FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Penjelasan Rian



Kamar 410


Dua pria saling duduk berhadapan, jika yang satu terlihat gelisah dalam duduknya, maka yang satu terlihat tenang. Satya yang berdiri di belakang Rafael duduk menyeringai tipis melihat wajah pria yang gelisah itu, penuh dengan luka lebam hasil kreasi dirinya semalam.


“Saya harap kamu berkata jujur dengan saya, tidak perlu berkilah lagi!” seru Rafael, sembari menyandarkan dirinya ke sandaran sofa singlenya.


“Apa yang ingin Anda tanyakan pada saya?” tanya Rian, berusaha tidak memperlihatkan rasa kegelisahannya.


Rafael memberikan kode untuk Satya, agar mengeluarkan ponsel miliknya lalu menunjukkan rekaman cctv kemarin, Rian hanya mengamati dari kejauhan saja, malas untuk melihatnya secara dekat.


“Apa hubunganmu dengan Delia, dan jangan coba menipu saya karena saya paham betul apa yang dilakukan oleh dua orang lawan jenis ketika berada begitu lama dikamar, lagi pula petugas kebersihan kamar ini juga sudah memberitahukan jika ada noda sper ma di seprai dan Amelia pun melihat ada tanda ****** dilehermu semalam,” ucap Rafael tegas, serta tatapannya yang menyelidik.


Hubungan rahasia antara Rian dan Delia yang sudah berjalan selama lima tahun sepertinya sudah tidak bisa dirahasiakan kembali. Sejak kemarin malam sudah terbongkar walau belum keseluruhannya.


“Sepertinya Anda sangat percaya sekali dengan ucapan Amelia, lagi pula tidak semuanya orang berduaan di dalam kamar melakukan hal tersebut, dan noda sper ma itu bisa saja saya sendiri sedang melampiaskan hasrat sendiri, seperti Anda tidak pernah saja seperti itu!” sanggah Rian, pria itu memutar malas kedua bola matanya saat Rafael masih menatap dirinya.


Satya yang mendengarnya rasanya ingin memberikan bogeman mentah ke wajah Rian, yang masih saja menyanggah, tak mau mengakui.


Sudah ketahuan masih saja gak ngaku nih orang, tanganku sudah gatal rasanya pengen sekali melayang ke wajah mantannya Amel. Dasar badjingan! ... batin Satya kesal sendiri.


“Rupanya kejadian  semalam belum membuatmu jera! Semua bukti sudah mengarah ke kalian berdua, tapi sepertinya saya harus menambah membuatmu jera!” kata Rafael, tangannya mulai melambai ke arah  tiga orang security yang masih standby dekat dirinya.


GLEK!


Rian menahan salivanya sendiri ketika ketiga security yang memiliki badan besar tinggi mulai mendekatinya dengan tongkat yang mereka pegang masing-masing.


“Sebenarnya saya tidak ingin menggunakan kekerasan, tapi sepertinya kamu yang minta dikeraskan. Padahal sebenarnya saya juga tidak berkepentingan denganmu, hanya ingin sekedar tahu saja. Lagi pula saya sudah mengakhiri hubungan dengan Delia, jadi kalian berdua tetap bisa melanjutkan hubungannya,” tukas Rafael santai.


“Oh iya satu lagi, kamu salah satu manajer proyek di PT. Pelita kan? Sepertinya saya akan menghubungi pak Teddy untuk memecat kamu hari ini, lagi pula proyek yang ada di Jogjakarta ini adalah proyek kerjasama antara perusahaan saya dengan PT Pelita, jadi sangat mudah sekali untuk mendepakmu dari tempat kerjamu sekarang!” kembali melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit mengancam. Ada untungnya tadi Rafael bertanya tentang latar belakang Rian dengan Amelia, yang ternyata mantan calon suami Amelia bekerja di salah satu perusahaan rekan bisnisnya.


Sontak saja Rian meluruskan pandangannya, yang sempat melengos. Terutama ketika Rafael menyebutkan nama petinggi tempat dia bekerja, seperti dia salah cari lawan untuk kali ini.


Rian yang sudah bekerja keras selama bertahun-tahun setelah lulus kuliah hingga mendapatkan posisi sebagai manager proyek, harus hancur seketika hanya karena Delia, bodoh sekali jika seperti itu.


Sudut bibir Rafael nampak menyeringai tipis, tatapannya pun seakan ingin menjatuhkan pria tersebut. Rian membetulkan posisi duduknya dan wajahnya yang awalnya seperti musuh, kini nampak terlihat memelas.


Sorry Delia, aku tidak mau kehilangan pekerjaanku, lebih baik kehilangan partner ranjang ... batin Rian.


“Baiklah saya akan memberitahukan semuanya, jadi saya harap Anda jangan mengancam saya dikeluarkan dari pekerjaan saya karena ini hanya masalah pribadi bukan masalah perusahaan,” pinta Rian sebelum memulainya.


Rafael menarik tubuhnya dari sandaran sofa, wajahnya tampak serius. “Saya akan menempati janji tidak akan mengganggu posisi kerjamu jika kamu berkata jujur dengan saya,” balas Rafael.


“Ya saya akan berkata jujur.”


Rafael mengeluarkan ponselnya lalu membuka aplikasi perekam suara, namun sebelumnya dia meminta ketiga security-nya berjaga diluar kamar.


“Silakan ceritakan,” perintah Rafael.


“Saya dengan Delia teman satu kampus, dan pernah berpacaran selama dua tahun. Setelah itu kami sempat berpisah tidak bertemu kembali, namun suatu hari kami bertemu tak sengaja saat Delia sudah bekerja di perusahaan Anda sebagai sekretaris, kalau tidak salah waktu itu Delia sudah 3 tahun bekerja saat kami bertemu kembali. Dan setelah itu kami kembali berkomunikasi, lalu akhirnya kami menjalin hubungan sebagai partner ranjang tanpa ikatan, karena kata Delia ... dia sudah bertunangan dan akan menjadi istri Anda,” tutur Rian apa adanya.


Bukankan hal ini sama yang telah Rafael lakukan terhadap Ayasha, selama tiga tahun berpacaran dengan Delia dibalik dirinya sebagai calon suami Ayasha.


“Berarti selama lima tahun kamu dengan Delia menjadi partner ranjangnya?” tanya Rafael menegaskan apa yang dia dengarkan, sembari menghitung berapa tahun mereka menjalin hubungan.


“Selama pacaran ketika masih kuliah kami berdua sudah menjadi partner ranjang,” sahut Rian.


DAMN!


Rafael berdiri seketika, kedua netranya terbelalak. “Maksud kamu, ketika kuliah kalian berdua sudah melakukan hubungan intim?”


Wajah Rian tampak biasanya saja  pertanyaan Rafael. “Bukankah jaman sekarang sudah biasa ya melakukan hal tersebut walau masih pacaran , lagi pula Anda juga pernah melakukannya kan dengan Delia, jadi jangan munafik lah,” balas Rian.


Rafael meraup wajahnya dengan kasar. “SIALAN! BRENGSEK KAMU DELIA! Dia bilang waktu itu masih perawan padaku!” umpat Rafael, mulai syok.


“Oh masalah keperawanan, dia sempat operasi selaput dara sebelum mendekati Anda, kalau tidak salah ada saksi teman kerjanya namanya Ning yang mengantarnya ke rumah sakit,” ungkap Rian.


Hal yang mencengangkan bukan, Satya juga turut terkejut namun bukan ranahnya untuk ikut campur, biarlah menjadi masalah bosnya sendiri. Wajah Rafael mulai tampak memerah, tangannya pun mulai terkepal dengan kuatnya.


“AARRRGH!” pekik Rafael melampiaskan kemarahannya.


PRANG!!


Cermin yang begitu besarnya pecah seketika saat kepalan tangan Rafael menghantamnya dengan sekuat tenaga, hingga cucuran darah pun mulai mengalir dari jemari tangan pria itu.


“SUNGGUH AKU BODOH, SUDAH TERTIPU DENGAN WANITA JA LANG ITU!” teriak Rafael sekencang-kencangnya, lalu tubuhnya melorot ke bawah, dan terbawa terbahak-bahak sendiri.


“HA ... HA ... HA ... maafkan aku Ayasha! Aku bodoh!” Dibalik tawanya terbahak-bahak, buliran bening jatuh dari ujung ekor matanya.


 


bersambung ....