
Di hari yang sama, Rafael sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, tidak harus lagi berada di ruangan HCU. Pria itu pun meminta untuk sekamar dengan istrinya, dan inilah mereka sekarang sudah berada di ruang rawat VVIP yang ada di rumah sakit tersebut.
Kedua keluarga pun bisa berkumpul bersama untuk menemani Ayasha dan Rafael. Tampak kedua pasangan pengantin baru itu selalu tersenyum dan terlihat wajahnya selalu berseri-seri, terutama Rafael walau dalam keadaan masih sakit, namun hatinya amat bahagia.
“Rafael, nanti kalau sudah dapat izin bisa rawat jalan. Sebaiknya kita pulang ke Jakarta, kita coba berobat ke Haji Naim atau ke Cimande khusus untuk patah tulang,” saran Papa Stevan.
“Rencana aku memang begitu Pah, biar cepat kembali pulih total,” jawab Rafael menyetujuinya saran papanya.
Pria itu melirik istrinya yang sibuk mengupas buah jeruk untuknya. “Sayang, mau kan kita kembali ke Jakarta?” tanya Rafael.
Ayasha mengulurkan buah jeruk yang sudah terkupas dari kulitnya. “Kemana suamiku berada, aku harus ikut kan? Atau Hubby mengizinkan aku tinggal di Jogja saja?” balik bertanya Ayasha.
“NO! masa aku harus kembali ke Jakarta tanpa membawa istriku, yang ada malah istriku diculik sama pebinor, enak aja!” gerundel Rafael, lalu memasukkan buah jeruk nya bulat-bulat ke dalam mulutnya.
Ayasha tertawa kecil setelah melihat raut wajah suaminya yang amat menggemaskan ketika sedang kesal.
Selang berapa lama, Valerie sekeluarga datang untuk menjenguk kakaknya dan sudah tentu si cantik Larissa ikut bersama mommy nya.
“Assalammualaikum Uncle, Tante cantik, Oma, Opa,” sapa Larisaa dengan cerianya ketika masuk ruangan.
“Waalaikumsalam,” jawab serempak semua orang yang ada di ruangan. Gadis cilik itu cium tangan satu persatu kepada orang yang ada di dalam ruangan.
Sesampainya di ranjang Rafael, pria itu merentangkan kedua tangannya kepada Larissa, gadis cilik itu pun naik ke atas ranjang dengan hati-hati, lalu memeluk uncle nya dengan hangat. “Uncle harus cepat sembuh ya, biar perut Tante ada dede twinnya,” celetuk Larissa saat memeluk unclenya.
Kening pria itu mengeryit. “Benarkah! Nanti ada dede twin di perut tante?” tanya Rafael menanggapi ucapan keponakannya.
Gadis cilik itu pun melepaskan pelukannya, lalu turun dari ranjang, kemudian menghampiri Ayasha yang duduk di sisi ranjang Rafael.
Larissa tersenyum manis kepada Ayasha, kemudian tangan mungilnya mengusap perut datar Ayasha. “Makanya Uncle cepat sembuh, dede twin pengen cepat hadir di sini,” ucap Larissa, tangan mungilnya masih mengusap lembut perut datar Ayasha seakan sedang mengajak bicara. Sentuhan tangan mungil Larissa membuat hati Ayasha menghangat, memang dia mengharapkan segera hamil jika suatu hari sudah menikah, tidak ada kata menunda jika kondisi dia memang sehat, tapi kembali lagi semua adalah rezeki dari Allah.
Rafael menatap penuh damba kepada istrinya, hatinya juga memang menginginkan keturunan dari dirinya dan Ayasha, apalagi usianya sudah tidak muda lagi. “Aamiin semoga Uncle cepat sehat dan Tante segera mengandung,” jawab Rafael kepada keponakan nya.
“Aamiin ya Allah, semoga Mama dan Papa dapat cucu lagi dari Rafael dan Ayasha,” timpal Mama Rara.
Valerie jelas ikut mengaminkan untuk kata yang terucapkan oleh Larissa, karena waktu hamil anak kedua, tiga bulan sebelum tahu dirinya hamil, anak pertamanya sudah berkata ‘Diperut Mommy ada dede cowok ganteng kayak Daddy' dan benar saja tiga bulan kemudian dia hamil, hingga dia melahirkan anak laki-laki yang wajahnya benar-benar mirip suaminya.
“Mam, berarti kita harus siap-siap nih mulai siapkan kamar buat si baby twin di mansion,” sambung Valerie.
“Iya nanti akan Mama siapkan semuanya, buat calon ahli waris keluarga Stevan,” sahut Mama Rara, sembari melirik besannya.
Rafael dan Ayasha sama-sama saling bersitatap, dan tersenyum tipis melihat reaksi kedua orang tua mereka berdua yang terlihat sangat antusias, padahal ngadonin tepung sama telurnya aja belum, tapi tidak ada salahnya untuk berharap, karena harapan bisa terwujud dengan usaha dan berdoa.
Di saat mereka masih berbincang hangat apalagi ada Larissa yang bikin suasana tambah ceria dengan celotehan nya, sedangkan adiknya berada di hotel sama Daddy-nya, karena terlalu rawat jika balita dalam keadaan sehat sering dibawa ke rumah sakit, tiba-tiba Satya, Amelia dan Lena turut menjenguk di ruang VVIP setelah mereka bertiga selesai menjenguk Ibra.
“Gimana Lena, jadi kalian bertiga menjenguk pria itu?” tanya Ayasha, ingin tahu hasilnya.
“Jadi begini Pak Rafael, waktu kejadian kecelakaan tersebut, ada pria lain yang juga menjadi korban, yang turut melindungi Ayasha,” lanjut kata Satya.
Rafael pun melayangkan pandangannya ke Satya yang sudah menarik kursi di sisi ranjang sebelah kirinya, tatapan penuh tanda tanya yang biasa Satya lihat dari bosnya. Satya mulai bercerita mengenai pria tang dimaksud oleh Ayasha, dibantu oleh Lena untuk lebih menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan tersebut.
Semua yang ada di dalam ruangan dibuat terhenyak saat mendengar cerita tentang Ibra dan sudah tentu raut wajah mereka terutama Rafael terlihat geram, jika kecelakaan yang terjadi karena ke sengajaan yang dibuat oleh Delia, mantan sekretaris, mantan tunangannya!
“Lena, saya minta kamu mencari informasi tentang ibunya Ibra, kalau bisa kamu sekarang ke Jakarta untuk memberi kabar ke ibunya Ibra kalau sudah dapat, jika memang dalam keadaan sakit segera dibawa ke rumah sakit, nanti kamu koordinasi dengan Satya untuk teknisnya. Sedangkan Satya tolong bilang ke Ibra jangan khawatir masalah biaya perawatannya, dan bilang kepadanya jika sudah pulih, kita siap menerima dia menjadi karyawan di perusahaan Bara,” perintah Rafael kepada Lena dan Satya.
“Baik Pak Rafael, siap dilaksanakan,” jawab Satya dan Lena bergantian.
Lena dapat tugas ke Jakarta rasanya senang sekali, karena dia belum pernah ke Jakarta seumur hidupnya, maklum orang asli dari Yogyakarta.
“Hubby, biar Lena ditemani sama Amelia ke Jakartanya ya, aku takut Lena tersesat di Jakarta, nanti malah gak balik ke Yogya lagi,” pinta Ayasha.
Sontak dong wajah Lena merah merona dibilang akan tersesat di Jakarta sama Ayasha, terbongkarlah aib Lena.
“Memangnya Lena belum pernah ke Jakarta?” tanya Rafael.
Ayasha melirik rekan kerjanya itu. “Seumur hidup Lena memang belum pernah ke Jakarta, hubby.”
Satya dan Amelia ikutan melirik Lena dengan tatapan takjub plus heran. “Jangan lihat aku kayak begitu dong Pak Satya, Amelia ... aku kan jadi malu,” jawab Lena malu-malu.
Mau ketawain Lena takut dosa, yang ada mereka tersenyum lebar. “Ya udah Amelia bisa ikut ke Jakarta sama Lena, kalau bisa Amel bilang ke orang tua sendiri kalau keluarga Satya akan segera ke rumah untuk melamar kamu,” ucap Rafael dengan seriusnya.
Sontak Amelia membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya sembari menatap wajah Satya yang sudah mengulas senyum di wajah tampannya.
“Iya Amel, mama sama papa akan segera melamar kamu buat anak kami Satya. Bilang sama ibu dan bapak di rumah ya,” tutur Mama Rara ketika wanita itu menghampiri Amelia.
Kedua netra Amelia tampak berbinar-binar mendengar kata-kata bahagia dari Rafael serta orang tua angkat Satya, inilah yang namanya kebahagiaan yang tak disangka, semoga niat baik Satya yang serius meminang Amelia dimudahkan dan dilancarkan sampai hari pernikahan mereka berdua.
bersambung ...