FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Tentang Larissa



Rafael terakhir bertemu dengan Valerie adiknya saat adiknya menikah tujuh tahun yang lalu, setelah menikah Valerie diboyong oleh suaminya Josh ke Jerman, karena pekerjaannya ada di Jerman. Usai itu mulailah konflik keluarga yang berawal dari keputusan Rafael memilih Delia, hingga seluruh hubungan dengan keluarga inti retak tak ada lagi komunikasi. Termasuk Valerie yang memutuskan kontak dengan Rafael karena kecewa dengan pilihan pria itu.


Dan hari ini Rafael dibuat tercengang jika dia telah memiliki keponakan yang sangat cantik, dan jangan lupa mereka berdua sudah bertemu sebelumnya.


“Val ... ini beneran anak kamu?” tanya Rafael dengan wajahnya yang begitu bingung.


“Waah Kakak sepertinya meragukan jika aku memiliki anak nih,” balas Valeria, wajahnya mulai ditekuk. Rafael hanya mengulum senyum tipisnya.


Gadis kecil itu dengan langkah kaki mungilnya berlarian lincah, sama seperti saat di restoran kopi tempuan, kemudian dengan sengajanya gadis itu menubrukkan dirinya ke kedua kaki Rafael, lalu memeluknya seakan merindukan Uncle nya


“Halo Om, Uncle yang ganteng,” sapa Larissa dengan tatapan puppy eyes yang sangat menggemaskan.


Rafael mensejajarkan tubuhnya agar bisa menatap gadis cilik itu. “Hai juga anak cantik, ternyata kamu keponakan Uncle ... hem,” balas Rafael tersenyum hangat.


Gadis kecil itu merangkul'kan kedua tangannya di leher Rafael lalu memeluknya dengan erat. “Uncle yang sabar ya,” bisik Larissa, seolah-olah tahu apa yang menimpa Uncle nya.


“Tante cantik itu sangat mencintai Uncle, tapi dia sudah kecewa sama Uncle,” kembali berbisik, lalu tangan mungilnya menepuk-nepuk punggung Uncle nya seolah-olah gadis itu sudah dewasa saja.


Pria itu mengeratkan pelukannya ditubuh mungil itu. “Uncle ... stop ... aku tak bisa bernapas nih. Uncle peluk aku kayak peluk boneka saja!” keluh Larissa, sambil menepuk bahu Rafael.


Semua yang ada di ruang keluarga tergelak tertawa mendengar celetukan Larissa. “Sorry Nak, Uncle  kangen sama keponakan Uncle ini,” balasnya, sambil mengurai pelukannya.


“Iish ... Iish ... Iish Uncle itu kangennya sama tante cantik itu, bukan sama aku!” balas Larissa sambil mengerucutkan bibirnya.


Valerie dan Mama Rara sama-sama saling bersitatap, begitu juga dengan Satya, merasa ada yang aneh dengan perkataan Larissa.


Valerie sebagai mommy Larissa mendesah, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Larissa, main dulu ya sama dede, Mommy mau ngobrol dulu sama Oma, Opa dan Uncle,” pinta Valerie begitu lembutnya pada Larissa.


Sebelum menjalankan perintah mommynya, Larissa kembali mendekati Rafael lalu menyentuh salah satu tangan Rafael yang diperban itu. “Tante cantik itu pasti mengecup tangan Uncle, tante cantik itu sedih melihat Uncle seperti ini walau wajahnya tersenyum. Dia memendam rasanya semua.” Tak lama Larissa mendongakkan wajahnya agar bisa menatap Rafael yang sudah berdiri, pria itu pun menundukkan pandangannya. “Berdoalah Uncle sama Allah, kata mommy jika kita tidak meninggalkan sholat lima waktu dan berdoa, Allah akan mengabulkan permintaan kita,” tutur gadis cilik itu yang masih berusia enam tahun itu, namun sejenak seperti orang dewasa.


Hati pria itu berdesir, walau yang berbicara itu masih anak kecil. Namun hatinya juga dibuat terasa hangat ketika Larissa mengucapkan sebuah fakta, padahal dia tidak pernah bercerita pada siapa pun, hanya dia dan Ayasha yang tahu apa yang terjadi di saat terakhir mereka bertemu di kamar hotel.


Gadis itu kembali tersenyum, lalu dengan hati yang riang meninggalkan Rafael, dan kembali bermain dengan adik laki-lakinya yang baru berusia tiga tahun.


Rafael buru-buru mengusap kedua netranya setelah sempat kedua netranya berkaca-kaca. Kemudian ikut bergabung duduk di sofa dengan adik dan kedua orang tuanya.


“Val, kenapa Larissa bisa berucap seperti itu dengan uncle-nya?” tanya mama Rara penuh tanda tanya.


Sebelum menjawab pertanyaan Mama Rara, sejenak Valerie menatap kakaknya. “Kak Rafael, pernah bertemu dengan Larissa kah?” tanya Valerie.


“Waktu aku di Jogja saat makan malam dengan Delia di restoran kopi tempuan, Larissa pernah tak sengaja menabrak meja yang aku tempati,” jawab Rafael apa adanya.


Valerie mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat kegiatan dalam sebulan ini. “Oh iya Larissa memang pernah diajak sama temanku ke restoran itu, tapi aku tidak ikut. Jangan-jangan om-om yang dia cerita padaku kalau ada nenek  berwajah seram itu Kakak dong,” kata Valerie.


Rafael menganggukkan kepalanya, membenarkan dirinya. “Ya dia bilang ada nenek seram di belakang Delia, yang terkadang ada di dekatku,” balasnya.


Valerie menarik napasnya pelan-pelan, kemudian menatap Mama Rara. “Larissa semenjak bisa berbicara, dia suka bicara yang aneh-aneh, tapi apa yang dia katakan hampir benar. Dia bisa melihat apa yang telah terjadi, dan bisa melihat orang itu baik dan atau tidaknya,” ungkap Valerie kepada mama Rara dan papa Stevan.


“Masya Allah,” jawab mama Rara, antara bersyukur atas kelebihan yang dimiliki cucu pertamanya dan terkejut.


“Saat Larissa ucap tante cantik itu mengecup tanganku, itu memang benar,” sambung Rafael, kedua netranya tampak sendu.


Mama Rara langsung membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya, tak percaya jika itu benar yang diucapkan oleh cucunya.


“Larissa tidak akan menjawab jika ada yang bertanya-tanya akan masa depan, jangan pernah! Kasihan anakku akan sakit setelahnya,  biarkan dia yang datang dan berbicara,” lanjut kata Valerie, sembari menatap kedua anaknya yang sedang bermain.


Melihat kedua anak Valerie, membuat hatinya tambah sedih ... entahlah sudah tak bisa diungkapkan lagi.


Valerie menggenggam tangan kakaknya lalu mengusap lembut punggung tangan pria itu. “Andaikan saat itu Kakak menikahi Ayasha, mungkin anak-anak kita sekarang sedang main bersama,” tutur Valerie, ikut prihatin atas keadaan kakaknya.


Pria itu tersenyum pilu. “Maafkan Kakak jika pernah menegurmu dengan kasar lewat telepon tempo dulu, karena membela Delia,” imbuhnya.


“Aku juga sebenarnya jengkel denganmu Kak, hanya seorang  wanita yang tak baik, Kakak mau bermusuhan dengan adiknya sendiri,” sindir Valerie.


“Kakak juga sangat menyesal,” jawab Rafael, suaranya mulai tercekat.


Siapa yang tak ingin memiliki keluarga yang bahagia, memiliki anak-anak yang cantik dan ganteng. Dan pasangan hidup yang menemani hingga maut memisahkan, namun sekarang pudar seakan tak ada impian itu lagi.


Di sela-sela Larissa bermain dengan adiknya, ujung ekor mata gadis cilik itu melirik ke arah Rafael, seakan melihat sesuatu, dan berulang kali mengerjapkan kedua bola mata mungilnya.


Tapi yang namanya anak kecil penasaran, gadis itu meninggalkan adiknya yang masih sibuk main mobil-mobilan, lalu berlarian mendekati Rafael.


“Uncle,” panggil Larissa.


“Ya Nak,” balas sapa Rafael, sembari mengulas senyum tipisnya.


“Tante cantiknya ada disinikah?” tanya Larissa dengan kedua bola matanya berkaca-kaca.


“Tantenya tinggal di Jogja, Nak. Tidak di sini,” jawab Rafael lembut.


Tiba-tiba saja Larissa menangis sesenggukan, sembari menatap ke arah belakang Rafael.


Rafael refleks memeluk Larissa. “Kenapa Nak, kok menangis.” Jantung Rafael mulai berdegup kencang. Larissa tetap menangis tak mampu menjawab.


Ada apa???


 


bersambung ... stay tune terus ya Kakak Readers 🤗