FORGETTING YOU

FORGETTING YOU
Sarapan pagi



Esok hari


Jam 07.00 wib


Awan biru tampak cerah menyinari bumi nan indah, namun tak secerah wajah Rafael yang terlihat suram di pagi hari ini, bagaimana tak suram ... pria itu hanya tertidur selama 3 jam karena galau dengan perasaannya sendiri. Namun kesuraman pria itu tetap menyemangati dirinya, mengingat ada gadis yang sedang sakit di sebelah kamarnya.


Namun berbeda hal dengan sang asisten pribadi wajahnya terlihat berseri-seri menyambut pagi yang indah ini, pria itu sudah kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya biar tampak segar kembali. Siapa sih yang bikin asisten Rafael semangat di pagi hari ini, siapa lagi kalau bukan Amelia, gadis yang membuat jantungnya berdebar-debar.


“Tumben masih pagi kamu udah rapi dan wangi begini?” tanya Rafael, sembari menyiapkan sarapan buat Ayasha yang sudah di antar oleh pelayan restoran.


“Biar semangat menyambut pagi yang cerah ini Pak,” balas Satya. Rafael hanya geng geleng-geleng saja.


“Selamat pagi Om Rafael, Mas Satya,” sapa Amelia yang baru saja keluar kamar.


“Pagi juga Amel,” balas sapa Satya, tersenyum hangat.


“Amel, Ayasha sudah bangun?” tanya Rafael.


“Sudah Om.”


Rafael menaruh mangkuk bubur ayam, roti bakar, susu serta telur rebus diatas mangkok. “Amel, kamu sarapan dulu. Biar saya yang mengurus Ayasha pagi ini,” pinta Rafael, menunjukkan wajah memelas nya agar diizinkan oleh Amel.


“Iya Amel, kamu sarapan dulu di bawah sama saya di restoran. Biar Pak Rafael mengurus Ayasha sebentar.” Satya melirik Rafael, yang seakan mengharapkan dia membantu untuk bisa mengurus Ayasha walau sejenak.


Amelia bergeming namun menatap Rafael dan Satya secara bergantian, ada rasa tidak rela jika Rafael berdekatan dengan Ayasha, tapi perutnya juga mulai perih minta di isi sama makanan.


Satya memberanikan diri memegang lengan Amelia. “Ayo Mel temenin saya sarapan pagi, biar Pak Rafael saja yang menemani Ayasha. Dan tenang saja Pak Rafael gak bakal gigit Ayasha kok, sudah jinak.”


Rafael langsung melotot dibilang sudah jinak sama Satya, tapi harus terimalah bantuan asistennya biar bisa dekat sama Ayasha.


“Bener ya Om Rafael, jangan apa-apa in Ayasha, dia lagi sakit ... aku gak rela kalau Aya di apa-apain sama Om!”


“Iya Mel, saya hanya bantu Aya buat makan sarapannya saja,” jawab Rafael meyakini Amelia.


Untuk kali ini Amelia memberi kelonggaran buat Rafael, lalu gadis itu turut pergi dengan Satya untuk sarapan pagi di restoran yang berada di lantai bawah.


...----------------...


Tok ... Tok ... Tok


Setelah mengetuk pintu, Rafael dengan kedua tangannya membawa nampan masuk ke kamar. Terlihat Ayasha sudah menyandarkan dirinya di headbord ranjangnya.


“Pagi Aya, aku bawa sarapan buatmu.” Rafael meletakkan nampan tersebut d sisi ranjang Ayasha yang kosong, kemudian mengambil gelas susu untuk diletakkan di atas nakas agar tak tumpah.


“Amelnya kemana?” tanya Ayasha, suaranya masih terdengar lemah, tatapannya pun seperti mencari Amel dibalik tubuh Rafael.


“Amel sarapan dulu di bawah sama Satya.” Pria itu mengambil mangkuk bubur ayam yang dibawanya, kemudian duduk ditepi ranjang.


“Aku suapi sarapan dulu ya, biar kamu bisa minum obat dan vitamin. Jam 9 nanti dokter akan datang kembali untuk mengecek kondisi kamu.”


Tangan Ayasha tampak meraih mangkok yang dipegang Rafael, namun pria itu cepat menjauhkan dari jangkauan tangan gadis itu.


“Sekali ini saja aku suapi kamu makan ya,” pinta Rafael dengan tatapan mengibanya kepada Ayasha.


Pria itu mulai menyendok kan bubur ayamnya kemudian menyodorkan di bibir ranum gadis itu. Ada rasa tak enak yang menyelinap di hati gadis itu saat membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rafael.


Hati Rafael menghangat saat diberi kesempatan menyuapi gadis itu, bagaikan dapat hadiah besar saja. Mereka berdua lebih banyak terdiam, namun sesekali saling menatap.


Semangkuk bubur ayam akhirnya habis disantap Ayasha. “Aya, mau makan telur rebusnya?”


Ayasha hanya menganggukkan kepalanya, dengan senang hati pria itu mengupas telur rebusnya lalu membantu Ayasha menyantapnya dengan tangannya, pria itu tidak rela kalau telurnya diberikan ke tangan Ayasha lebih baik dari tangannya. Hingga tak disadari jemari Rafael menyentuh bibir ranum Ayasha, dan hati pria itu berdesir seakan jemarinya dicium oleh bibir Ayasha.


Dibatin pria itu mendesah menikmati sensasi yang sudah lama tidak dirasakan nya lagi, padahal itu hanya sentuhan jemarinya dengan bibir gadis itu, tidak lebih.


“Pak Rafael, aku ingin minum,” pinta Ayasha. Kedua alis Rafael saling bertautan mendengar Ayasha kembali memanggilnya Pak, tapi ya sudahlah jangan diperdebatkan dulu.


Pria itu bergegas keluar sebentar karena lupa membawa air putih, lalu kembali dengan segelas air.


“Terima kasih,” ucap Ayasha, di saat menerima gelas dari Rafael, lalu meneguk nya sampai tandas.


TING ... TONG


Bel kamar berbunyi, Rafael meliriknya dari kamar yang di tempati Ayasha.


“Siapa ya? Kalau Satya kenapa tidak langsung masuk aja, dia kan bawa access card,” gumam Rafael.


“Mungkin Dokter, Pak,” sahut Ayasha.


“Aku tinggal sebentar ya,” kata Rafael begitu lembutnya.


“Mmm ...” gumam Ayasha.


Rafael keluar dari kamar yang ditempati Ayasha lalu membuka pintu utamanya.


Klek!


Pintu pun terbuka, Rafael pun tercenung melihat siapa yang ada di luar kamarnya.


 


bersambung ......


Kakak readers jangan lupa tinggal kan jejaknya ya, plus jangan lupa VOTE hari Senin buat Ayasha.