FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Datang ke rumah Ayasha



"Satya, saya ada di bandara Adisutjipto... bisa jemput kah?” tanya Mama Rara lewat sambungan teleponnya.


Satya dari kejauhan melirik Rafael. “Bisa Nyonya, saya akan segera ke bandara,” jawab Satya.


“Jangan bilang ke Rafael kalau kamu menjemput saya.”


“Baik Nyonya.”


Mama Rara memutuskan panggilan telepon lalu menyampaikan ke Papa Stevan jika Satya bisa menjemput mereka berdua di bandara. Sebenarnya bisa saja mereka berdua langsung menuju hotel, namun ada hal yang harus dibicarakan oleh Satya terlebih dahulu.


“Pak Rafael, saya mohon izin sebentar ada keperluan mendadak,” ucap Satya.


Rafael memicingkan kedua matanya, “Tumben kamu ada keperluan, memangnya mau kemana? Saya baru saja mau meminta kamu menemani saya mencari Aya,” balas Rafael.


Sang asisten mengusap tengkuknya setelah dapat jawaban dari Rafael. “Ada kerabat saya tiba di Jogja meminta untuk bertemu sementara, saya janji hanya sebentar ... setelah urusan saya selesai akan segera kembali ke sini,” kata Satya.


“Ya sudah segera temui, dan segera kembali jika sudah selesai,” jawabnya datar, lalu pria itu menuju hotelnya. Sedangkan Satya bergegas mengambil kunci mobil dinas.


...----------------...


“Kamu tahu nomor ponsel Ayasha?” tiba-tiba Rafael bertanya dengan Reni yang baru saja selesai mengurus cek in salah satu tamu hotel.


“Oh ... tahu Pak,” jawab Reni agak canggung.


“Saya minta nomor handphonenya,” pinta Rafael.


Reni bergegas mengambil kertas memo kemudian menyalin nomor ponsel Ayasha dari ponselnya. “Ini Pak Rafael nomornya mbak Ayasha.”


“Terima kasih.” Pria itu meninggalkan lobby dan bergegas ke ruang kerjanya yang sudah tertata rapi.


Sudah mendapatkan nomor ponsel Ayasha, sesampainya di ruang kerjanya Rafael bergegas menghubungi nomor ponsel Ayasha, namun sayangnya ponsel gadis itu sedang tidak aktif. Pria itu menggenggam erat ponselnya dan sangat terlihat gusar. “Kemana kamu berada Ayasha, semoga kamu baik-baik saja,” gumam Rafael sendiri.


Entah kenapa tiba-tiba saja Rafael terlintas untuk datang ke rumahnya. Pria itu pun menghubungi Pak Wibowo agar segera ke ruang kerjanya.


“Sebaiknya aku harus menyusul ke rumahnya.”


...----------------...


Bandara Adisutjipto


Sekitar 35 menit Satya tiba di bandara Adisutjipto, pria itu setelah memarkirkan mobilnya bergegas ke ruang tunggu the lounge atas permintaan mama Rara.


“Selamat siang Nyonya, Tuan,” sapa Satya ketika menghampiri kedua orang tua Rafael.


“Siang juga Satya, duduk dulu, nak” pinta Mama Rara sembari menyesap teh hangatnya.


Satya agak gugup ketika menghadapi kedua orang tua Rafael, karena kedua orang tua Rafael sudah banyak berjasa dalam hidupnya selama dia masih duduk di bangku SMP. Dia hanya dari keluarga tidak mampu ketika bertemu dengan tidak sengaja oleh Papa Stevan dan Mama Rara saat Ibunya Satya mengalami kecelakaan tabrak lari, mereka berdua lah yang membawa Ibu Satya ke rumah sakit dan mengurus sampai Ibu Satya sembuh total. Belum lagi Papa Stevan telah berjasa menyekolahkan Satya hingga lulus kuliah S1, setelah melihat keadaan Satya yang sempat putus sekolah. Jika tidak bertemu kedua orang tua Rafael, mungkin dia sudah menjadi pria yang tak berguna buat membantu membiayai kebutuhan hidup Ibu dan adiknya.


“Kamu sudah makan siang, Satya?” tanya Papa Stevan.


“Belum, Tuan,” jawab jujur Satya.


“Ambil dulu makanan di sana, setelahnya baru kita ngobrol,” pinta Papa Stevan. Satya menganggukkan kepalanya lalu segera ke meja prasmanan yang menyajikan berbagai makanan.


Setelah mereka bertiga selesai menikmati makan siang bersama, barulah Mama Rara memulai pembicaraan. “Satya seperti yang pernah saya sampaikan tempo hari kalau Rafael menurut Pak Ustadz kalau dia telah diguna-guna sama seseorang sudah lama. Dan saya meyakini jika itu adalah perbuatan Delia.”


“Saya juga mencurigai hal seperti itu juga Nyonya, tapi saya belum bisa membuktikannya.”


“Hal itu memang tidak bisa kita buktikan Satya, hal tersebut hal goib, hanya bisa dirasakan. Kali ini saya minta bantuan kamu, agar Rafael cepat sadar,” pinta Mama Rara sembari menaruh plastik berwarna putih.


“Baik Nyonya, saya akan memastikan air ini segera diminum oleh Pak Rafael, biar cepat sadar,” balas Satya.


Melihat wajah Satya, Mama Rara tampak mencurigai sesuatu. “Satya tidak terjadi sesuatu hal kan di hotel antara Rafael dan Ayasha?” selidik Mama Rara.


Inilah yang tidak bisa Satya tutupi dari Mama Rara. “Baru terjadi sesuatu hal di hotel tadi pagi.”


Mama Rara dan Papa Stevan pun mendesah mendengarnya. Satya mulai menceritakan kejadian di lobby hotel tanpa ada yang dikurangi maupun dilebihkan.


“Ya Allah ... Ayasha, kenapa dia yang harus terluka. Ayasha tidak bersalah Pah, dia bukan pelakor,” ucap Mama Rara mulai terisak dalam pelukan Papa Stevan.


“Harusnya mereka tidak usah dipertemukan kembali Pah,” lanjut kata Mama Rara masih terisak sedih. Papa Stevan mengusap lembut punggung Mama Rara. “Tenang ya mam, ingat jangan terlalu emosi nanti darah tinggi mama kumat lagi,” kata Papa Stevan begitu lembut. Mama Rara kalau sudah mengenai sangkutannya dengan Ayasha pasti sangat sensitif, maklumlah Ayasha sejak bayi hingga terakhir bertunangan dengan Rafael sering diurus sama Mama Rara bagai anak perempuannya sendiri.


...----------------...


Tiga jam kemudian ...


Rumah kontrakan Ayasha.


Rafael setelah bertemu dengan pak Wibowo, ternyata tidak bisa langsung ke rumah Ayasha, karena ada beberapa hal yang harus diurusnya. Setelah selesai barulah pria itu ke rumah Ayasha berbekal alamat dari pak Wibowo.


Kini pria itu telah berdiri dan menatap rumah kecil yang ditempati oleh mantan tunangannya, entah kenapa hatinya tambah sedih melihat rumah itu, seperti tidak terima dengan kenyataan yang dihadapinya. Dia yang hidup dalam serba kemewahan, berbanding balik dengan Ayasha hidup dalam kesederhanaan.


Cukup lama pria itu menatap rumah itu, kemudian dia memberanikan diri untuk mengetuk rumah Ayasha, namun tidak ada yang membukakan pintu.


“Mas nya cari siapa ya?” tanya salah satu tetangga yang sedari tadi melihat kedatangan pria yang tidak dikenal itu, dengan sedikit rasa curiga, apalagi ada mobil mewah yang terparkir di antara rumah kontrakan mereka.


Reflek Rafael menoleh ke belakang. “Ini benar rumah Ayasha kan, Bu?” tanyanya pada ibu yang terlihat tua wajahnya.


“Oh cari mbak Aya, biasanya pulang nya sebelum magrib. Mas siapanya ya?” balik bertanya ibu tetangga.


“Saya saudaranya dari Jakarta, kalau begitu boleh saya menunggu di sini kan Bu?”


“Oh ... silakan, kebetulan saya tetangga nya. Kalau begitu tak tinggal dulu Mas.” Setelah tahu siapa yang berdiri di depan rumah kontrakan Ayasha, si ibu masuk kembali ke rumahnya.


Berhubung ada bangku di teras, Rafael memilih untuk duduk dan menunggu sampai kepulangan Ayasha.


 


bersambung .....


Kakak Readers yang cantik dan ganteng selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏 jika ada kata-kata yang salah atau kurang menyenangkan 🙏 😊.


Mohon maaf beberapa hari lagi slow respon dan up-nya hanya satu bab 🙏, mohon dimaklumi maklumlah emak-emak rempong ngurus dapur sama rumah demi menyambut hari raya 😊.