
Hotel Inna Garuda
Wanita yang baru saja bikin ulah dan dipermalukan oleh Rafael di lobby hotel, terlihat sedang merias wajahnya agar tampak menarik, menebalkan bedaknya, memoles lipstik dibibirnya kemudian mengganti pakaiannya dengan dress terusan setinggi di atas lutut yang menunjukkan lekuk tubuhnya.
Setelah berulang kali bercermin dan memperbaiki tampilannya agar terlihat memesona, baru wanita itu bergegas keluar dari kamarnya, menuju lift.
Mau kemana kah Delia?
Ting ...
Pintu lift sudah terbuka di lantai 4, saat wanita itu keluar dari lift, dia sempat celingak celingukan ke arah ke kanan lalu ke kiri. Aman ... lorong kamar tampak tak ada seorang pun, barulah wanita itu mencari kamar nomor 410.
“Hai ...,” sapa Rian ketika membukakan pintu kamarnya saat terdengar bunyi bel, lalu menarik lengan wanita yang sudah berdiri di depan kamar yang ditempatinya.
Rian menatap wanita yang sudah dipeluknya dengan tatapan mesumnya. “Seksi sekali kamu, bikin aku terangsang saja,” bisik Rian, tanpa menunggu jawaban dari Delia, pria itu langsung melahap bibir wanita itu dengan rakusnya, lalu mengendong wanita itu bagaikan baby koala, tanpa melepas pagutannya pria itu membawanya ke atas ranjang kemudian merebahkannya.
Delia yang sudah terangsang dengan sentuhan Rian, merangkul erat tengkuk pria itu dan membalas pagutan temannya itu penuh gairah yang menggebu-gebu. Sentuhan yang selama ini tak pernah dia dapatkan dari Rafael, kembali dia dapatkan melalui teman kuliahnya dulu walau kehebatannya tidak sehebat Rafael.
Kamar 410 sudah dipenuhi oleh suara erangan dan ******* dari pasangan tidak halal, mencari kepuasan hasrat birahinya masing-masing.
“Rian, kamu benar-benar nekat pakai menginap di hotel yang sama!” tegur Delia, ketika mereka sudah selesai sesi pertamanya.
“Kamu takut ketahuan! Lagi pula tunangan kamu juga tidak mengenalku kok. Jadi tidak perlu khawatir,” balas Rian, sambil mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.
“Iya sih dia memang tidak mengenal kamu, tapi kan dia tahu aku. Kalau tiba-tiba dia mengikuti aku bagaimana?”
“Ya kamu dong yang pintar-pintar cari akal buat menemuiku tanpa sepengetahuan tunanganmu, lagi pula katanya kamu kangen sama aku. Dan selama ini kita’kan main aman, Delia.”
Delia merebahkan kepalanya di atas dada Rian, lalu mengusap nya dengan lembut. “Delia, tunangan kamu gak pernah curigakan kalau waktu dulu berhubungan intim sama kamu sudah tidak perawan lagi?” tiba-tiba saja Rian kepikiran ke sana, sehubungan Rian lah yang mengambil keperawanan Delia saat mereka masih kuliah dan atas dasar mau sama mau tidak ada paksaan.
“Tenang saja kalau masalah itu, memangnya kamu tidak ingat kalau aku sempat operasi selaput dara di anterin sama Nining ketika aku bertekad ingin menaklukan pemilik perusahaan Bara, kalau aku gak sempat operasi selaput ... wah mana mungkin Pak Rafael mau mengikatku, dia harus bertanggungjawab dong,” balas Delia tersenyum jahat.
“Tapi belum dinikahi juga ya sampai sekarang!” celetuk Rian, agak mengejek teman ranjangnya itu. "Dan semoga aja rahasia kamu aman dijaga sama sih Nining," lanjut kata Rian.
Masalah belum dinikahi oleh Rafael sebenarnya menjadi beban pikiran Delia saat ini, apalagi setelah habis kejadian heboh di lobby tadi pagi. “Udah aah jangan dibicarakan dulu, aku lagi pusing ... makanya aku minta kamu datang ke sini,” balas Delia yang hasratnya kembali naik karena tubuhnya yang tak mengenakan sehelai kain masih menempel dengan tubuh polos Rian. Tangan wanita itu mulai nakal meraba benda pusaka Rian, dan kembali memainkannya agar kembali berdiri tegak. Pria mana yang tak menolak kalau diajak main, apalagi tidak mengeluarkan uang, cukup saling memuaskan saja. Friend With Benefit, julukan yang pantas buat mereka berdua.
Begitu pintarnya Delia menyembunyikan hubungannya dengan Rian selama ini, karena sebagai sekretaris dia tahu jadwal Rafael, dan dia memanfaatkan waktu sibuk pria itu untuk bertemu dengan Rian hanya untuk sekedar mencari kesenangan atau melampiaskan yang tak dia dapatkan dari Rafael.
...----------------...
Jika di hotel, Delia sedang berbagi peluh dengan Rian. Berbeda hal dengan keadaan Rafael yang masih berada di rumah Ayasha, dan pria itu masih tertunduk dalam posisi berdirinya.
“Wanita jika tidak memiliki kehormatan, dia mampu menyerahkan dirinya kepada seorang pria demi mewujudkan mimpinya bukan hanya sekedar mengatas namakan cinta. Aku tahu kalian berdua adalah orang dewasa yang saling membutuhkan ketika umurku masih terbilang muda, jadi apalagi yang harus Pak Rafael jelaskan padaku ... semuanya sudah terjadi. Sekarang pulanglah, tidak perlu berlama-lama disini.” Kenangan masa lalu akhirnya muncul kembali di ingatan masing-masing.
Banyak pria menyesal telah meninggalkan seseorang yang terbaik hanya demi wanita yang menarik padahal semestinya dia ingat, seharusnya hatimu lebih jeli dari pada matamu. Inikah yang dirasakan oleh Rafael?
Setiap perkataan Ayasha bagaikan belati yang menikam hatinya berulang kali. Kedua tangan Rafael memegang kedua pahanya, kemudian tiba-tiba menjatuhkan dirinya di hadapan Ayasha. Kini pria itu bersimpuh dan menundukkan kepalanya, membuat Ayasha terlonjak kaget.
“Aku sangat menyesal, Ayasha. Aku sangat bodoh,” ucap Rafael begitu lirihnya.
Ayasha bergeming ...
Dalam beberapa menit suasana di ruang tamu terasa hening, tak ada satupun yang berbicara.
Setelahnya pria itu mendongakkan wajahnya lalu menatap sendu wajah Ayasha. “Aku benar-benar menyesal, sejak dulu aku memohon maaf darimu Ayasha. Aku menyadarinya jika aku telah banyak membuatmu terluka, hingga hari ini pun hatimu pasti terluka kembali,” kata Rafael, entah kenapa kedua netra pria itu mulai berembun, hatinya pun sedang menahan sesak yang terasa membuncah.
Kepala Ayasha agak menunduk, lalu menatap pria yang kini bersimpuh dihadapannya untuk pertama kalinya. Ada sedikit rasa kasihan melihat wajah Rafael yang begitu memelas, namun apa daya pria itu sudah terlalu banyak menorehkan lukanya begitu dalam.
Rafael selama hidupnya belum pernah merendahkan dirinya kepada siapapun, ini untuk pertama kalinya dia menjatuhkan harga dirinya di hadapan gadis itu, membuang segala kedudukan yang dimilikinya. Dia tampak bagaikan pria yang tak memiliki kekuatan apapun, hanya seorang pria yang meminta belas kasihan dari gadis yang pernah dia sia-siakan.
“Bangunlah Pak Rafael, jangan bersimpuh seperti ini,” pinta Ayasha. Rafael hanya menggelengkan kepalanya, menolak permintaan gadis itu.
Terpaksa gadis itu pun menyejajarkan dirinya dihadapan Rafael. “Lima tahun sudah berlalu Pak Rafael, tentang memaafkan ... aku sudah memaafkan Pak Rafael dari dulu dengan caraku sendiri. Aku membawa hatiku yang terluka ke Jogja dan berharap dengan seiringnya waktu akan bisa terobati ... aku membuka lembaran baru dan buktinya mampu melupakan semuanya. Kisah kita hanyalah masa lalu, aku sudah mengikhlaskan semuanya jika kita memang tidak berjodoh.”
Buliran bening keluar dari ujung ekor matanya tanpa seizin pemiliknya, jatuh membasahi pipi Rafael. Ayasha mengusap pipi Rafael begitu lembutnya, membuat hati pria itu berdesir. “Penyesalan memang selalu datang belakangan. Mari sekarang kita berdamai Pak Rafael ... Aku bahagia dengan caraku begitu dengan Pak Rafael, selama ini kita sudah punya kehidupan masing-masing, kembalilah ke jalan tersebut.”
Rafael menahan tangan Ayasha di pipinya kemudian menggelengkan kepalanya, lidahnya serasa keluh ketika ingin membalas perkataan gadis itu. “Aku telah memaafkanmu Pak Rafael," ucap Ayasha begitu lembutnya hingga pria itu tak sanggup mendengarnya.
Rafael kembali menggelengkan kepalanya, kalimat memaafkan dari Ayasha bagaikan kalimat perpisahan buat dirinya. Pria itu menarik tangan Ayasha yang masih ditahannya di pipinya, kemudian mengecup telapak tangan gadis itu.
“A-aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu Aya, a-aku menyesal ... a-aku benar-benar minta maaf,” ucapnya lirih sembari menahan dirinya sendiri agar tak menangis. Rafael kembali mengecup telapak tangan Ayasha, dan gadis itu membiarkannya untuk sementara.
bersambung ...