
Hampir satu jam Rafael masih didampingi oleh beberapa Dokter spesialis di dalam ruang ICU, untuk memeriksa keseluruhan fungsi tubuhnya terutama bagian kepala. Beberapa alat yang menempel di beberapa bagian tubuhnya sudah ada yang di lepas, namun untuk mendeteksi jantungnya masih menempel di bagian dadanya. Masker oksigen yang menutupi bagian hidung dan mulutnya sudah digantikan dengan selang oksigen.
Sedikit demi sedikit sang Dokter mengajak Rafael untuk berbicara, dan menanyakan siapa namanya. Walau Rafael masih terbata ketika berbicara, namun pria itu masih ingat dengan namanya sendiri dan siapa nama kedua orang tuanya.
Dokter amat bersyukur jika Rafael tidak mengalami gangguan fungsi otak padahal dari hasil MRI terlihat ada benturan di kerangka kepalanya, yang biasanya akan berdampak pada fungsi otaknya.
Sedangkan fungsi kedua tangannya bisa digerakkan walau masih lemah, tapi untuk salah satu kakinya memang tidak bisa bergerak karena mengalami patah tulang.
Salah satu Dokter yang ada di dalam ruang ICU keluar untuk menemu keluarga Rafael, Mama Rara dan Papa Stevan sudah pasang badan di depan pintu ruangan.
“Dengan keluarga Pak Rafael?” tanya sang Dokter yang baru saja keluar.
“Iya Dokter, kami berdua orang tua dari Rafael, bagaimana dengan keadaan anak saya, Dokter?” cecar Papa Stevan, sudah mulai penasaran.
“Alhamdulillah sudah sadar dari komanya, setelah kami melakukan pemeriksaan fungsi dari bagian kepalanya tidak mengalami amnesia, kemudian bicara tidak pelo, normal namun masih terbata-bata, sedangkan fungsi kedua tangan normal, sedangkan untuk kaki yang seperti Bapak Ibu ketahui jika kaki kanannya mengalami patah tulang,” ungkap sang Dokter, menjelaskan dengan detailnya.
Mama Rara terlihat terharu sampai kedua netranya berembun, Papa Stevan merangkul bahu istrinya. “Alhamdulillah terima kasih Ya Allah, terima kasih Dokter,” ucap Papa Stevan bahagia dengan kabar baik tersebut.
“Sama-sama Pak, nanti sebentar lagi Pak Rafael akan kami pindahkan ke ruang HCU karena harus tetap kami observasi sebelum dipindahkan ke ruang rawat, dan nanti bisa dijenguk kembali oleh keluarga,” kata Dokter.
“Baik Dokter, kami mengikuti saja demi yang terbaik buat kesembuhan anak kami,” jawab Papa Stevan.
Ayasha yang berada tidak jauh dari keberadaan kedua orang tua Rafael, turut bahagia mendengar kabar baik tersebut, dan amat bersyukur.
Anak Valerie, Larissa tiba-tiba menyentuh tangan Ayasha lalu tersenyum manis. “Terima kasih Tante Cantik, Uncle sudah kembali lagi,” kata Larissa begitu manisnya.
Ayasha mengulas senyum hangatnya, lalu mengusap lembut tangan gadis kecil itu. “Uncle bangun karena berkat doa kita bersama, jadi sepatutnya kita mengucapkan syukur pada Allah,” jawab Ayasha begitu bijak dan lembutnya.
“Iya Tante, tapi jalannya lewat Tante,” balas Larissa. Ayasha hanya bisa tersenyum saja mendengar celotehan gadis kecil itu.
Tak lama kemudian, pintu ruang ICU terbuka dengan lebarnya, terlihatlah brankar yang membawa Rafael keluar dari ruangan ICU di dorong oleh 4 orang perawat laki-laki.
Pria yang ada di atas ranjang itu menatap satu persatu keluarga yang menunggunya di ruang ICU, Mama Rara dan Papa Stevan sempat menghampirinya dan mengusap lengan anaknya. Sedangkan Ayasha yang terjebak duduk di kursi rodanya tidak memungkinkan untuk mendekatinya, namun mereka berdua sempat saling beradu pandang.
“I love you,” ucap Rafael tanpa mengeluarkan suaranya, hanya gerakkan bibir ketika mereka beradu pandang.
Kedua netra gadis itu berbinar-binar, dan bahagia melihatnya. “I love you, to,” jawab Ayasha pelan, kemudian gadis itu menengah kan wajahnya ke langit-langit, agar kedua netranya tak kembali menjatuhkan ari mata. Sudah waktunya dia bahagia melihat Rafael sudah sadarkan diri, dan masih mengingat dirinya.
Brankar Rafael mulai melewati lorong yang berbeda namun tetap di lantai yang sama. Semua keluarga turut mengikutinya, termasuk Ayasha yang didampingi oleh kedua orang tuanya.
Ada sekitar 30 menit Rafael diurusi oleh perawat terlebih dahulu, setibanya di ruang HCU, karena harus ada serah terima pasien kepada perawat yang berjaga, dan tak lama kemudian bagian gizi membawa beberapa menu makanan khusus yang siap disantap oleh Rafael, sedangkan untuk tugas menyuapi pasien HCU biasanya akan dikerjakan oleh perawat, akan tetapi biasanya akan diserahkan oleh pihak keluarga yang akan mendampingi pasien.
Mereka yang menunggu di luar ruangan HCU tampak bersabar menunggu izin sudah diperbolehkan atau belum nya oleh Dokter.
Klek!
Pintu ruang HCU yang ditempati oleh Rafael terbuka ... Dokter keluar dari ruang tersebut bersama perawat.
“Bapak, Ibu bisa menjenguk nya, ada waktu satu jam sebelum pasien harus istirahat kembali,” kata Dokter paruh baya tersebut, memberikan izin.
“Terima kasih Dokter,” jawab cepat Mama Rara.
Kedua orang tua Rafael, bersama Valeria dan Larissa segera masuk ke dalam ruangan HCU, sedangkan Ayasha menunda masuk, biarkan keluarga inti yang menemuinya terlebih dahulu, nanti juga bisa bergantian.
Sekitar lima belas menit kemudian, Mama Rara, Papa Stevan dan Valerie serta Larissa keluar dari ruangan HCU.
Sedangkan Valerie mendorong kursi roda Ayasha untuk masuk ke dalam ruang ICU, dan Mama Rara juga menahan Mama Nia untuk tidak masuk terlebih dahulu karena ada yang ingin dibahas secepatnya.
Memasuki ruangan HCU tidak setegang masuk ke ruang ICU, saat ini Ayasha bisa melihat senyuman di wajah tampan pria itu, dan terlihat salah satu tangannya melambai ke arahnya.
“Di tinggal dulu ya, Ayasha,” kata Valerie.
“Makasih banyak ya Kak Vale,” jawab Ayasha.
“Sama-sama.”
Tinggallah mereka berdua saja di ruang HCU, Ayasha yang sudah ada di samping pria itu menerima uluran tangan Rafael. Tangannya ditarik agar lebih dekat dengan wajah pria itu, lalu dikecuplah punggung tangan gadis itu dengan lembutnya.
Ayasha coba bangkit dari kursi rodanya, kemudian duduk ditepi ranjang, tangannya pun masih dipegang oleh Rafael.
“Om Rafael, masih ingat aku siapa?”
Pria itu menatap dalam kekasih hatinya, “calon istriku, yang ingin menikah dengan Darial!” jawab Rafael.
“HAH ... kok—.”
“Di dalam mimpiku aku mendengar kamu akan menikah dengan Darial, jika aku tidak bangun.” Rafael menyela ucapan Ayasha.
Gadis itu pun tersenyum lebar, “Itu bukan mimpi Om, aku memang akan menikah dengan Kak Darial jika Om Rafael tetap gak bangun. Katanya cinta sama aku tapi Om gak mau bangun juga. Om tega sudah bikin aku sedih dan menangis,” jawab Ayasha mulai terlihat sedih mengingat di ruang ICU.
Rafael tidak sanggup melihat Ayasha kembali meneteskan air matanya, dengan kekuatan yang tersisa, pria itu menarik lengan gadis itu agar bisa memeluknya, dan bagian atas tubuh gadis itu sudah jatuh di atas dada pria itu.
“Kamu tahukan aku sangat mencintaimu, aku juga tak mau meninggalkan kamu,” ucap Rafael, kini gadis itu sudah dipeluknya dalam keadaan seadanya saja.
“Aku mohon jangan pernah meninggalkan aku,” jawab Ayasha. Tangan Rafael mengusap lembut rambut gadis itu, lalu mengecup pipi gadis itu. “Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi, sayang. Dan ingat tidak boleh mengancam akan menikah dengan Darial, aku sudah bangun kembali,” kata Rafael pelan.
CUP
Ayasha mengecup pipi pria itu. “Tapi dengan mengancam akan menikah dengan Kak Darial, bisa buat Om Rafael bangunkan,” jawab Ayasha setelah cium pipi, lalu menatap dalam wajah Rafael.
Ayasha dan Rafael sama-sama tersenyum hangat, kemudian tangan Rafael yang ada infusnya meraih tengkuk gadis itu agar lebih dekat dengannya, dan kedua bibir mereka pun saling bersentuhan, memberikan rasa yang basah namun hangat, rasa sedih, rindu dan bahagia seakan terlukiskan dalam sentuhan yang sangat lembut.
“Aku ingin menikahimu sekarang juga ya, sayang,” pinta Rafael, setelah melepaskan pagutannya dengan Ayasha.
“HAH ... sekarang!” terkejut lah Ayasha, sedangkan Rafael mengangguk pelan.
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa hadir ke acara pernikahan online via zoom Ayasha Elshanum dengan Rafael Alviansyah ya, jangan lupa sekalian amplopnya ya 😁😁.