie langsung terlepas begitu saja, tangannya pun membungkam mulutnya, lalu kedua netranya menatap Larissa. Inilah yang dia takuti dari Larissa, anak indigonya.


“Mom, uncle dan tante di rumah sakit,” kembali berkata Larissa dibalik tangisnya, kedua bahu kecilnya pun sudah terlihat naik turun karena sesegukan.


Jatuh sudah air mata Valerie, Josh ambil alih ponsel istrinya, lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Satya.


“Ya Allah, j-jangan s-sampai t-terjadi kenapa-napa,” gumam Valerie, suaranya bergetar menahan rasa sesak dan syoknya, mereka datang untuk acara yang baik bukan datang menghadirkan acara duka.


...----------------...


Rumah Sakit.


Mobil ambulans sudah tiba di rumah sakit, paramedis tampak sigap menerima empat orang yang mengalami kecelakaan. Lena di dampingi oleh salah satu pegawai butik, masih dirangkul bahunya karena masih menangis selama perjalanan mengikuti mobil ambulans, dalam tangisannya Lena selalu bermunajat dalam hatinya, meminta keselamatan untuk Ayasha dan Rafael, tapi tidak dengan Delia.


 Lena saat masih di tempat kejadian sempat terkejut juga saat pengemudi yang mengendarai mobil yang menabrak Ayasha di evakuasi ternyata Delia.


“DASAR WANITA IBLIS, GILA LO!” teriak Lena dalam tangisnya saat melihat Delia telah di evakuasi oleh orang-orang. Delia yang masih terlihat sadar hanya bisa mengulas senyum jahatnya, namun tak lama dia histeris kemudian jatuh pingsan setelah melihat kedua kakinya sudah tak berbentuk lagi, karena terjepit dengan mobilnya yang moncongnya nabrak bagian depan truk semen.


Tiga puluh menit kemudian, beberapa mobil tiba di rumah sakit, kedua papa memapah istrinya yang masih dalam keadaan syok dan lemas. Pak Wibowo yang turut mendampingi kedua keluarga tersebut, bergegas mencari informasi tentang Ayasha dan Rafael bersama Satya.


“Pak Rafael sedang ada di ruang operasi, sedangkan Ayasha masih ditangani di ruang IGD, mungkin kita bisa menunggunya di lantai 2,” kata Pak Wibowo saat menghampiri Papa Stevan dan Papa Tisna.


Mereka berempat hanya menganggukkan kepalanya, dan mengikuti langkah Pak Wibowo. Satya dan Amelia turut mengikutinya, dan menunggu di depan ruang operasi.


Lena yang sedang menunggu di depan ruang IGD, setelah mendapat kabar jika keluarga Ayasha dan Rafael sudah tiba, wanita itu masih dipapah naik ke lantai dua untuk menghampiri mereka semua yang sudah duduk menunggu.


“Ibu, Pak,” sapa Lena begitu lirih suaranya. Mereka semua pun menoleh ke arah Lena, dan dimulailah Lena serta karyawan butik menceritakan kronologi kejadian kecelakaannya.


Wajah Mama Rara mulai terlihat berbeda, agak marah setelah mendengar yang menabrak anaknya adalah Delia, begitu juga dengan Amelia tampak murka.


“Semoga wanita iblis itu mati!” gumam Amelia sendiri.


bersambung ...