
Acara lamaran Satya dan Amelia yang diadakan di rumah pihak wanita berjalan dengan lancar, tanggal pernikahan mereka pun telah ditentukan oleh kedua keluarga tersebut, perkiraan sebulan lagi akan dilangsungkan pernikahannya.
Ayasha memeluk erat Amelia yang sangat cantik dihari istimewa nya, tubuhnya dibaluti dengan kebaya modern berwarna pink muda, kain jariknya motifnya sama dengan baju batik yang dikenakan oleh Satya, kemudian rambutnya di sanggul modern, sempurna sekali penampilan Amelia sampai Satya terhenyak melihat calon istrinya.
“Semoga lancar sampai hari H nya ya Amel, akhirnya kita akan benar-benar jadi saudara bukan hanya sekedar sahabat saja,” ungkap Ayasha penuh kebahagiaan. Kedua netra Amelia masih berbinar-binar dengan kebahagiaan di hari Jumat ini saat menatap sahabatnya.
“Gue masih gak nyangka bakal melalui hari ini,” jawab Amelia.
Ayasha mengulas senyum tipisnya, lalu mengusap lengan Amelia. “Gue aja gak menyangka kalau bakal nikah sama Om Rafael. Hal yang tak mungkin ternyata menjadi mungkin. Itulah jodoh, gue malah gak nyangka jodoh lo malah sama asprinya suami gue,” balas Ayasha. Mereka berdua pun jadi tertawa jika mengingatnya kembali, ternyata dunia ini memang benar-benar sempit, jika sudah dari lahir jodohnya orang itu juga, pasti akan kembali ke siempunya nya.
Amelia juga tidak menyangka jika calon suaminya rupanya OM OM juga alias umur nya terpaut jauh, namun pria itu juga lah yang mampu membuatnya jatuh cinta yang sesungguhnya, apalagi Satya memiliki paras yang tampan.
Lena yang membawa piring yang berisi kue-kue, menghampiri mereka bertiga dan menawarkan kue tersebut kepada kedua temannya. “Len, gimana betah gak tinggal di Jakarta, gak kangen Jogja kan?” tanya Ayasha, tangannya mengambil salah satu kue dari piring yang dibawa Lena.
Semenjak Ayasha kembali ke Jakarta, dan Lena juga masih berada di Jakarta, wanita itu menawarkan rekan kerjanya untuk bekerja di Jakarta sebagai sekretarisnya di perusahaan Bara sama seperti Amelia yang sekarang menjadi asisten pribadi Ayasha. Rupanya Lena menerima tawaran Ayasha, dan sudah hampir dua bulan sudah tinggal di Jakarta. Untung saja ada Amelia yang membantu Lena mencari rumah kontrakan dekat kantor, jadi dia merasa tidak terlalu sulit dalam beradaptasi tinggal di daerah barunya.
“Aman Bu Bos, aku sangat nyaman tinggal di Jakarta, apalagi gajinya lebih besar daripada yang di Jogja,” jawab Lena sembari tersenyum lebar. Secara nalar UMR Jakarta dan Jogja jelas jauh berbeda.
Ayasha ikutan tersenyum. “Kalau gak dikasih gaji besar, berarti nolak dong tempo hari?” tanya Ayasha kembali.
“Ya gak begitu jugalah Ayasha, lagi pula yang menawarkan istrinya CEO plus pemilik masa kesempatan itu aku tolak, dan itu kesempatan emas untuk berkarir di kantor pusat,” balas Lena tersenyum lebar, kesempatan itu tidak datang dua kali.
Ayasha mengacungkan jempolnya pada Lena. “Habis acara Amelia, kita tunggu ngiliran acaranya Lena nih,” lanjut kata Ayasha.
“Cie ... cie dengar-dengar tiap hari ada yang telepon, tapi sayangnya orangnya masih dalam pemulihan, jadi belum aktif kerja,” goda Amelia pada Lena dengan menyenggol bahu wanita itu.
Ayasha menaikkan kedua alisnya. “Siapa Mel, yang suka telepon Lena. Kok gue gak tahu ya?” tanya Ayasha, sembari melirik Lena yang wajahnya sudah terlihat tersipu malu-malu.
“Aduh Aya masa lo gak tahu, si Ibra itu loh,” celetuk Amelia gemes.
“Ooo ... Ibra,” membulat bibir Ayasha, kemudian ikutan menggoda Lena. “Semoga berjodoh ya Lena, jangan kayak si Elo, mantan kamu yang ono tuh,” ingat Ayasha.
“Aamiin doaiin aja, semoga aku sama dia cocok dan berjodoh,“ jawab Lena malu-malu.
...----------------...
Bogor.
Hari demi hari pun berlalu, dan kini Rafael ingin menyelesaikan masalah dengan orang tua Delia perihal masalah anaknya yang kini sudah berada di rumah sakit jiwa dan sudah dijatuhkan hukuman penjara 15 tahun, tapi berhubung Delia mengalami gangguan jiwa maka dikirim ke rumah sakit jiwa bukan di lapas yang ada di Jogja.
Rafael, Ayasha, Satya dan Amelia sekarang sudah berada di rumah orang tua Delia.
Pak Tony hanya bisa menundukkan kepalanya, sedangkan Bu Laras yang duduk di kursi roda dan memang tidak bisa kembali berbicara hanya bisa mengeluarkan air matanya.
Hati Pak Tony dan Bu Laras, hancur berkeping-keping setelah mendapat cerita dari Rafael, apalagi mereka melihat keadaan mantan tunangan anaknya duduk di kursi roda dengan salah satu kakinya digips, dan hal itu membuktikan jika itu perbuatan Delia.
Rafael pun juga tercengang melihat kondisi Bu Laras yang terkena stroke, tapi pria itu tidak berusaha bertanya kapan kejadiannya, dan apa penyebab nya, karena bukan urusannya lagi, tapi karena melihat kondisi Pak Tony yang kerjanya seadanya karena merawat istrinya seorang diri, Rafael berinisiatif meminta Satya untuk ke anjungan ATM yang terdekat dengan persetujuan istrinya.
“Sepertinya apa yang harus saya sampaikan ke Bapak dan Ibu sudah saya sampaikan, jika memang Bapak ini menjenguk Delia bisa langsung ke rumah sakit jiwa tersebut. Dan ini ada sedikit rezeki untuk Bapak dan Ibu dari saya bersama istri,” kata Rafael, sembari menaruh amplop panjang berwarna coklat ke atas meja.
“T-terima kasih, banyak Rafael,” jawab Pak Tony begitu pelan, pria paruh baya itu semenjak kedatangan Rafael sampai diceritakan keadaan Delia, pria paruh baya itu hanya bisa mendengarkan dan sesekali menarik napasnya dalam-dalam.
Sekarang mereka berempat meninggalkan rumah orang tua Delia, berkurang sudah beban yang ada di pundak Rafael, walau dia telah terlambat tidak memberitahukannya.
Tinggallah Pak Tony dan Bu Laras di ruang tamu, dan jatuh lah air mata Pak Tony, suara isak tangisnya terdengar. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa ku sebagai ayah yang tak pandai mendidik anak satu-satunya,” gumam Pak Tony dibalik isak tangisnya.
Bu Laras pun turut menangis dalam tak keberdayaannya, dan meratapi suaminya yang bertubi-tubi harus merasakan kegagalan sebagai kepala rumah tangga dan sebagai ayah.
Andaikan waktu bisa diulang kembali, aku benar-benar menyesal Ya Allah, batin Bu Laras, begitu menyesakkan.
Sudah divonis kanker rahim, kedua kakinya sudah diamputasi, belum lagi jadi narapidana ditambah mengalami gangguan jiwa, orang tua mana yang tidak hancur mendengar keadaan anaknya. Anak yang diharapkan bisa merawat mereka disaat usia senja, sekarang harapan itu sudah pupus.
Bersambung ...