FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Memberitahukan kebenaran yang lain



Jakarta


Mansion Stevan


Bukan hal yang mudah memutuskan untuk jauh dari gadis yang dia cintai, dan bukan hal yang mudah pula dia harus melepaskan keinginannya untuk menjalin kasihnya kembali.


Namun mengingat segala kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat olehnya rasanya dia tak pantas untuk bersanding dan mengharapkan cintanya terbalas dari Ayasha. Hari demi hari pun berlalu dengan hati yang hampa, seakan tak ada penghuninya.


Rafael melipat sajadahnya setelah selesai menunaikan ibadah sholat dzuhur nya lalu dia kembali merebahkan dirinya lalu bersandar di head board ranjangnya. Semenjak dia kembali dari Jogjakarta, pria itu kembali tinggal di mansion keluarganya, tidak tinggal di apartemennya.


TOK ... TOK ... TOK


“Rafael, boleh Mama masuk?” tanya mam Rara dibalik pintu.


“Masuk saja Mah, pintunya tidak dikunci,” sahutnya dari dalam.


Mama Rara dan Satya masuk ke kamar Rafael. “Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu, Nak,” ucap mama Rara, sembari duduk di sofa, Rafael pun beranjak dari ranjangnya, dan menghampiri kedua orang tersebut.


“Ada apa Mah?”


“Sebenarnya Mama sementara tidak ingin membicarakan ini, namun karena ini menyangkut dirimu sendiri dan demi kebaikanmu. Mama harus mengatakan kebenaran ini, lebih cepat kamu mengetahuinya maka lebih cepat terselesaikan,” kata mama Rara. Rafael menunjukkan wajah rasa ingin tahunya.


Satya mengeluarkan ponsel milik Delia yang dia pinta dari Amelia.


“Ini menyangkut Delia, Pak Rafael harus tahu tentang ini mohon di simak sejenak,” sambung Satya, kemudian pria itu memplay rekaman pembicaraan Amelia bersama Bu Laras tempo hari.


Rafael tampak serius mendengar rekaman tersebut, namun semakin lama pria itu mengepalkan kedua tangannya yang masih diperban itu. Kebenaran apalagi yang selama ini dia tak tahu, hatinya benar-benar geram! Otaknya kembali seperti kaset, memutar ulang setiap kejadian yang dia lalui, serta kembali merasakan perasaan yang suka mengganjal selama ini. Kenapa dia begitu menurut terhadap Delia! Kenapa dia selalu ingin dekat dengan Delia, tak ingin jauh! Namun hatinya hampa!


“ARGH!” teriak geram Rafael sambil mengusak rambutnya sendiri, frustasi. Pelet ... Pelet ... Pelet, satu kata terekam di otak Rafael.


“Inilah yang selama ini Delia lakukan terhadapmu, dia menaklukkan dirimu melalui pelet, makanya kamu bisa memilihnya ketimbang Ayasha, tapi jika dari dulu kamu tak jauh dari Allah, mungkin kamu selama ini tidak akan bodoh dan manut dengan mantan sekretarismu itu,” tukas mama Rara.


“Sebelum kejadian besar di hotel, Delia juga masih meminta ibunya untuk pergi ke dukun,” sambung Satya.


Rafael menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, suara napas beratnya sangat terdengar, dan entah untuk ke sekian kalinya dia menyugar rambutnya lalu menariknya, bukti sudah ada di depan matanya, bukan hanya omong kosong belaka. Jadi apa yang pernah di ucapkan oleh anak kecil bernama Larissa itu memang betul adanya, nenek berwajah seram berada di belakang Delia.


“Rafael, kamu harus kembali waras Nak, sekarang kita sama-sama membersihkan dirimu agar terbebas  dari segala ilmu sihir yang di tuju pada dirimu, nanti sore akan ada Pak Ustadz yang akan membantu kamu untuk di ruqyah. Kamu bersediakan, ini untuk kebaikan dirimu,” pinta mama Rara.


Tatapan Rafael kembali sendu,“Iya Mah, aku bersedia,” jawab Rafael begitu lirihnya.


Ternyata tidak sulit memberitahukan masalah guna-guna kepada Rafael, tidak ada sanggahan seperti tempo hari saat berbincang dengan Satya, karena kali ini ada bukti untuk dirinya lebih yakin tentang hal kasat mata itu. Ya tipe Rafael memang butuh bukti, tipe yang tidak langsung percaya begitu saja.


“Baiklah kalau begitu Mama tinggal dulu ke dapur soalnya adik kamu bersama suami dan anaknya akan datang. Kamu sudah lamakan tidak bertemu dengannya,” kata mama Rara.


“Valerie yang tinggal di Jerman, Mam?”


“Iya, Valerie... sebenarnya dari bulan lalu sudah datang ke Indonesia, tapi suaminya mengajak adikmu liburan dulu keliling daerah. Jadi baru sempat hari ini mereka berkunjung ke sini.”


Rafael hanya manggut-manggut, selepas itu mama Rara meninggal Rafael bersama asistennya.


“Pak Rafael, kira-kira kapan akan kembali bekerja di perusahaan?” tanya Satya.


“Seminggu ini saya ingin menenangkan diri dulu. Permintaan saya sudah kamu kerjakan?”


“Sudah Pak, saya sudah konfirmasi ke sana, kemungkinan hari ini mereka menemui Ayasha.”


Rafael kembali terdiam, wajah Ayasha kembali hadir di pelupuk matanya.


Rindu, hatinya sangat rindu ketika melihat potret Ayasha, kedua netra pria itu mulai berkaca-kaca.


“Dia kelihatan bahagia,” gumam Rafael sendiri, Satya tak berani menimpali, karena saat ini sangat sensitif perasaan Rafael jika menyangkut Ayasha.


“Kirim fotonya ke saya,” pinta Rafael saat mengembalikan ponsel Satya.


“Baik Pak.”


Kembali ke Jakarta setelah beberapa hari berlalu, bukan berarti Satya tidak berhubungan dengan Amelia, justru mereka berdua semakin intens berkomunikasi walau masih dalam hubungan tahap pendekatan. Sesekali Satya bercerita tentang keadaan bosnya yang sudah banyak berubah begitu juga sebaliknya Amelia terkadang menceritakan keadaan Ayasha. Dan tak sungkan Satya minta dipotretkan aktivitas gadis itu untuk obat rindu bosnya, dan ternyata memang benar adanya.


Mulut mungkin tidak disampaikan pada Satya, namun kedua netra Rafael menyiratkan rasa kerinduan itu, yang hanya bisa dipendamnya seorang diri.


...----------------...


Kini Rafael kembali sendiri di kamarnya, tiba-tiba saja pria itu tertawa sendiri namun mengeluarkan air mata saat menatap foto Ayasha di ponselnya.


“Ternyata selama ini aku telah diguna-guna Ayasha, lucu ya! Aku seorang CEO, pemilik perusahaan tapi kena pelet oleh sekretaris ku sendiri,” gumam Rafael sendiri, bibirnya tersenyum pilu.


“Andaikan aku tak lalai dalam beribadah, hidup seimbang antara dunia dan akhirat mungkin hidupku terselamatkan dari hal-hal yang buruk, Aya. Mungkin juga kamu ada di sisiku saat ini, dengan buah hati kita.” Pria itu memejamkan kedua netra, lalu menengadahkan kepalanya ke atas, agar air matanya tak kembali jatuh.


Ya itulah penyesalan yang selalu datang paling akhir, andaikan penyesalan datang di awal dan bisa mendaftar duluan maka tidak akan pernah tahu rasanya terluka, maka dari itu rasa bahagia yang menghampiri kita walau sesaat, nikmatilah dan hargailah kebahagiaan itu.


Valerie adik Rafael yang menikah dengan pria kewarganegaraan Jerman sudah tiba di mansion, Satya pun kembali ke kamar Rafael memberitahukan kedatangannya untuk menyambut.


Ruang keluarga terdengar ramai sekali dengan celotehan anak-anak, Rafael pun bergegas untuk menghampiri kedua orang tuanya serta adiknya, tapi ada yang terjadi. Kedua netra Rafael tercengang melihat seorang gadis kecil berambut coklat muda mirip Ayasha kecil melambaikan tangan lalu tersenyum hangat.


“Anak itu!” seru Rafael sendiri.


“Hai ... Om ganteng,” sapa gadis itu dari jauh.


Mereka yang berada di ruang keluarga langsung menoleh ke belakang dan menatap Rafael yang masih berdiri dengan wajah terkejutnya.


“Ya Allah, kakakku yang ganteng sudah semakin tua,” seru Valerie langsung menyambut Rafael, kemudian memeluk kakaknya, hampir 7 tahun mereka tidak bertemu.


Rafael masih dalam keterkejutan namun membalas pelukan adiknya, pelukan hangat, pelukan rindu antar saudara kandung.


“Larissa ... ke sini, kenalan sama Uncle ganteng ini,” pinta Valerie, saat mengurai pelukannya.


Jika Rafael masih terkejut, berbeda dengan Larissa ... gadis itu tersenyum manis pada Unclenya.


 bersambung ....


Masih ingat dengan Larissa kan???


Kira-kira Larissa mau bilang apa ya sama Uncle nya