FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Bangunnya singa betina



Pertarungan antara Satya dengan Rian ternyata semakin sengit, Rian yang membabi buta karena cemburu sedangkan Satya seperti sedang melampiaskan kekecewaannya atas nama pengkhianatan.


Amelia kelihatan bingung dengan apa yang terjadi, kenapa semakin parah perkelahiannya.


“Pak security jangan diam aja, dipisahin dong,” pinta Amelia agak cemas, namun dia juga bingung siapa yang dia cemaskan.


Untung saja beberapa petugas security berada di sana, dan segera mengambil tindakan untuk memisahkan Satya dan Rian.


Wajah Rian sudah mulai kelihatan bengkak berkat tangan Satya, begitu pula dengan sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah. Sedangkan wajah Satya tidak terlalu parah, namun tetap ada salah matanya yang mulai kelihatan memar karena tonjokan Rian serta salah satu sudut bibirnya juga terluka.


Kedua pria itu terlihat napasnya naik turun ketika dipisahkan oleh beberapa petugas security. Amelia terlihat ngilu melihat wajah kedua pria itu.


“Berani sekali kamu memeluk calon istriku!” teriak Rian seperti orang yang cemburu ketika tubuhnya di tahan oleh beberapa orang petugas security.


Dengan sudut bibir yang terluka, Satya menyunggingkan senyum miringnya. “Ck ... dasar pria brengsek, kamu bilang calon istri tapi kamu sendiri main dengan wanita lain. Apa pantas calon suami seperti itu!” sentak Satya masih terlihat geram, namun tidak bisa menghajarnya kembali karena kedua lengannya turut ditahan oleh petugas security.


“Ada apa ini!” seru pria yang baru saja menghampiri mereka berdua, dan menyapu kerumunan orang agar dia bisa melihatnya.


Dua puluh menit yang lalu Rafael dapat panggilan telepon dari resepsionis memberitahukan jika ada huru hara di lobby yang melibatkan tunangannya, Delia. Sebenarnya saat mendengar ada nama Delia, Rafael enggan untuk turun ke bawah ditambah tubuhnya sedang tidak enak, namun karena ini adalah hotel miliknya, dan sudah bisa dipastikan hal tersebut pasti mengganggu kenyamanan para tamu maka dari itu dia bergegas ke lobby untuk menyelesaikannya.


Sedari tadi Reni dan Sri tidak tinggal diam saja, di saat perkelahian antara Satya dengan Rian, mereka berdua menahan Delia yang ingin meninggalkan lobby, karena melihat owner hotelnya belum turun ke bawah.


Tatapan Rafael langsung memindai semua orang yang terlihat kegaduhan di lobby. Pria itu menghembuskan napas berat disaat kedua netranya menangkap asistennya sudah babak belur dan salah satu pria yang tidak dikenalnya juga lebih parah wajahnya.


“Kamu!” Rafael agak terkejut melihat kehadiran Amelia yang ada di hotelnya.


“Halo Om Rafael, kita bertemu kembali,” seru Amelia sambil melambaikan tangannya, dan mengulas senyum miringnya.


Delia terlihat agak menyembunyikan dirinya di balik punggung Reni dan Sri. Sedangkan Rian jangan di tanya lagi, pria itu sedang mengatur napasnya dan menyentak tangannya agar terlepas dari petugas yang berseragam safari itu.


Amelia dengan beraninya mendekati Rafael. “Sorry Om Rafael, aku yang telah membuat kegaduhan di sini! Kegaduhan yang di sengaja karena istri Om sendiri!” ucap tegas Amelia, telunjuknya mengarah ke wajah Delia.


Rafael mengerutkan keningnya, agak bingung ada masalah apa dengan Delia dan Amelia.


“Jika dulu Ayasha tidak marah, tidak emosi ketika memergoki hubungan Om Rafael dengan sekretaris Om yang sok cantik, yang sok seksi itu! Maka berbeda denganku, malam ini aku memergoki pria yang beberapa menit lalu masih menjadi calon suamiku, ternyata sudah bermain gila sama istri Om!” kata Amelia, suaranya begitu lantang.


Kedua netra Rafael membulat seketika, tatapannya langsung mengarah ke Delia yang penampilannya terlihat kacau. Kedua tangannya terkepal, rahang yang menunjukkan wajah tegasnya mulai mengetat.


“Pria itu mantan calon suamiku, yang ternyata sudah berselingkuh dengan istri Om, Delia!” sentak Amelia, suaranya naik tiga oktaf.


Kedua lutut Delia mulai gemetar namun dia menahannya agar masih kuat menopang dirinya untuk berdiri. “Bohong Mas Rafael, wanita itu asal main tuduh saja. Aku tidak ada hubungan dengan pria itu, sumpah Mas ... aku selalu setia dengan Mas Rafael,” sanggah Delia, kepalanya terus menggeleng-geleng. Jangan berharap Delia akan mengakuinya, wanita itu akan tetap berkelit.


Delia melangkah maju kemudian mendekati Rafael, lalu memegang lengan Rafael. “Jangan percaya dengan wanita gila itu Mas, aku hanya bicara dengan calon suaminya saja, tidak melakukan apapun. Demi Allah ... aku tidak berbohong, lagi pula tidak ada buktinya aku melakukan yang dituduhnya itu,” sanggah Delia masih mencoba meyakinkan tunangannya.


Rafael menyentak tangan Delia agar terlepas dari genggaman wanita itu, tatapannya juga sudah terlihat sangat marah dan kecewa.


Ya Allah ada apa lagi ini ... batin Rafael.


Kamu tadi waktu masuk ke kamar tidak ketemu dengan calon istriku kan?


Gak ada, waktu aku masuk ke kamar tidak ada siapa-siapa. Memangnya kamu ajak dia ke sini, wah jangan-jangan kamu mau ajak main di ranjang ya. Memang kamu kurang puas apa ... habis main tiga ronde barusan denganku.


Suara dari rekaman video yang diambil oleh Amelia, terdengar sejelas-jelasnya. Gadis itu tersenyum jahat sembari memegang ponsel milik Delia.


"Hey Mbak, hanya bilang bicara saja ... bicara kok bawa ranjang ya! Di hotel pasti ada CCTV dong, bisa lihat kapan Mbak masuk ke kamar nomor 410!" tegur Amelia.


Tubuh Delia mulailah panas dingin, rupanya benaran ada bukti ditangan Amelia, dan dia sepertinya lupa kalau setiap sudut hotel dan lorong terpasang CCTV, jadi bisa melacak keberadaannya.


Suasana di lobby semakin mencekam, hingga mereka tidak menyadari jika ada sosok gadis di antara mereka yang hanya mengenakan celana jeans di padu dengan kemeja lengan pendek berwarna hitam, kemudian rambut yang biasa tergerai indah, kini hanya di gulung ke atas, namun tetap saja semakin cantik. Sejenak gadis itu merenggangkan kedua otot tangannya, hatinya sedari tadi sudah panas mendengar percakapan Amelia, lalu Delia.


“DASAR PELAKOR!” teriak Ayasha memecah kerumunan orang-orang, gadis itu melangkah dengan derapan yang anggun namun tegas. Sorot matanya juga terlihat tajam namun dingin, kedatangan Ayasha seperti membawa hawa dingin yang menyelimutinya.


Reni dan Sri tergidik melihat ekspresi wakil manajernya lalu memberi ruang untuk Ayasha, seakan tahu siapa yang ditujunya.


PLAK!


PLAK!


“DASAR JA LANG GAK PUNYA OTAK MASIH KURANG ANDA MENGHANCURKAN HUBUNGAN KU! SEKARANG ANDA MENGHANCURKAN HUBUNGAN TEMANKU!” teriak Ayasha pas di wajah Delia.


SRET!


Tidak ada ampun untuk Delia, kuku Ayasha yang terawat mencakar wajah mulus Delia hingga mengeluarkan noda darah di pipi Delia, sungguh wanita itu terkesiap dibuatnya, begitu juga dengan Rafael. Sedangkan Amelia tersenyum lebar, akhirnya bisa melihat sisi Ayasha yang berbeda, Ayasha yang selalu baik dengan semua orang sekarang bagaikan singa betina.


“Berani sekali kamu, Ayasha!” jerit Delia, tidak terima wajahnya dicakar. Wanita itu dengan cepatnya berlindung diri dibalik punggung Rafael.


“Ini belum seberapa Mbak Delia, bagaimana kalau ditambah ini—“ Ayasha tampak semakin mendekat, dan mengacuhkan tatapan Rafael yang benar-benar tercengang dengan rupa Ayasha kali ini.


“MINGGIR!” bentak Ayasha terlihat murka, karena melihat Rafael masih menutupi Delia. Namun Rafael bergeming, mau tidak mau gadis itu mengambil ancang-ancang karena sudah terbawa emosi.


BUGH!


“AAUUWW!” Pria itu langsung jatuh tersungkur dilantai sembari kedua tangannya menyentuh benda pusakanya. Sakit kena tendangan maut dari Ayasha yang tak terkira.


Satya dan Amelia sama sama menahan rasa ingin tertawanya melihat keadaan Rafael, tapi ikutan ngilu juga.


bersambung .....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, makasih sebelumnya.