
Lobby Hotel Inna Garuda
Beberapa karyawan hotel disela-selanya bekerja, ternyata terselip perbincangan yang hangat di antara mereka, apalagi yang mereka perbincangkan kalau bukan tentang kejadian semalam yang begitu menggemparkan.
Lena yang kebetulan sedang mengambil berkas di bagian resepsionis jadi bengong sendiri, setelah diceritakan oleh Reni dan Sri yang sebagai salah satu saksi mata menyaksikan secara langsung.
Pikir Lena hanya kejadian kemarin pagi saja yang menggemparkan hotel, ternyata ada kisah bersambung di malam hari.
“Ini loh Lena, biar kamu percaya kejadian semalam,” kata Reni menunjukkan video yang telah beredar. Membulatlah kedua netra Lena melihat perkelahian Ayasha dengan Delia. “Ya ampun ini benaran Ayasha kah!”
“Benaran Lena, ternyata Mbak Ayasha itu sebenarnya jago bela diri. Kita aja yang lihat gak nyangka,” timpal Sri.
“Tapi sayangnya setelah selesai, Mbak Ayasha pingsan dan sekarang ada di kamar Pak Rafael dari semalam,” sahut Reni.
“HAH ... Pingsan jadi Ayasha ada dilantai lima sama Pak Rafael?” terkejut Lena.
Reni dan Sri menganggukkan kepalanya dengan serempak. “Wah bahaya ini, kasihan Ayasha,” kata Lena.
Rena dan Sri kembali menganggukkan kepalanya bersamaan. “Pantas saja dari tadi pagi saya telepon tidak diterima, kalau begitu saya mau menjenguknya terlebih dahulu,” lanjut kata Lena.
“Len, saya mau ikutan jenguk ya,” pinta Reni.
“Ya sudah nanti kita jenguk pas jam makan siang aja, sekarang kayaknya kita lagi banyak tamu,” balas Lena.
“Baik Lena.”
Lena mengembalikan ponsel milik Reni setelah menuntaskan melihat videonya, kemudian lanjut memeriksa berkas-berkas yang akan dibawanya ke ruangannya.
“Permisi selamat siang,” suara bariton terdengar menyapa mereka yang ada di bagian resepsionis.
Reni, Sri dan Lena berbarengan menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Selamat siang Pak, selamat datang di Hotel Inna Garuda, ada yang bisa saya bantu,” ucap Reni, khas menyambut tamu hotel yang datang.
“Selamat siang Pak Darial,” sambung Lena yang mengenali tamu tersebut.
“Saya ingin bertemu dengan Ayasha, dia ada di kantorkan?” tanya pria bule tersebut.
Reni beserta Sri sama-sama melirik ke arah Lena, seakan minta jawaban dari Lena. Darial terlihat bersabar menunggu jawaban dari mereka bertiga.
“Begini Pak Darial kebetulan sekali Ayasha tidak ada di kantor karena sakit dari semalam.”
“S-sakit, sakit apa ya? Soalnya saya semalam bertemu dengan Ayasha masih terlihat sehat,” tanya Darial, raut wajahnya mulai terlihat cemas.
“Saya juga belum tahu sakit apa Pak Darial, karena belum menjenguknya,” jawab Lena apa adanya.
“Pantas saja dari pagi saya telepon tidak diterima malah ditolak. Kalau begitu terima kasih atas info, sebaiknya saya ke rumahnya saja.”
Serempak Lena, Reni dan Sri saling bersitatap lalu kembali menatap pria tampan itu. Lena sudah tahu jika Darial dan Ayasha sedang pendekatan, tapi tak menyangka sudah sampai mendatangi rumah Ayasha, sedangkan Reni dan Sri hanya gosip sekilas saja karena tempo hari Darial pernah menjemputnya.
Pria itu memutar balik badannya, ingn meninggalkan bagian resepsionis. “Sebentar Pak Darial.” Lena menahan pria itu agar tidak pergi begitu saja.
Darial kembali menoleh. “Kalau ingin menjenguk Ayasha, kebetulan dia tidak ada di rumah,” kata Lena.
Makin cemaslah Darial mendengar Ayasha tidak ada di rumahnya. “Dirawatkah? Rumah sakit mana? tolong kasih tahu saya?” cecar Darial.
Darial kembali mendekati meja resepsionis. “Di hotel ini dari semalam?” Kenapa aku tidak tahu.
Sri dan Reni menganggukkan pelan kepalanya. “Menginap di kamar nomor berapa? Bisa saya menjenguknya?” tanya Darial dengan tatapan memohonnya.
“Kebetulan saya akan menemuinya, mungkin Pak Darial bisa bersama saya untuk ke sana,” jawab Lena.
“Bisa sekarang ke sananya?” tanya Darial tak sabaran ingin berjumpa dengan Ayasha, apalagi mendengar pujaan hatinya sedang sakit.
“Bisa Pak Darial ditunggu sebentar,” jawab Lena bergegas merapikan berkas yang dipegang nya, lalu menitipkan kembali kepada Sri. “Maaf ya Reni, saya antar Pak Darial nya dulu,” kata Lena sedikit pelan agar tak terdengar oleh Darial.
“Iya gak pa-pa Lena.”
Lena keluar dari bagian resepsionis kemudian bersama Darial, sama-sama ke lantai lima untuk menjenguk Ayasha.
...----------------...
Kamar 515
Ting Tong
Lena memencet bel kamar yang di tempati oleh Pak Rafael, sebenarnya Lena memberanikan diri bilang jujur kepada Darial tentang keberadaan Ayasha, padahal bisa saja dia berkata bohong. Namun mengingat kata Reni, Ayasha berada di kamar Rafael. Lena ambil tindakan memberanikan diri untuk memperlihatkan kepada pria yang pernah menyakiti Ayasha, bahwasanya jika Ayasha memiliki pria lain yang lebih baik menurut Lena walau sebenarnya belum mengenal Darial.
Amelia membukakan pintu kamar tersebut, ternyata lumayan membuat Lena terkejut tak menyangka, pikirnya Rafael yang akan membukakan pintu.
Berarti Pak Rafael dan Ayasha tidak berduaan dari semalam? Batin Lena bertanya-tanya.
“Amel,” sapa Lena yang sudah mengenalinya.
“Lena, mau ketemu sama Aya ya ... masuk yuk,” ajak Amelia namun belum melihat pria yang ada di samping Lena, sembari membuka pintu lebar-lebar
“Ayasha nya ada di dalam?” tanya Lena sebelum masuk. “Iya sedang istirahat, “ jawabnya. “Eh ... Maaf ini siapa ya Lena?” tanya Amelia baru engeh ada sosok pria bule ini dengan tatapan menyelidik.
“Ah ... aku hampir lupa kasih tahu, ini Pak Darial klien hotel kami ingin menjenguk Ayasha, bolehkan?” tanya Lena.
Amelia mengernyitkan dahinya seakan sedang mengingat sesuatu. Sepertinya aku pernah mendengar namanya, apa jangan-jangan pria yang sedang mendekati Ayasha ya.
“Oh ... silakan masuk kalau begitu. “ Amelia mempersilahkan Darial untuk turut masuk ke dalam.
Amelia mengantar Lena dan Darial ke kamar yang di tempati oleh Ayasha.
“Ayasha, ada yang ingin menjenguk,” kata Amelia yang baru saja masuk ke dalam kamar. Mama Rara yang sedang mengobrol dengan Ayasha menghentikan obrolan mereka kemudian menatap orang yang telah berdiri diri diambang pintu kamar.
“Lena ...”
“Kak Darial.”
Mama Rara tak berkedip dan terhenyak menatap sosok pria bule itu, pria yang sedang menatap Ayasha penuh damba. Lalu entah kenapa tiba-tiba mama Rara tertunduk dan merasa sedih.
bersambung ...