
Selama tiga puluh menit Rafael telah merilekskan dirinya dengan berendam di bathtub, namun entah kenapa tengkuknya terasa merinding, dan perutnya bergejolak seakan ada yang minta dikeluarkan.
“Huek ... Huek.” Isi yang ada didalam perut Rafael akhirnya keluar begitu saja di closed.
Suara muntahan Rafael terdengar jelas di telinga Satya yang baru saja menerima pesanan makanan untuk bosnya. “Syukurlah mulai bereaksi,” gumam Satya, lantas dia bergegas membuatkan teh hangat untuk Rafael.
Berulang kali Rafael mengeluarkan isi perutnya sampai terkuras dan tubuhnya terkulai lemas. “Kenapa tiba-tiba perutku mual begini,” keluh Rafael, kemudian dia lanjut membasuh wajahnya dan berkumur-kumur membersihkan bekas muntahannya.
Dengan hanya menggunakan bathrobe pria itu keluar kamar mandi, lalu menyambangi Satya yang ada di meja makan.
“Pak Rafael, saya buatkan teh hangat biar perutnya hangat,” ucap Satya menunjukkan cangkir tehnya.
“Perut saya kenapa tiba-tiba mual ya, dan badan saya berasa merinding begini,” keluh Rafael, pria itu belum mengenakan bajunya namun sudah duduk di meja makan lalu menyesap teh hangat, kemudian mengusap tengkuknya yang masih saja merinding.
“Mungkin Pak Rafael masuk angin, nanti saya belikan tolak angin dan minyak kayu putih. Sebaiknya sekarang Pak Rafael makan dulu buburnya selagi masih hangat, lalu bawa istirahat.”
Wis ... pada minggat tuh setan, nenek lampir, kakek gayung, tuyul sekalian sama kuntilanak. Jangan balik lagi ke dalam tuh si Bos, kalau mau balik ... sok atuh balik ke yang punya kerjaan aja! ngedumel batin Satya.
Rafael hanya bisa mangut-mangut kemudian langsung menyantap bubur ayam yang dimintanya, walau sebenarnya sudah hilang selera makannya.
Untuk beberapa saat mungkin badan Rafael akan merasakan sakit, pegal, perut mual dan ingin bersendawa. Biasanya setelah minum air yang sudah didoakan pasti akan ada reaksi jika memang ada sesuatu ditubuhnya.
“Pak Rafael kalau begitu saya pamit mau beli tolak angin sama minyak kayu putih dulu,” kata Satya.
“Mmm ... “ gumamnya tak banyak komentar.
Sekarang dia seorang diri dikamarnya, setelah menghabiskan semangkok bubur ayam pria itu mengenakan pakaian santainya berupa kaos dan celana panjang, dan entah kenapa hatinya tergerak untuk berwudhu lalu menghamparkan sajadah yang tersedia di hotel kemudian melaksanakan sholat isya.
Pria itu menjatuhkan air matanya di atas sajadah selepas sholat isya, teringat dosa-dosanya di masa lalu yang pernah dia perbuat dengan Delia. Kemudian dosanya kepada kedua orang tuanya karena melawan dan menentang keinginan kedua orang tuanya hingga sampai terputus silaturahmi antara anak dan orang tua karena Delia.
Ya Allah, hamba mohon ampunan atas segala dosa yang pernah aku lakukan selama ini. Dan ampunilah dosaku terhadap kedua orang tuaku yang telah menyakiti hati mereka berdua.
Berikanlah aku kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki keadaan ini. Berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan Ayasha.
Aku sangat men_
Rafael menundukkan kepalanya, pantaskah dirinya menyatakan isi hatinya yang baru saja dia sadari? pantaskan dirinya dia mengejar mantan tunangannya yang sudah terlalu sakit hatinya.
Mama, Papa maafkan aku yang tidak mendengar nasehat dan menuruti permintaan kalian berdua, aku sangat menyesalinya.
Ya Allah, mengapa baru kali ini aku menyadarinya setelah semuanya telah terlambat.
Rafael menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dan meratapi semua yang telah dia lalui, serta keputusan yang telah dipilihnya.
...----------------...
Restoran Hotel
“Kamu sedang marah denganku?” tanya Rian dengan tatapan menyelidik, karena sedari tadi Amelia lebih banyak diam, padahal biasanya gadis itu cerewet.
“Entahlah mungkin tidak marah tapi lebih dengan rasa kecewa saja,” balas Amelia, sembari mengaduk-aduk gelas yang berisi ice cream.
“Jangan berpikiran negatif denganku, lagi pula mana mungkin aku menduakan mu, percayalah padaku,” kata Rian begitu lembutnya.
“Mmm ...” gumam Amelia malas untuk menanggapinya.
“Aku di sini selama empat hari, bagaimana kalau besok aku jemput kamu dari kantor.”
Amelia menegakkan kepalanya lalu menatap pria itu. “Lihat saja besok, aku tidak bisa janji ... takutnya aku lembur di kantor,” balas Amelia sudah tidak bersemangat untuk bertemu dengan Rian.
Rian hanya bisa mendesah setelah mendapat penolakan dari Amelia. “Ya sudah kalau begitu besok aku telepon kamu dulu untuk memastikan lagi.”
“Ya, sepertinya acara makan malam sudah selesai aku pamit pulang sudah jam sembilan,” kata Amelia, sembari melirik jam di layar ponselnya.
“Aku antar pulang ke rumah ya,” tawar Rian kembali suaranya terdengar lembut.
Amelia mengambil tas bahunya lalu bangkit dari duduknya. “Tidak perlu, aku bawa motor sendiri. Lagi pula Mas Rian pasti sudah ditunggu sama wanita lain di kamar kan?” jawab asal Amelia, main tebak saja.
Wajah Rian seketika pias, seakan menyudutkan dirinya. Memang benar di kamarnya masih ada Delia. Amelia hanya bisa menaikkan salah satu sudut bibirnya ketika melihat wajah Rian mendadak berubah.
Seperti nya apa yang aku duga itu benar!
Rian meraih tangan Amelia. “Amel, please kamu jangan menuduhku seperti itu, aku tidak ada main dengan wanita lain. Ini yang ada di leherku bukan tanda kissmark, tapi beneran karena alergi udang. Kalau kamu tidak percaya kita ke kamarku ya, aku tidak ditunggu sama wanita siapapun,” ucap bujuk Rian sangat meyakinkan, padahal hati pria itu agak ketar ketir jangan sampai beneran Amelia minta ke kamarnya.
Amelia menatap tajam wajah Rian. “Mas Rian yakin ingin menunjukkan kamarnya, dan memastikan tidak ada wanita di kamarnya?” tantang Amelia, kemudian gadis itu menyeringai tipis.
Jangan macam-macam sama Amelia, dia tidak bisa ditantang dan agak barbar sama dengan saudara sepupunya Alya istrinya Erick.
GLEK!
Tenggorokan Rian tercekat, setelah melihat respon yang tak terduga dari Amelia. Mampus aku kalau sampai ketahuan sama Amelia, bisa kacau balau nih. Semoga saja Delia sudah tidak ada di kamar.
“I-iya aku yakin kok, kalau begitu aku bayar billnya dulu sebentar, kamu tunggu di sini sebentar,” pria itu beranjak dari duduknya ingin pergi ke meja kasir.
“Mas Rian tidak perlu ke kasir, cukup panggil saja waitresnya,” pinta Amelia sembari tangan kanannya memanggil salah satu waiters
Rian tidak bisa berkutik, sebenarnya selain ke kasir, pria itu juga ingin menelepon Delia agar segera keluar dari kamarnya. Amelia terlihat menyipitkan kedua netranya ketika menatap pria itu yang terlihat sedikit gelisah.
Mas ... Mas ... akulah ditantang ya mana bisa! Justru aku suka ditantang, jadi pengen tahu permainanmu sampai dimana!
Keringat sebiji jagung mulai muncul di kening pria itu, jantungnya juga sudah mulai berdegup kencang bukan karena jatuh cinta tapi takut ketahuan oleh Amelia. Selama ini citra pria itu sangat baik di depan Amelia begitu pula di depan ayahnya Amelia, padahal di belakang mereka berdua Rian itu adalah fuckboy. Tapi sebagai fuckboy, pria itu tetap pengen punya calon istri yang baik dan tentu saja masih perawan. Duh sepertinya mimpi Rian terlalu tinggi.
bersambung ......