FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Ada yang datang!?



Obsesi, ambisius itu boleh saja, namun terkadang obsesi seseorang bisa menjadi petaka buat diri sendiri jika dilakukan dengan cara yang tidak baik. Bukannya tercapai akan yang diinginkan justru malah kemalangan yang datang tanpa disadari oleh diri sendiri.


Keluarga Delia bukanlah dari keluarga yang kaya, namun demi memperbaiki masa depan anaknya, Pak Tony banting tulang mencari rezeki lebih agar bisa membiayai Delia kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, walau hanya jadi mandor di pabrik namun pak Tony hampir setiap hari lembur agar dapat tambahan, waktu itu.


Beda pak Tony beda pula bu Laras, hidupnya sejak dulu memang lebih percaya dengan dunia klenik, untuk menggaet pak Tony saja bu Laras pakai susuk, maklumnya saingannya bu Laras banyak waktu kerja satu pabrik sama pak Tony, ya tahu sendiri kalau karyawan pabrik yang masih sendiri suka cari perhatian sama mandornya biar dapat jodoh.


Dan sekarang kebiasaan bu Laras diikuti oleh Delia, mulai dari sifat dan sikapnya, tak jauh berbeda. Padahal sebagai seorang Ibu harusnya bisa memberikan pengarahan yang baik buat anaknya, tapi bu Laras tidak malah menjerumuskan anaknya ke lembah hitam. Kalau bu Laras ingin memiliki menantu kaya agar ikutan menjadi kaya, sedangkan Delia juga terobsesi menjadi istri pemilik perusahaan, agar bisa menunjukkan keberhasilan kepada teman-temannya.


Klek!


Delia membuka pintu kamar orang tuanya lalu menatap Blbu Laras yang masih berbaring di atas ranjang.


“Bu,” sapa Delia, sembari masuk dan mendekati ranjang.


“Delia, kamu datang Nak?” tanya bu Laras, suaranya terdengar lemes.


“Iya Bu, aku baru saja sampai. Ibu lagi sakit?” tanya Delia.


“Agak pusing kepala Ibu, itu hidung kamu kok sampai diperban begitu? Jangan bilang kalau yang ada divideo itu beneran kamu ya!” kata bu Laras agak kesal.


Delia menghela napas kasarnya. “Ibu gak usah pikirin video itu,” jawabnya.


Bu Laras coba merubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar di headboard ranjang. “Jadi benar itu kamu Delia! Yang ada di dalam video itu!” sentak bu Laras.


Delia hanya terdiam saja, sembari menundukkan kepalanya.


“Kalau kamu diam saja berarti itu memang kamu. Dasar bodoh! Harusnya kamu main cantik kalau mau selingkuh dengan pria lain, ini kenapa sampai ketahuan. Dan ini kamu sampai diputusin sama Rafael. Mau dikemanakan muka Ibu, Delia! Ibu sudah gembar gembor ke tetangga kalau kalian mau segera nikah!” sentak bu Laras, sembari memijit pelipisnya.


“Lagi apes Bu, makanya itu aku minta Ibu ke dukun lagi,” jawab Delia, memelas.


Wajah bu Laras terlihat kesal dengan anaknya sendiri, bukannya dinasehati jika anaknya sudah salah malah dimarahi karena Rafael memutuskan hubungannya.


“Memangnya kamu masih punya uang buat ke dukun, yang kemarin saja Ibu ngutang?” tanya bu Laras dengan tatapan menyelidik.


Pak Tony yang sedari tadi berdiri di ambang pintu untuk melihat keadaan istrinya serta ingin memberitahukan jika diluar rumah ada pria tua mencari bu Laras, wajahnya  tampak murka mendengar kata dukun.


“Siapa yang ke dukun!” kata pak Tony suaranya meninggi.


Bu Laras sontak terkejut mendengar suaminya, begitu pula dengan Delia. Wajah bu Laras mulai ketakutan saat melihat tatapan wajah suaminya, pak Tony termasuk pria yang taat beragama dan selalu menasihati istri dan anaknya agar tidak melakukan hal-hal yang berbau musyrik karena termasuk dosa besar.


“B-bapak s-salah dengar, tidak ada yang ke dukun,” jawab Bu Laras terbata-bata. Selama ini memang pak Tony tidak tahu jika istrinya sering ke dukun, karena alasannya pergi ke rumah saudaranya.


Tatapan pak Tony begitu menyelidik bu Laras dan Delia yang mulai kelihatan kikuk. “Jika kalian tidak berbohong, wajah kalian berdua tidak akan seperti ini, pasti akan terlihat tenang. Dan semua kebohongan Ibu tidak selamanya bisa tertutupi, suatu hari Bapak pasti akan tahu. Ibu tahukan konsekuensinya jika Ibu pergi ke dukun, Bapak tidak akan segan-segan menceraikan Ibu!” kata pak Tony lembut namun penuh penegasan.


Tangan bu Laras langsung mengibas. “G-gak kok Pak, Ibu gak pernah ke dukun ... tadi kita lagi ngomongin temannya Delia,” sanggah bu Laras, sembari menahan rasa sakit kepalanya yang semakin menekannya, belumnya dia sedang berusaha menekan degup jantungnya yang begitu cepat ritmenya.


“Ibu tidak perlu berbohong lagi dengan Bapak, diluar rumah ada bapak tua menagih uang 20 juta karena telah memakai jasa perdukunan!” kata Pak Tony dengan tatapan menahan emosi.


JEDER!


Bagaikan petir disiang bolong tanpa turunnya hujan. Bu Laras langsung menatap ke arah Delia, dia baru teringat jika sudah memberikan alamat rumah di Bogor sebagai jaminan jika dia belum bayar hutangnya, maka bisa menemuinya di rumahnya, bu Laras lupa jika waktu yang dijanjikan sudah lewat dua hari.


Tolong Pak, jangan ceraikan Ibu ... batin Bu Laras hanya bisa berkata dalam hatinya.


“IBU!” teriak Delia melihat Bu Laras tak sadarkan diri.


...----------------...


Pak Tony dibantu oleh beberapa tetangga membawa bu Laras ke rumah sakit terdekat karena hampir setengah jam tidak siuman dari pingsannya.


Sedangkan Delia mengurus tamu yang datang ke rumahnya.


Delia tampak memindai pria tua itu yang mengenakan pakaian berwarna hitam-hitam itu.


“Jadi Bapak dukun yang didatangi oleh ibuku?”


Wajah seram itu menyeringai tipis. “Iya saya orangnya, dan saya datang ke sini untuk menagih hutangnya sebesar 20 juta!” kata dukun itu.


“Minta 20 juta tapi belum berhasil, tidak ada hasilnya, buat apa aku bayar!” jawab Delia ketusnya.


“Sepertinya kamu menyepelekan saya rupanya! Perlu kamu ketahui jika pria yang kamu tuju itu, tubuhnya sudah dipagar. Sepertinya dia tahu kalau sudah diguna-guna, maka dari itu teman-teman saya sedang membantu untuk menembus pagar itu, dan butuh waktu. Jadi saya minta uang tersebut, jika tidak semua yang sudah saya kerjakan akan berbalik kepada dirimu dan ibumu. Dan sepertinya hal itu sudah dimulai dari ibumu!” gertak pria tua itu, tersenyum lebar.


Delia tergidik mendengarnya. “Dunia hitam itu sangatlah kejam jangan coba-coba ingkar dengan perjanjian bersama jin. Jika tak dipenuhi maka semuanya berbalik kediri sendiri!”


Pria berbaju hitam itu menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap rokoknya ke wajah Delia.


Sementara itu di waktu yang bersamaan di rumah sakit. Bu Laras setelah sempat ditindak  di ruangan IGD, sekarang bu Laras sudah dipindahkan ke ruang ICU.


“Istri Bapak mengalami pecah pembuluh darah,” kata Dokter yang menangani.


Pak Tony hanya bisa terduduk lemas tak bertenaga, lalu menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya.


bersambung ...


 Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen, kembang kopi, iklan, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan VOTE di hari Senin ya buat Ayasha. Makasih sebelumnya 🙏🙏.


Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🌹🌹🌹🌻🌻🌻