
Rasa kecewa, marah, itu pasti ada dibenak kedua orang tua Ayasha. Bagaimana melihat anaknya di usia muda telah menerima luka yang sangat menyakitkan, dan ini juga memberikan pelajaran buat kedua orang tua Ayasha dalam hal perjodohan yang dilakukannya.
Mama Nia dan papa Tisna dengan seiring waktu mulai belajar legowo apa yang terjadi oleh anaknya, dan mencoba memaafkan kesalahan Rafael walau dulu masih tidak diperlihatkan. Setelah sekian lama tak bertemu, kemudian bertemu kembali dengan fakta yang terbaru, benar-benar membuat papa Tisna dan mama Nia tertegun. Apalagi Rafael sekarang sedang duduk bersimpuh di hadapan mereka berdua, sungguh ini di luar dugaan mereka.
Sebelum Rafael berbicara, pria itu menundukkan wajahnya, setelahnya baru menegakkan kembali wajahnya untuk menatap kedua orang tua Ayasha.
“Mah, Pah di masa lalu memang aku banyak berbuat kesalahan fatal, dan telah melukai hati Ayasha. Selama lima tahun aku pun tersiksa dengan perasaanku sendiri, bukan kebahagiaan yang aku dapati. Sekarang aku dan Ayasha telah bertemu kembali di Jogja.” Rafael diam sejenak, kemudian dia menyeka keringat di keningnya.
“Aku baru menyadari perasaan yang selama ini tidak aku pahami Mah, Pah. Aku sangat mencintai Ayasha, dan ingin kembali bersama dengan Ayasha, aku ingin sekali menjadikan Ayasha istriku. Walau aku tahu Mama dan Papa sangat membenciku saat ini,” lanjut kata Rafael, sembari menarik napasnya dalam-dalam.
Buliran bening jatuh begitu saja dari ujung ekor mata mama Nia, wajah anaknya pun hadir dipelupuk matanya seketika itu juga. Papa Tisna melirik istrinya, kemudian mengusap lembut tangan istrinya.
“Mah, Pah tolong maafkan aku, aku memang pria brengsek tapi aku akan berusaha memantaskan diri untuk Ayasha. Berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya, aku memohon restu dari Mama dan Papa, aku sangat mencintai Ayasha,” pinta Rafael, dengan mengatupkan kedua tangannya dan tatapan memohonnya.
Belum ada jawaban dari papa Tisna dan mama Nia, mereka masih menatap Rafael lalu berpaling ke wajah papa Stevan.
Melihat tidak ada respon dari kedua orang tua Ayasha, pria itu pun tertunduk kembali, kedua netranya pun mulai berkaca-kaca, lalu merasa jika dia tak akan dapat restu untuk mengejar Ayasha kembali.
Dia tidak bisa memaksakan diri untuk memohon, karena itu hak dari kedua orang tua Ayasha, mungkin memang dia tak berjodoh kembali dengan Ayasha.
“Jika Mama dan Papa masih membenciku, aku hanya minta dimaafkan, dan jika aku tidak dapat restu dari Mama dan Papa, aku akan berusaha menerima,” ucap Rafael begitu memilukan hati yang mendengarnya, pria itu terdengar sudah pasrah atas keputusan yang diambil oleh kedua orang tua Ayasha, dia harus bisa menerimanya.
Rafael mengusap buliran bening yang tak kuasa untuk ditahannya, akhirnya turun di pipinya. Walau bagaimana pun dia lebih menghargai hubungan atas restu dari orang tua, jika tak dapat maka dia akan mundur, dan berusaha menerima kenyataan.
“Ayasha sudah memaafkanmu?” Akhirnya mama Nia bersuara.
Dengan mata yang masih berkaca-kaca, pria itu menaikkan wajahnya yang sempat tertunduk, lalu menatap mama Nia.
“Ayasha sudah memaafkan ku, dan sudah mau berbicara denganku, Mah,” jawab jujur Rafael.
Mama Nia sejenak menatap suaminya. “Kami berdua sudah lama memaafkan mu, dan menerima apa yang telah terjadi pada Ayasha. Kami sebagai orang tua memang sangat kecewa dan marah dengan kelakuan mu, tapi semuanya sudah terjadi,” kata Papa Tisna.
“Kami ingin Ayasha dapat suami yang bisa membuatnya dia bahagia, yang bisa mencintainya dan tidak melukai hatinya.” Papa Tisna terdiam sejenak, sembari menatap Rafael dengan seksama.
Rafael tidak menyela pembicaraan, dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh papa Tisna.
“Jika Ayasha memberikan kamu kesempatan untuk berubah maka kami akan memberikan kesempatan untuk terakhir kalinya dengan catatan masa lalu jadikan pelajaran, dan jangan diulang kembali. Papa ingin anak papa bahagia bukan bersedih kembali,” lanjut kata Papa Tisna.
Sudut bibir Rafael terangkat hingga terbit rasa bahagianya yang tak terkira. “Alhamdulillah.” Rafael langsung mengecup punggung tangan papa Tisna dengan takzimnya, dengan rasa harunya.
Pada dasarnya papa Tisna sudah mengenal Rafael dari kecil, pria itu baik namun terperangkap dengan permainan Delia. Tak ada salahnya papa Tisna memberi kesempatan dan merestui kembali jika Ayasha telah memberikan kesempatan buat Rafael. Tapi jika Ayasha tidak memberikan kesempatan mungkin dia tidak akan merestuinya.
Rafael memeluk papa Tisna dan mengucapkan rasa terima kasihnya, kemudian melakukan hal yang sama pada mama Nia.
“Insya Allah, Mah, aku akan berusaha, tidak akan mengulangi, cukup kesalahan di masa lalu,” jawab Rafael berusaha meyakinkan.
Papa Stevan dan Satya bernapas lega, masalah restu sudah selesai, tinggal perjuangan Rafael meluluhkan Ayasha.
Mata yang berkaca-kaca karena sudah merasa pasrah jika tidak direstui, sekarang berubah menjadi berbinar-binar karena kebahagiaan nya. Usai dapat restu dari kedua orang tua Ayasha, Rafael langsung meminta dan mengajak papa Tisna dan mama Nia turut ke Jogjakarta dan menceritakan jika Ayasha baru saja keluar dari rumah sakit.
Mama Nia langsung mengiyakan dan bergegas berkemas, sedangkan papa Tisna yang kebetulan sedang ambil cuti kerja turut menyetujuinya.
Sore ini mereka langsung terbang ke Jogjakarta menemui Ayasha, hampir satu tahu mereka belum bertemu kembali.
...----------------...
Jogjakarta
Beberapa tetangga Ayasha, terlihat bolak balik ke rumah kontrakan gadis itu untuk mengambil barang perabotan yang dibagikan oleh Ayasha. Darial yang ada di teras rumah terpaksa menyingkir, karena merasa jengah dengan ibu-ibu kampung kalau menurut dia. Sombong!
Melihat Darial yang bersikap agak tidak suka, Ayasha menghampirinya. “Kak Darial sebaiknya tidak perlu menungguku, aku masih ada keperluan dengan tetanggaku di sini. Lagi pula aku harus bertemu sama yang punya kontrakan dan pak RT di sini untuk berpamitan,” ucap Ayasha, mengusir secara halus.
“Memangnya tidak bisa kamu urus besok saja, kenapa mau pindah ribet sekali sih,” jawab Darial, terdengar jengkel.
“Di mana kita tinggal, harus punya tata krama pada tetangga. Aku tinggal di sini sudah lama, dan mereka sudah banyak membantuku selama di sini. Jadi beginilah hidup dalam bertetangga, bukan bagaikan maling datang dan pergi secara diam-diam,” tutur Ayasha menjelaskan.
“Tapi Aya, saya ingin tahu tempat tinggal barumu.”
“Bisa dilain waktu saja Kak Darial, lagi pula Kak Darial sudah terlihat jenuh menunggu lama. Jadi sebaiknya jangan menungguku, dan lihatlah—,” Ayasha menunjuk ke arah ibu-ibu yang menunggunya, hal itu membuat Darial mendesah kecewa.
“Baiklah, lain waktu saya ingin ke rumah barumu. Kalau begitu saya pulang dulu,” ucap pamit Darial, dia juga tidak suka jadi pusat perhatian ibu-ibu berdaster, jadi sebaiknya kali ini dia menuruti keinginan Ayasha.
Ayasha pun mengantar Darial sampai parkiran mobilnya, dan hanya melambaikan tangan pada pria itu dengan kelegaan hatinya. Loh kok bisa ya kekasihnya pergi dia nya lega!
bersambung ....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, makasih sebelumnya.
Lope-lope sekebon 🌹🌹🌹❤️❤️🍊🍊🍊🍊