FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Ilmu hitam dan ilmu putih



Jakarta


Mansion Stevan.


Matahari sudah tergantikan dengan sinar bulan purnama yang menyinari gelapnya malam.


Pak Ustadz yang sudah diundang oleh Mama Rara, sudah datang bersama pendampingnya. Rafael pun dikenalkan dengan Pak Ustadz tersebut, lalu mereka sekeluarga pun saling bertukar pikiran setelah mengalami beberapa hal termasuk keresahan yang sekarang melanda Rafael.


Dengan tutur kata yang jelas serta dalil-dalil yang ada, Pak Ustadz menjelaskan secara detail hingga tidak akan menimbulkan kesalahpahaman untuk ke depannya, dan hal itu masuk nalar oleh Rafael.


Segala yang dialami oleh Rafael selama lima tahun pun digambarkan oleh Pak Ustadz, dan dibenarkan olehnya.


Setelah melakukan makan malam bersama lalu sholat isya berjamaah, Rafael siap untuk dibersihkan dirinya dari hal guna-guna tersebut. Anak-anak Valerie terlebih dahulu diungsikan dikamar Valerie yang ada di lantai dua.


Mama Rara yang masih mengenakan mukena serta papa Stevan mendampingi Rafael untuk di ruqyah.


“Bismillahirrahmanirrahim.” Pak Ustadz mulai membacakan ayat suci Al Qur'an khusus pengusir jin, sedangkan pendamping Pak Ustadz sudah berada di sisi Rafael untuk menjaga-jaga jika terjadi reaksi pada tubuh pria itu.


Dan benar saja baru beberapa ayat, tubuh Rafael mulai terasa kepanasan, tidak mau mendengar lantunan ayat Al-Qur'an. Pria itu menutup telinganya dan berteriak bagaikan orang kerasukan.


“Pak Rafael, istighfar, sebut nama Allah,“ pinta pendamping tersebut, agar Rafael bisa melawannya juga.


Disaat yang bersamaan di daerah Cianjur, Bu Laras sedang berada di rumah orang pintar. Ibu kandung Delia ini sedang melihat orang pintar itu komat kamit di atas sesajen dan dupa kemenyan itu.


Pria yang memakai pakaian berwarna serba hitam itu tiba-tiba kedua bola matanya melotot seperti sedang merasakan sesuatu, lalu hidungnya menghirup asap kemenyan itu sebanyak-banyaknya.


“Sontoloyo, ternyata dia berguru juga!” kata dukun tersebut.


“Berguru, calon menantu saya punya guru begitu?” pertanyaan yang bodoh dari Bu Laras.


“Mana uang yang saya minta tempo hari Bu Laras? Calon menantu mu ini sepertinya sudah tahu jika dia diguna-guna. Saya harus mengajak teman agar lebih kuat melawan mereka semua jika ibu mau segera bisa menguasainya kembali!” sahut dukun tersebut.


Bu Laras mendesah, karena sudah beberapa hari ini dia tidak bisa menghubungi ponsel Delia, dan dia pun tak punya simpanan uang lagi.


“Saya minta waktu dulu Pak, tapi saya minta dikerjakan dulu,” pinta Bu Laras.


“Kapan Ibu bisa membayarnya?” kembali bertanya dukun itu.


“Minggu depan akan saya bayar uangnya,” jawab cepat Bu Laras.


Pria tua itu menyeringai tipis di wajah seramnya, lalu kembali menjalankan ritualnya, namun tiba-tiba saja ruang praktek dukun tersebut diterpa angin kencang, membuat rambut Bu Laras tersibak, meja sesajen terangkat lalu terpental, disusul lampunya turut padam.


“SIALAN!” pekik dukun tersebut, membuat Bu Laras tergidik mendengar teriakan bapak tua itu, serta suasana ruangan yang tiba-tiba gelap, ditambah aroma amis darah yang menguar.


Ilmu hitam dilawan oleh ilmu putih, dengan penuh keikhlasan dan berdoa minta pertolongan kepada Sang Maha Pencipta, insya Allah hal yang buruk akan berbalik kepada yang membuatnya.


Rafael dengan beristigfar dan berdzikir membantu Pak Ustadz meruqiyah dirinya, dengan kemauan yang tekad untuk kembali ke jalan yang lurus, dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran hidupnya.


“Takdir buruk bisa diubah dengan cara kuatkan dalam berdoa, mintalah dengan kesungguhan hati dan jalankan segala perintahnya, jangan pernah ditinggalkan lagi kewajiban sebagai umat muslim.  Mintalah kepada Allah atas hal-hal yang buruk menjadi hal yang baik. Insya Allah, Allah Maha Mendengar, Allah Maha Memberi,” imbuh Pak Ustadz.


Rafael menundukkan wajahnya. Ya Allah lindungilah wanita yang aku cintai, Ayasha. Walau kami tak berjodoh, tapi aku mohon jagalah dia dari segala bahaya yang menghampirinya.


“Terima Kasih, Pak Ustadz.”


“Sama-sama, sesi ruqyah malam ini sudah selesai, insya Allah kita akan lanjut beberapa hari lagi sampai yang ada di badan benar-benar bersih,” kata Pak Ustadz, Rafael menganggukkan kepalanya.


...----------------...


Berulang kali pintu apartemen berkuncikan pasword  tersebut menolak kode yang dipencetnya, membuat wanita yang hidungnya masih diperban menendang pintu apartemen berulang kali.


“Sialan, dia sudah ganti pasword apartemennya! Kurang ajar! mana blackcard aku sudah terblokir ... Eergh!” geram Delia.


Untung saja saat diusir dari hotel Inna Garuda, Rian memberikan uang satu juta agar dia bisa pulang ke Jakarta, saat pria itu tak sengaja melihat wanita itu duduk di luar hotel.


Sekarang wanita itu datang ke apartemen milik Rafael dengan bertujuan mengambil barang-barang berharga, serta berkas-berkas akta perusahaan Bara Nusantara yang tersimpan di brankas dalam apartemen Rafael, dan dia tahu kode brankas milik pria itu. Sungguh licik sekali Delia, dia masih mencari cara untuk menguasai Rafael dengan segala cara. Namun sayang ide kali ini terhempaskan karena pasword pintu apartemen ditolak, jadi tidak bisa masuk.


“Ini semuanya karena Ayasha, andaikan Mas Rafael tidak bertemu dengan Ayasha di Yogyakarta, keadaanku tidak akan seperti ini Ayasha!” geram Delia sendiri, dengan sorot mata yang begitu sinis, lalu dia menatap cincin tunangannya yang masih tersemat dijari manisnya. Melihat cincin berlian senilai 150 juta itu seakan ada angin segar buatnya.


“Aku akan membalasmu Ayasha! Aku tak akan membuat hidupmu tenang. Jika aku tidak bisa memiliki Mas Rafael, maka kamu juga tidak bisa memilikinya untuk selamanya!” gumam Delia bernada sinis dan penuh penekanan.


“Dan untukmu Mas Rafael, aku akan memberikan kejutan manis di perusahaanmu!” Delia tersenyum jahat.


Sepertinya rasa malu Delia sudah tidak ada di dirinya, padahal semua orang tahu ulahnya di Yogyakarta, tanpa di sadari Delia semua karyawan di perusahaan Bara Nusantara sedang membicarakan dirinya yang menjadi pelakor.


...----------------...


Yogyakarta


Jam 21.00 wib


Team marketing baru saja menyelesaikan pekerjaannya secara serempak, satu persatu meninggalkan ruangan begitu juga dengan Ayasha.


Ayasha sengaja tidak memberitahukan jam berapa dia akan pulang kantor, namun rupanya saat tiba di lobby, Darial sudah menghampiri dirinya yang baru saja keluar dari lift.


“Kak Darial,” sapa Ayasha dengan mimik terkejutnya.


“Sudah selesai pekerjaannya?“ tanya Darial penuh perhatian.


“Eeh ... iya Kak baru saja selesai,” jawab Ayasha. Sungguh sangat maniskan sikap Darial, yang tanpa di telepon terlebih dahulu tapi sudah menjemput dirinya.


Sejenak hati Ayasha menepis jika Darial itu seorang playboy, lagi pula belum ada buktinya pikir Ayasha.


Ayasha dan Darial jalan beriringan menuju pintu lobby hotel, tangan kanan Darial pun menyentuh pinggang Ayasha seolah-olah gadis itu miliknya seorang. “Aya, sudah makan malam?” tanya Darial.


“Tadi sempat makan roti sandwich, Kak.”


“Itu namanya belum makan malam sayang, kita makan dulu ya sebelum pulang,” pinta Darial dengan tatapan hangat nya.


“Makan yang dekat-dekat sini saja ya Kak, soalnya sudah malam, besok pagi aku harus masuk kerja lagi,” pinta Ayasha.


“Siap, saya akan menuruti permintaan tuan putri,” balasnya dengan tersenyum lebar. Ayasha hanya bisa mengulum senyum tipis saja, walau hatinya sudah mulai ketar ketir, jika memang kebenaran itu terungkap dan ini semua hanyalah cinta semu.


 


bersambung .....