
Rafael masih mengatur degup jantungnya yang begitu cepat, sedangkan suara isak tangis Larissa sudah tak terdengar lagi, rupanya gadis kecil itu sudah kelelahan menangis hingga dia terlelap tertidur di pelukan Rafael.
Valeria yang juga masih mengatur napasnya karena mendengar ucapan putrinya sendiri, mencoba bangkit dari terduduknya di lantai marmer walau kedua dengkulnya masih terasa lemas.
“Val ... wajahmu pucat,” kata Rafael, saat melihat adiknya menghampirinya.
Valerie melap keringat yang ada di keningnya dan mencoba untuk tersenyum. “Mungkin karena sedikit pusing, wajahku jadi terlihat pucat, Kak,” kilah Valerie.
“Sepertinya Larissa tertidur Kak.” Wanita itu ingin mengambil alih putrinya, namun ditahan oleh Rafael. Pria itu bangkit dari duduknya, lalu menuju ranjangnya kemudian merebahkan keponakannya di atas ranjangnya. “Biarkan dia tidur disini dulu,” pinta Rafael sembari menatap keponakannya.
“Kak ...”
“Mmm ...,” gumamnya masih betah menatap gadis cilik itu. “Val, pasti kamu sudah mendengarkan ucapan anakmu sendiri'kan?”
Valerie mendudukkan dirinya di tepi ranjang, sebelah Rafael duduk.
“Apa artinya Val, kenapa hati Kakak merasa gelisah?”
Sungguh Valerie tidak sanggup menjawabnya, dia tidak ingin membenarkan apa yang dikatakan oleh anaknya, takut musyrik jika mempercayai tapi itu kenyataan yang dimiliki oleh anaknya.
“Kak, bisakah Kakak mengabaikan perkataan Larissa?” pinta Valerie, menatap sendu wajah kakaknya.
“Anak seusia Larissa jarang yang pandai berbohong kan Val, mereka polos apa adanya. Tidak mungkin dia menangis selama itu jika tak ada sebab. Hati Kakak saat mendengarnya juga terasa tak enak Val,” ungkapan Rafael.
Sesaat Valerie menundukkan wajahnya lalu melihat kedua tangannya yang saling bertautan, kedua netranya mulai berembun. “Saat tinggal di Jerman, aku punya teman dekat Kak, suatu hari dia berkunjung main ke rumahku, dan tiba-tiba saja Larissa menangis memelukku, lalu mengucapkan ada darah di tubuh temanku.” Terjeda sejenak, Valerie mengambil napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya, sedangkan Rafael raut wajah nampak semakin khawatir.
“Tiga bulan kemudian temanku itu meninggal Kak, karena kecelakaan yang tak jelas,” lanjut kata Valeria, suaranya agak tercekat.
Rafael langsung mengusap dada kirinya sendiri, rasa gemuruh tiba-tiba saja muncul dihatinya ... sangat sesak. Pria itu menggelengkan kepalanya, “Tidak ... tidak mungkin ... itu pasti hanya kebetulan saja,” Rafael berusaha tidak memercayainya, dia tidak mau memercayainya yang baru saja diucapkan oleh keponakannya sendiri.
“Aku tidak tahu itu kebetulan atau tidaknya namun itu yang terjadi Kak, sudah dua kali kejadian. Aku juga sebenarnya tidak mau memercayainya Kak, tapi itu terjadi,” balas Valerie.
Dengan raut wajah yang tak bisa terbaca, pria itu beranjak dari duduknya kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas nakasnya, lalu keluar begitu saja dari kamarnya dengan kedua netranya yang berkaca-kaca.
Rasanya hati amat sesak ketika keponakannya bilang ada darah pada tante cantik, dan tante cantik itu gadis yang sangat dia cintai.
Rafael tergopoh-gopoh ke halaman belakangnya, lalu jemarinya mulai mencari kontak nama Ayasha di ponselnya, untung saja Amelia berbaik hati mau memberitahukan nomor ponsel Ayasha. Pikirannya kali ini sudah kalut, dan satu yang dia inginkan ... ingin memastikan keadaan Ayasha baik-baik saja, walau sama saja dia menjilat ludahnya sendiri.
“Halo ...,” sapa Ayasha dari seberang sana, dengan sapaan ala kadarnya karena dia tidak mengenal nomor yang meneleponnya.
Mendengar suara sapaan dari gadis yang dirindukan membuat pria itu terasa terharu. “Assalamualaikum, Ayasha,” balas sapa pria itu.
Ayasha yang sedang berada diruang kerjanya langsung terdiam ketika mendengar sapaan pria itu, suara yang sangat dikenalnya.
“Waalaikumsalam, Om Rafael ...,” balasnya agak ragu.
Dibalik telepon, pria itu tersenyum sendiri, ternyata begini ya rasanya menelepon orang yang dicintai berasa kayak anak muda.
“Sudah sehatkah?”
“Alhamdulillah sudah lebih baik.”
Sesaat mereka terdiam, hening ...
“Bagaimana dengan Om sendiri, tangannya sudah sembuh?” tanya Ayasha.
“Belum, tanganku masih diperban.”
“Oh ... semoga cepat sembuh tangannya Om.”
“Terima kasih Aya, sekarang kamu ada dimana?”
“Di kantor Om.”
“Baiklah maaf kalau mengganggu, selamat bekerja kembali.”
“Ya Om Rafael.”
Rafael tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, yang ada rindunya akan semakin berat karena tak berjumpa secara langsung sedangkan dia sudah berjanji kepada gadis itu tidak akan mengganggunya dan menghubunginya. Namun berbeda dengan Ayasha merasa kebingungan saja ketika menjawab telepon Rafael.
...----------------...
Yogyakarta.
Baru saja mendapat telepon dari Rafael, gadis itu kembali termenung saat menatap layar komputernya. Namun selang tak berapa lama, ponsel miliknya kembali berbunyi.
Kak Darial caling ...
Sejenak Ayasha menatap layar ponselnya, kemudian menghela napas panjangnya sebelum dia menerima panggilan teleponnya.
“Halo Ayasha,” sapa Darial.
“Ya Kak ...,”
“Sedang sibukkah?”
“Tidak terlalu kok Kak, ada apa memangnya?” balik bertanya Ayasha.
“Takut saya mengganggumu kerja. Saya kangen sama kamu,” kata Darial begitu lembutnya.
“Mmm ...” gumam Ayasha datar.
“Nanti sore saya jemput seperti biasa ya? Sekalian kita makan malam ya,” pinta Darial.
Seperti hari-hari sebelumnya, Darial selalu menjemputnya saat pulang kerja dan mengantarnya pulang ke rumah, tapi entah kenapa hari ini rasanya dia enggan untuk dijemput oleh Darial, apakah karena mendengar perbincangan dua wanita yang menyebut nama Darial, apalagi setelah Ayasha melihat sosok yang bernama Jiah itu wajahnya bak seperti model, sangat cantik, walau dia sendiri pun juga sangat cantik.
“Kak Darial, sepertinya hari ini aku lembur, karena mempersiapkan acara kerja sama perusahaan Kakak dengan hotel,” balas Ayasha.
“Oh iya saya hampir lupa, kalau begitu nanti saya tetap jemput kamu jam berapa pun ya, jadi nanti kabari jika sudah mau selesai, Aya,” pinta Darial, terkesan memaksa.
“Baiklah Kak, nanti akan aku kabari.”
“Sampai ketemu nanti ya, jangan terlalu kecapean, kamu baru sembuh,” kata Darial menunjukkan perhatiannya.
“Ya Kak makasih sudah diingatkan,” balasnya.
Usai menerima telepon dari Darial, gadis itu menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan terdengar helaan napas panjangnya begitu berat.
“Tumben Aya, terima telepon dari Pak Darial tidak semangat begitu?” celetuk Lena, kepalanya tiba-tiba saja nongol dari balik kubikelnya.
“Gak semangat karena mendengar obralan cewek itu ya?” lanjut kata Lena.
Ayasha menarik tangannya dari wajahnya, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya.
“Entahlah Len, mungkin bisa jadi. Tapi yang jelas hari ini aku benar-benar tidak mood.”
Lena menggeser kursi kerjanya agar lebih dekat dengan Ayasha. “Mood aku juga tidak baik-baik saja Aya, aku baru beberapa hari putus sama pacarku setelah aku lihat dia jalan sama cewek lain di mall. Gak nyangka padahal mantan aku tuh orangnya perhatian ... eh ternyata dia selingkuh! “ kata Lena dengan raut wajah kesalnya.
“Jadi menurutku wajarlah kamu jadi ke pikiran, jangan terlalu percaya 100 persen sama pasangan , apalagi masih pacaran. Yang sudah menikah saja bisa selingkuh, apalagi yang masih pacaran, mending doa kita aja dikencangi biar dapat jodoh yang baik, bukan tukang selingkuh,” lanjut kata Lena penuh semangat, tidak mau larut sedih karena patah hati.
Ayasha tersenyum tipis sambil manggut-manggut, ya walau belum tahu kebenaran tentang Darial paling tidak jangan mencintai begitu dalam, biar tidak sakit jika tahu kebenarannya.
bersambung ....