
"Amel, apa sih rasanya ciuman sama cowok?” Gadis itu menopang dagunya menatap temannya yang masih sibuk menyalin pr sekolah darinya.
“Loh, memangnya lo belum pernah ciuman sama om Rafael. Bukannya lo sama om Rafael bakal tunangan dan menikah?” balik bertanya Amelia dengan tatapan heran.
“Kalau waktu masih kecil, om Rafael memang sering cium pipi gue. Tapi semenjak gue sudah SMP hingga sekarang udah SMU belum pernah lagi cium pipi, apalagi cium di bibir?” balas Ayasha, Amelia hanya menyimaknya saja.
“Tapi gue pernah mimpi, om Rafael mencium bibir gue dengan lembutnya. Pokoknya mimpi itu terasa nyata, terasa beneran Mel. Semoga saja suatu hari ciuman pertama gue ama om Rafael calon suami ku,” imbuh Ayasha, tatapannya menerawang.
“Aamiin, semoga saja suatu hari mimpi lo menjadi kenyataan,” timpal Amelia tanpa menatap Ayasha, sibuk dengan tulisannya sendiri.
Kedua mata yang sempat membulat saking terkejutnya, semakin lama meredup. Sentuhan benda kenyal milik pria itu masih menempel namun tak bergerak di bibirnya, namun tak lama bibir pria itu mulai bergerak lembut dan sedikit menekannya.
Tengkuk belakangnya pun sudah dipegang erat hingga gadis itu tak bisa menjauhkan wajahnya dari wajah pria itu. Tangan yang tak ada infusnya bergerak naik menyentuh bahu bidang pria itu, kedua matanya pun tak kuasa untuk terbuka lagi, akhirnya terpejamkan.
Ini ciuman pertama kali bagi Ayasha, ciuman yang sempat diimpikannya saat dia masih duduk di bangku SMU. Mata yang terpejam itu mulai meneteskan air mata bersamaan dengan kelembutan yang Rafael berikan hingga dirinya larut dengan ciuman yang hangat itu. Rafael pun sama memejamkan kedua netranya, air matanya pun kembali jatuh dan membasahi kedua pipinya.
Untuk pertama kalinya Rafael mencium bibir gadis itu selama hidupnya, calon istri yang sekarang berstatus mantan tunangan. Ciuman pertama kali setelah lima tahun berlalu, karena selama lima tahun Rafael tidak pernah menyentuh bibir Delia setelah tragedi ketahuan.
Ini bukan ciuman yang indah, karena kedua-duanya sama-sama berderai air mata, kedua hati mereka sama sama berkecamuk tak menentu. Namun tanpa disadari mereka cukup lama berbagi saliva, hingga akhirnya Rafael melepaskan pagutan nya, dan menempelkan keningnya dengan kening Ayasha.
“A-aku sangat mencintaimu, Ayasha,” ucap Rafael dengan napas yang terengah-engah.
Ayasha mengatur napasnya yang sama-sama terengah-engah seperti kekurangan oksigen.
“Maafkan aku jika telah lancang mencium mu, tapi inilah perasaanku ... aku sangat mencintaimu.”
Rafael mencium ujung hidung mancung gadis itu lalu menarik wajahnya. Kedua netranya yang sudah basah menatap sendu gadis yang masih membungkam mulutnya, walau sebenarnya gadis itu ingin sekali menampar dan memarahi pria yang berani menciumnya.
“Bukan Delia yang membuatku begini, tapi dirimu lah yang membuat aku melukai diri sendiri. Aku tak bisa menguasai emosiku, aku sangat cemburu,” ucap Rafael menahan rasa sesaknya yang membuncah di dadanya.
Salah satu tangannya yang terluka menyentuh pipi Ayasha yang juga basah karena air mata. “Aku terlambat menyadari perasaanku sendiri, aku yang telah dibutakan oleh Delia hingga mencampakkan calon istriku yang sebenarnya.”
Mulut Ayasha mulai terbuka namun jemari pria itu langsung menyentuh bibirnya. “Tolong dengarkan aku dulu,” pintanya.
Ayasha kembali menutup mulutnya dan menatap dalam wajah sedih pria itu.
“Aku bahagia saat kembali bertemu denganmu di hotel ini, setelah sekian lama aku mencari keberadaanmu. Kamu sudah banyak berubah, wajahmu yang sedari lahir sudah cantik semakin cantik. Kepribadianmu juga semakin menawan. Kamu gadis kecilku yang sudah menjelma menjadi wanita yang dewasa.
“Namun bersamaan perubahanmu, ternyata banyak pria yang terpesona denganmu, hingga aku merasa tidak terima dengan hal itu. Aku marah padamu, dan tidak menyadari jika aku sedang cemburu padamu.
“Setiap detik, menit rasanya ingin selalu berada dekat denganmu. Namun kamu tak bisa kugapai kembali atas kesalahanku dulu. Aku harus sadar diri jika aku bukanlah calon suamimu lagi, bukan siapa-siapamu lagi. Sekarang kamu sudah memiliki penggantiku.” Rafael menarik tangannya dari wajah Ayasha. Sejenak pria itu menarik napasnya dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya menatap kedua tangannya yang terluka.
Tak lama pria itu angkat kepalanya dan kembali menatap wajah Ayasha. “Semoga kamu berbahagia dengan Darial, maafkan jika aku telah lancang menciummu dan mengatakan cinta padamu walau sekarang tidak ada artinya buat kita berdua. Tapi paling tidak aku tak menyesal telah mengungkapkan hatiku walau kamu bukan milikku lagi. Aku doakan semoga Darial bukan pria brengsek seperti ku, dan dia kelak jadi suamimu yang baik,” ucap Rafael tulus, walau terasa berat.
Ayasha menatap nanar, salah satu tangannya meremas ujung kaosnya. Entah kenapa ungkapan perasaan Rafael terasa menyakitkan buat Ayasha, lebih baik dia tidak tahu perasaan pria itu daripada tahu.
Rafael kembali meneteskan air matanya, air mata untuk mantan kekasih hatinya Ayasha Elshanum, begitu juga Ayasha yang sudah tak mampu berkata apa-apa lagi.
Kepala Ayasha terlihat agak maju ke arah pria itu lalu tiba-tiba saja dengan membuang egonya sesaat ...
CUP
Gadis itu mengecup bibir Rafael, refleks pria itu memegang tengkuk gadis itu, lalu membalas kecupan Ayasha menjadi ciuman yang panas dan mereka berdua tenggelam dalam perasaannya masing-masing untuk beberapa saat.
Kedua tangan Rafael yang terluka dikecupnya dengan hati-hati. “Jangan melukai diri sendiri, tangan ini tak bersalah,” tutur Ayasha. Kemudian gadis itu beringsut dari tepi ranjang Rafael.
Tanpa menatap dan berkata lagi, gadis itu keluar dari kamar pria itu, dan Rafael tak menahan kepergian gadis itu.
Ayasha kembali ke kamarnya, lalu duduk di tepi ranjang. Lepaslah sudah tangisan gadis itu dengan rasa yang amat sangat menyesakkan, begitu juga dengan Rafael, pria itu melepaskan tangisannya yang tak bisa ditahannya kembali. Kenapa?
...----------------...
Setelah kejadian yang menguras perasaan, baik Ayasha dan Rafael sama-sama tidak keluar dari kamar, mereka mengurung diri, dan segala keperluan Rafael dan Ayasha dipenuhi oleh Satya dan Amelia.
Hingga tibalah esok hari, di pagi hari ...
Mata Ayasha terlihat sangat bengkak setelah semalam kembali menangis, setelah sekian lama dia tak menangis, rupanya dia tak bisa membendungnya padahal dulu dia mampu untuk tidak mengeluarkan air matanya untuk pria itu.
Tubuhnya menggeliat di atas ranjang, jarum infusnya juga sudah dilepas semalam saat Dokter mengunjunginya, hingga dia bisa bebas merenggangkan kedua tangannya.
Tak lama gadis itu beringsut dari pembaringannya, lalu bersandar di headbord ranjangnya namun kedua netranya menangkap buket bunga mawar berwarna putih di atas nakasnya. Diraihlah buket mawar putih itu, hatinya langsung menduga jika buket bunga itu dari Darial kekasihnya.
Sejenak dia menghirup aroma bunga tersebut, kemudian mengambil amplop surat yang terselip diantara bunga rose putih itu.
Dear Ayasha Elshanum, mantan calon istriku.
Jika kamu sudah membaca surat ini berarti aku sudah tidak ada di Jogja, aku kembali ke Jakarta tempat dimana ku berada.
Ayasha maafkan kejadian kemarin siang, maafkan ...
Dengan kejadian kemarin aku berharap kamu tidak memilih berhenti bekerja di hotel milikku, tetaplah bekerja di sana, aku tidak akan mengganggumu atau kembali ke Jogja.
Maafkan atas luka yang pernah kutorehkan, semoga kamu selalu berbahagia selalu dengan pasanganmu.
Aku akan belajar untuk melupakanmu untuk selama-lamanya, namun aku akan menyimpan kenangan indah kemarin di lubuk hatiku paling dalam.
From : Rafael Alviansyah.
Buliran bening itu kembali jatuh dari kedua netra Ayasha, buket bunga yang dipegangnya pun lepas dari genggamannya. Ternyata berpisah dengan berpamitan rasanya menyedihkan.
Di tempat yang berbeda, Rafael sudah tiba di bandara Soekarno Hatta di temani oleh Mama Rara, Papa Stevan dan tentunya Satya asisten pribadinya.
Selamat tinggal cintaku, sekarang aku harus merelakan dirimu untuk bahagia bersama pria pilihanmu walau sangat menyakitkanku. Kali ini kita berpisah untuk selamanya.
bersambung ... membuka lembaran baru